;
Tags

Ekonomi Makro

( 695 )

MENAHAN RISIKO LAJU INFLASI

HR1 03 Jun 2022 Bisnis Indonesia (H)

Ruang pengendalian inflasi pada tahun ini masih cukup luas, kendati indeks harga konsumen pada Mei 2022 mencapai 3,55% (year-on-year/YoY), tertinggi sejak Desember 2017. Musababnya, inflasi inti yang menjadi tolok ukur daya beli masyarakat sejauh ini masih cukup stabil, yakni sebesar 2,59% (YoY) pada bulan lalu, hampir tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 2,6%. Inflasi inti adalah komponen pengukur inflasi yang cenderung menetap karena dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti harga komoditas, nilai tukar rupiah, hingga kondisi ekonomi di negara mitra dagang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan situasi pasar pada bulan lalu memang menunjukkan adanya kenaikan harga yang didorong oleh meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan barang.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pemerintah juga masih bisa memanfaatkan windfall penerimaan dari komoditas untuk dialokasikan ke dalam belanja subsidi. “Pemerintah bisa melakukan subsidi dari nilai tambah itu pada sektor tertentu. Kita waspada harus, tapi saya melihat terkendali,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/6). Koordinator Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menilai target inflasi pemerintah 4% hingga akhir tahun sudah cukup rasional. Pemerintah maupun otoritas moneter juga perlu mencermati berbagai dinamika yang berpotensi mengerek laju inflasi makin tinggi dan menggerus daya beli masyarakat.


Indonesia Aman dari Stagflasi dan Resesi

KT1 03 Jun 2022 Investor Daily (H)

Kalangan dunia usaha dan ekonomi menilai perekonomian nasional mulai bangkit. Indonesia juga relatif aman dari ancaman stagflasi dan resesi dibanding negara-negara lain. Agar pemulihan ekonomi nasional berlangsung lebih akseleratif, pemerintah harus menjaga daya beli  masyarakat dengan cara meredam kenaikan harga pangan, energi, dan kompensasi biaya industri. Selain itu, pemerintah selaku otoritas fiskal dan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter harus berupaya merespons sejumlah risiko, seperti pelarian modal asing (Capital flight), hiperinflasi, depresiasi rupiah, dan lonjakan utang luar negeri  yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi ke arah stagflasi (inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi rendah), bahkan bisa mendorong  perekonomian ke jurang resesi (pertumbuhan minus). Asalkan pemerintah bisa menciptakan intervensi-intervensi kebijakan yang tepat untuk menekan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, dan memangkas beban-beban biaya industri, target pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,2% bakal tercapai. (Yetede)

K/L Diminta Tambah Anggaran Dana Cadangan Rp24,5 T

KT1 31 May 2022 Investor Daily (H)

Kementerian Keuangan meminta  seluruh kementerian dan lembaga (K/L) untuk menyisihkan tambahan anggaran dana cadangan (automatic adjust) sebesar total Rp24,5 triliun. Dana ini akan digunakan sebagai dana siaga untuk  mengantisipasi ketidakpastian  global, khususnya karena peningkatan harga komoditas energi dan pangan yang turut  memengaruhi ekonomi domestik.

 "Keputusan ini diambil berdasarkan arahan Presiden RI dalam rapat internal (16/5) dengan agenda belanja subsidi dalam APBN 2022 dan implementasi kebijakan APBN 2022," demikian isi surat edaran  (SE) Menteri Keuangan yang dikutip Investor Daily, Senin (30/5). Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu  Isa Rachmatamarta mengatakan, kebutuhan penambahan dana cadangan ini akan digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan yang mendesak atas imbas kenaikan harga komoditas energi dan pangan. 

"Cadangan tambahan tidak boleh dipakai dulu, sampai tekanan pada kenaikan harga mereda atau dapat dimitigasi dengan anggaran lain yang disiapkan. Dana tersebut juga sudah termasuk tambahan pagu untuk subsidi dan  kompensasi yang sudah disetujui DPR," tuturnya. (Yetede)

Harga dan Pelemahan Permintaan

KT3 17 May 2022 Kompas (H)

