Devisa
( 170 )Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia pada September tahun ini diprediksikan meningkat. Estimasi tersebut sejalan dengan tren nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS selama September dibandingkan bulan sebelumnya. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada September 2024 menguat di atas US$ 150 miliar. Jumlah tersebut tetap terjaga dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar US$ 150,24 miliar. Selama September 2024, rata-rata nilai tukar rupiah di level Rp 15.325 per dolar AS. Angka tersebut menguat 2,74% dibandingkan rata-rata kurs rupiah selama Agustus tahun ini yang berada di kisaran Rp 15.756 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga meramal, cadangan devisa pada periode September 2024 akan berada di rentang antara US$ 148 miliar sampai dengan US$ 153 miliar. "Kemungkinan (cadangan devisa) September 2024 naik. Ini karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, investor cenderung risk on masuk ke aset-aset emerging market termasuk Indonesia," tutur David, Jumat (4/10). Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan, cadangan devisa pada September tahun ini meningkat ke kisaran US$ 150 miliar hingga US$ 152 miliar. Kenaikan ini lantaran rupiah stabil dan menguat pada September 2024.
"Juga adanya penerbitan sukuk global oleh pemerintah sekitar US$ 2 miliar," ucap dia.
Di samping itu, tekanan eksternal terhadap rupiah juga datang dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang mengguyur insentif fiskal bazooka sebesar US$ 1,4 triliun untuk mendorong perekonomian di negara tersebut. "Sentimen ini direspons positif oleh pasar, sehingga memberikan ruang pergeseran aset dari
emerging market
ke China pada bulan ini," ungkap Banjaran.
Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia juga melihat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi menekan cadangan devisa Indonesia pada Oktober tahun ini. Dia memprediksikan, cadangan devisa pada Oktober senilai US$ 143,2 miliar, atau lebih rendah dari estimasi September yang sebesar US$ 153,2 miliar.
Teknologi Terbaru Membuka Peluang Kerja di Berbagai Sektor
Industri pariwisata di Indonesia masih menghadapi tantangan serius pasca-pandemi COVID-19. Meskipun beberapa sektor ekonomi telah mulai pulih, pariwisata tetap mengalami kesulitan, dengan rendahnya okupansi hotel, kunjungan wisatawan, dan kontribusi terhadap produk domestik bruto (PDB) serta devisa.
Tokoh dalam sektor ini menilai bahwa pemerintah seringkali mengeluarkan kebijakan yang tidak mendukung upaya pemulihan pariwisata, sehingga memperburuk situasi. Selain itu, pengusaha pariwisata menghadapi kendala dalam mengakses permodalan yang dibutuhkan untuk mengembangkan usaha mereka. Oleh karena itu, penting bagi pemangku kebijakan untuk mendengarkan masukan dari pengusaha dan memperbaiki kebijakan agar sektor pariwisata dapat kembali berfungsi secara optimal dan memberikan kontribusi signifikan bagi perekonomian.
Meningkatkan Kinerja Cadev Indonesia
Sikap pelaku pasar yang memperkirakan akan terjadinya penurunan suku bunga acuan Bank Sentra Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR), berdampak positif terhadap masuknya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar uang negara berkembang termasuk Indonesia. Hal tersebut turut meningkatkan kinerja cadangan devisa (cadev) Indonesia. BI mencatat posisi cadangan cadev Indonesia pada akhir Agustus 2024 sebesar US$ 150,2 miliar, meningkat dibanding pada posisi akhir Juli 2024 sebesar US$ 145,4 miliar. Dalam Federal Open Market Committee (FOMC) pada Agustus 2024, The Fed memutuskan suku bunga acuan bank sentral AS masih dikisaran 5,2% sampai 5,5%. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI Edi Susianto menyatakan, adanya ekspektasi penurunan FFR akan berpotensi mendorong inflow dari investasi asing ke pasar uang Indonesia, sehingga dapat mendorong surplus dari neraca modal dan finansial. “Hal tersebut tentunya akan cukup kondusif bagi posisi cadangan devisa ke depan,” jelas Edi. (Yetede)
Rentannya Devisa Ekspor Sawit
Industri sawit masih akan menghadapi sejumlah tantangan. Oleh sebab itu, devisa yang dihasilkan dari komoditas ini masih rentan, meski menjadi penyumbang utama devisa Indonesia. Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) melaporkan, hingga Mei 2024, industri sawit telah berkontribusi US$ 9,78 miliar terhadap devisa negara. "Atau 10,01% dari ekspor nonmigas kita," kata Ketua Umum Gapki, Eddy Martono di Belitung, Selasa (27/8). Dia bilang, kinerja ekspor beberapa tahun terakhir cenderung menurun. Pada 2021, industri sawit sempat menyumbang devisa US$ 34,9 miliar dan naik menjadi US$ 37,7 miliar pada 2022. Namun kontribusi sawit menurun di 2023 menjadi US$ 29,54 miliar. "Dalam lima tahun terakhir ini, produksi kita memang stagnan dan produktivitasnya tidak begitu menggembirakan," ujar Eddy.
