Ekonomi Makro
( 699 )Bank Dunia Pangkas Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi RI
Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2022 menjadi 5,1% atau turun 0,1% dari proyeksi sebelumnya 5,2%. Akan tetapi, proyeksi tersebut masih berada dalam target pemerintah berkisar 4,8-5,5%. Dalam laporan Global Economic Prospect (GEP) Juni 2022 disebutkan, perekonomian Indonesia akan mendapat dorongan dari kenaikan harga komoditas. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Dagang Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu. "Selain menjadi salah satu dari sedikit negara yang dapat mengembalikan output ke level prapandemi sejak 2021. Kinerja ekonomi domestik tahun ini juga terus menguat, antara lain didukung situasi pandemi yang terus terkendali," ucap Febrio, Rabu (/6). APBN, kata Febrio, juga akan terus diarahkan menjadi instrumen penting untuk merespon dinamika ekonomi yang terjadi, termasuk menjadi peredam tekanan. Ditengah meningkatnya resiko global, APBN akan terus diarahkan untuk melindung daya beli masyarakat, khususnya kelompok yang rentan, dan menjaga pemulihan ekonomi. (Yetede)
LPS: Simpanan Jumbo Susut 1,68%, Sinyal Ekspansi Dunia Usaha
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan simpanan dengan tiering di atas Rp 2 milyar per April 2022 sebesar Rp4.429 triliun. Melandainya simpanan jumbo tersebut dinilai karena peningkatan konsumsi masyarakat dan juga dunia usaha mulai ekspansi bisnis. Berdasarkan data distribusi simpanan per April, secara bulanan hanya simpanan jumbo yang mengalami penurunan, sedangkan simpanan dengan tiering di bawah Rp 2 miliar masih tumbuh positif. Adapun tiering simpanan Rp 2 miliar hingga Rp 5 miliar tercatat Rp 614 triliun per April, mengalami penurunan 1,6% month to month dibandingkan bulan sebelumnya, dan juga turun 1,6% secara yoy 1,6% secara year to date. Sementara tiering simpanan Rp2,5 miliar mencapai Rp3.839 triliun menyusut 1,7% atau turun 0,2% year to date. Meski demikian secara tahunan (year on year/yoy) simpanan jumbo tersebut mengalami pertumbuhan yang positif, terutama untuk tiering diatas Rp 5 miliar melesat 12,5% (yoy). (Yetede)
Capital Inflow Melonjak Tiga Kali Lipat
Aliran modal asing kembali membanjiri pasar keuangan domestik. Selama 30 Mei-2 Juni 2022, dana asing masuk atau capital inflow ke Indonesia tercatat Rp10,37 triliun atau melonjak tiga kali lebih dari pekan sebelumnya, 23-25 Mei 2022, sebesar Rp 3,22 triliun. "Berdasarkan data transaksi 30 Mei-2 Juni 2022, nonresiden (asing) mencetak beli bersih Rp10,37 triliun di pasar keuangan domestik, terdiri atas SBN (surat berharga negara) sebesar Rp5,94 triliun dan saham Rp4,43 triliun," ujar Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam publikasi Perkembangan Indikator Stabilitas Nilai Rupiah terbaru, Jumat (3/6). Selain itu, imbal hasil atau yeild SBN tenor 10 tahun turun ke level 6,98% pada Jumat (3/6) pagi, dari 7,00% pada Kamis (2/6) sore. Yield itu masih cukup jauh dari imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun yang berada di level 2,908%. Bank sentral pun mencatat, rupiah dibuka pada level (bid) Rp14.420 per dollar AS pada Jumat (3/6) pagi atau penguat dibanding pada penutupan pada Rabu (2/6) yang di level (bid) Rp14.480 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS tercatat menguat ke level 101,82. (Yetede)
Situasi Global Berimbas ke Domestik
Kenaikan harga pangan dan energi global telah tertransmisi ke sektor pangan, industri, transportasi, dan konstruksi di dalam negeri. Hal itu terindikasi dari tingkat inflasi dan indeks perdagangan besar. Kepala BPS Margo Yuwono, Kamis (2/6) menyatakan, perang Rusia-Ukraina dan restriksi yang dilakukan sejumlah negara produsen menyebabkan harga pangan dan energi terus meningkat. Sejumlah komoditas yang harganya masih bergejolak dan tinggi antara lain minyak dan gas bumi, CPO, gandum, kedelai, jagung, daging, dan pupuk. Kenaikan harga itu berpengaruh terhadap inflasi global, yang membuat IMF merevisi proyeksi inflasi tahun ini. Tingkat inflasi negara maju direvisi dari 3,9 % menjadi 5,7 %, sementara di negara berkembang direvisi dari 5,9 % menjadi 8,7 %. ”Di Indonesia, transmisinya terasa sejak awal 2022. Imbasnya ke inflasi domestic mulai terjadi meski untuk beberapa komoditas andilnya belum terlalu besar,” kata Margo.
