Devisa
( 170 )Emiten Komoditas Dibayangi Ketidakpastian
Rencana pemerintah untuk mewajibkan retensi devisa hasil ekspor (DHE) komoditas sumber daya alam (SDA) hingga 100% dalam waktu setahun, yang mulai berlaku pada Maret 2025, diperkirakan akan menimbulkan tantangan signifikan bagi emiten sektor komoditas, terutama dalam pengelolaan arus kas dan likuiditas. Direktur PT Bumi Resources, Dileep Srivastava, menyatakan bahwa kebijakan ini dapat membebani perusahaan karena membatasi akses terhadap dana yang biasanya digunakan untuk operasional dan investasi. Beberapa emiten, seperti PT Bumi Resources dan PT Bukit Asam, menyatakan kesiapan untuk mematuhi kebijakan ini, namun berharap adanya kompensasi berupa insentif dari pemerintah, seperti fasilitas pajak 0% untuk pendapatan bunga dari penempatan DHE. Analis juga memperingatkan bahwa kebijakan ini bisa berdampak negatif, terutama bagi emiten dengan liabilitas besar dan kebutuhan likuiditas cepat. Namun, insentif yang disiapkan pemerintah dapat meredam dampak tersebut.
Menambah Ketahanan Ekonomi Domestik
Plus-Minus DHE Wajib Disimpan di Dalam Negeri
Plus-Minus Devisa Hasil Ekspor Wajib Disimpan di Dalam Negeri
Wajib Pulangkan Devisa Hasil Ekspor
Efek Domino Ketentuan Baru DHE SDA
Aturan Baru DHE: Harapan Kuatkan Rupiah
Presiden Prabowo Setuju Masa Penyimpanan DHE SDA Selama 1 Tahun
Cadangan Devisa pada Akhir 2024 Sebesar US$ 155,7 Miliar
Cadangan devisa (cadev) pada akhir 2024 sebesar US$ 155,7 miliar, mencapai rekor tertinggi dari posisi sebelumnya pada Oktober 2023 yang sebesar US$ 151,123 miliar, Di sisi lain, pemerintah akan melakukan pembenahan regulasi devisa hasil ekspor (DHE) agar devisa konsisten berada di dalam pasar keuangan domestik. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan cadangan devisa hingga akhir tahun 2024 akan menopang kelangsungan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Posisi cadev 2024 setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Kenaikan posisi cadev tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan devisa migas, ditengah kebijakan stabilias nilai tukar rupiah sejalan dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. "Ke depan BI memandang cadev memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal," jelas Ramdan. Dia menjelaskan, prospek ekspor yang tetap postif serta neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik, serta tetap mendukung terjaganya ketahanan eksternal. (Yetede)
Ujian Ketahanan Cadangan Devisa di Tengah Gejolak
Cadangan devisa Indonesia mengalami ujian berat meskipun mencetak rekor tertinggi pada Agustus 2024. Depresiasi rupiah akibat konflik di Timur Tengah dan meningkatnya permintaan dolar AS berpotensi menggerus cadangan devisa. Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., menyatakan bahwa penguatan pasar tenaga kerja AS dan potensi kenaikan harga minyak global dapat memperkuat dolar, sehingga Bank Indonesia mungkin harus menggunakan cadangan devisanya untuk intervensi pasar. Josua memproyeksikan penurunan cadangan devisa menjadi US$145-155 miliar pada akhir tahun ini. Edi Susianto dari Bank Indonesia menegaskan bahwa cadangan devisa masih cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Ajib Hamdani dari Apindo menekankan pentingnya mendorong sektor-sektor penghasil devisa, seperti ekspor, hilirisasi komoditas, dan investasi asing, guna memperkuat ketahanan cadangan devisa.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









