;

KERONTANG EMISI SURAT UTANG

Ekonomi Hairul Rizal 09 Aug 2023 Bisnis Indonesia (H)
KERONTANG EMISI SURAT UTANG

Kebijakan moneter ketat sejumlah negara yang mulai mengendur, membawa berkah ke aksi penggalangan dana berbasis surat utang. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) hingga 31 Juli 2023 mencatat bahwa penerbitan surat utang korporasi mencapai Rp77,05 triliun. Sayangnya, pada paruh kedua, geliat penerbitan obligasi dan sukuk korporasi itu hanya memiliki sisa tenaga kurang dari setengah realisasi pada awal tahun. Dari data OJK, hanya terdapat rencana penerbitan surat utang senilai Rp29,64 triliun. Ekonom PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Suhindarto mengatakan musim semi penerbitan surat utang terjadi pada Juli dengan realisasi emisi bulanan mencapai Rp29,12 triliun atau melampaui nilai jatuh tempo pada periode yang sama yakni Rp14,91 triliun. Namun, realisasi penerbitan surat utang sepanjang tahun ini 20% lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama 2022. Dia menilai pasar surat utang menjadi alternatif korporasi kala bunga kredit tinggi. Meski begitu, dia mengakui kalangan korporasi yang ingin mendapatkan dana segar tetap harus menghadapi risiko pasar akibat suku bunga mahal. Analis Pendapatan Tetap Pefindo Ahmad Nasrudin mengatakan kendati pasar surat utang korporasi mendapat sentimen negatif dari gagal bayar sejumlah korporasi pelat merah, minat pasar terhadap instrumen obligasi dan sukuk korporasi masih ada. Dia berujar investor akan lebih hati-hati dan melaku-kan diversifi kasi daripada menghindari pasar surat utang korporasi karena imbal hasilnya yang tebal. Dihubungi terpisah, Direktur Utama Pemeringkat Kredit Indonesia (PKRI) Eddy Handali mengatakan korporasi pencari dana harus melancarkan strategi jitu untuk menggalang dana. Menurutnya, pasar cenderung berhati-hati sehingga tak semua instrumen surat utang yang terbit mampu terserap. Artinya, kebutuhan dana korporasi bisa saja tak terpenuhi. Seperti diketahui, gagal bayar surat utang PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) berujung pada suspensi perdagangan sahamnya. Perusahaan gagal membayar pokok instrumen senilai Rp135 miliar yang jatuh tempo Minggu (6/8) karena status standstill perusahaan untuk melakukan restrukturisasi utang.Lalu, PT Waskita Beton Precast Tbk. (WSBP) tengah bergulat dengan tumpukan utang termasuk empat seri obligasi dan perusahaan telah mendapatkan restu pemegang obligasi atas permohonan financial covenant.

Tags :
#Obligasi
Download Aplikasi Labirin :