Devisa
( 169 )Februari, Cadangan Devisa US$ 144 Miliar
SIASAT TARIK DOLAR
Penyusutan cadangan devisa patut menjadi perhatian. Meski diklaim cukup solid dan mampu menopang ketahanan eksternal, sejumlah kalangan mewanti-wanti agar bank sentral mewaspadai aneka risiko yang bisa menekan cadangan devisa. Apalagi, ketebalan cadangan devisa perlu dijaga lantaran masih menjadi instrumen utama intervensi rupiah, tatkala terjadi capital outflow. Sayangnya, surplus neraca perdagangan yang berada dalam tren menyusut, hingga rendahnya kepatuhan eksportir dalam menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri berisiko memengaruhi postur cadangan devisa. Kemarin, Kamis (7/3), Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada akhir bulan lalu senilai US$144 miliar, turun dibandingkan dengan Januari 2024 yang senilai US$145,1 miliar. Nilai tukar rupiah memang relatif minim tekanan, bahkan mengarah ke apresiasi tatkala Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) mengirim sinyal pelonggaran suku bunga.
Otoritas moneter pun menyadari betul adanya risiko tersebut. Sejalan dengan itu, BI berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi ke depan. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan langkah yang akan ditempuh adalah dengan mempererat sinergi respons bauran kebijakan dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi.
Jika dicermati, rupiah sejatinya bukan menjadi faktor utama yang akan menguras cadangan devisa pada bulan-bulan mendatang. Sebaliknya, kinerja dagang, kebijakan DHE, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah yang menjadi penekan. Sebab secara historis, siklus pembayaran utang luar negeri pemerintah dilakukan pada pertengahan tahun. Kemudian, lemahnya permintaan di pasar global juga memengaruhi ekspor sehingga sur plus neraca perdagangan rawan menyusut.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan aturan DHE memberikan pengaruh besar terhadap cash flow perusahaan sehingga jika dipaksakan dapat berdampak negatif terhadap produktivitas ekspor.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, menambahkan kebijakan ekspor perlu berpihak kepada dunia usaha agar memacu produktivitas ekspor serta mendukung cadangan devisa. Adapun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, mengatakan sepanjang ruang kebijakan akomodatif maka pelaku usaha akan patuh terhadap kebijakan pemerintah.
Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo, cadangan devisa akan menguat pada semester II/2024 yang dipicu pudarnya aksi wait and see investor, menguatnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan acuan, dan normalisasi inflasi.
Cadangan Devisa 2024 Bisa Tembus US$ 155 Miliar
Arah The Fed Berefek ke Laju Cadangan Devisa
Bayar Utang Luar Negeri, Cadev Turun Jadi US$ 145,1 Miliar
STABILITAS EKONOMI : WASWAS TEKANAN LANJUTAN CADEV
Tekanan atas cadangan devisa masih cukup tinggi, seiring dengan sinyal dari bank sentral negara maju yang baru akan melonggarkan suku bunga acuan pada semester II/2024 sehingga membatasi aliran modal ke Tanah Air pada paruh pertama tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada bulan pertama tahun ini menyusut US$1,3 menjadi US$145,1 miliar.Menyempitnya cadangan devisa tersebut akibat jatuh tempo pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.Kalangan ekonom pun memperkirakan, tekanan pada cadangan devisa masih cukup tinggi lantaran Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan ada beberapa faktor yang akan mendorong penguatan cadangan devisa pada semester kedua tahun ini. Hal ini berpotensi meningkatkan arus masuk baik dari penanaman modal asing (PMA) baik di sektor riil maupun pasar keuangan. Meski demikian, Josua melihat adanya potensi risiko yang berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan, yang didorong oleh kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas yang sedang berlangsung.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa cadangan devisa pada berpotensi mengalami penurunan, terutama dipengaruhi oleh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah.
Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan bank sentral memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga.Stabilitas tersebut juga lahir dari sinergi bauran kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Sementara itu, otoritas fiskal dan moneter terus meramu jamu mujarab untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Selain optimalisasi instrumen operasi moneter, langkah taktis juga ditempuh dengan memperluas cakupan penempatan devisa hasil ekspor (DHE).