BPS merilis, tingkat inflasi nasional pada Mei 2022 mencapai 0,4 % secara bulanan dan 3,55 % secara tahunan. Tingkat inflasi tersebut berada di kisaran target inflasi tahunan oleh pemerintah dan BI yang 3-4 %. Komoditas yang berkontribusi terhadap inflasi bulanan itu adalah tarif angkutan udara 0,07 %, telur ayam ras 0,05 %, ikan segar 0,04 %, dan bawang merah 0,04 %. Minyak goreng yang berkontribusi terhadap inflasi April 2022 sebesar 0,19 %, justru mengalami deflasi 0,01 % pada Mei 2022. Kenaikan harga minyak global membuat pemerintah menaikkan harga bahan avtur, pertamax, dan mengizinkan maskapai menyesuaikan harga tiket pesawat. Untuk minyak goreng, harganya dipengaruhi kenaikan harga CPO global. Namun, berkat larangan ekspor CPO dan produk turunannya pada 28 April-22 Mei 2022, harganya mulai turun sehingga berkontribusi pada deflasi Mei 2022. ”Kenaikan harga telur ayam ras, tepung terigu, dan tempe juga dipengaruhi oleh lonjakan harga pakan, gandum, dan kedelai global. Bahkan rembetan kenaikan harga energi dan biaya transportasi mulai terasa di sektor bangunan atau konstruksi,” ujar Margo. (Yoga)
MENAHAN RISIKO LAJU INFLASI
Ruang pengendalian inflasi pada tahun ini masih cukup luas, kendati indeks harga konsumen pada Mei 2022 mencapai 3,55% (year-on-year/YoY), tertinggi sejak Desember 2017. Musababnya, inflasi inti yang menjadi tolok ukur daya beli masyarakat sejauh ini masih cukup stabil, yakni sebesar 2,59% (YoY) pada bulan lalu, hampir tidak berubah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 2,6%. Inflasi inti adalah komponen pengukur inflasi yang cenderung menetap karena dipengaruhi oleh faktor fundamental seperti harga komoditas, nilai tukar rupiah, hingga kondisi ekonomi di negara mitra dagang. Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Margo Yuwono mengatakan situasi pasar pada bulan lalu memang menunjukkan adanya kenaikan harga yang didorong oleh meningkatnya permintaan dan terbatasnya pasokan barang.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Hariyadi Sukamdani mengatakan pemerintah juga masih bisa memanfaatkan windfall penerimaan dari komoditas untuk dialokasikan ke dalam belanja subsidi. “Pemerintah bisa melakukan subsidi dari nilai tambah itu pada sektor tertentu. Kita waspada harus, tapi saya melihat terkendali,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (2/6). Koordinator Wakil Ketua Umum III Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Shinta Widjaja Kamdani menilai target inflasi pemerintah 4% hingga akhir tahun sudah cukup rasional. Pemerintah maupun otoritas moneter juga perlu mencermati berbagai dinamika yang berpotensi mengerek laju inflasi makin tinggi dan menggerus daya beli masyarakat.
