Kenaikan Cadangan Devisa Penopang Rupiah
Cadangan devisa Indonesia pada Desember 2023 diyakini meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Mengacu data Bank Indonesia (BI), posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir November 2023 tercatat sebesar US$ 138,1 miliar, meningkat dibandingkan posisi akhir Oktober 2023 yang sebesar US$ 133,1 miliar. Kenaikan posisi cadangan devisa tersebut antara lain dipicu penerbitan sukuk global dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta penerimaan pajak dan jasa. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memperkirakan, cadangan devisa Desember 2023 sebesar US$ 140 miliar, naik dari US$ 138,1 miliar pada November 2023. "Peningkatan cadangan devisa tersebut terindikasi dari aliran modal asing di pasar keuangan domestik," terang dia kepada KONTAN, Jumat (5/1). Menurut Josua, asing di pasar keuangan dalam negeri di sepanjang tahun lalu membukukan beli neto US$ 497,1 juta di pasar saham. Sementara kepemilikan investor asing terhadap surat berharga negara (SBN) juga tercatat meningkat US$ 498,3 juta. Peningkatan aliran modal asing di pasar modal turut mendukung penguatan rata-rata nilai tukar rupiah pada akhir 2023. Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual mengungkapkan, salah satu pendorongnya adalah kemungkinan lembaga pemeringkat global menaikkan outlook utang Indonesia usai Pemilu 2024. "Didorong fundamental ekonomi yang cukup kuat. Sehingga mendorong cadangan devisa lebih baik di 2024 dan rupiah cukup stabil," terang dia, kemarin. David juga melihat ada kemungkinan harga beberapa komoditas penting di Indonesia (batubara dan minyak sawit mentah) mulai naik karena pemulihan ekonomi di beberapa negara tujuan ekspor utama. Dengan perkembangan ini, dia memproyeksikan, nilai tukar rupiah tahun 2024 di kisaran Rp 15.000 hingga Rp 16.000 per dolar AS. Pada Jumat (5/1), nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup pada posisi Rp 15.399 per dolar AS, menguat 0,55% dari pekan sebelumnya.
Mengacu kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah juga menguat tipis 0,04% dari sehari sebelumnya menjadi Rp 15.518 per dolar AS. Meski demikian, nilai tukar rupiah masih mungkin mendapat tekanan pada tahun ini. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky mengungkapkan, tekanan rupiah pada tahun ini berasal dari pasar global maupun dalam negeri. "Perlambatan permintaan global, ketidakpastian terkait potensi penurunan suku bunga acuan The Fed, juga adanya pemilu baik di Indonesia maupun negara lain," ungkap dia, kemarin. Riefky pun mewanti-wanti, tekanan rupiah yang cukup besar akan membuat pergerakan cadangan devisa tahun ini lebih fluktuatif. Ia masih yakin jika cadangan devisa masih cukup kuat dalam menjaga tekanan Mata Uang Garuda. "Dengan adanya kebijakan terkait dengan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA), juga ada kemungkinan penurunan suku bunga The Fed," tambah Riefky.
Tags :
#DevisaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023