Dampak kenaikan harga dapat diuraikan menjadi dua bagian, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Dampak yang paling ekstrem adalah hilangnya permintaan atau demand destruction akibat efek substitusi dan efek pendapatan, yang membuat konsumsi suatu barang menjadi tidak terjangkau lagi. Kenaikan harga suatu barang punya batas. Jika terlalu tinggi, pelanggan akan berhenti membeli dan beralih sepenuhnya pada alternatif lain. Akibat serangan Rusia ke Ukraina, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) sempat mencapai 123 USD per barel., kemudian turun ke 99 USD per barel, meski situasi geopolitik yang belum menentu membawanya ke 107 USD per barel. Faktor-faktor lain yang menahan harga minyak WTI di kisaran 100-110 USD per barel adalah kekhawatiran dampak penguncian (lockdown) di China dan potensi resesi di AS. Tampaknya, para pedagang di bursa berjangka mulai mengerti bahwa permintaan akan rontok sendiri jika harga tak terjangkau. Namun, para spekulan tetap butuh fluktuasi harga guna memperoleh keuntungan. Efek dari perubahan perilaku ini adalah pasar minyak berfluktuasi di kisaran harga yang lebih sempit, dibandingkan dengan awal konflik Ukraina-Rusia. Walakin, kisaran itu tampaknya belum dapat menenangkan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS. Di tingkat SPBU rata-rata harga BBM melonjak ke 4,37 USD per galon atau 1,19 USD atau Rp 17.255 per liter.

Secara paradoks, demand destruction ini diperlukan untuk menurunkan tekanan inflasi walau akibatnya adalah pertumbuhan yang negatif di triwulan I-2022, yakni minus 1,4 %. Namun, bank sentral AS menganggap inflasi masih terlalu tinggi sehingga perlu menaikkan suku bunga 50 basis poin pada 4 Mei 2022. Langkah itu dibarengi dengan pengurangan kepemilikan surat berharga 95 miliar USD per bulan. Kasus anekdotal perubahan perilaku lain terjadi di Inggris akibat konflik Ukraina-Rusia serta sanksi ekonomi terhadap Rusia yang membuat harga energi dan pangan melambung. Survei YouGov akhir April 2022 menemukan, 14 % dari 10.674 responden terpaksa mengurangi frekuensi makan sehari-hari dari tiga kali menjadi kurang dari itu. Jika tetap makan tiga kali sehari, mereka mengurangi porsinya. Untuk menghemat tagihan listrik dan gas, sebagian masyarakat juga beralih ke makanan siap saji beku karena memasak sendiri dari bahan mentah menjadi mahal. (Yoga)


Enam Sektor Usaha Topang Pertumbuhan Ekonomi

KT1 11 May 2022 Investor Daily (H)

Sebanyak enam sektor usaha  akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada kuartal 1-2022 mencapai 5,01% secara tahunan atau year on year (yoy). Hal ini membuat  pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi  bisa mencapai 5,2% sepanjang tahun ini, dibandingkan tahun lalu 3,69%. Keenam sektor itu adalah industri pengolahan  dengan hilirisasi sumber daya alam (SDA), sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor transportasi, sektor hotel, dan restoran, serta sektor pariwisata. "Momentum pertumbuhan ini  akan dijaga dengan  mendorong enam sektor itu, dengan tetap memperhatikan protokol Covid-19,walaupun mobilitas dilonggarkan," ucap Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian  Iskandar Simorangkir saat dihubungi Investor Daily, Selasa (10/5).  Iskandar meyakini pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2022 bisa lebih tinggi dari kuartal I. (Yetede)

Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Diproyeksi 4,8-5,1%

KT1 09 May 2022 Investor Daily (H)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I -2022 berpeluang tumbuh signifikan  pada kisaran 4,8-5,1% secara tahunan (year on year/yoy)  seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat. "Meskipun sempat dibayangi oleh penyebaran varian virus  baru omicron pada awal tahun ini, namun kesigapan pemerintah telah mampu mengatasi efek negatif lebih lanjut dari sebaran omicron," ucap Ekonom sekaligus Staf Ahli Otoritas  Jasa Keuangan Ryan Kiryanto.  Kegiatan ekspor impor pun masih berjalan baik  kendati dihadapkan pada ketegangan  politik terkait agresi  militer Rusia ke Ukraina sejak 14 Februari 2022.  Mobilitas arus barang dan jasa  sedikit terganggu karena distrupsi berbagai moda transportasi laut dan udara setelah Amerika Serikat sekutu Barat memberlakukan  sanski ekonomi kepada Rusia. "Kegiatan ekspor komoditas tetap berjalan normal ditengah kenaikan harga di pasar lantaran permintaan eksternal  yang juga tetap solid mendukung kinerja ekspor," kata Ryan lagi. (Yetede)

Kencang Arus Uang Lebaran

KT1 06 May 2022 Tempo (H)