Indonesia Aman dari Stagflasi dan Resesi
Kalangan dunia usaha dan ekonomi menilai perekonomian nasional mulai bangkit. Indonesia juga relatif aman dari ancaman stagflasi dan resesi dibanding negara-negara lain. Agar pemulihan ekonomi nasional berlangsung lebih akseleratif, pemerintah harus menjaga daya beli masyarakat dengan cara meredam kenaikan harga pangan, energi, dan kompensasi biaya industri. Selain itu, pemerintah selaku otoritas fiskal dan Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter harus berupaya merespons sejumlah risiko, seperti pelarian modal asing (Capital flight), hiperinflasi, depresiasi rupiah, dan lonjakan utang luar negeri yang dapat menekan pertumbuhan ekonomi ke arah stagflasi (inflasi tinggi dengan pertumbuhan ekonomi rendah), bahkan bisa mendorong perekonomian ke jurang resesi (pertumbuhan minus). Asalkan pemerintah bisa menciptakan intervensi-intervensi kebijakan yang tepat untuk menekan inflasi, menjaga daya beli masyarakat, dan memangkas beban-beban biaya industri, target pertumbuhan ekonomi 2022 sebesar 5,2% bakal tercapai. (Yetede)
K/L Diminta Tambah Anggaran Dana Cadangan Rp24,5 T
Kementerian Keuangan meminta seluruh kementerian dan lembaga (K/L) untuk menyisihkan tambahan anggaran dana cadangan (automatic adjust) sebesar total Rp24,5 triliun. Dana ini akan digunakan sebagai dana siaga untuk mengantisipasi ketidakpastian global, khususnya karena peningkatan harga komoditas energi dan pangan yang turut memengaruhi ekonomi domestik.
"Keputusan ini diambil berdasarkan arahan Presiden RI dalam rapat internal (16/5) dengan agenda belanja subsidi dalam APBN 2022 dan implementasi kebijakan APBN 2022," demikian isi surat edaran (SE) Menteri Keuangan yang dikutip Investor Daily, Senin (30/5). Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu Isa Rachmatamarta mengatakan, kebutuhan penambahan dana cadangan ini akan digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan yang mendesak atas imbas kenaikan harga komoditas energi dan pangan.
"Cadangan tambahan tidak boleh dipakai dulu, sampai tekanan pada kenaikan harga mereda atau dapat dimitigasi dengan anggaran lain yang disiapkan. Dana tersebut juga sudah termasuk tambahan pagu untuk subsidi dan kompensasi yang sudah disetujui DPR," tuturnya. (Yetede)
Harga dan Pelemahan Permintaan
Dampak kenaikan harga dapat diuraikan menjadi dua bagian, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Dampak yang paling ekstrem adalah hilangnya permintaan atau demand destruction akibat efek substitusi dan efek pendapatan, yang membuat konsumsi suatu barang menjadi tidak terjangkau lagi. Kenaikan harga suatu barang punya batas. Jika terlalu tinggi, pelanggan akan berhenti membeli dan beralih sepenuhnya pada alternatif lain. Akibat serangan Rusia ke Ukraina, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) sempat mencapai 123 USD per barel., kemudian turun ke 99 USD per barel, meski situasi geopolitik yang belum menentu membawanya ke 107 USD per barel. Faktor-faktor lain yang menahan harga minyak WTI di kisaran 100-110 USD per barel adalah kekhawatiran dampak penguncian (lockdown) di China dan potensi resesi di AS. Tampaknya, para pedagang di bursa berjangka mulai mengerti bahwa permintaan akan rontok sendiri jika harga tak terjangkau. Namun, para spekulan tetap butuh fluktuasi harga guna memperoleh keuntungan. Efek dari perubahan perilaku ini adalah pasar minyak berfluktuasi di kisaran harga yang lebih sempit, dibandingkan dengan awal konflik Ukraina-Rusia. Walakin, kisaran itu tampaknya belum dapat menenangkan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS. Di tingkat SPBU rata-rata harga BBM melonjak ke 4,37 USD per galon atau 1,19 USD atau Rp 17.255 per liter.