Ekonom Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda melihat, komoditas perkebunan termasuk sawit, masih menjadi penyumbang utama ekspor nasional dan penyumbang devisa negara. Namun, "Sumbangan devisa itu tidak terlalu menggembirakan mengingat tahun kemarin terjadi penurunan devisa sawit," kata dia, Rabu (28/8). Menurut Huda, salah satu program yang cukup gagal dilakukan adalah
replanting
sawit.
Ekonom Maybank Indonesia Myrdal Gunarto menambahkan, prospek industri sawit masih relatif atraktif. Dari sisi global, permintaan produk ini terus meningkat dan harga secara global masih stabil.
Cadangan Besar untuk Mempertahankan Kekuatan Rupiah
Posisi cadangan devisa Indonesia kembali meningkat. Menguatnya cadangan devisa menandakan bank sentral punya amunisi berlimpah untuk menjaga pergerakan rupiah. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa per akhir Juli 2024 mencapai US$ 145,4 miliar, naik US$ 5,2 miliar dari posisi bulan sebelumnya US$ 140,2 miliar. Cadangan devisa Juli 2024 adalah yang tertinggi setelah pada Desember 2023 tercatat US$ 146,4 miliar. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi B, Erwin Haryono menjelaskan, kenaikan cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi penerbitan sukuk global pemerintah. Juga karena penerimaan pajak dan jasa. "Posisi cadangan devisa pada akhir Juli 2024 setara pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," kata Erwin dalam keterangan tertulisnya, Rabu (7/8). Lonjakan cadangan devisa juga didukung arus modal asing yang masuk ke Sertifikat Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Catatan BI sejak awal tahun hingga 1 Agustus 2024, net inflow ke SRBI mencapai Rp 173,32 triliun, lebih tinggi dibanding posisi 27 Juni 2024 sebesar Rp 123,21 triliun. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto melihat, lonjakan cadangan devisa memberikan sinyal bahwa amunisi bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melimpah. Bahkan, masih ada peluang kenaikan cadangan devisa Indonesia ke depan. Pertama, potensi inflow di pasar obligasi sejalan dengan menurunnya imbal hasil obligasi global. Hal ini membuat investor masuk ke pasar obligasi RI yang menawarkan imbal hasil lebih menarik. Kedua, potensi inflow seiring berubahnya persepsi pelaku pasar terkait kebijakan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed). Ketiga, fundamental ekonomi dalam negeri yang masih baik, sejalan dengan pertumbuhan ekonomi yang tercatat stabil. Berbagai kondisi itu membuat ruang penurunan suku bunga acuan BI alias BI-Rate semakin terbuka. Ramalan Myrdal, ada ruang penurunan BI-Rate hingga 50 basis poin (bps) secara bertahap. Dalam waktu dekat, ia melihat BI bisa memangkas suku bunga 25 bps terlebih dahulu.
Stabilitas Rupiah Menguat di Tengah Ancaman Global
Angin segar berembus ke perekonomian Indonesia, seiring torehan cadangan devisa (cadev) yang menanjak. Menurut data termutakhir yang dirilis Bank Indonesia, cadev pada akhir Juli 2024 sebesar US$145,4 miliar, meningkat ketimbang Juni yang tercatat US$140,2 miliar. Penarikan utang oleh pemerintah melalui sukuk global serta penerimaan pajak dan jasa menjadi pemicu kenaikan tersebut. Dus, kenaikan cadev pun membuat tameng moneter untuk menjaga stabilitas rupiah makin tebal. Cadev yang gemuk akan membantu otoritas moneter jika ingin bermanuver melalui intervensi pasar.
Cadangan devisa Indonesia mengalami peningkatan signifikan pada Juli 2024, mencapai US$145,4 miliar, yang memberikan perlindungan tambahan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah. Kenaikan ini didorong oleh penarikan utang melalui sukuk global dan penerimaan pajak. Bank Indonesia dan pemerintah memaksimalkan berbagai instrumen moneter dan fiskal untuk menarik dana investor dan mempertebal cadangan devisa, termasuk melalui kebijakan baru seperti PP No. 36/2023 dan PP No. 22/2024. Selain itu, penggunaan mata uang lokal dalam transaksi ekonomi (LCT) juga didorong sebagai upaya memperkuat stabilitas rupiah. Namun, pentingnya koordinasi antara otoritas moneter, fiskal, dan pelaku usaha tetap menjadi kunci dalam menghadapi tantangan ekonomi global yang dinamis.
