;
Tags

Obligasi

( 223 )

Pasar Obligasi Mulai Unjuk Gigi Meski Masih Dibayangi Fluktuasi

HR1 21 May 2024 Kontan

Pasar obligasi pemerintah masih bergerak volatil, meski mulai ada perbaikan. Ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh the Federal Reserves (The Fed) yang semakin tinggi menjadi pendorongnya. Ini tercermin dari imbal hasil (yield) yang melandai ke bawah 7%. Dikutip dari Bloomberg, yield Surat Utang Negara (SUN) acuan 10 tahun di level 6,93% pada Senin (20/5). Turun dari level 7,24% pada akhir April 2024. Chief Economist Pefindo, Suhindarto mengatakan, turunnya yield menandakan ada perbaikan harga obligasi. Secara jangka menengah, ada peluang yield bergerak di level yang lebih rendah, mempertimbangkan potensi pelonggaran moneter ke depan. Namun dalam satu-dua bulan ke depan, ia masih khawatir pergerakan yield masih akan volatil. Sebab, risiko geopolitik masih perlu diwaspadai. The Fed juga belum 100% yakin memangkas suku bunga dalam waktu dekat.

Belum lagi faktor geopolitik. Terbaru seperti dikutip Reuters dari kantor berita IRNA, Senin (20/5), Presiden Iran, Ebrahim Raisi, tewas setelah helikopter yang ditumpanginya jatuh dalam cuaca buruk di pegunungan dekat perbatasan Azerbaijan. Ini terjadi setelah "perang bayangan” yang panjang antara Iran dan Israel pecah bulan lalu dengan saling tembak-menembak drone dan rudal. Pada semester II, kata Darto, yield akan bergerak menurun karena ada peluang suku bunga diturunkan, baik eksternal maupun domestik. Sejauh ini, tingkat inflasi domestik terus bergerak di rentang target, yang positif untuk memulai pelonggaran. Ekonom Senior KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana memproyeksi, yield 10 tahun bisa lebih baik seiring ekspektasi penurunan Fed Rate yang lebih dekat. Ia memperkirakan yield 10 tahun bisa kembali ke 6,3%-6,6%. Dengan catatannya ada ruang fiskal yang berubah karena ada perubahan di pemerintahan.

Bank Indonesia, ”Raja Baru” Obligasi Pemerintah

KT3 17 May 2024 Kompas

Sejak 7 Mei 2024, BI mendominasi kepemilikan surat berharga negara rupiah yang dapat diperdagangkan. Per 15 Mei 2024, kepemilikan obligasi pemerintah oleh BI mencapai 23 %. Dengan catatan terbaru ini, BI masuk klub bank pemegang terbesar obligasi pemerintah. Bank lain yang memegang mayoritas obligasi pemerintah setempat adalah Bank Jepang. Pengajar Unika Atma Jaya Jakarta, Agustinus Prasetyantoko, Kamis (16/5) di Jakarta, menyatakan, semakin besarnya porsi kepemilikan obligasi pemerintah oleh BI menunjukkan adanya burden sharing antara BI dan pemerintah. Oleh karena itu, koordinasi kebijakan moneter dan fiskal semakin urgen.

”BI punya kepentingan untuk menjaga pasar keuangan supaya imbal hasil stabil. Kalau imbal hasil naik, beban ke BI juga makin besar. Dan, itu memang artinya kebijakan moneter akan sangat sensitif dan mempertimbangkan dinamika pasar,” tuturnya. Kepemilikan obligasi pemerintah yang mayoritas, menurut Prasetyantoko, membuat BI lebih bisa menjaga volatilitasnya. Namun, porsi nonresiden masih tergolong besar sehingga risiko gejolak masih tetap ada. Di sisi lain, BI menjadi pelaku pasar yang dominan. Dampaknya, pasar cenderung mengambil jarak dengan kebijakan moneter. (Yoga)


Asing Hengkang dari SBN Susutkan Utang Luar Negeri

HR1 16 May 2024 Kontan
Utang luar negeri (ULN) Indonesia kembali menurun. Bank Indonesia (BI) mencatat, ULN per akhir kuartal I-2024 sebesar US$ 403,9 miliar, turun dibandingkan posisi kuartal IV-2023 yang sebesar US$ 408,5 miliar. "Penurunan utang luar negeri pemerintah terutama dipengaruhi oleh perpindahan penempatan dana investor nonresiden pada surat berharga negara (SBN) domestik ke instrumen investasi lain seiring dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global," kata Asisten Gubernur BI Erwin Haryono, kemarin.