Secara paradoks, demand destruction ini diperlukan untuk menurunkan tekanan inflasi walau akibatnya adalah pertumbuhan yang negatif di triwulan I-2022, yakni minus 1,4 %. Namun, bank sentral AS menganggap inflasi masih terlalu tinggi sehingga perlu menaikkan suku bunga 50 basis poin pada 4 Mei 2022. Langkah itu dibarengi dengan pengurangan kepemilikan surat berharga 95 miliar USD per bulan. Kasus anekdotal perubahan perilaku lain terjadi di Inggris akibat konflik Ukraina-Rusia serta sanksi ekonomi terhadap Rusia yang membuat harga energi dan pangan melambung. Survei YouGov akhir April 2022 menemukan, 14 % dari 10.674 responden terpaksa mengurangi frekuensi makan sehari-hari dari tiga kali menjadi kurang dari itu. Jika tetap makan tiga kali sehari, mereka mengurangi porsinya. Untuk menghemat tagihan listrik dan gas, sebagian masyarakat juga beralih ke makanan siap saji beku karena memasak sendiri dari bahan mentah menjadi mahal. (Yoga)
Enam Sektor Usaha Topang Pertumbuhan Ekonomi
Sebanyak enam sektor usaha akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional, yang pada kuartal 1-2022 mencapai 5,01% secara tahunan atau year on year (yoy). Hal ini membuat pemerintah optimis pertumbuhan ekonomi bisa mencapai 5,2% sepanjang tahun ini, dibandingkan tahun lalu 3,69%. Keenam sektor itu adalah industri pengolahan dengan hilirisasi sumber daya alam (SDA), sektor pertanian, sektor perdagangan, sektor transportasi, sektor hotel, dan restoran, serta sektor pariwisata. "Momentum pertumbuhan ini akan dijaga dengan mendorong enam sektor itu, dengan tetap memperhatikan protokol Covid-19,walaupun mobilitas dilonggarkan," ucap Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Iskandar Simorangkir saat dihubungi Investor Daily, Selasa (10/5). Iskandar meyakini pertumbuhan ekonomi kuartal 1-2022 bisa lebih tinggi dari kuartal I. (Yetede)
Pertumbuhan Ekonomi Kuartal I Diproyeksi 4,8-5,1%
Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I -2022 berpeluang tumbuh signifikan pada kisaran 4,8-5,1% secara tahunan (year on year/yoy) seiring dengan pelonggaran pembatasan mobilitas masyarakat. "Meskipun sempat dibayangi oleh penyebaran varian virus baru omicron pada awal tahun ini, namun kesigapan pemerintah telah mampu mengatasi efek negatif lebih lanjut dari sebaran omicron," ucap Ekonom sekaligus Staf Ahli Otoritas Jasa Keuangan Ryan Kiryanto. Kegiatan ekspor impor pun masih berjalan baik kendati dihadapkan pada ketegangan politik terkait agresi militer Rusia ke Ukraina sejak 14 Februari 2022. Mobilitas arus barang dan jasa sedikit terganggu karena distrupsi berbagai moda transportasi laut dan udara setelah Amerika Serikat sekutu Barat memberlakukan sanski ekonomi kepada Rusia. "Kegiatan ekspor komoditas tetap berjalan normal ditengah kenaikan harga di pasar lantaran permintaan eksternal yang juga tetap solid mendukung kinerja ekspor," kata Ryan lagi. (Yetede)
Pilihan Editor
-
Sistem Pangan Harus Berbasis Keberagaman Lokal
31 Dec 2021 -
Perkebunan Sawit Rakyat Tumbuh Berkelanjutan
31 Dec 2021 -
Transformasi Sistem Pangan
31 Dec 2021 -
Mengembangkan EBT harus Utamakan Komponen Lokal
30 Dec 2021