Tak hanya aktivitas ekspor yang diperluas, pemangku kebijakan juga tengah merumuskan diskon tambahan Pajak Penghasilan (PPh), serta memperluas jenis instrumen penampung devisa di dalam negeri.
Ekonomi Global Melambat Bakal Pengaruhi Cadev RI
BANTALAN TEBAL CADANGAN DEVISA
Bank Indonesia (BI) memiliki modal kuat untuk menyiapkan mitigasi risiko dari tekanan eksternal yang dapat menggoyahkan stabilitas pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa yang makin tambun, serta larisnya instrumen operasi moneter anyar pada awal tahun ini mengokohkan kuda-kuda bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta ketahanan dari faktor eksternal. Kemarin, Senin (8/1), BI mengumumkan cadangan devisa per Desember 2023 mencapai US$146,4 miliar dan merupakan level tertinggi dalam 27 bulan terakhir. Seturut dengan itu, beberapa instrumen operasi moneter juga telah berjalan optimal, setidaknya pada awal tahun ini. Baik itu Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE). Daya serap investor pun terbilang signifikan untuk SVBI dan SRBI. Demikian pula pengusaha atau eksportir yang mulai aktif memarkir DHE sumber daya alam (SDA) di dalam negeri. Selain itu, risiko juga muncul dari ritme pembayaran utang luar negeri yang biasanya dilakukan pada kuartal kedua setiap tahun, sehingga menggelembungkan kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS). Belum lagi secara historis impor nasional juga selalu meningkat pada periode tersebut, sehingga ujian stabilitas rupiah masih cukup berat karena transaksi yang digunakan masih menggunakan dolar AS. Keluarnya modal asing dan kebutuhan dolar AS yang membengkak itu kemudian memengaruhi stabiltas nilai tukar yang pada gilirannya juga menekan cadangan devisa nasional. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.
Meski demikian, BI dan pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Sejatinya, bank sentral di banyak negara termasuk Federal Reserve System (The Fed) di AS, telah memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga acuan. Komitmen tersebut tentu memberikan angin segar bagi pasar negara berkembang termasuk Indonesia yang memiliki sensitivitas tinggi dalam konteks pasar keuangan. Apabila tensi geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah meluas sehingga mengakibatkan krisis energi dan pangan serta memacu inflasi, bukan tidak mungkin pelonggaran itu kembali tertunda. Pada tahap inilah kuda-kuda serta mitigasi dari BI amat diperlukan. Terlebih, kalangan pelaku usaha di Tanah Air masih cukup pesimistis ketegangan geopolitik bakal mereda dalam waktu dekat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan instrumen operasi moneter yang diterbitkan BI telah mampu menciptakan stabilitas makroekonomi. Sementara itu, kalangan ekonom memandang posisi cadangan devisa saat ini relatif mampu menjawab tantangan yang berisiko menghantam pasar keuangan nasional. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, mengatakan dengan cadangan devisa yang gemuk maka BI memiliki keleluasaan dalam melakukan intervensi tatkala instrumen operasi moneter kurang mendukung. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menambahkan kombinasi kebijakan moneter yang pro stabilitas dan kebijakan makroprudensial yang pro pertumbuhan saat ini sudah sangat cukup dalam menjaga nilai tukar rupiah di tengah badai ketidakpastian global.