Obligasi Tenor Pendek dan Menengah Bisa Jadi Pilihan

HR1 15 May 2024 Kontan
Era bunga tinggi masih bisa menjadi peluang investasi surat utang yang cukup prospektif. Kenaikan bunga acuan diharapkan akan mendukung pasar dan lebih meringankan volatilitas rupiah, dengan mengurangi laju arus keluar dana asing dari pasar domestik. Meskipun, dari sisi pricing, kenaikan suku bunga akan mendorong kenaikan yield. Chief Dealer Fixed Income & Derivatives Bank Negara Indonesia (BNI), Fudji Rahardjo mengatakan, di tengah kondisi seperti sekarang, investor dapat menjadikan obligasi jangka pendek sebagai opsi pilihan dalam berinvestasi. Kondisi bunga tinggi dapat mendorong yield curve obligasi Indonesia menjadi datar sehingga selisih yield antara tenor pendek dan tenor panjang terus menipis. Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi mengatakan, investasi pada obligasi pemerintah bertenor pendek atau menengah menjadi menarik karena selain memanfaatkan momentum harga yang masih terbilang wajar di tengah suku bunga tinggi, risiko investasinya pun rendah.

PASAR SBN : Aliran Keluar Modal Asing Mencapai Rp46,61 Triliun

HR1 11 May 2024 Bisnis Indonesia

Bank Indonesia (BI) mencatat aliran keluar modal asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) telah mencapai Rp46,61 triliun hingga 7 Mei 2024. “Selama tahun 2024, berdasarkan data settlement sampai dengan 7 Mei 2024, nonresiden jual neto Rp46,61 triliun di pasar SBN,” kata Direktur Departemen Komunikasi BI Fadjar Majardi dalam keterangan resmi, dikutip Jumat (10/5). Aliran modal asing yang masuk ke pasar saham tercatat sebesar Rp3,83 triliun hingga 7 Mei 2024. Sementara itu, infl ow di SRBI lebih tinggi, mencapai Rp31,43 triliun. Adapun, khusus pada pekan kedua Mei 2024, Fadjar menyampaikan terjadi aliran masuk modal asing sebesar Rp4,04 triliun. Perinciannya, pembelian SBN oleh nonresiden di pasar keuangan domestik sebesar Rp2,36 triliun pada 6—7 Mei 2024. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo sebelumnya menyampaikan bahwa kembali masuknya aliran modal asing di pasar keuangan domestik, salah satunya didorong oleh kenaikan suku bunga acuan atau BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 6,25% pada April lalu. Pada perkembangan lain, Indonesia dan Uni Emirat Arab (UEA) menyepakati kerja sama penggunaan mata uang lokal masing-masing negara dalam transaksi perdagangan antara kedua negara. Kesepakatan ini ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU) oleh Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo dan Gubernur Bank Sentral UEA Khaled Mohamed Balama.

Bunga Tinggi, Surat Utang Masih Marak

HR1 10 May 2024 Kontan

Di tengah tren suka bunga tinggi, penerbitan surat utang semarak. Ada lima perusahaan yang akan menerbitkan surat utang, baik obligasi maupun sukuk. PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) misalnya, berencana menerbitkan Obligasi Berkelanjutan II Tahap I senilai Rp 500 miliar. Emiten produsen perhiasan ini akan menggunakan dana hasil penerbitan obligasi untuk modal kerja jangka panjang. Seperti manufaktur produk emas perhiasan dan batangan, serta perluasan toko ritel emas. "HRTA menargetkan penambahan toko ritel milik sendiri dari total 85 toko menjadi 100 toko di 2024," terang Direktur Investor Relations HRTA, Thendra Crisnanda ke KONTAN, Kamis (9/5).

