;
Tags

Devisa

( 169 )

Februari, Cadangan Devisa US$ 144 Miliar

KT1 08 Mar 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) mencatat bahwa cadangan devisa Indonesia mencapai US$ 144 miliar pada akhir Februari 2024, menurun dibandingkan posisi pada akhir januari 2024 yang sebesar US$ 145,1 miliar. "Penurunan posisi cadangan devisa  ini antara lain dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah," jelas Kepala Departemen Komunikasi Erwin Haryono dalam keterangan tertulis. Erwin menuturkan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,5 bulan impor atau 6,3 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada diatas standar  kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu  mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedepannya BI memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek  ekonomi yang terjaga, seiring  dengan sinergi respons bauran kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan yang berkelanjutan. (Yetede)

SIASAT TARIK DOLAR

HR1 08 Mar 2024 Bisnis Indonesia (H)

Penyusutan cadangan devisa patut menjadi perhatian. Meski diklaim cukup solid dan mampu menopang ketahanan eksternal, sejumlah kalangan mewanti-wanti agar bank sentral mewaspadai aneka risiko yang bisa menekan cadangan devisa. Apalagi, ketebalan cadangan devisa perlu dijaga lantaran masih menjadi instrumen utama intervensi rupiah, tatkala terjadi capital outflow. Sayangnya, surplus neraca perdagangan yang berada dalam tren menyusut, hingga rendahnya kepatuhan eksportir dalam menempatkan devisa hasil ekspor (DHE) ke dalam negeri berisiko memengaruhi postur cadangan devisa. Kemarin, Kamis (7/3), Bank Indonesia (BI) mencatat cadangan devisa pada akhir bulan lalu senilai US$144 miliar, turun dibandingkan dengan Januari 2024 yang senilai US$145,1 miliar. Nilai tukar rupiah memang relatif minim tekanan, bahkan mengarah ke apresiasi tatkala Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) mengirim sinyal pelonggaran suku bunga. Otoritas moneter pun menyadari betul adanya risiko tersebut. Sejalan dengan itu, BI berkomitmen untuk terus mendukung upaya pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi ke depan. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan langkah yang akan ditempuh adalah dengan mempererat sinergi respons bauran kebijakan dengan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Jika dicermati, rupiah sejatinya bukan menjadi faktor utama yang akan menguras cadangan devisa pada bulan-bulan mendatang. Sebaliknya, kinerja dagang, kebijakan DHE, serta pembayaran utang luar negeri pemerintah yang menjadi penekan. Sebab secara historis, siklus pembayaran utang luar negeri pemerintah dilakukan pada pertengahan tahun. Kemudian, lemahnya permintaan di pasar global juga memengaruhi ekspor sehingga sur plus neraca perdagangan rawan menyusut. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan aturan DHE memberikan pengaruh besar terhadap cash flow perusahaan sehingga jika dipaksakan dapat berdampak negatif terhadap produktivitas ekspor. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, menambahkan kebijakan ekspor perlu berpihak kepada dunia usaha agar memacu produktivitas ekspor serta mendukung cadangan devisa. Adapun, Wakil Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Sarman Simanjorang, mengatakan sepanjang ruang kebijakan akomodatif maka pelaku usaha akan patuh terhadap kebijakan pemerintah. Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) Banjaran Surya Indrastomo, cadangan devisa akan menguat pada semester II/2024 yang dipicu pudarnya aksi wait and see investor, menguatnya ekspektasi penurunan suku bunga acuan acuan, dan normalisasi inflasi.

