Crypto Currency
( 204 )Kripto : Harga Doge Koin Masih Sulit untuk Bangkit Kembali
Sempat menjadi salah satu aset kripto paling populer, kini nasib dogecoin (doge) justru tersungkur. Bahkan, kinerjanya diperkirakan sulit bangkit lagi. Merujuk coinmarketcap.com, harga doge Jumat (16/7) pada 17.15 WIB berada di level US$ 0,18 atau turun 7,09% dalam 24 jam terakhir. Sementara jika dihitung dalam sepekan, penurunannya sudah mencapai 18,33%.
Co-founder Cryptowatch dan pengelola kanal Duit Pintar Christopher Tahir melihat, prospek doge ke depan masih belum jelas. Sedari awal, mata uang kripto ini memang dibuat tanpa dasar apapun. Bahkan pembuatnya sudah dengan jelas menyatakan, doge dibuat untuk eksperimen dan iseng belaka. "Memang cukup sulit untuk melihat potensi doge, karena penggunaannya hanya sebatas pada spekulasi," kata Christopher, Jumat (16/7). Christopher menilai, Jika masih ada yang mendengungkan doge bisa menuju US$ 1, dalam jangka pendek-menengah itu adalah hal yang hampir tidak mungkin. "Kecuali, Elon berkicau ataupun harga bitcoin menguat tajam, sehingga doge dan koin lainnya mengekor," kata dia.Polisi Inggris Mencatatkan Rekor Penyitaan Kripto
London - Kepolisian Inggris mengumumkan telah menyita rekor 180 juta pound (setara US$ 250 juta atau 210 juta euro) dalam bentuk cryptocurrency yang diduga telah digunakan dalam perusahaan kriminal. Jumlah sitaan itu bagian dari penyelidikan yang sedang berlangsung terhadap praktik pencucian uang dan penggunaan intelijen internasional yang menerima transfer aset kriminal. Kepolisian juga percaya jaringan itu terkait dengan rekor tangkapan kripto kriminal sebelumnya yang dilakukan bulan lalu.
Pada penyitaan-penyitaan aset digital sebelumnya, Polisi Metropolitan tidak mengatakan jenis kripto apa yang terlibat. Seiring berkembangnya teknologi dan platform online, beberapa kriminal beralih ke metode pencucian yang lebih canggih untuk keuntungan mereka. Cryptocurrency sulit dilacak, pada gilirannya membuatnya sulit untuk diatur. Bitcoin, unit virtual paling populer di dunia, dibuat pada 2008 sebagai alternatif dari mata uang tradisional. Mata uang kripto tersebut dicetak dengan memecahkan teka-teki menggunakan komputer canggih yang menghabiskan banyak sekali listrik.
(Oleh - IDS)
Bitcoin Hadapi 5 Risiko Terbesar di Semester II
LONDON, Mata uang kripto (cryptocurrency) bitcoin memasuki 2021 dengan solid dan mencapai level tertinggi sepanjang masa pada April pada harga US$65.000. Tetapi mengakhiri semester pertama tahun ini dengan kemerosotan 47%. Dan sekarang dihadapkan pada sejumlah risiko yang dapat mengakibatkan kerugian lebih lanjut ke depannya. Para pendukungnya sendiri untuk saat ini tampaknya masih mempertahankan bitcoin, sementara para investor lain mewaspadai volatilitas atau perubahan liar di pasar, dan apa artinya bagi portfolio mereka. Mengingat hal ini maka ada lima risiko terbesar yang tengah dihadapi koin digital itu saat memasuki semester kedua tahun ini, yakni regulasi, volatilitas, masalah lingkungan, pengawasan stablecoin, serta koin meme dan penipuan.
Masalah regulasi adalah salah satu risiko terbesar untuk dihadapi bitcoin pada saat ini. Dalam beberapa pekan terakhir, Tiongkok telah menekan industri mata uang kriptonya dengan menutup operasional penambangan kripto yang banyak menyedot energi, juga memerintahkan bank-bank besar dan perusahaan jasa pembayaran, seperti Alipay untuk tidak berbisnis dengan perusahaan kripto.