Kenaikan Cadangan Devisa Penopang Rupiah
Cadangan devisa Indonesia pada Desember 2023 diyakini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Mengacu data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2023 tercatat sebesar US$ 138,1 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Oktober 2023 yang sebesar US$ 133,1 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipicu penerbitan sukuk global dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan jasa. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, cadangan devisa Desember 2023 sebesar US$ 140 miliar, naik dari US$ 138,1 miliar pada November 2023. "Peningkatan cadangan devisa tersebut terindikasi dari aliran modal asing di pasar keuangan domestik," terang dia kepada KONTAN, Jumat (5/1). Menurut Josua, asing di pasar keuangan dalam negeri di sepanjang tahun lalu membukukan beli neto US$ 497,1 juta di pasar saham. Sementara kepemilikan investor asing terhadap surat berharga negara (SBN) juga tercatat meningkat US$ 498,3 juta. Peningkatan aliran modal asing di pasar modal turut mendukung penguatan rata-rata nilai tukar rupiah pada akhir 2023. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, salah satu pendorongnya adalah kemungkinan lembaga pemeringkat global menaikkan outlook utang Indonesia usai Pemilu 2024. "Didorong fundamental ekonomi yang cukup kuat. Sehingga mendorong cadangan devisa lebih baik di 2024 dan rupiah cukup stabil," terang dia, kemarin. David juga melihat ada kemungkinan harga beberapa komoditas penting di Indonesia (batubara dan minyak sawit mentah) mulai naik karena pemulihan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor utama. Dengan perkembangan ini, dia memproyeksikan, nilai tukar rupiah tahun 2024 di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per dolar AS. Pada Jumat (5/1), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada posisi Rp 15.399 per dolar AS, menguat 0,55% dari pekan sebelumnya.
Mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah juga menguat tipis 0,04% dari sehari sebelumnya menjadi Rp 15.518 per dolar AS. Meski demikian, nilai tukar rupiah masih mungkin mendapat tekanan pada tahun ini. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengungkapkan, tekanan rupiah pada tahun ini berasal dari pasar global maupun dalam negeri. "Perlambatan permintaan global, ketidakpastian terkait potensi penurunan suku bunga acuan The Fed, juga adanya pemilu baik di Indonesia maupun negara lain," ungkap dia, kemarin. Riefky pun mewanti-wanti, tekanan rupiah yang cukup besar akan membuat pergerakan cadangan devisa tahun ini lebih fluktuatif. Ia masih yakin jika cadangan devisa masih cukup kuat dalam menjaga tekanan Mata Uang Garuda. "Dengan adanya kebijakan terkait dengan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA), juga ada kemungkinan penurunan suku bunga The Fed," tambah Riefky.
Dana DHE di Deposito Valas Perbankan Melonjak
Upaya pemerintah menggenjot penghimpunan dana dari devisa hasil ekspor (DHE) mulai membuahkan hasil.
Kementerian Koordinator Perekonomian mencatat, hingga November 2023, dana DHE yang masuk ke sistem keuangan dalam negeri telah mencapai US$ 1,3 triliun atau sekitar Rp 20,16 kuadriliun.
Penerimaan DHE Sumber Daya Alam (DHE SDA) juga terus meningkat. Pada September 2023, nilainya baru US$ 9 miliar atau setara Rp 139,59 triliun. Namun, per Oktober 2023 melejit menjadi US$ 10,2 miliar, setara Rp 158,21 triliun.
Saat ini, ada empat instrumen penempatan DHE SDA, yakni rekening khusus DHE SDA valuta asing (valas), instrumen deposito valas perbankan,
promissory note
valas LPEI, dan instrumen Bank Indonesia berupa
term deposit
(TD) valas DHE.
Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Hendy Bernadi mengatakan, penempatan dana nasabah di TD valas BRI saat ini menurun.
Meski begitu, sejak berlakunya PBI 7/2023 per 1 Agustus lalu, dana kelolaan TD DHE BRI tumbuh 79,92% per November 2023. Dari total, porsi dana DHE SDA 19,91%.
Berdasarkan laporan keuangan per September 2023, TD valas DHE di BRI sebesar Rp 1,92 triliun.
EVP Corporate Communication and Social Responsibility
PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Hera F Haryn bilang, untuk menarik nasabah menempatkan dananya di TD valas, sejak awal 2023, BCA menyesuaikan bunga deposito valas bertahap. Per 1 Desember 2023, bunga deposito valas berkisar 1,5%-2,25%.
Direktur Wholesale & International Banking Bank Negara Indonesia Silvano Winston Rumantir kepada KONTAN menyebut, penempatan DHE di BNI bisa dilihat dari kenaikan simpanan valas serta kredit valas BNI.
Pilihan Editor
-
Terus Dorong Mutu Investasi
25 Jan 2023 -
Proyek MRT East-West Dikebut
24 Jan 2023