Cadangan Devisa 2024 Bisa Tembus US$ 155 Miliar

HR1 13 Feb 2024 Kontan
Cadangan devisa berpeluang meningkat pada akhir tahun 2024. Diprediksi, cadangan devisa bisa menyentuh level US$ 155 miliar, jauh lebih tinggi dibanding akhir tahun 2023 yang sebesar US$ 146,4 miliar. Ekonom Bank UOB Enrico Tanuwidjaja memperkirakan, cadangan devisa Indonesia pada tahun ini akan berada di kisaran US$ 145 miliar hingga US$ 155 miliar. Kenaikan tersebut, didorong oleh potensi penguatan permintaan dari negara-negara mitra dagang utama Indonesia yang mendorong ekspor Indonesia. Selain penguatan kinerja ekspor, Enrico juga melihat dampak stabilitas politik pasca pemilu dan kelanjutan program pembangunan infrastruktur serta hilirisasi dari pemerintah akan mendorong investasi asing langsung alias foreign direct investment (FDI). Ini juga sebenarnya sejalan dengan target pertumbuhan investasi pemerintah yang sebesar 18% tahunan atau year on year (yoy) tahun 2024.

Arah The Fed Berefek ke Laju Cadangan Devisa

HR1 09 Feb 2024 Kontan
Posisi cadangan devisa pada Januari tahun ini menyusut. Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia di bulan Januari 2024 tercatat US$ 145,1 miliar atau turun 0,87% dibandingkan posisi Desember 2023 sebesar US$ 146,38 miliar. Menyusutnya posisi cadangan devisa Indonesia antara lain dipengaruhi oleh jatuh tempo pembayaran utang luar negeri pemerintah. Secara total, utang jatuh tempo pemerintah pada 2024 mencapai Rp 663 triliun. Namun tak jelas, berapa total utang luar negeri pemerintah. Di saat yang sama, pemerintah berencana membayar bunga utang senilai Rp 497,3 triliun. Dari jumlah itu, pembayaran bunga utang luar negeri mencapai Rp 40,4 triliun. Sejatinya posisi cadangan devisa per Januari masih aman, yakni setara pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional yang sekitar 3 bulan impor. Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan Indonesia. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual menilai, pada awal  hingga pertengahan tahun biasanya terdapat banyak utang jatuh tempo yang dibayar, termasuk utang jatuh tempo luar negeri pemerintah. "Kemudian sekitar Maret atau April ada pembayaran dividen yang juga mempengaruhi kebutuhan devisa," tutur dia, Rabu (7/2). Ia menyebutkan utang luar negeri jatuh tempo luar negeri pemerintah pada Januari 2024 sekitar  US$ 1,68 miliar. David memperkirakan pada semester I 2024 posisi cadangan devisa Indonesia akan mengalami tren penurunan. Ini dipengaruhi adanya ekspektasi penurunan suku bunga bank sentral Amerika Serikat The Fed yang akan bergeser pada pertengahan tahun. Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan cadangan devisa pada semester II 2024 akan meningkat. Estimasi ini lantaran investor sudah mulai optimistis, utamanya karena pemilihan umum (pemilu) telah selesai. Sentimen tersebut, menurut Josua, berpotensi meningkatkan arus modal masuk pasar Indonesia, baik dari penanaman modal asing (PMA) maupun pasar portofolio. Secara keseluruhan, dia memperkirakan posisi cadangan devisa pada tahun 2024 akan bergerak di rentang US$ 150 miliar hingga US$ 155 miliar. Sementara itu, nilai tukar rupiah akan bergerak naik dari Rp 15.397 per dolar AS pada akhir 2023 menjadi di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 15.300 per dolar AS di akhir tahun 2024.

Bayar Utang Luar Negeri, Cadev Turun Jadi US$ 145,1 Miliar

KT1 09 Feb 2024 Investor Daily
Bank Indonesia (BI) mencatat, nilai posisi cadangan devisa (cadev)  pada Januari 2024 sebesar US$ 145,1 miliar. Penurunan posisi cadangan devisa  tersebut antara lain dipengaruhi jatuh tempo pembayaran  utang luar negeri pemerintah. "Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,6 bulan impor atau 6,4 bulan impor dan pembayaran  utang luar negeri pemerintah, serta  berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor," jelas kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono. Dia mengatakan, dengan kondisi tersebut, BI menilai cadangan  devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal  serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Kedepan, BI memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga. "Hal ini seiring dengan sinergi respon bauran  kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah, dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan  untuk mendukung ekonomi yang berkelanjutan," jelas Erwin. (Yetede)

