Devisa
( 169 )Menambah Ketahanan Ekonomi Domestik
Plus-Minus DHE Wajib Disimpan di Dalam Negeri
Plus-Minus Devisa Hasil Ekspor Wajib Disimpan di Dalam Negeri
Wajib Pulangkan Devisa Hasil Ekspor
Efek Domino Ketentuan Baru DHE SDA
Aturan Baru DHE: Harapan Kuatkan Rupiah
Presiden Prabowo Setuju Masa Penyimpanan DHE SDA Selama 1 Tahun
Cadangan Devisa pada Akhir 2024 Sebesar US$ 155,7 Miliar
Cadangan devisa (cadev) pada akhir 2024 sebesar US$ 155,7 miliar, mencapai rekor tertinggi dari posisi sebelumnya pada Oktober 2023 yang sebesar US$ 151,123 miliar, Di sisi lain, pemerintah akan melakukan pembenahan regulasi devisa hasil ekspor (DHE) agar devisa konsisten berada di dalam pasar keuangan domestik. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI) Ramdan Denny Prakoso mengatakan cadangan devisa hingga akhir tahun 2024 akan menopang kelangsungan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Posisi cadev 2024 setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Kenaikan posisi cadev tersebut antara lain bersumber dari penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan devisa migas, ditengah kebijakan stabilias nilai tukar rupiah sejalan dengan peningkatan ketidakpastian pasar keuangan global. "Ke depan BI memandang cadev memadai untuk mendukung ketahanan sektor eksternal," jelas Ramdan. Dia menjelaskan, prospek ekspor yang tetap postif serta neraca transaksi modal dan finansial yang diperkirakan tetap mencatatkan surplus, sejalan dengan persepsi positif investor terhadap prospek perekonomian nasional dan imbal hasil investasi yang menarik, serta tetap mendukung terjaganya ketahanan eksternal. (Yetede)
Ujian Ketahanan Cadangan Devisa di Tengah Gejolak
Cadangan devisa Indonesia mengalami ujian berat meskipun mencetak rekor tertinggi pada Agustus 2024. Depresiasi rupiah akibat konflik di Timur Tengah dan meningkatnya permintaan dolar AS berpotensi menggerus cadangan devisa. Josua Pardede, Kepala Ekonom PT Bank Permata Tbk., menyatakan bahwa penguatan pasar tenaga kerja AS dan potensi kenaikan harga minyak global dapat memperkuat dolar, sehingga Bank Indonesia mungkin harus menggunakan cadangan devisanya untuk intervensi pasar. Josua memproyeksikan penurunan cadangan devisa menjadi US$145-155 miliar pada akhir tahun ini. Edi Susianto dari Bank Indonesia menegaskan bahwa cadangan devisa masih cukup untuk menjaga stabilitas rupiah. Ajib Hamdani dari Apindo menekankan pentingnya mendorong sektor-sektor penghasil devisa, seperti ekspor, hilirisasi komoditas, dan investasi asing, guna memperkuat ketahanan cadangan devisa.
Konflik Timur Tengah dan Dampaknya pada Cadangan Devisa
Cadangan devisa Indonesia pada September tahun ini diprediksikan meningkat. Estimasi tersebut sejalan dengan tren nilai tukar rupiah yang menguat terhadap dolar AS selama September dibandingkan bulan sebelumnya. Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo memproyeksikan cadangan devisa Indonesia pada September 2024 menguat di atas US$ 150 miliar. Jumlah tersebut tetap terjaga dibandingkan posisi Agustus 2024 yang sebesar US$ 150,24 miliar. Selama September 2024, rata-rata nilai tukar rupiah di level Rp 15.325 per dolar AS. Angka tersebut menguat 2,74% dibandingkan rata-rata kurs rupiah selama Agustus tahun ini yang berada di kisaran Rp 15.756 per dolar AS. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual juga meramal, cadangan devisa pada periode September 2024 akan berada di rentang antara US$ 148 miliar sampai dengan US$ 153 miliar. "Kemungkinan (cadangan devisa) September 2024 naik. Ini karena ekspektasi penurunan suku bunga The Fed, investor cenderung risk on masuk ke aset-aset emerging market termasuk Indonesia," tutur David, Jumat (4/10). Tak jauh berbeda, Ekonom Bank Danamon Hosianna Evalita Situmorang memproyeksikan, cadangan devisa pada September tahun ini meningkat ke kisaran US$ 150 miliar hingga US$ 152 miliar. Kenaikan ini lantaran rupiah stabil dan menguat pada September 2024.
"Juga adanya penerbitan sukuk global oleh pemerintah sekitar US$ 2 miliar," ucap dia.
Di samping itu, tekanan eksternal terhadap rupiah juga datang dari kebijakan pemerintah Tiongkok yang mengguyur insentif fiskal bazooka sebesar US$ 1,4 triliun untuk mendorong perekonomian di negara tersebut. "Sentimen ini direspons positif oleh pasar, sehingga memberikan ruang pergeseran aset dari
emerging market
ke China pada bulan ini," ungkap Banjaran.
Myrdal Gunarto, Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia juga melihat eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah berpotensi menekan cadangan devisa Indonesia pada Oktober tahun ini. Dia memprediksikan, cadangan devisa pada Oktober senilai US$ 143,2 miliar, atau lebih rendah dari estimasi September yang sebesar US$ 153,2 miliar.
Pilihan Editor
-
Parkir Devisa Perlu Diiringi Insentif
15 Jul 2023 -
Transisi Energi Membutuhkan Biaya Besar
13 Jul 2023 -
Izin Satu Pintu Diuji Coba
13 Jul 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023 -
Masih Kokoh Berkat Proyek IKN
13 Jul 2023









