Bitcoin Hadapi 5 Risiko Terbesar di Semester II
LONDON, Mata uang kripto (cryptocurrency) bitcoin memasuki 2021 dengan solid dan mencapai level tertinggi sepanjang masa pada April pada harga US$65.000. Tetapi mengakhiri semester pertama tahun ini dengan kemerosotan 47%. Dan sekarang dihadapkan pada sejumlah risiko yang dapat mengakibatkan kerugian lebih lanjut ke depannya. Para pendukungnya sendiri untuk saat ini tampaknya masih mempertahankan bitcoin, sementara para investor lain mewaspadai volatilitas atau perubahan liar di pasar, dan apa artinya bagi portfolio mereka. Mengingat hal ini maka ada lima risiko terbesar yang tengah dihadapi koin digital itu saat memasuki semester kedua tahun ini, yakni regulasi, volatilitas, masalah lingkungan, pengawasan stablecoin, serta koin meme dan penipuan.
Masalah regulasi adalah salah satu risiko terbesar untuk dihadapi bitcoin pada saat ini. Dalam beberapa pekan terakhir, Tiongkok telah menekan industri mata uang kriptonya dengan menutup operasional penambangan kripto yang banyak menyedot energi, juga memerintahkan bank-bank besar dan perusahaan jasa pembayaran, seperti Alipay untuk tidak berbisnis dengan perusahaan kripto.
Risiko besar berikutnya adalah soal perubahan harga bitcoin dan mata uang digital lainnya yang terjadi terus-menerus dan secara ekstrem. Seperti diketahui, bitcoin mencatatkan rekor penguatan sepanjang masa hingga mencapai harga sekitar US$ 64.829 pada April tahun ini, di saat debut bursa kripto Coinbase. Namun, harganya anjlok menjadi US$ 28.911 pada Juni, serta sempat merosot di bawah US$ 30.000 dan berubah negatif untuk tahun ini. Sejak saat itu, sekarang bitcoin kembali menguat di atas US$ 34.000.
Pertanyaan seputar dampak bitcoin terhadap lingkungan juga dapat menjadi krisis besar lainnya. Pasalnya, peralatan menambang bitcoin membutuhkan konsumsi listrik besar untuk beroperasi, dan konsumsi energi yang disebabkan bitcoin telah meningkat pesat selama bertahun-tahun seiring dengan harganya. Di sisi lain, para kritikus bitcoin telah lama memperingatkan tentang jejak karbonnya yang besar. Sebelumnya, CEO Tesla Elon Musk mengejutkan penggemar dan pihak yang skeptis dengan membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar. Tapi dia kemudian mengguncang pasar kripto setelah memutuskan menghentikan pembayaran bitcoin karena konsumsi energi mata uang itu yang menggila dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Stablecoin, merupakan kripto yang harganya dipatok ke aset dunia nyata seperti dolar AS, juga menghadapi pengawasan yang semakin ketat. Pekan lalu, Presiden Federal Reserve Bank Boston, Eric Rosengren mengatakan bahwa tether – mata uang kripto stablecoin yang menempati peringkat di antara mata uang digital terbesar di dunia – adalah risiko bagi stabilitas sistem keuangan.
Meningkatnya spekulasi di pasar kripto dapat membuktikan risiko lain yang dihadapi bitcoin. Salah satunya adalah dogecoin – mata uang kripto yang awalnya sebagai lelucon – dilaporkan melonjak liar awal tahun ini ke level tertinggi. Penyebabnya, semakin banyak investor ritel menumpuk aset digital untuk mencari keuntungan besar. Bahkan pada satu titik, dogecoin bernilai lebih dari Ford dan perusahaan besar AS lainnya, berkat dukungan dari selebritas, seperti Musk. Nilainya pun telah terdepresiasi secara signifikan sejak saat itu.
(Oleh - HR1)
Tags :
#Crypto CurrencyPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023