Obligasi menjadi pilihan karena HRTA ingin mendiversifikasikan sumber pendanaan dengan penurunan cost of fund. Dari lima perusahaan, tiga terafiliasi Grup Sinarmas. Ketiga perusahaan tersebut adalah PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT OKI Pulp & Paper, serta Lontar Papyrus Pulp & Paper. Chief Investment Officer, Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia, Ezra Nazula menilai, tren penerbitan obligasi berpotensi tersendat sementara pada saat suku bunga jangka pendek berada di level tinggi.

ST012 Bertenor Pendek Lebih Diminati Investor

HR1 06 May 2024 Kontan

Minat investor atas Sukuk Tabungan seri ST012 cukup positif. Salah satunya didorong kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI). GM Wealth Management BNI, Henny Eugenia menyebutkan, kondisi ekonomi saat ini dan kenaikan suku bunga (7DRR) BI menjadi sentimen positif untuk ST012. Imbal hasil minimum tenor dua tahun sebesar 6,4% dan minimum untuk tenor empat tahun sebesar 6,55%. Selain itu, tingkat pajak final juga memberikan nilai tambah bagi investor. Pajak pada produk ini sebesar 10%, atau lebih rendah dibandingkan deposito sekitar 20%. Minat investor juga terlihat dari kemajuan penjualan di Bank BNI. Henny mengungkapkan, saat ini penjualan ST012-T2 sebesar Rp 206 miliar dan ST012-T4 sebesar Rp 301 miliar. "Selama periode penjualan, kami menargetkan penjualan di atas Rp 1 triliun," sebutnya. Executive Vice President Corporate Communication & Social Responsibility Bank Central Asia (BCA), Hera F Haryn juga menilai positif minat investor pada produk ini. "Sukuk tabungan bersifat aman lantaran imbalan dan pokoknya dijamin pemerintah, serta dapat dijadikan passive income," sebut Hera. Rinciannya, ST012-T2 mencatatkan penjualan Rp 3,29 triliun dengan penjualannya mencapai 47,1% dari target Rp 7 triliun. Sementara penjualan ST012-T4 sebesar Rp 1,24 triliun, atau mencapai 41,6% dari target Rp 3 triliun.

KINERJA ASET PENDAPATAN TETAP : PASAR UTANG DI BAWAH TEKANAN EKSTERNAL

HR1 18 Apr 2024 Bisnis Indonesia

Gerak pasar surat utang berada di bawah sejumlah tekanan eksternal mulai dari eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang berimbas pada pelemahan kinerja rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil. Pada penutupan pasar Rabu (17/4), Bloomberg mencatat tekanan pada pasar surat utang terlihat pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) tenor 2 tahun dan 10 tahun. SUN tenor 2 tahun memiliki imbal hasil 6,7% atau naik 2,86% secara harian. Nasib yang sama terjadi pada SUN tenor 10 tahun dengan imbal hasil 6,94% setelah naik 1,03%. Gerak stabil imbal hasil SUN ini patah pada perdagangan awal setelah libur Idulfi tri dan berlanjut hingga kemarin. Di pasar surat utang, kenaikan imbal hasil menandai penurunan minat yang memicu permintaan imbal hasil lebih tinggi dari investor. Pukulan sentimen eksternal mulai dari realisasi infl asi Amerika Serikat (AS) pada Maret 2024 mencapai 3,5% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Dalam pernyataan terbarunya, pada diskusi panel bersama Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem di Wilson Center di Washington, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (17/4), bank sentral AS, Federal Reserve menurunkan kepercayaan dirinya terkait penurunan inflasi sehingga memudarkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Di tengah tekanan tersebut, sikap lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings, Japan Credit Rating (JCR), dan terbaru, Moody’s Ratings yang kompak mempertahankan peringkat utang RI tak mampu memberikan taji terhadap kinerja surat utang di Tanah Air. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa sulit bagi pasar surat utang menghindari gelombang tekanan eksternal. Terlebih, sentimen itu bermuara pada narasi suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Bank Indonesia mencatat pada transaksi jelang libur Idulfi tri, aksi jual bersih di pasar SBN mencapai Rp1,41 triliun sehingga mengakumulasi aksi jual bersih investor asing pada instrumen buatan pemerintah itu sepanjang 2024. Sepanjang 2024, aksi jual bersih investor asing pada instrumen SBN menyentuh Rp34,75 triliun.