STABILITAS EKONOMI : WASWAS TEKANAN LANJUTAN CADEV

HR1 09 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Tekanan atas cadangan devisa masih cukup tinggi, seiring dengan sinyal dari bank sentral negara maju yang baru akan melonggarkan suku bunga acuan pada semester II/2024 sehingga membatasi aliran modal ke Tanah Air pada paruh pertama tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada bulan pertama tahun ini menyusut US$1,3 menjadi US$145,1 miliar.Menyempitnya cadangan devisa tersebut akibat jatuh tempo pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta upaya bank sentral dalam menjaga stabilitas rupiah.Kalangan ekonom pun memperkirakan, tekanan pada cadangan devisa masih cukup tinggi lantaran Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed) memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga pada paruh kedua tahun ini.Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, mengatakan ada beberapa faktor yang akan mendorong penguatan cadangan devisa pada semester kedua tahun ini. Hal ini berpotensi meningkatkan arus masuk baik dari penanaman modal asing (PMA) baik di sektor riil maupun pasar keuangan. Meski demikian, Josua melihat adanya potensi risiko yang berasal dari pelebaran defisit transaksi berjalan, yang didorong oleh kekhawatiran tentang perlambatan ekonomi global dan normalisasi harga komoditas yang sedang berlangsung.Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky menyampaikan bahwa cadangan devisa pada berpotensi mengalami penurunan, terutama dipengaruhi oleh langkah stabilisasi nilai tukar rupiah. 

 Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan bank sentral memandang cadangan devisa akan tetap memadai, didukung stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga.Stabilitas tersebut juga lahir dari sinergi bauran kebijakan yang ditempuh BI dan pemerintah dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan. Sementara itu, otoritas fiskal dan moneter terus meramu jamu mujarab untuk menguatkan nilai tukar rupiah. Selain optimalisasi instrumen operasi moneter, langkah taktis juga ditempuh dengan memperluas cakupan penempatan devisa hasil ekspor (DHE). Tak hanya aktivitas ekspor yang diperluas, pemangku kebijakan juga tengah merumuskan diskon tambahan Pajak Penghasilan (PPh), serta memperluas jenis instrumen penampung devisa di dalam negeri.

Ekonomi Global Melambat Bakal Pengaruhi Cadev RI

KT1 23 Jan 2024 Investor Daily (H)
Perkembangan cadangan devisa (cadev) Indonesia pada 2024 akan terpengaruh oleh pertumbuhan ekonomi global yang diproyeksikan melambat dan harga komoditas yang diperkirankan melandai. Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa Indonesia sebesar US$ 146,4 miliar pada akhir Desember 2023 yang sebesar US$ 138,1 miliar. Posisi cadangan devisa di Desember itu setara dengan pembiayaan 6,7 bulan impor  dan 6,5 bulan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah. Kondisi ini sedikit lebih baik jika dibandingkan dengan capaian di bulan sebelumnya dimana posisi cadangan devisa  tersebut juga berada di atas standar kecukupan yang disepakati secara internasional yaitu sebesar tiga bulan impor. "Yang juga akan ikut mempengaruhi cadangan devisa pada tahun ini secara langsung maupun tidak langsung adalah kondisi harga komoditas yang diperkirakan akan kembali melandai pada 2024, seiring dengan proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global," kata Peneliti ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf R Manilet di Jakarta. (Yetede)

