PESONA SURAT UTANG RI
Ekonomi Indonesia agaknya tak kekurangan katalis positif. Soal surat utang pemerintah misalnya, sejumlah kalangan justru meramal minat investor global bakal meningkat pada tahun depan. Padahal, ketidakpastian ekonomi global diramal tak lebih rendah ketimbang tahun ini. Demikian pula fakta bahwa kepemilikan investor asing di surat berharga negara (SBN) Indonesia tengah menurun. Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR), penurunan porsi kepemilikan asing di SBN mulai terjadi sejak pandemi Covid-19. Hingga 16 Desember 2022, kepemilikan investor asing dalam SBN mencapai 14,66% atau lebih rendah ketimbang 2021 yakni 19,05%. Co-Head of Global Macro Strategy Manulife Investment Management Sue Trinh mengatakan kinerja obligasi Pemerintah Indonesia termasuk yang terbaik di kawasan. Hal itu dapat menjadi bantalan untuk menerobos risiko resesi global. Mengacu pada data Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) per Jumat (16/12), indeks obligasi pemerintah Asean 3 sebesar 0,27% secara tahun berjalan. Kinerja indeks itu mendapat sokongan dari obligasi Indonesia yang tumbuh 0,83%, melampaui kinerja obligasi pemerintah Malaysia dan Thailand. “Ini semua diharapkan bertahan dengan normalisasi yang berlaku pada 2023,” ujar Sue Trinh dalam paparan Manulife Investment Management 2023 Investment Outlook, Senin (19/12). Direktur Surat Utang Negara Kementerian Keuangan Deni Ridwan sebelumnya mengatakan bahwa pemerintah menerapkan strategi pembiayaan yang disesuaikan dengan kondisi pasar dan prinsip kehati-hatian. Hal itu menjadi jalan tengah untuk memenuhi kebutuhan dana dengan biaya efisien dan risiko minimal.
Tags :
#ObligasiPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023