;
Tags

Obligasi

( 223 )

SBN Ritel Terpengaruh oleh Melemahnya Daya Beli

HR1 30 Oct 2024 Kontan
Pelemahan daya beli masyarakat berdampak pada penurunan penyerapan Surat Berharga Negara (SBN) ritel, namun kupon SBN masih menarik di tengah tren penurunan suku bunga Bank Indonesia (BI). Strategist Mega Capital Sekuritas, Lionel Priyadi, memperkirakan kupon untuk Sukuk Tabungan seri ST013 yang akan diterbitkan pada 8 November 2024 berada di kisaran 5,8%-6,2%, cukup menarik meski sedikit lebih rendah dari seri sebelumnya yang berkisar di 6,35%-6,45%.

Fikri C. Permana, Senior Economist di KB Valbury Sekuritas, memproyeksikan kupon ST013 akan sedikit lebih tinggi di sekitar 6,3%-6,4%, tetap kompetitif mengingat suku bunga The Fed dan BI diperkirakan turun pada 2025. Fikri menilai antusiasme investor kelas atas akan mendukung penyerapan ST013 hingga Rp 25 triliun, meskipun pelemahan daya beli kelas menengah mempengaruhi permintaan.

Lionel memperkirakan penyerapan ST013 berada di kisaran Rp 18-22 triliun karena kuota penerbitan SBN semakin menipis. Ia juga mencatat penurunan minat pada obligasi ritel terlihat dari hasil penjualan ORI026 yang lebih rendah dibanding SR021. Fikri menambahkan bahwa pertumbuhan SBN ritel tahun depan mungkin lebih terbatas, mengingat pemerintah akan meningkatkan pendapatan negara dan SBN ritel menawarkan rate lebih tinggi dengan tenor lebih pendek dibandingkan obligasi konvensional.

Keterbatasan Emisi Obligasi

HR1 25 Oct 2024 Bisnis Indonesia (H)

Penerbitan obligasi korporasi di tahun 2024 mengalami performa yang kurang menggembirakan dibandingkan dengan ekspektasi awal. Meskipun ada penurunan suku bunga BI, korporasi lebih memilih untuk menahan diri dan tidak melanjutkan emisi surat utang. Hingga September 2024, total emisi hanya mencapai Rp93,4 triliun, jauh dari proyeksi awal yang mencapai Rp155,46 triliun. Menurut Pefindo, penyebab utama penundaan ini adalah suku bunga yang lebih tinggi dari perkiraan, serta persaingan ketat dari instrumen lain seperti SRBI.

Beberapa perusahaan, seperti PT PP (Persero) Tbk. dan PT Lautan Luas Tbk., memilih untuk melunasi utang yang jatuh tempo dengan dana internal alih-alih menerbitkan utang baru. Meskipun begitu, masih ada korporasi yang tetap berminat menerbitkan obligasi, seperti PT Indonesia Infrastructure Finance, yang melihat peluang dengan penurunan suku bunga. Tantangan yang dihadapi pasar surat utang korporasi tahun ini, termasuk kasus gagal bayar yang meningkat, membuat investor institusi menjadi lebih selektif.

Secara keseluruhan, kondisi pasar obligasi korporasi di tahun 2024 menunjukkan ketidakpastian dan kehati-hatian dari korporasi dalam menggalang dana.


ORI026 Tetap Menarik bagi Investor

HR1 30 Sep 2024 Kontan

Obligasi Negara Ritel (ORI) seri ORI026 sudah bisa dipesan mulai hari ini (30/9) hingga 24 Oktober 2024. Di tengah suku bunga Bank Indonesia (BI) yang terpangkas dari 6,25% menjadi 6%, ORI026 menetapkan bunga lebih tinggi dengan sistem fixed rate. Bunga  seri ORI026T3 atau tenor tiga tahun sebesar 6,3%, dan tenor enam tahun atau ORI026T6 menawarkan bunga 6,4%. Ini akan menjadi penerbitan ORI terakhir di tahun ini. Sebelum  tahun 2024 ditutup dengan penerbitan ST013 pada November mendatang. Fixed Income Analyst Pefindo, Ahmad Nasrudin menilai, potensi penawaran dana untuk ORI ini akan besar, walaupun sedang ada tren penurunan suku bunga. Selama yield yang ditawarkan obligasi ritel lebih tinggi dibandingkan rata-rata bunga deposito, maka investor masih akan tetap tertarik membeli obligasi ritel. 