Momentum Positif Rupiah di Tengah Peningkatan Cadangan Devisa
Rupiah sedang mendapat momentum positif. Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada awal semester II/2024, mendapat tenaga ekstra seiring cadangan devisa (cadev) yang makin berisi. Ditambah lagi ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve lebih cepat pada tahun ini, yang diharapkan berimpak positif pada kurs rupiah. Menilik data termutakhir, rupiah memang lebih stabil memasuki paruh kedua tahun ini. Pada perdagangan kemarin, Rabu (7/8), rupiah ditutup di level Rp16.035 per dolar AS, atau terapresiasi sekitar 0,9% dari level penutupan sehari sebelumnya.
Nilai tukar rupiah menunjukkan penguatan signifikan pada awal semester II/2024, didukung oleh peningkatan cadangan devisa dan ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve. Chandra Wahjudi dari Kadin menilai bahwa peningkatan ekspor dan penanaman modal asing akan menjadi kunci penguatan lebih lanjut. Namun, Subandi dari Ginsi mengkhawatirkan volatilitas rupiah yang berdampak negatif pada impor. Sementara itu, Edi Susianto dari Bank Indonesia memperingatkan potensi risiko dari ketegangan geopolitik dan pemilu AS yang dapat mempengaruhi nilai tukar rupiah ke depan. Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menyoroti potensi arus modal masuk yang dapat meningkatkan cadangan devisa, tetapi juga memperingatkan risiko pelebaran defisit transaksi berjalan.
Memupuk Cadangan Devisa Agar Kian Kokoh
Bank Indonesia mencatat posisi cadangan devisa per akhir Juni tahun ini mencapai US$ 140,2 miliar. Jumlah itu naik dari akhir Mei 2024 yang senilai US$ 139 miliar. Ini menjadi kabar baik lantaran cadangan devisa masih bisa naik di tengah tekanan terhadap pasar keuangan domestik yang berdampak terhadap pergerakan nilai tukar rupiah.
Menurut BI, kenaikan cadangan devisa ditopang utang pemerintah, juga penerimaan pajak dan jasa. Menilik
Special Data Dissemination Standard
(SDDS) di situs resmi BI, cadangan devisa berupa valuta asing
(foreign currency reserves)
tercatat meningkat dari US$ 124,03 miliar per akhir Mei menjadi US$ 125,33 miliar per akhir Juni.
Sementara komponen cadangan devisa lainnya mengalami penurunan. Di antaranya cadangan devisa yang terdapat di dalam rekening International Monetary Fund (IMF) atau
IMF reserve position in the fund
tercatat menyusut dari US$ 1,05 miliar per akhir Mei menjadi US$ 1,94 miliar per akhir Juni.
Meski demikian, jika melihat data lima tahun terakhir, hampir seluruh komponen cadangan devisa RI turun. Terutama cadangan devisa valas yang turun dari US$ 127,7 miliar pada akhir 2020 ke US$ 125,33 miliar pada akhir Juni lalu.
Adapun komponen cadangan emas moneter menjadi satu-satunya yang mengalami kenaikan, dari US$ 4,76 per akhir 2020 menjadi US$ 5,88 per akhir bulan lalu.
Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios) Bhima Yudhistira mengingatkan BI maupun pemerintah perlu memperbaiki kualitas cadangan devisa agar lebih besar dan berkelanjutan. Juga tidak bergantung pada penarikan utang luar negeri yang dilakukan pemerintah.
DIGITALISASI PERIZINAN ACARA : ALIRAN DEVISA DI KONSER DUNIA
Pemerintah menargetkan peningkatan devisa negara dari sektor pariwisata dan ekonomi kreatif, setelah peluncuran digitalisasi layanan perizinan penyelenggaraan acara di Tanah Air. Tidak lama lagi, bisnis penyelenggaraan acara di dalam negeri makin bergeliat setelah pemerintah meluncurkan model baru layanan perizinan penyelenggaraan acara secara digital. Perebutan sebagai penyelenggara acara level dunia, diprediksi juga makin kuat setelah layanan baru itu mampu menyederhanakan proses pengurusan perizinan di Tanah Air. Belum lagi, perputaran uang dalam penyelanggaraan event level dunia bisa mencapai triliunan rupiah. Gurihnya usaha penyelenggaraan acara yang ditangani oleh event organizer (EO) terungkap dalam peluncuran Digitalisasi Layanan Perizinan Penyelenggaraan Event yang diresmikan Presiden Joko Widodo di Jakarta, Senin (24/6).