Risiko besar berikutnya adalah soal perubahan harga bitcoin dan mata uang digital lainnya yang terjadi terus-menerus dan secara ekstrem. Seperti diketahui, bitcoin mencatatkan rekor penguatan sepanjang masa hingga mencapai harga sekitar US$ 64.829 pada April tahun ini, di saat debut bursa kripto Coinbase. Namun, harganya anjlok menjadi US$ 28.911 pada Juni, serta sempat merosot di bawah US$ 30.000 dan berubah negatif untuk tahun ini. Sejak saat itu, sekarang bitcoin kembali menguat di atas US$ 34.000.
Pertanyaan seputar dampak bitcoin terhadap lingkungan juga dapat menjadi krisis besar lainnya. Pasalnya, peralatan menambang bitcoin membutuhkan konsumsi listrik besar untuk beroperasi, dan konsumsi energi yang disebabkan bitcoin telah meningkat pesat selama bertahun-tahun seiring dengan harganya. Di sisi lain, para kritikus bitcoin telah lama memperingatkan tentang jejak karbonnya yang besar. Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk mengejutkan penggemar dan pihak yang skeptis dengan membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar. Tapi dia kemudian mengguncang pasar kripto setelah memutuskan menghentikan pembayaran bitcoin karena konsumsi energi mata uang itu yang menggila dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Stablecoin, merupakan kripto yang harganya dipatok ke aset dunia nyata seperti dolar AS, juga menghadapi pengawasan yang semakin ketat. Pekan lalu, Presiden Federal Reserve Bank Boston, Eric Rosengren mengatakan bahwa tether – mata uang kripto stablecoin yang menempati peringkat di antara mata uang digital terbesar di dunia – adalah risiko bagi stabilitas sistem keuangan.
Meningkatnya spekulasi di pasar kripto dapat membuktikan risiko lain yang dihadapi bitcoin. Salah satunya adalah dogecoin – mata uang kripto yang awalnya sebagai lelucon – dilaporkan melonjak liar awal tahun ini ke level tertinggi. Penyebabnya, semakin banyak investor ritel menumpuk aset digital untuk mencari keuntungan besar. Bahkan pada satu titik, dogecoin bernilai lebih dari Ford dan perusahaan besar AS lainnya, berkat dukungan dari selebritas, seperti Musk. Nilainya pun telah terdepresiasi secara signifikan sejak saat itu.
(Oleh - HR1)
Bursa Aset Kripto Diharapkan Bantu Ekonomi Indonesia
JAKARTA, Kehadiran bursa khusus aset kripto di Indonesia yang rencananya dapat diluncurkan pada akhir tahun ini diharapkan bisa memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional. Pasalnya, sebagai sebuah ekosistem investasi, aset kripto di Indonesia dinilai belum membawa dampak menyegarkan bagi perekonomian Indonesia. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, aset kripto saat ini belum memberikan sumbangsih bagi pertumbuhan ekonomi, beda halnya dengan obligasi dan saham yang sudah menunjukkan kontribusinya ke negara. Hal ini termasuk dari sisi perpajakan. ”Dampak perekonomiannya (aset kripto) belum ada, kalau sekedar beranak pinak tapi tidak masuk ke hal-hal riil, lalu manfaat buat negara dalam bangun ekonomi apa. Ini jadi sekedar perjudian atau spekulatif. Diharapkan dengan adanya bursa kripto bisa jadi model atau sumber dana baru bagi perekonomian,” katanya dalam diskusi publik ”Plus Minus Investasi Aset Kripto”, Kamis (24/6).
(Oleh - HR1)
China Larang Bitcoin, Penambang 'Kabur' ke AS hingga RI
Jakarta, Sejumlah penambang uang kripto di China mulai pindah dan menjual mesin tambang mereka ke luar negeri, seperti Amerika Serikat, Kanada, Australia, Rusia, Kazakhstan, hingga Indonesia. Ini merupakan dampak dari larangan dan tindakan keras China terhadap uang kripto, seperti bitcoin dan lainnya."Banyak penambang keluar dari bisnis (uang kripto) untuk mematuhi kebijakan pemerintah (China). Mesin tambang (uang kripto) dijual seperti besi tua," ungkap Mike Huang, seorang operator tambang uang kripto di Sichuan, China, seperti dilansir dari Reuters, Jumat (25/6).Huang Dezhi, operator tambang uang kripto lain di Sichuan mengaku juga sudah melakukan penjajakan ke luar negeri seperti Kazakhstan. Sichuan sendiri merupakan salah satu kawasan yang terkenal sebagai pusat penambangan bitcoin nomor dua di China setelah Xinjiang.
