DAMPAK KEBIJAKAN MONETER : TANTANGAN PESONA SURAT UTANG
Keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan ke level 6% membuat investor harap-harap cemas, karena berpotensi melemahkan pasar surat utang Tanah Air. Chief Investment Officer STAR Asset Management Susanto Chandra mengatakan, pasar obligasi Indonesia berisiko melemah terimbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), seiring dengan dengan naiknya yield obligasi yang berpotensi menambah tinggi aksi jual surat utang oleh investor. “Dampak dari kenaikan suku bunga tersebut turut membuat yield pasar obligasi menyesuaikan ke atas, baik pada pasar obligasi pemerintah maupun korporasi,” ujar Susanto kepada Bisnis, Jumat (20/10). Menilik data Investing, yield SBN tenor 10 tahun naik tajam 2,74% ke level 7,2% pada Jumat, (20/10). Di lain sisi, US Treasury Yield 10 tahun juga naik ke posisi 4,99% atau level tertinggi sejak 2007.
Adapun, saat ini pemerintah juga tengah meluncurkan Obligasi Negara Ritel seri ORI024 dengan masa penawaran mulai 9 Oktober 2023 hingga 2 November 2023. Seri terbaru ORI terbaru ini juga ditawarkan dalam dua tenor yang berbeda, yaitu tenor 3 dan 6 tahun.
Terkait dengan prospek SBN Ritel seperti ORI024 dan ST011, CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, bergantung kepada berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga atau kupon yang ditawarkan dan preferensi investor. “Jika tingkat kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan mengikuti tren pasar, maka SBN Ritel masih dapat diminati oleh investor yang mencari instrumen investasi yang relatif aman. Namun, pemerintah mungkin perlu memastikan tingkat suku bunga yang menarik untuk menjaga minat investor,” katanya kepada Bisnis.
Di lain sisi, pasar obligasi korporasi sepanjang tahun berjalan relatif masih landai dengan nilai outstanding atau jumlah seluruh obligasi yang beredar di pasar modal kurang dari 10% terhadap angka penyaluran kredit bank.Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada pekan lalu, Jumat (13/10) total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2023 sebanyak 93 emisi dari 55 emiten senilai Rp98,2 triliun.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E. Sumual mengatakan, salah satu penyebab landainya pasar obligasi korporasi yaitu karena berbagai perusahaan lebih banyak yang mengandalkan perbankan untuk mencari dana, karena relatif lebih mudah dalam beberapa aspek.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023