Senada, Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad mengatakan investor lebih baik menantikan momen yang tepat dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada semester II/2024. Menurutnya, dalam jangka pendek kinerja pasar surat utang masih dibayangi koreksi dengan nada kebijakan Federal Reserve yang hawkish akan membawa tekanan lanjutan. Selain sentimen eksternal, Investment Specialist Schroders Indonesia Rizky Hidayat dalam keterangannya masih memperhatikan proyeksi kinerja fiskal pemerintahan baru. Namun, dari sisi inflasi, dia percaya bahwa pergerakan infl asi masih dalam rentang target Bank Indonesia. Sejalan dengan sentimen eksternal dan penurunan harga komoditas, neraca transaksi berjalan mulai defi sit pada rentang 2,5% hingga 3% lebih rendah dari sebelumnya.

Ancaman Pailit Di Depan Mata

KT1 03 Apr 2024 Investor Daily (H)
Restrukturisasi utang BUMN Karya ternyata tak berjalan mulus, lantaran tersandung persetujuan pemegang obligasi. Hal ini membuat posisi BUMN karya di ujung tanduk, bahkan terancam pailit. Akhir pekan lalu, salah satu BUMN Karya  yang terbelit utang besar, PT Waskita Karya Tbk (WSKT). Pasalnya, Rapat Umum Pemegang Obligasi (RUPO) Obligasi Berkelanjutan III Waskita Karya Tahap IV Tahun 2019 memutuskan menolak restrukturisasi. Imbasnya Waskita diharuskan melunasi  utang sampai batas waktu yang  ditentukan. Apabila, perseroan gagal memenuhinya, pemegang obligasi menugaskan wali amanat untuk menagih dan menyatakan  obligasi menjadi jatuh tempo. Adapun nilai pokok obligasi berkelanjutan III Tahap IV Tahun 2019 sebesr Rp1,22 triliun. (Yetede)

Sinar Mas Multiartha Terbitkan Obligasi Jumbo Rp 5 Triliun

KT1 19 Mar 2024 Investor Daily

PT Sinar Mas Muliaartha Tbk (SMMA) akan melakukan penawaran umum berkelanjutan obligasi berkelanjutan III dengan target dana Rp 5 triliun. Sebagai tahap awal, perseroan akan menerbitkan Obligasi Berkelanjutan III Tahap I Tahun 2024 senilai Rp 1,5 triliun. Dana hasil penerbitan surat utang ini rencananya digunakan untuk pelunasan (refinancing) obligasi, kebutuhan investasi dan modal kerja perseroan.

Manajemen Sinar Mas Multiartha dalam prospektus yang dipublikasikan Senin (18/3) mengungkapkan, obligasi senilai 1,5 triliun ini akan memasuki masa penawaran awal pada 18-22 Maret 2024 dengan target efektif pada 28 Maret 2024, masa penawaran umum pada 2 April 2024, tanggal penjatahan pada 3 April 2024, tanggal distribusi saham secara elektronik danpengembalian uang pemesanan pada 5 April 2024 serta pencatatan di Bursa Efek Indonesia pada 16 April mendatang. Perseroan telah mendapat peringkat idAA atau double A dari Kredit Rating Indonesia untuk obligasi ini. (Yetede)