Selain itu, ORI026 merupakan kesempatan bagi investor untuk berburu kupon tinggi sebelum semakin langka seiring dengan pemangkasan suku bunga yang diperkirakan masih akan dilakukan oleh bank sentral ke depan. Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas, Ramdhan Ario Maruto memperkirakan penyerapan ORI026 akan mencapai Rp 15 triliun hingga Rp 20 triliun. Ditambah  pemotongan pajak obligasi ritel ini akan lebih rendah yakni 10% dibanding deposito yang sebesar 20% "Jadi instrumen ini tetap menarik bagi masyarakat yang mempunyai kelebihan likuiditas untuk berinvestasi di pasar modal," kata, Jumat (27/9). Head of Business Development Division Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi optimistis, penjualan ORI026 tetap menarik.  Meskipun pemerintah belum mengumumkan target penjualan ORI026. Reza meyakini penjualannya akan tetap tinggi mengingat minat yang konsisten dari investor ritel terhadap instrumen ini.

Obligasi Korporasi Bakal Bergairah

KT3 25 Sep 2024 Kompas

Penurunan suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat dan Bank Indonesia pada pertengahan September 2024 bakal menggairahkan perdagangan produk surat utang korporasi. Hal ini juga ditopang ekonomi Indonesia yang dinilai masih menarik bagi pasar asing untuk berinvestasi. Meski demikian, sektor riil, khususnya pada kinerja produk ekspor, masih menantang. Siklus pemangkasan suku bunga dimulai pada Rabu (18/9/2024). Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), memangkas suku bunga sebesar 50 basis poin (bps) ke level 4,75-5,00 persen dalam rapat Dewan Gubernur The Fed bulan September. Bank Indonesia (BI) lebih awal memangkas suku bunga 25 bps menjadi 6,00 persen. Langkah ini merupakan bentuk normalisasi kebijakan setelah peningkatan suku bunga drastis untuk menahan laju inflasi global pascapan demi Covid-19. Siklus pemangkasan suku bunga ini diekspektasikan terus berlanjut sampai tahun 2025.

Presiden Direktur PT Surya TimurAlam RayaAsset Management (Star AM) Hanif Mantiq, Selasa (24/9), mengatakan, di tengah terkendalinya tingkat inflasi dan kebijakan normalisasi moneter ini, penawaran dan permintaan produk pasar modal seperti obligasi atau surat utang akan meningkat. Dalam hal penawaran, perusahaan akan lebih tertarik memenuhi kebutuhan ekspansi dan pendanaan dengan menerbitkan obligasi. Penerbitan akan lebih awal dilakukan korporasi di beberapa sektor yang diuntungkan karena perbaikan ekonomi dan peningkatan daya beli pascapenurunan suku bunga. ”Penerbitan obligasi korporasi masih didominasi oleh sektor keuangan, seperti multifinance, bank, dan institusi keuangan nonbank. Lainnya, beberapa perusahaan yang membutuhkan pendanaan dari obligasi juga ada dari sektor komoditas,” ungkapnya. Peningkatan penerbitan obligasi juga sejalan dengan permintaan investor asing yang berinvestasi di dalam negeri.