Pindahnya para penambang uang kripto di China merupakan dampak lanjutan dari larangan pemerintah negeri tirai bambu terhadap bitcoin dan lainnya di negara mereka. Sebelumnya, larangan ini memberi dampak pada penurunan harga berbagai uang kripto, misalnya harga bitcoin yang jatuh dari kisaran US$60 ribu menjadi US$30 ribu per koin. China mengambil kebijakan ini untuk menghindari risiko spekulatif uang kripto terhadap pasar keuangan mereka. Di saat yang sama, bank sentral China tengah menguji mata uang digitalnya sendiri.
(Oleh - HR1)
Kripto Masih Jauh dari Bear Market
NEW YORK – Penurunan harga
bitcoin yang sempat di bawah US$
30.000 pada Selasa (22/6) kembali
membangkitkan perdebatan soal
kemerosotan nilai mata uang kripto
(cryptocurrency), seperti dogecoin,
XRP, dan lainnya. Yang juga mengalami penurunan tajam dalam 24
jam terakhir.
Namun, para ahli mengatakan
fundamental bitcoin bagus dan
kondisi pasar pada 2021 sangat
berbeda dari kehancuran besar-besaran terakhir kripto pada 2018.
“Kami jauh dari bear market, hanya para pedagang yang panik atas
teknis yang terlihat di bursa seperti
volume dan aksi harga,” ujar analis
dan ahli statistik on-chain Willy
Woo kepada CNBC.
Sebagai informasi sejak harga
bitcoin memuncak lebih dari US$
63.000 pada April, kondisi beberapa
bulan terakhir ini telah membuat
mata uang kripto terbesat di dunia
mengalami masa-masa sulit. Penyebabnya adalah langkah-langkah
tegas yang dilakukan Tiongkok
terhadap para penambang bitcoin
di seluruh negeri, dan memperparah keadaan bitcoin.
“Kabar baru-baru ini tentang
penutupan tambang Tiongkok
sudah sangat mengingatkan Tiongkok setiap beberapa tahun.
Mereka telah melarang perbankan
menggunakan bitcoin, tetapi ini
sebenarnya berbeda. Saya belum
pernah melihat eksodus seperti ini
sebelumnya,” kata Darin Feinstein,
pendiri Blockcap, salah satu operator penambangan bitcoin terbesar
di Amerika Utara
(Oleh - HR1)
Pasar Kripto Tergerus US$ 300 Miliar
BEIJING – Pemerintah Tiongkok
melancarkan tindakan tegas baru
terhadap industri mata uang kripto
(cryptocurrency) sehingga nilanya
tergerus US$ 300 miliar sejak Jumat
(18/6). Hal ini terjadi ketika pusat
kegiatan bitcoin utama di dunia itu
telah memerintahkan para penambang ntuk menutup operasinya.
Data CoinDesk melaporkan, harga
bitcoin mengalami penurunan sekitar
2% menjadi US$ 32.330,21 pada Selasa
(22/6), pukul 04.12 waktu setempat.
Mata uang kripto lain, termasuk ethereum (ether) dan XRP juga turun
tajam pada Senin (21/6) malam.
Berdasarkan beberapa laporan
media, pihak berwenang di provinsi
Sichuan, Tiongkok pada Jumat, memerintahkan para penambang mata
uang kripto untuk menutup operasi
mereka. Sichuan sendiri merupakan salah satu pusat penambangan
bitcoin terbesar di Negeri Tirai
Bambu itu.
(Oleh - HR1)
Indonesia Peringkat Kedua Kejahatan Cryptomining
JAKARTA – Indonesia menempati peringkat kedua dalam upaya
kejahatan penambangan mata
uang digital (Cryptomining) untuk
kawasan Asia Tenggara. Kaspersky
mendeteksi dan memblokir sekitar
1,79 juta upaya kejahatan cryptomining di Indonesia untuk tahun 2020,
setelah Vietnam sebanyak 4,95 juta.
Sepanjang tahun lalu, ada 8,92
juta upaya kejahatan cryptomining di kawasan Asia Tenggara.
