Utang
( 373 )Memperkuat Kepercayaan Para Investor
RI Harus Siap Hadapi Utang yang Akan Jatuh Tempo
RI Genjot Utang untuk Redam Dampak Perang Tarif
Kenaikan Biaya Utang Jadi Ancaman Baru
Utang Negara-Negara Dunia Meningkat Tajam
Obligasi NegaraTetap Laris Di Tengah Gejolak IHSG
Di tengah dinamika pasar saham,
kinerja lelang Surat Utang Negara atau SUN pada Selasa (18/3) menunjukkan hasil
positif dengan penawaran masuk sebesar Rp 61,75 triliun. Masih kuatnya
kepercayaan investor terhadap postur APBN disebut menjadi faktor pendorong
tingginya penawaran sehingga melebihi target indikatif. Menurut Ditjen
Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko (DJPPR) Kemenkeu, lelang enam seri SUN pada Selasa pukul
09.00-11.00 WIB menghasilkan penawaran masuk sebesar Rp 61,75 triliun, mencapai
2,38 kali dari target indikatif sebesar Rp 26 triliun.
Keenam seri SUN yang dimenangkan
adalah SPN tenor 12 bulan senilai Rp 2 triliun dengan yield atau imbal hasil
6,25 %, seri FR0104 tenor 5 tahun senilai Rp 12,70 triliun dengan yield 6,70023
%, dan FR0103 tenor 10 tahun senilai Rp 7,15 triliun dengan yield 7,01985 %.Lalu,
untuk seri FR0106 tenor 15 tahun dengan total yang dimenangkan sebesar Rp 1,75
triliun dengan yield 7,03713 %, seri FR0107 tenor 20 tahun senilai Rp 4,1
triliun dengan yield 7,07804 %, serta FR0105 tenor 40 tahun senilai Rp 300 miliar
dengan yield 7,10892 %.
Menkeu Sri Mulyani mengatakan, dengan
kuatnya penawaran yang masuk, penawaran yang dimenangkan sebesar Rp 28 triliun,
lebih besar dari target indikatif Rp 26 triliun. Dari penawaran yang dimenangkan,
dana investor asing Rp 5,33 triliun, sisanya Rp 22,67 triliun berasal dari investor
dalam negeri. Nilai penawaran masuk dari investor asing Rp 13,95 triliun,
artinya komposisi dari investor asing terhadap total penawaran mencapai 22,59 %.
”Tingginya incoming bid dari investor asing menggambarkan investor asing
memiliki kepercayaan tinggi terhadap APBN 2025 dan pengelolaan keuangan negara,”
kata Sri Mulyani dalam konferensi pers di Gedung Ditjen Pajak Kemenkeu,
Jakarta, Selasa. (Yoga)
Kepercayaan Publik dan APBN
Setelah drama penundaan, Menkeu
memaparkan kinerja APBN Januari-Februari 2025 yang memicu kekhawatiran baru,
karena menunjukkan anomaly, dimana defisit APBN sudah terjadi sejak awal tahun.
Defisit per 28 Februari 2025 tercatat Rp 31,2 triliun atau 0,13 % dari produk
domestik bruto (PDB) melebar dari Rp 23,5 triliun (0,10 % PDB) per Januari 2025
dan dikhawatirkan terus membengkak dengan adanya berbagai program populis
pemerintah yang semua membutuhkan dukungan pembiayaan dari APBN. Pendapatan
negara Januari-Februari tercatat Rp 316,9 triliun (10,5 % target penerimaan
2025) turun 20,8 % dari periode sama 2024. Sementara realisasi belanjaRp 348,1
triliun atau 9,6 % dari total rencana belanja 2025. Penerimaan pajak per
Februari 2025 Rp 187,8 triliun, anjlok 30,2 % dibanding Februari 2024.
Realisasi penerimaan PPN Januari
2025 anjlok 92,75 % (yoy), sementara PPh Badan dan PPh 21 anjlok 77,14 % dan
43,64 %. Dampak melemahnya harga komoditas, pembatalan PPN 12 %, mekanisme baru
tarif efektif rata-rata PPh 21, dan penerapan sistem perpajakan baru, Coretax,
yang bermasalah menjadi penyebab penerimaan pajak jeblok. Menkeu mengatakan
defisit ini masih dalam target defisit APBN 2025 sebesar 2,53 % PDB. Untuk menutup
defisit ini, selama dua bulan pertama 2025 pemerintah sudah membuat utang baru
Rp 438,1 triliun atau 35,7 % dari total rencana utang Rp 775,9 triliun pada
2025. Serangkaian program populis pemerintah, yang sifatnya lebih politis
ketimbang ekonomis dikhawatirkan bisa mengancam pertumbuhan ekonomi jika tidak
didukung strategi dan basis fiskal yang kuat.
Dua kali penundaan pengumuman
kinerja APBN di era Prabowo (Oktober 2024 dan Januari 2025) sempat memunculkan
tanda tanya terkait transparansi kinerja keuangan negara dan kredibilitas
fiskal. Di tengah distrust publik yang tinggi, setiap langkah yang ditempuh
pemerintah dicurigai dan dikritisi serta memengaruhi sentimen investor di
pasar. Kondisi ini bisa menyebabkan persepsi risiko Indonesia meningkat dan berimbas
makin tingginya imbal hasil surat utang atau cost of fund untuk pembiayaan
defisit APBN. Diperlukan langkah-langkah kredibel, termasuk manajemen fiskal
yang solid, untuk membangkitkan kembali kepercayaan publik. (Yoga)
Utang Negara Bertambah, Rasio Utang Jadi Sorotan
Optimisme Cadangan Devisa, Mampukah Melonjak?
Rencana BI Borong SBN Masih Diragukan Pasar
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