Ini terbukti dari arus modal investasi asing yang besar sejak beberapa bulan lalu. Dalam sepekan terakhir saja arus modal masuk bersih sebesar 81,6 juta dollar AS ke pasar saham dan 865,1 juta dollar AS kepasar obligasi. Peningkatan permintaan ini membuat harga obligasi dan saham akan cenderung naik. Head of Fixed Income Research Sinarmas Sekuritas Aryo Perbongso, secara terpisah, juga membaca tren keseimbangan permintaan dan penawaran di pasar obligasi korporasi sejak Agustus 2024 yang diprediksi meningkat hingga akhir tahun. Ini sejalandengan prediksi pemangkasan suku bunga, baik oleh The Fed maupun BI. Penerbitan obligasi sejak awal tahun sampai bulan lalu mencapai Rp 73,1 triliun. Adapun nilai penerbitan di pasar surat utang syariah (sukuk) sejak awal tahun hingga Agustus sebesar Rp 13,4 triliun. (Yoga)

Daya Tarik SBN Ritel: Investasi Aman yang Masih Menawan

HR1 24 Sep 2024 Bisnis Indonesia

Penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) diprediksi akan menurunkan kupon pada Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri-seri mendatang, termasuk Obligasi Negara Ritel (ORI026) yang akan diterbitkan akhir tahun ini. Associate Director Anugerah Sekuritas Indonesia, Ramdhan Ario Maruto, memperkirakan kupon ORI026 berada di kisaran 6,1%–6,2%, lebih rendah dari seri sebelumnya akibat penurunan suku bunga. Meski demikian, instrumen ini diprediksi tetap menarik bagi investor ritel karena kondisi pasar yang tidak menentu dan rendahnya bunga deposito.

Ekonom KB Valbury Sekuritas, Fikri C Permana, menambahkan bahwa penurunan suku bunga memberikan peluang bagi investor untuk segera membeli SBN Ritel sebelum pemangkasan lebih dalam terjadi. Selain itu, keuntungan dari instrumen seperti ORI026 dan ST013, yang memiliki skema kupon tetap atau "floating with floor", memberikan fleksibilitas bagi investor. Seri ST013, yang akan diterbitkan akhir tahun ini, memiliki kupon yang naik jika suku bunga BI naik, namun tidak turun jika BI menurunkan suku bunga.

Secara keseluruhan, SBN Ritel tetap menarik sebagai investasi, meski kupon menurun, karena risiko pasar yang tinggi dan insentif pajak lebih rendah dibandingkan deposito.

Pasar Obligasi Jadi Magnet Baru bagi Investor

HR1 12 Sep 2024 Bisnis Indonesia (H)

Optimisme di pasar surat utang negara (SUN) Indonesia meningkat menjelang pertemuan The Fed, yang diperkirakan akan menghasilkan pemangkasan suku bunga acuan. Pasar mulai merespon dengan penurunan yield US Treasury dan SUN. Handy Yunianto, Head of Fixed Income Research di Mandiri Sekuritas, memperkirakan yield SUN 10 tahun bisa turun hingga 6,2%–6,4% seiring penurunan suku bunga The Fed, yang juga mendorong aliran dana asing ke SUN.

Sentimen positif juga datang dari kebijakan fiskal pemerintahan baru yang prudensial dan penurunan yield instrumen saingan SUN, seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Tim Riset LPS menambahkan, jika suku bunga The Fed dipangkas, yield SUN akan menjadi lebih menarik, terutama dengan pertumbuhan ekonomi dan inflasi domestik yang stabil.

Namun, Ramdhan Ario Maruto dari Anugerah Sekuritas dan Rizky Hidayat dari Schroders Indonesia memperingatkan bahwa meskipun optimisme meningkat, risiko ketidakpastian global masih tinggi. Mereka menekankan pentingnya menjaga strategi defensif di tengah ketidakpastian kebijakan akibat transisi pemerintahan.