Dalam acara itu, Kepala Negara mengungkapkan bahwa Indonesia memang giat menyelenggarakan konferensi tingkat internasional yang memberikan keuntungan signifi kan bagi pemasukan negara. Belum lama ini, Indonesia menjadi tuan rumah World Water Forum yang dikunjungi lebih dari 50.000 orang peserta. Indonesia juga pernah menjadi tuan rumah pertemuan World Bank dan IMF Annual Meeting dengan peserta mencapai 30.000 peserta. Indonesia juga menerima manfaat dari ajang MotoGP di Mandalika Nusa Tenggara Barat yang memberikan dampak ekonomi hingga Rp4,3 triliun. Jokowi melihat Taylor Swift yang mengadakan konser selama 6 hari mampu menyedot setidaknya 360.000 orang dengan penonton mayoritas berasal dari Indonesia. Alasannya, penggemar Taylor Swift apabila ditinjau melalui layanan penyiaran musik Spotify di Indonesia mencapai 2,2 juta orang.
“Sekali lagi, saya pastikan separuh dari yang nonton itu orang Indonesia,” ucapnya.
Presiden juga iri melihat konser musik lainnya, yaitu band Coldplay yang mengadakan pertunjukkan di Indonesia hanya 1 hari, sedangkan Singapura mendapatkan jatah 6 hari. “Kenapa? Karena memang urusan perizinan kita ruwet,” paparnya. Berlapisnya birokrasi perizinan tergambarkan dalam pelaksanaan ajang MotoGP di Mandalika. Panitia acara itu sempat kesulitan mendapatkan izin lantaran harus melalui 13 lapis izin.
Oleh karena itu, Presiden berharap digitalisasi layanan perizinan acara bisa mendongkrak bisnis penyelenggaraan acara di Tanah Air. Selain itu, industri pariwisata dan ekonomi kreatif bisa ikut terdongkrak setelah Indeks Kinerja Pariwisata atau Travel and Tourism Development Index (TTDI) naik ke peringkat 22 dunia pada 2024.
Dalam kesempatan yang sama, Menteri Koordinator Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan berharap digitalisasi bisa menghasilkan kepastian izin acara di Indonesia. Dengan digitalisasi itu, dia meminta izin harus keluar 14 hari sebelum hari H untuk event nasional, dan 21 hari sebelum hari H untuk event internasional.
Utang Valas Memompa Cadangan Devisa
Posisi cadangan devisa Indonesia meningkat di tengah tren pelemahan rupiah yang masih melampaui level psikologis Rp 16.000 per dolar Amerika Serika (AS). Rupanya kenaikan cadangan devisa tertolong lagi oleh penerbitan utang valas yang dilakukan pemerintah. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa Indonesia per akhir Mei 2024 mencapai US$ 139,0 miliar, naik US$ 2,8 miliar dibandingkan posisi akhir bulan sebelumnya. Bahkan kenaikan ini kali pertama setelah tren penurunan sejak Januari 2024. Menurut BI, kenaikan cadangan devisa kali ini sejalan dengan penerbitan global bond pemerintah. Pada 17 Mei 2024, Kementerian Keuangan (Kemkeu) menerbitkan surat utang negara (SUN) dalam denominasi yen Jepang alias Samurai Bond dengan nilai sebesar JPY 200 miliar atau setara Rp 20,8 triliun. Namun menurut BI, kenaikan cadangan devisa juga ditopang penerimaan pajak dan jasa. "Posisi cadangan devisa ini setara dengan pembiayaan 6,3 bulan impor atau 6,1 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor," kata Erwin Haryono, Asisten Gubernur BI dalam keterangan tertulis, Jumat (7/6).
Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, kenaikan cadangan devisa juga dipengaruhi oleh masuknya arus modal asing secara neto sebesar US$ 319 juta sepanjang Mei lalu. Selain itu, ia juga memperkirakan, neraca perdagangan masih akan mencatat surplus di bulan lalu lantaran adanya pemulihan aktivitas manufaktur dan ekspor setelah libur Idul Fitri. Pada semester kedua nanti, Josua memperkirakan posisi cadangan devisa bisa meningkat karena The Fed diproyeksikan akan menurunkan suku bunga acuannya pada Desember 2024. "Penurunan suku bunga tersebut dapat meningkatkan sentimen risk-on, yang berpotensi meningkatkan arus modal masuk ke Indonesia," tambah dia. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memperkirakan, kebijakan devisa hasil ekspor (DHE) sekaligus surplus neraca perdagangan masih bisa menopang cadangan devisa RI. Namun ia melihat, surplus neraca perdagangan disebabkan impor menyusut. Banjaran juga melihat, rupiah masih menghadapi turbulensi keuangan global dari reposisi investasi. Ia memperkirakan, rupiah akan berada di level Rp 15.680–Rp 16.180 per dolar AS.
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023