BANTALAN TEBAL CADANGAN DEVISA

HR1 09 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia (BI) memiliki modal kuat untuk menyiapkan mitigasi risiko dari tekanan eksternal yang dapat menggoyahkan stabilitas pasar keuangan domestik dan nilai tukar rupiah. Cadangan devisa yang makin tambun, serta larisnya instrumen operasi moneter anyar pada awal tahun ini mengokohkan kuda-kuda bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar serta ketahanan dari faktor eksternal. Kemarin, Senin (8/1), BI meng­umumkan cadangan devisa per Desember 2023 mencapai US$146,4 miliar dan merupakan level tertinggi dalam 27 bulan terakhir. Seturut dengan itu, beberapa instrumen operasi moneter juga telah berjalan optimal, setidaknya pada awal tahun ini. Baik itu Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI), Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), maupun Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE). Daya serap investor pun terbilang signifikan untuk SVBI dan SRBI. Demikian pula pengusaha atau eksportir yang mulai aktif memarkir DHE sumber daya alam (SDA) di dalam negeri. Selain itu, risiko juga muncul dari ritme pembayaran utang luar negeri yang biasanya dilakukan pada kuartal kedua setiap tahun, sehingga menggelembungkan kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS). Belum lagi secara historis impor nasional juga selalu meningkat pada periode tersebut, sehingga ujian stabilitas rupiah masih cukup berat karena transaksi yang digunakan masih menggunakan dolar AS. Keluarnya modal asing dan kebutuhan dolar AS yang membengkak itu kemudian memengaruhi stabiltas nilai tukar yang pada gilirannya juga menekan cadangan devisa nasional. Asisten Gubernur Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono, mengatakan cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan.

Meski demikian, BI dan pemerintah terus menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan untuk mendukung pertumbuhan yang berkelanjutan. Sejatinya, bank sentral di banyak negara termasuk Federal Reserve System (The Fed) di AS, telah memberikan sinyal untuk menurunkan suku bunga acuan. Komitmen tersebut tentu memberikan angin segar bagi pasar negara berkembang termasuk Indonesia yang memiliki sensitivitas tinggi dalam konteks pasar keuangan. Apabila tensi geopolitik di Eropa Timur dan Timur Tengah meluas sehingga mengakibatkan krisis energi dan pangan serta memacu inflasi, bukan tidak mungkin pelonggaran itu kembali tertunda. Pada tahap inilah kuda-kuda serta mitigasi dari BI amat diperlukan. Terlebih, kalangan pelaku usaha di Tanah Air masih cukup pesimistis ketegangan geopolitik bakal mereda dalam waktu dekat. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, mengatakan instrumen operasi moneter yang diterbitkan BI telah mampu menciptakan stabilitas makroekonomi. Sementara itu, kalangan ekonom memandang posisi cadangan devisa saat ini relatif mampu menjawab tantangan yang berisiko menghantam pasar keuangan nasional. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky, mengatakan dengan cadangan devisa yang gemuk maka BI memiliki keleluasaan dalam melakukan intervensi tatkala instrumen operasi moneter kurang mendukung. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede, menambahkan kombinasi kebijakan moneter yang pro stabilitas dan kebijakan makroprudensial yang pro pertumbuhan saat ini sudah sangat cukup dalam menjaga nilai tukar rupiah di tengah badai ketidakpastian global.