Obligasi dan Emas: Pilihan Tepat di Tengah Suku Bunga Rendah

HR1 02 Sep 2024 Kontan

Instrumen saham menjadi portofolio dengan kinerja terbaik sepanjang Agustus 2024. Tercermin dari kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang naik 5,72% secara bulanan (MoM). Berdasarkan riset KONTAN, kinerja saham di Agustus mengungguli kinerja emas. Meskipun sempat mencapai level tertinggi baru, kenaikan emas spot di Agustus sebesar 2,20% month on month (mom). Sementara emas Antam justru mencatatkan kinerja minus 0,78% mom. Aset kripto juga terkoreksi dua digit bulan lalu. Tapi sejak awal tahun ini, aset kripto dan emas masih jadi primadona. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana mengatakan, instrumen saham didukung risk on global yang sudah mulai terjadi. Sebab, ekspektasi pemangkasan suku bunga the Fed akan terjadi pada September ini. Untuk bulan ini, Fikri berpandangan kedua instrumen tersebut masih menarik. Namun, ia melihat obligasi pemerintah yang paling menarik. "Jika penurunan Fed Rate di September terjadi, kemungkinan BI rate juga akan turun dan harapannya akan mendorong kinerja pasar obligasi lebih baik," katanya. 

Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Lukman Leong menambahkan, melemahnya kinerja emas Antam lebih karena nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS. Mengingat, rupiah telah menguat hampir 6% sejak awal bulan, sedangkan emas dunia hanya naik kurang dari 3%. Meski begitu, secara umum kinerja instrumen saham, obligasi dan emas tetap baik pada jangka pendek ini. "Hanya saja, saham itu secara umum paling berisiko dan bisa bergerak terbalik terhadap safe haven emas," imbuh Lukman. Adapun untuk instrumen aset kripto, trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur memaparkan, secara historis September sering kali menjadi bulan yang penuh tantangan bagi bitcoin. Dalam periode tersebut, terjadi penurunan bitcoin antara 5% hingga 15% dalam waktu sebulan. Tapi pada September 2023, bitcoin mampu naik sekitar 5%. Dengan suku bunga yang lebih rendah, maka daya tarik bitcoin sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi juga meningkat. Sehingga kondisi ini bisa mendorong harga bitcoin naik mendekati level psikologis US$ 100.000, jika momentum bullish berlanjut. Ia mengingatkan, volatilitas harga bitcoin masih bisa meningkat seiring ketidakpastian ekonomi global.

Kesempatan Baru bagi Daerah Mengelola Utang

HR1 12 Aug 2024 Kontan (H)

Agar perekonomian daerah melaju, pemerintah terus mendukung dan memperluas sumber pendanaan kepada pemerintah daerah (pemda). Instrumen pendanaan yang dimaksud adalah penerbitan obligasi daerah maupun sukuk daerah. Hal ini diatur melalui Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 10/2024 tentang Penerbitan dan Pelaporan Obligasi Daerah dan Sukuk Daerah. Beleid yang diteken Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar ini berlaku sejak 9 Juli 2024. Aturan tersebut menggantikan, menggabungkan serta mencabut tiga Peraturan OJK lain yang mengatur obligasi daerah dan sukuk daerah. Ketiganya adalah POJK 61/POJK.04/2017, POJK 62/POJK.04/2017 dan POJK 63/POJK.04/2017. Otoritas juga memberikan relaksasi, yakni kewajiban penyampaian laporan keuangan pemerintah daerah (LKPD) periode terakhir yang telah diaudit Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) tidak lagi wajib disampaikan ke OJK.

Melainkan wajib tersedia di situs web pemda. Instrumen obligasi juga bertambah, yakni berbasis keberlanjutan. Direktur Eksekutif Komite Pemantauan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD) Armand Suparman mewanti-wanti pemerintah pusat untuk meninjau daerah mana saja yang boleh merilis obligasi. Ini untuk menghindari adanya potensi gagal bayar. "Potensi gagal bayar masih bisa terjadi," kata dia, kemarin. Armand melihat, ada beberapa daerah yang sudah mampu merilis obligasi daerah, seperti DKI Jakarta, Jawa Barat, dan beberapa provinsi lain di Jawa. Juga Kota Tangerang Selatan, Kota Surabaya, Kota Bandung, yang telah memiliki kemandirian fiskal.Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet melihat aturan ini mengisi kekosongan aturan sebelumnya terkait penerbitan obligasi daerah yang merupakan wacana lama yang pernah dikeluarkan pemerintah.

