;

KINERJA ASET PENDAPATAN TETAP : PASAR UTANG DI BAWAH TEKANAN EKSTERNAL

Ekonomi Hairul Rizal 18 Apr 2024 Bisnis Indonesia
KINERJA ASET PENDAPATAN TETAP : PASAR UTANG DI BAWAH TEKANAN EKSTERNAL

Gerak pasar surat utang berada di bawah sejumlah tekanan eksternal mulai dari eskalasi tensi geopolitik Timur Tengah yang berimbas pada pelemahan kinerja rupiah di hadapan dolar Amerika Serikat dan kenaikan imbal hasil. Pada penutupan pasar Rabu (17/4), Bloomberg mencatat tekanan pada pasar surat utang terlihat pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) tenor 2 tahun dan 10 tahun. SUN tenor 2 tahun memiliki imbal hasil 6,7% atau naik 2,86% secara harian. Nasib yang sama terjadi pada SUN tenor 10 tahun dengan imbal hasil 6,94% setelah naik 1,03%. Gerak stabil imbal hasil SUN ini patah pada perdagangan awal setelah libur Idulfi tri dan berlanjut hingga kemarin. Di pasar surat utang, kenaikan imbal hasil menandai penurunan minat yang memicu permintaan imbal hasil lebih tinggi dari investor. Pukulan sentimen eksternal mulai dari realisasi infl asi Amerika Serikat (AS) pada Maret 2024 mencapai 3,5% secara tahunan (year-on-year/YoY).

Dalam pernyataan terbarunya, pada diskusi panel bersama Gubernur Bank of Canada Tiff Macklem di Wilson Center di Washington, seperti dikutip dari Bloomberg, Rabu (17/4), bank sentral AS, Federal Reserve menurunkan kepercayaan dirinya terkait penurunan inflasi sehingga memudarkan ekspektasi pemangkasan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Di tengah tekanan tersebut, sikap lembaga pemeringkat utang, Fitch Ratings, Japan Credit Rating (JCR), dan terbaru, Moody’s Ratings yang kompak mempertahankan peringkat utang RI tak mampu memberikan taji terhadap kinerja surat utang di Tanah Air. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa sulit bagi pasar surat utang menghindari gelombang tekanan eksternal. Terlebih, sentimen itu bermuara pada narasi suku bunga tinggi lebih lama atau higher for longer. Bank Indonesia mencatat pada transaksi jelang libur Idulfi tri, aksi jual bersih di pasar SBN mencapai Rp1,41 triliun sehingga mengakumulasi aksi jual bersih investor asing pada instrumen buatan pemerintah itu sepanjang 2024. Sepanjang 2024, aksi jual bersih investor asing pada instrumen SBN menyentuh Rp34,75 triliun.

Senada, Ekonom Bahana TCW Investment Management Emil Muhamad mengatakan investor lebih baik menantikan momen yang tepat dengan ekspektasi penurunan suku bunga acuan pada semester II/2024. Menurutnya, dalam jangka pendek kinerja pasar surat utang masih dibayangi koreksi dengan nada kebijakan Federal Reserve yang hawkish akan membawa tekanan lanjutan. Selain sentimen eksternal, Investment Specialist Schroders Indonesia Rizky Hidayat dalam keterangannya masih memperhatikan proyeksi kinerja fiskal pemerintahan baru. Namun, dari sisi inflasi, dia percaya bahwa pergerakan infl asi masih dalam rentang target Bank Indonesia. Sejalan dengan sentimen eksternal dan penurunan harga komoditas, neraca transaksi berjalan mulai defi sit pada rentang 2,5% hingga 3% lebih rendah dari sebelumnya.

Tags :
#Obligasi #Utang
Download Aplikasi Labirin :