Kenaikan Cadangan Devisa Penopang Rupiah

HR1 06 Jan 2024 Kontan

Cadangan devisa Indonesia pada Desember 2023 diyakini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Mengacu data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2023 tercatat sebesar US$ 138,1 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Oktober 2023 yang sebesar US$ 133,1 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipicu penerbitan sukuk global dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan jasa. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, cadangan devisa Desember 2023 sebesar US$ 140 miliar, naik dari US$ 138,1 miliar pada November 2023. "Peningkatan cadangan devisa tersebut terindikasi dari aliran modal asing di pasar keuangan domestik," terang dia kepada KONTAN, Jumat (5/1). Menurut Josua, asing di pasar keuangan dalam negeri di sepanjang tahun lalu membukukan beli neto US$ 497,1 juta di pasar saham. Sementara kepemilikan investor asing terhadap surat berharga negara (SBN) juga tercatat meningkat US$ 498,3 juta. Peningkatan aliran modal asing di pasar modal turut mendukung penguatan rata-rata nilai tukar rupiah pada akhir 2023. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, salah satu pendorongnya adalah kemungkinan lembaga pemeringkat global menaikkan outlook utang Indonesia usai Pemilu 2024. "Didorong fundamental ekonomi yang cukup kuat. Sehingga mendorong cadangan devisa lebih baik di 2024 dan rupiah cukup stabil," terang dia, kemarin. David juga melihat ada kemungkinan harga beberapa komoditas penting di Indonesia (batubara dan minyak sawit mentah) mulai naik karena pemulihan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor utama. Dengan perkembangan ini, dia memproyeksikan, nilai tukar rupiah tahun 2024 di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per dolar AS. Pada Jumat (5/1), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada posisi Rp 15.399 per dolar AS, menguat 0,55% dari pekan sebelumnya.

Mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah juga menguat tipis 0,04% dari sehari sebelumnya menjadi Rp 15.518 per dolar AS. Meski demikian, nilai tukar rupiah masih mungkin mendapat tekanan pada tahun ini. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengungkapkan, tekanan rupiah pada tahun ini berasal dari pasar global maupun dalam negeri. "Perlambatan permintaan global, ketidakpastian terkait potensi penurunan suku bunga acuan The Fed, juga adanya pemilu baik di Indonesia maupun negara lain," ungkap dia, kemarin. Riefky pun mewanti-wanti, tekanan rupiah yang cukup besar akan membuat pergerakan cadangan devisa tahun ini lebih fluktuatif. Ia masih yakin jika cadangan devisa masih cukup kuat dalam menjaga tekanan Mata Uang Garuda. "Dengan adanya kebijakan terkait dengan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA), juga ada kemungkinan penurunan suku bunga The Fed," tambah Riefky.

Dana DHE di Deposito Valas Perbankan Melonjak

HR1 21 Dec 2023 Kontan

Upaya pemerintah menggenjot penghimpunan dana dari devisa hasil ekspor (DHE) mulai membuahkan hasil. Kementerian Koordinator Perekonomian mencatat, hingga November 2023, dana DHE yang masuk ke sistem keuangan dalam negeri telah mencapai US$ 1,3 triliun atau sekitar Rp 20,16 kuadriliun. Penerimaan DHE Sumber Daya Alam (DHE SDA) juga terus meningkat. Pada September 2023, nilainya baru US$ 9 miliar atau setara Rp 139,59 triliun. Namun, per Oktober 2023 melejit menjadi US$ 10,2 miliar, setara Rp 158,21 triliun. Saat ini, ada empat instrumen penempatan DHE SDA, yakni rekening khusus DHE SDA valuta asing (valas), instrumen deposito valas perbankan, promissory note valas LPEI, dan instrumen Bank Indonesia berupa term deposit (TD) valas DHE. Corporate Secretary PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Hendy Bernadi mengatakan, penempatan dana nasabah di TD valas BRI saat ini menurun. Meski begitu, sejak berlakunya PBI 7/2023 per 1 Agustus lalu, dana kelolaan TD DHE BRI tumbuh 79,92% per November 2023. Dari total, porsi dana DHE SDA 19,91%. Berdasarkan laporan keuangan per September 2023, TD valas DHE di BRI sebesar Rp 1,92 triliun. EVP Corporate Communication and Social Responsibility PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Hera F Haryn bilang, untuk menarik nasabah menempatkan dananya di TD valas, sejak awal 2023, BCA menyesuaikan bunga deposito valas bertahap. Per 1 Desember 2023, bunga deposito valas berkisar 1,5%-2,25%. Direktur Wholesale & International Banking Bank Negara Indonesia Silvano Winston Rumantir kepada KONTAN menyebut, penempatan DHE di BNI bisa dilihat dari kenaikan simpanan valas serta kredit valas BNI.