Harga dan Pelemahan Permintaan
Dampak kenaikan harga dapat diuraikan menjadi dua bagian, yaitu efek substitusi dan efek pendapatan. Dampak yang paling ekstrem adalah hilangnya permintaan atau demand destruction akibat efek substitusi dan efek pendapatan, yang membuat konsumsi suatu barang menjadi tidak terjangkau lagi. Kenaikan harga suatu barang punya batas. Jika terlalu tinggi, pelanggan akan berhenti membeli dan beralih sepenuhnya pada alternatif lain. Akibat serangan Rusia ke Ukraina, harga minyak WTI (West Texas Intermediate) sempat mencapai 123 USD per barel., kemudian turun ke 99 USD per barel, meski situasi geopolitik yang belum menentu membawanya ke 107 USD per barel. Faktor-faktor lain yang menahan harga minyak WTI di kisaran 100-110 USD per barel adalah kekhawatiran dampak penguncian (lockdown) di China dan potensi resesi di AS. Tampaknya, para pedagang di bursa berjangka mulai mengerti bahwa permintaan akan rontok sendiri jika harga tak terjangkau. Namun, para spekulan tetap butuh fluktuasi harga guna memperoleh keuntungan. Efek dari perubahan perilaku ini adalah pasar minyak berfluktuasi di kisaran harga yang lebih sempit, dibandingkan dengan awal konflik Ukraina-Rusia. Walakin, kisaran itu tampaknya belum dapat menenangkan harga bahan bakar minyak (BBM) di AS. Di tingkat SPBU rata-rata harga BBM melonjak ke 4,37 USD per galon atau 1,19 USD atau Rp 17.255 per liter.
Secara paradoks, demand destruction ini diperlukan untuk menurunkan tekanan inflasi walau akibatnya adalah pertumbuhan yang negatif di triwulan I-2022, yakni minus 1,4 %. Namun, bank sentral AS menganggap inflasi masih terlalu tinggi sehingga perlu menaikkan suku bunga 50 basis poin pada 4 Mei 2022. Langkah itu dibarengi dengan pengurangan kepemilikan surat berharga 95 miliar USD per bulan. Kasus anekdotal perubahan perilaku lain terjadi di Inggris akibat konflik Ukraina-Rusia serta sanksi ekonomi terhadap Rusia yang membuat harga energi dan pangan melambung. Survei YouGov akhir April 2022 menemukan, 14 % dari 10.674 responden terpaksa mengurangi frekuensi makan sehari-hari dari tiga kali menjadi kurang dari itu. Jika tetap makan tiga kali sehari, mereka mengurangi porsinya. Untuk menghemat tagihan listrik dan gas, sebagian masyarakat juga beralih ke makanan siap saji beku karena memasak sendiri dari bahan mentah menjadi mahal. (Yoga)
Tags :
#Ekonomi MakroPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023