;

PENGHALANG EMISI SURAT UTANG

Ekonomi Hairul Rizal 26 Jul 2024 Bisnis Indonesia (H)
PENGHALANG EMISI SURAT UTANG

Peluang korporasi untuk menerbitkan surat utang atau obligasi pada sisa tahun ini dibayangi berbagai risiko seperti suku bunga tinggi dan situasi ekonomi yang menantang yang membuat investor wait and see. Belum lagi dengan kehadiran instrumen lain seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang berhamburan di pasar. Tak ayal, sejumlah korporasi pun memilih mengatur strategi pembiayaan yang lebih cermat. Sebagian korporasi bahkan lebih memilih untuk melunasi utang jatuh temponya ketimbang refinancing dengan cost of fund lebih tinggi. Data Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) menunjukkan nilai surat utang jatuh tempo tahun ini menyentuh Rp150 triliun. Sebanyak Rp90 triliun di antaranya baru akan jatuh tempo pada semester kedua tahun ini. PT Permodalan Nasional Madani (PNM), misalnya, memiliki dua surat utang jatuh tempo senilai total Rp1,76 triliun. Perseroan memilih melunasinya dengan kas internal. Alih-alih mengandalkan surat utang baru, perseroan memilih memanfaatkan pinjaman perbankan jika masih membutuhkan tambahan likuiditas. PMN masih memiliki fasilitas kredit yang belum ditarik senilai Rp18,6 triliun. “PNM akan lebih memilih tingkat bunga yang lebih rendah yang saat ini dimungkinkan akan memilih layanan perbankan. Namun, PNM akan melihat perkembangan terkait cost of fund baik perbankan maupun di pasar modal,” kata Direktur Bisnis PNM Prasetya Sayekti, Kamis (25/7).

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Direktur Keuangan WOM Finance Cincin Lisa Hadi. Perseroan memiliki surat utang jatuh tempo senilai Rp198 miliar. “WOMF akan menggunakan kas internal perusahaan untuk melunasi obligasi yang akan jatuh tempo,” katanya. PT Indomobil Finance Indonesia (IMFI) juga akan melunasi obligasi jatuh temponya senilai Rp52,8 miliar dengan menggunakan kas internal. Perseroan pun belum memiliki rencana untuk menerbitkan obligasi baru. Perihal dinamika tersebut, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus mengatakan bahwa emisi surat utang korporasi pada sisa tahun ini bakal sangat berat, selama Bank Indonesia (BI) belum menurunkan suku bunganya. Di sisi lain, instrumen alternatif seperti SRBI kini lebih diminati oleh investor sebab menawarkan bunga tinggi, tenor pendek, dan jaminan keamanan oleh BI. Sebagai gambaran, pada lelang terakhir SBRI Rabu (24/7), BI memberikan bunga 7,299% untuk SRBI tenor 12 bulan. Terkait dengan risiko gagal bayar atau default, Head of Non-Financial Institution Ratings 1 Division Pefindo Martin Johannes Haholongan mengatakan bahwa memang ada beberapa tantangan makro ekonomi yang bisa mengancam kesiapan emiten dalam melunasi pembayaran utang jatuh temponya tahun ini.

Tags :
#Obligasi
Download Aplikasi Labirin :