Ketentuan Penerbitan Obligasi Daerah Direlaksasi

KT1 12 Aug 2024 Investor Daily (H)
OJK berupaya mendorong perluasan sumber pembiayaan fiskal pemerintah daerah melalui pemanfaatan sumber pendanaan di pasar modal dengan menerbitan Peraturan OJK Nomor 10 Tahun 2024 tentang Penerbitan  dan Pelaporan Obligasi Daerah dan Sukuk Daerah (POJK 10/2024). Inti aturan ini, ketentuan penerbitan obligasi daerah direlaksasi dengan harapan lebih banyak pemerintah daerah (pemda) masuk pasar modal. Kepala Departemen Literasi, Inklusi Keuangan dan Komunikasi OJK Aman Santosa mengatakan, POJK 10/2024 dikeluarkan untuk menyesuaikan dan menyelaraskan ketentuan Peraturan OJK yang mengatur mengenai Obligasi Daerah, serta peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2024 tentang Harmonisasi Kebijakan Fiskal Nasional. Aturan itu bertujuan  mengatasi kendala penerbitan obligasi daerah dan sukuk daerah. (Yetede)

PENGHALANG EMISI SURAT UTANG

HR1 26 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)

Peluang korporasi untuk menerbitkan surat utang atau obligasi pada sisa tahun ini dibayangi berbagai risiko seperti suku bunga tinggi dan situasi ekonomi yang menantang yang membuat investor wait and see. Belum lagi dengan kehadiran instrumen lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berhamburan di pasar. Tak ayal, sejumlah korporasi pun memilih mengatur strategi pembiayaan yang lebih cermat. Sebagian korporasi bahkan lebih memilih untuk melunasi utang jatuh temponya ketimbang refinancing dengan cost of fund lebih tinggi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan nilai surat utang jatuh tempo tahun ini menyentuh Rp150 triliun. Sebanyak Rp90 triliun di antaranya baru akan jatuh tempo pada semester kedua tahun ini. PT Permodalan Nasional Madani (PNM), misalnya, memiliki dua surat utang jatuh tempo senilai total Rp1,76 triliun. Perseroan memilih melunasinya dengan kas internal. Alih-alih mengandalkan surat utang baru, perseroan memilih memanfaatkan pinjaman perbankan jika masih membutuhkan tambahan likuiditas. PMN masih memiliki fasilitas kredit yang belum ditarik senilai Rp18,6 triliun. “PNM akan lebih memilih tingkat bunga yang lebih rendah yang saat ini dimungkinkan akan memilih layanan perbankan. Namun, PNM akan melihat perkembangan terkait cost of fund baik perbankan maupun di pasar modal,” kata Direktur Bisnis PNM Prasetya Sayekti, Kamis (25/7).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa Hadi. Perseroan memiliki surat utang jatuh tempo senilai Rp198 miliar. “WOMF akan menggunakan kas internal perusahaan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo,” katanya. PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI) juga akan melunasi obligasi jatuh temponya senilai Rp52,8 miliar dengan menggunakan kas internal. Perseroan pun belum memiliki rencana untuk menerbitkan obligasi baru. Perihal dinamika tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa emisi surat utang korporasi pada sisa tahun ini bakal sangat berat, selama Bank Indonesia (BI) belum menurunkan suku bunganya. Di sisi lain, instrumen alternatif seperti SRBI kini lebih diminati oleh investor sebab menawarkan bunga tinggi, tenor pendek, dan jaminan keamanan oleh BI. Sebagai gambaran, pada lelang terakhir SBRI Rabu (24/7), BI memberikan bunga 7,299% untuk SRBI tenor 12 bulan. Terkait dengan risiko gagal bayar atau default, Head of Non-Financial Institution Ratings 1 Division Pefindo Martin Johannes Haholongan mengatakan bahwa memang ada beberapa tantangan makro ekonomi yang bisa mengancam kesiapan emiten dalam melunasi pembayaran utang jatuh temponya tahun ini.