Selain dikontribusi oleh Vietnam
dan Indonesia, upaya kejahatan
tersebut terjadi di Thailand sebanyak 923,76 ribu, Malaysia
831,86 ribu, Filipina 230,09 juta,
dan Singapura 191,93 ribu.
“Serangan siber terkait cryptomining yang mencapai 8,92 juta
pada 2020 merupakan yang tertinggi jika dibandingkan dengan
upaya phishing yang terdeteksi
2,89 juta dan upaya ransomware
804.513,” ungkap General Manager untuk Asia Tenggara di Kaspersky Yeo Siang Tiong, Senin (21/6).
Karena itu, Kasperksy mengingatkan, jika seorang pemilik bisnis dan para staf bekerja dari jarak
jauh karena pandemi Covid-19,
namun tagihan listrik kantor meningkat secara tidak wajar.
Pebisnis pun disarankan untuk
memeriksa backend TI. Ada kemungkinan terdapat penambang
kripto yang telah menggunakan
sumber dayanya tersebut dan
dibayari oleh pemilik bisnis.
(Oleh - HR1)
Bitcoin Tertekan Pemberantasan Tambang Kripto di Tiongkok
BEIJING – Nilai Bitcoin jatuh
lebih dari 10% pada Senin (21/6)
setelah Tiongkok memperluas
pemberantasan terhadap industri
penambangan besar-besaran kripto,
dengan larangan tambang kripto di
provinsi bagian barat daya.
Tambang Tiongkok menggerakkan hampir 80% perdagangan
global dalam kripto, meskipun ada
larangan perdagangan domestik
sejak 2017. Tetapi dalam beberapa
bulan terakhir sejumlah provinsi
telah memerintahkan penutupan
tambang karena pemerintah Tiongkok mengalihkan perhatiannya ke
industri tersebut.
Harga bitcoin kemudian merosot
ke level US$ 32.309. Unit tersebut
telah terpukul parah dalam beberapa
minggu terakhir, setelah memukul
rekor mendekati US$ 65.000 pada
April, sebagian penurunan disebabkan tindakan keras pemerintah
Tiongkok.
Pemberitahuan tersebut dilaporkan menginstruksikan perusahaan
listrik untuk berhenti memasok
listrik ke semua tambang cryptocurrency pada Minggu (20/6).
Bank sentral Tiongkok (PBoC)
mengatakan kegiatan transaksi mata
uang virtual mengganggu ekonomi
normal dan tatanan keuangan,
serta berisiko berkembang biak
dari transfer aset lintas batas ilegal.
Pihaknya menambahkan, lembaga
harus memotong penghubung yang
memfasilitasi mereka.
Pemerintah Tiongkok telah menambah tekanan pada para penambang cryptocurrency untuk
mengeliminasi risiko keuangan dari
spekulasi, meskipun kekhawatiran
lingkungan tentang tambang yang
menghabiskan gas juga menjadi
faktor.
(Oleh - HR1)
China : Cuci Uang dengan Kripto
Kementerian Keamanan Publik China mengumumkan, telah menangkap hingga 1.100 orang terkait kasus pencucian uang dengan kedok investasi di mata uang kripto alias cryptocurrency.
Pejabat keamanan Pemerintah China menuding para tersangka menggunakan aset kripto untuk mencuci uang hasil penipuan via telepon dan internet. Mengutip Reuters, kepolisian China menangkap lebih dari 170 kelompok kriminal yang terlibat dalam aksi pencucian uang dengan menggunakan uang kripto.
Para pencuci uang tersebut meminta komisi 1,5% hingga 5% kepada klien kriminal mereka untuk mengubah hasil ilegal menjadi mata uang virtual melalui bursa kripto. Penangkapan ribuan orang ini menunjukkan keseriusan Pemerintah China dalam mengawasi perdagangan kripto. Sekaligus menunjukkan rentannya uang kripto menjadi alat kejahatan.
Pilihan Editor
-
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Masih Saja Marak, Satgas Tutup 100 Pinjol Ilegal
01 Aug 2022 -
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
HARGA PANGAN, Fenomena ”Lunchflation”
29 Jul 2022 -
Digitalisasi Keuangan Daerah
26 Jul 2022









