Crypto Currency
( 204 )Fluktuasi Masih Tinggi, Uji Daya Tahan Kripto
Pasar mata uang kripto masih belum pulih dari keterpurukan tahun ini. Padahal tahun lalu, investasi di mata uang kripto sukses memberikan keuntungan berlipat ganda bagi investor, bahkan lebih tinggi ketimbang kebanyakan instrumen investasi konvensional. VPGrowth Marketing Tokocrypto Cenmi Mulyanto menilai, tahun ini pasar kripto akan sulit mengulang pertumbuhan kinerja layaknya 2020-2021. CEO Digital Exchange Duwi Sudarto Putra mempertegas, pengetatan kebijakan moneter The Fed menekan minat investor berinvestasi di aset berisiko, termasuk cryptocurrency. Pelaku pasar masih menguji konsep dan proyek yang jadi portofolio dasar token kripto.
Ribuan Mata Uang Digital Diprediksi Kolaps
Sejumlah pemain di industri mata uang kripto (crytocurrency) menyampaikan kemungkinan ribuan token digital akan kolaps. Sementara itu, jumlah blockchain yang ada juga bakal turun untuk beberapa tahun mendatang. Keruntuhan baru-baru ini yang disebut algoritme stablecoin terraUSD dan terkait token digital luna- yang mengirimkan gelombang kejutan ke pasar- telah menyoroti ribuan mata uang kripto yang sudah ada dan apakah semuanya akan bertahan. "Salah satu efek dari apa yang kami lihat minggu lalu dengan masalah Terra, adalah kami berada pada tahap dimana pada dasarnya ada terlalu banyak blockchain di luar sana. Hal itu pula yang membawa beberapa resiko bagi pengguna. Seperti di awal kehadiran internet, Anda memiliki banyak perusahaan dotcom dan banyak diantaranya adalah penipuan, tidak membawa nilai apapun dan semuanya dibersihkan. Dan sekarang kami memiliki perusahaan yang sangat berguna dan sah," ujar CEO Web3 Foundation Bertrand Perez kepada CNBC. Sebagai informasi, banyak platform blockchain yang berbeda dari ethereum hingga solana, yang berlomba-lomba untuk memimpin industri ini. (Yetede)
Musim Gugur Aset Kripto
Dalam tiga pekan terakhir, pasar kripto terguncang oleh kejatuhan nilai aset kripto Terra Luna atau Luna dan TerraUSD atau UST sebagai ”stablecoin” atau koin stabilisatornya. Menurut Coinmarketcap, nilai Luna anjlok dari 76,6 USD per koin pada 7 Mei 2022 menjadi 0,01438 USD per koin pada 12 Mei 2022. Situasi itu terjadi setelah UST kehilangan pasak karena anjlok dari nilai semestinya, yakni 1 dollar AS per UST. Anjloknya dua aset digital yang sebelumnya masuk dalam 20 aset terbesar secara kapitalisasi pasar itu berdampak serius terhadap pasar kripto global. Laman tradingview mencatat, kapitalisasi pasar kripto global anjlok dari 1,645 triliun USD pada 7 Mei menjadi 1,247 triliun USD pada 12 Mei.
Drama ”stablecoin” telah memicu perdebatan tentang masa depan aset kripto. Sebab, pada saat yang bersamaan, kenaikan suku bunga acuan sejumlah bank sentral memaksa investor individu dan institusi mengalkulasi ulang porsi investasi mereka pada aset digital. Ekspektasi atas kenaikan agresif suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS, Federal Reserve/The Fed, hingga akhir tahun telah mendorong investor melepas aset berisiko. Anjloknya kapitalisasi pasar dan harga aset kripto telah menggerus harta sejumlah orang kaya baru di penjuru dunia. Bloomberg Billionaires Index mencatat, kekayaan CEO Binance Changpeng Zhao yang pada Januari lalu mencapai 96 miliar USD anjlok jadi 80,3 miliar USD pada 27 Mei 2022. Situasi terkini yang dihadapi industri aset kripto cukup untuk menggambarkan bahwa industri ini tengah memasuki fase musim gugur. (Yoga)
Aksi Risk Off Berlanjut, Harga Token Kripto Sulit Naik
Sentimen global masih berdampak negatif bagi harga aset kripto. Harga sejumlah token kripto dengan kapitalisasi pasar besar masih menurun dan belum menarik untuk dikumpulkan kembali. Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, harga bitcoin turun karena terpengaruh sentimen kenaikan Fed fund rate. Saking kuatnya sentimen risk off, pelaku pasar mengabaikan sentimen yang biasanya mendorong token kripto menguat.