Sejumlah kalangan memperkirakan peredaran uang pada Lebaran 2022 akan sangat tinggi. Perputaran dana ini akan mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada kuartal II. Ekonom dari PT Bank Central Asia Tbk, David Sumual, memperkirakan satu orang bisa menghabiskan rata-rata 3 juta selama Lebaran. Dengan asumsi sejumlah pemudik pada tahun ini mencapai 85 juta orang, dia memperkirakan uang beredar di masa Lebaran 2022 mencapai Rp 255 triliun. "Dampaknya pada produk domestik bruto (PDB) 0,1-0-15% dari baseline" kata dia, kemarin. David berharap efek peredaran uang terasa signifikan  dari kota besar hingga ke daerah sehingga bisa memicu pemulihan ekonomi khususnya bagi UMKM. Direktur Center of Economic and Law Studies, Bhima Yudhistira, mengatakan peredaran uang pada masa Lebaran 2022 bisa naik lebih dari 60% dari tahun lalu atau mencapai Rp250 triliun. Menurut dia, kenaikan jumlah uang beredar kali ini  dipicu oleh pembayaran THR secara penuh oleh pegawai swasta. (Yetede)

BI Dunia Tengah Alami Krisis Sangat Parah

KT1 24 Apr 2022 Investor Daily

Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia Destry  Damayanti mengatakan, dunia sedang mengalami krisis yang  sangat parah, lantaran  saat ini dunia belum sepenuhnya pulih dari pandemi Covid-19. Namun ketidakpastian kembali meningkat karena perang antara Rusia dan Ukraina yang  mengakibatkan tekanan ekonomi makin tinggi, sehingga harga komoditas global meningkat tajam. Bahkan, IMF mengubah proyeksi pertumbuhan ekonomi global  yang semula sebesar 4,4% menjadi 3,6%. Destry memproyeksikan tekanan harga  komoditas energi dan pangan berpotensi meningkat lebih tinggi sehingga memicu inflasi ditingkat global. "Namun kita sangat beruntung, jika kita melihat dampak langsung perang Rusia dan Ukraina, konflik ke Indonesia sangat terbatas. Bahkan, dalam batas tertentu Indonesia  mendapat keuntungan khususnya (ekspor) karena Indonesia terkenal dengan negara berbasis komoditas," ujarnya. Pemulihan ekonomi yang berlangsung kuat  juga dikonfirmasi melalui  data indikator ekonomi pada Maret 2022, seperti penjualan ritel, ekspektasi konsumen, dan PMI manufaktur. (Yetede)

Pertalite Belum Saatnya Dinaikkan

KT1 20 Apr 2022 Investor Daily

Meski subsidi BBM dan LPG naik sekitar tiga kali lipat menjadi 234 triliun hingga Rp 245 triliun,  pemerintah dihimbau tidak menaikkan  harga komoditas stretegis itu. Dampak pandemi masih diderita oleh sebagian besar masyarakat menengah kebawah. Penurunan subsidi yang berdampak pada kenaikan harga BBM akan mendongkrak laju inflasi. Kondisi berpotensi besar menyulut ketidakpuasaan masyarakat yang dapat  berdampak pada aksi unjuk rasa yang tidak mudah dikendalikan. Lonjakan minyak mentah dan gas dunia, antara lain akibat perang Rusia vs Ukraina, mendongkrak biaya produksi energi. Subsidi BBM dan subsidi LPG pada APBN 2022 diperkirakan naik tiga kali lipat. Pertamina sebagai penyedia BBM dan LPG mengalami tekanan cash flow  yang serius. Data Kementerian Keuangan menunjukkan, pemerintah memiliki akumulasi utang tahun 2020 dan 2021 kepada Pertamina  sekitar Rp93,1 triliun. Jika tidak segera dibayar Pertamina akan mengalami cash flow mismatch. (Yetede)

Mulai Menggeliat Kuartal I Konsumsi Semen Tumbuh 5,5%

KT1 19 Apr 2022 Investor Daily

Asosiasi Semen Indonesia (ASI) mencatat, permintaan semen untuk kuartal I-2022 masih cukup bagus atau mencapai 5,5% secara tahunan (year on year/yoy) dimana hampir semua daerah yang meningkat kecuali di Bali dan Nusa Tenggara yang masih stagnan. "Hal ini terjadi karena hambatan pembangunan dari pandemi Covid-19 sudah mulai turun disemua daerah baik di Jawa maupun diluar Pulau Jawa," ujar Ketua Umum ASI Widodo Santoso. Adapun untuk realisasi Maret 2022, permintaan semen tercatat turun dibanding bulan sebelumnya, yakni hanya naik 2,5% yoy. Berdasarkan data ASI, konsumsi semen di Jawa mencapai 34,5 juta ton atau tumbuh 4,6% yoy. Untuk di Kalimantan tercatat mencapai 0,43 juta ton, tumbuh 2,0% yoy. Jika peningkatan konsumsi dalam negeri cukup baik, sebaliknya realisasi penjualan ekspor pada kuartal I-2022 justru penurunan tajam sekitar 25% yoy atau hanya 2,1 juta ton. Jumlah tersebut terdiri semen 400 ribu ton dan klinker 1,8 juta ton. (Yetede)