Terseret Kejatuhan Terra Luna
Harga Tera Luna masih terus berfluktuasi setelah pada pekan lalu aset kripto ini anjlok hampir 100%. Melansir Crypto.com aset digital ini bernilai US$ 0,0002156 per koin pada kemarin malam. Harga ini melonjak lebih dari 277%, dilihat pada pergerakan selama tujuh hari. Namun, dalam kurun waktu sebulan, harga koin itu ambless hampir 100%. Longsornya harga Terra Luna menggegerkan pasar aset kripto dunia. Pasalnyam Luna sempat menduduki daftar 10 aset kripto teratas dalam hal kapitalisasi pasar. Koin ini pun sempat mencapai harga tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 119,55 per koin pada April lalu. Ditengah riuh rendah perbincangan mengenai anjloknya harga koin Terra Luna, tak sedikit orang yang masih membeli aset tersebut dengan harapan menangguk keuntungan ketika harga naik kembali. Seperti Ema Fitriyani, pegawai swasta yang mengaku iseng membeli koin saat harga Luna amblas."Aku iseng-iseng saja pas malam (harga Luna) ambles 99%. Rugi sih karena sekarang harganya Rp 1 dan enggak bisa ditransaksikan lagi," tuturnya kepada Tempo, beberapa waktu lalu. (Yetede)
Harga Kripto Turun Bebas, Investor Bisa Mulai Beli Selektif
Pasar kripto tengah terguncang hebat. Dalam 24 jam terakhir, beragam aset kripto mengalami koreksi lebih dari 10%. Merujuk Coinmarketcap, harga bitcoin per pukul 17.45 WIB kemarin berada di US$ 27.720,86 per BTC, atau melemah 13,07% dalam 24 jam terakhir. Ethereum dan Binance Coin juga menorehkan tren serupa. Ketiga aset kripto tersebut dalam tujuh hari terakhir sudah mengalami penurunan harga lebih dari 30%. Christoper Tahir, Co-Founder CryptoWatch mengatakan kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat menyebabkan tekanan terhadap aset kripto. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menyarankan, bagi investor yang ingin melakukan investasi, ada baiknya menunggu terjadinya perubahan tren agar tidak terjebak menadah pisau jatuh.
Harga Saham dan Bitcoin Anjlok
Kenaikan suku bunga acuan oleh The Federal Reserve alias Bank Sentral AS, pengetatan karantina wilayah di China, dan belum jelasnya ujung perang Rusia-Ukraina menekan prospek ekonomi global. Pasar saham di kawasan Asia berada dalam teritori negatif pada Senin (9/5) pagi, seiring dengan merosotnya indeks saham berjangka di pasar modal AS. Penurunan nilai juga dialami aset-aset kripto. Ini diawali dengan anjloknya harga bitcoin. (Yoga)
Menkeu AS Minta Pengawasan Kripto di Tingkatkan
Menteri Keuangan (Menkeu) Amerika Serikat (AS) Janet Yellen meminta pengawasan terhadap mata uang kripto ditingkatkan. Lampu hijau yang diberikan Biden langsung menempatkan AS diantara lebih dar 100 negara yang sedang menjajaki, atau telah melakukan program percontohan mata uang digital bank sentralnya sendiri, termasuk yuan digital Tiongkok. Sebagai informasi, dalam beberapa tahun terakahir mata uang digital, seperti bitcoin atau ethereum (ether) telah mengalami pertumbuhan yang booming. Terlepas, ketika para pejabat AS menyatakan kekhawatiran apakah aset tersebut telah diatur dengan benar atau bisakah digunakan dalam kegiatan terkait kejahatan. "Ketika bank-bank dan perusahaan-perusahaan keuangan tradisional lainnya menjadi lebih terlibat dalam pasar aset digital, kerangka peraturan perlu mencerminkan resiko dari kegiatan baru ini dengan tepat. Dan jenis perantara baru, seperti pertukaran aset digital dan perantara asli digital lainnya, harus tunduk pada bentuk pengawasan yang sesuai," ujar Yellen yang dikutip dari pidato yang dirilis oleh Departemen Keuangan AS, dan dilansir AFP. (Yetede)
AS Mulai Pelajari Resiko dan Manfaat Dolar Digital
Presiden Joe Biden pada Selasa (9/3) mendatangi pemerintah eksekutif yang mewajibkan pemerintahnya untuk menilai resiko dan manfaat dari pembuatan dolar digital oleh bank sentral, serta permasalahan mata uang kripto (cryptocurrency) lainnya. "Ditengah ledakan pesat mata uang kripto swasta seperti bitcoin, AS akan melakukan upaya mempelajari manfaat dan potensi resiko sambil mengedepankan urgensi pada penelitian dan pengembangan potensi mata uang digital bank sentral (central bank digital currency/CBDC) AS."
BI Masih Kaji Penerbitan Uang Digital
Bank Indonesia (BI) masih mengkaji terkait penerapan Central Bank Digital Currency (CBDC), pembahasan mengenai CBDC juga menjadi topik diskusi antarnegara dalam G20, yakni terkait landasan penerapan dan dampaknya. Deputi Gubernur Bank Indonesia Juda Agung menuturkan, saat ini BI juga sudah mulai penelitian terkait CBDC dan mencari tahu dampak dan implikasi dari implementasi CBDC terhadap kebijakan moneter, seperti apakah CBDC adalah jenis aset berbunga atau tanpa bunga.
"Hal ini (CBDC) tentunya akan mempengeruhi cara kita melakukan kebijakan moneter dan implikasinya terhadap stabilitas keuangan tentunya. Diskusi ini masih berlangsung dan BI juga diskusi juga dengan para kandidat yang (mengembangkan CBDC) atau pilot project seperti Tiongkok, Swedia, Bahama," Kata dia dalam rangkaian diskusi G20 Finance Track, akhir pekan lalu. "Karena itulah CBDC menjadi sesuatu yang harus kita persiapkan, dan jika kita melihat survei yang dilakukan The Bank of Internasional Settlement (BIS), sebanyak 80% bank sentral di seluruh negara telah melakukan penelitian dan mempersiapakan CBDC," ungkapnya. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









