Devisa
( 169 )Jaring DHE SDA, BI Siapkan Insentif yang Kompetitif
JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) tengah menyiapkan mekanisme insentif guna menarik minat eksportir menyimpan devisa hasil ekspor (DHE) sumber daya alam (SDA) di dalam negeri lebih lama. Dengan demikian, DHE SDA itu dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi perekonomian nasional. Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo berharap, mekanisme insentif yang disediakan bagi eksportir itu akan jauh lebih kompetitif. “Guna terus mendorong penempatan DHE SDA yang lebih lama, maka BI akan berupaya memberikan remunerasi yang kompetitif,” ucap dia saat dihubungi Investor Daily, Sabtu (10/12). Dody mengatakan, remunerasi yang lebih kompetitif itu merupakan bagian dari kegiatan operasi moneter valas BI sesuai dengan mekanisme pasar yang ada. “Tentunya dengan likuiditas yang terjamin dan dapat di-rollover,” tandas dia. (Yetede)
Cadangan Devisa Menguat
Cadangan devisa Indonesia pada November 2022 mencapai 134,0 miliar USD, meningkat dibandingkan Oktober 2022 sebesar 130,2 miliar USD. Kenaikan ini dipicu kinerja ekspor yang tetap positif karena terdongkrak harga komoditas yang masih tinggi. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono menjelaskan, peningkatan posisi cadangan devisa November 2022 dipengaruhi penerimaan pajak dan jasa, serta penerimaan devisa migas. Erwin menambahkan dalam keterangan, Rabu (7/12), posisi cadangan devisa ini setara pembiayaan 5,9 bulan impor atau 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Ekonom Bank Mandiri, Faisal Rachman, berpendapat, harga komoditas energi yang masih tinggi menjadi pendo rong ekspor sehingga berdampak pada kenaikan cadangan devisa. Ia memperkirakan ca- dangan devisa ke depan akan cukup stabil dan masih ditopang kinerja ekspor. Surplus neraca perdagangan yang ditopang harga komoditas tinggi menjaga kestabilan cadangan devisa Indonesia. ”Kami memperkirakan cadangan devisa sampai akhir tahun di kisaran 130 miliar USD–135 miliar USD, dalam posisi cukup menjaga kestabilan nilai tukar dan sistem keuangan,” ujar Faisal. (Yoga)
Ditopang Pajak, Cadev November Naik Jadi US$ 134 Miliar
JAKARTA, ID – Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir November 2022 sebesar US$ 134 miliar, atau meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar US$ 130,2 miliar. Sementara itu, pada saat cadev naik, nilai tukar rupiah justru melemah. Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu (7/12/2022) sore, seperti dilansir Antara, turun di tengah ekspektasi pelaku pasar terhadap kenaikan suku bunga acuan yang lebih besar oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), Federal Reserve (Fed). Rupiah ditutup melemah 19 poin atau 0,12% ke posisi Rp 15.637per dolar AS dibandingkan posisi pada penutupan perdagangan sebelumnya Rp 15.618 per dolar AS. “Peningkatan posisi cadangan devisa pada November 2022 antara lain dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, serta penerimaan devisa migas,” jelas Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam keterangan resmi, Rabu (7/12/2022). (Yetede)
Iming-Iming Bunga Deposito Valas Tinggi demi Tarik Pulang Devisa Ekspor
Bank Indonesia (BI) tengah memutar otak untuk membujuk pemilik devisa hasil ekspor agar bersedia memarkir dananya lebih lama di perbankan dalam negeri.
Salah satu iming-iming untuk menarik pulang hasil devisa ekspor Indonesia adalah dengan menawarkan suku bunga simpanan deposito valuta asing yang tinggi dan bisa bersaingan dengan bunga deposito di luar negeri.
Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan, inisitiaf tawaran bunga simpanan valas yang tinggi merupakan salah satu hasil diskusi bank sentral dengan bankir dan eksportir. Dari diskusi itu, Perry mengklaim, mendorong bunga valas bank nasional menjadi lebih kompetitif dari negara lain dinilai bisa membuat betah devisa ekspor bertahan di dalam negeri. "Semoga ini bisa dilakukan," kata Perry dalam rapat dengan Komisi XI DPR, Senin (21/11), tanpa menyebutkan detil rencananya.
Ketua Umum Gabungan Pengusaha Ekspor Indonesia (GPEI) Benny Soetrisno menyatakan, Singapura kini menjadi negara tujuan penyimpanan valas. "Bunga deposito valas di Singapura lebih tinggi," kata Benny kepada KONTAN, Selasa (22/11).
Cadev Tergerus US$ 6 Miliar Dalam Tiga Bulan
Pemerintah diminta mewaspadai penurunan cadangan devisa (cadev) sebesar US$ 6,2 miliar menjadi US$ 130,2 miliar selama tiga bulan terakhir dari posisi US$ 136,4 mliar. Penurunan cadev dipicu langkah BI melakukan intervensi pasar demi menjaga stabilitas rupiah dan pembayaran utang luar negeri. Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengingatkan, puncak cadev terjadi pada September 2021 di US$ 146,9 miliar. Tahun 2019, cadev sebesar US$ 130 miliar mampu membiayai impor selama tujuh sampai delapan bulan. Namun, saat ini, cadev sebesar itu hanya bisa membiayai 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang pemerintah. Oleh karena itu, dia menyatakan, perlu upaya mengendalikan penurunan posisi cadev dengan memperkuat rupiah. Apalagi, menjelang akhir tahun, kebutuhan dolar AS meningkat, seiring meningkatnya mobilitas masyarakat berlibur ke luar negeri. (Yoga)
Cadangan Devisa Susut, Rupiah Masih Kisut
Cadangan devisa kian tergerus di tengah pergerakan nilai tukar rupiah yang masih melemah. Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa pada akhir Oktober 2022 sebesar US$ 130,2 miliar, turun US$ 600 juta dibanding posisi akhir September yang sebesar US$ 130,8 miliar.
Direktur Departemen Komunikasi BI Junanto Herdiawan mengatakan, turunnya cadangan devisa tersebut, dipengaruhi oleh kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan global. Selain itu, cadangan devisa juga digunakan untuk pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Nilai tukar rupiah pun terpantau terus melemah. Per 4 November, rupiah ada di level Rp 15.736 per dollar AS. Rupiah menguat tipis pada tanggal 7 November kemarin, namun masih di atas kisaran Rp 15.700 per dollar AS.
Meski demikian, cadangan devisa masih kuat karena setara pembiayaan 5,8 bulan impor atau 5,6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta di atas standar kecukupan internasional sekitar tiga bulan impor.
Devisa Ekspor Belum Bisa Sokong Rupiah
Eksportir ternyata telah memarkir devisa hasil ekspor (DHE) di perbankan dalam negeri. Namun, masuknya devisa ekspor ini belum mampu membuat nilai rupiah menguat.
Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Juda Agung mengatakan, dari total ekspor periode Januari 2022 hingga Juli 2022 yang mencapai US$ 166,70 miliar, sebanyak 93,5% di antaranya atau sekitar US$ 155 miliar telah masuk ke dalam negeri.
Namun, ia juga menegaskan, sebagian besar atau sekitar 50% DHE yang masuk tersebut sudah dikonversi ke dalam rupiah. Khusus DHE sumber daya alam (SDA), sudah sekitar 92,6% yang masuk ke dalam negeri, dan sekitar 5,1% masih diparkir para eksportir di bank luar negeri.
Meski Indonesia punya pasokan valas dari para eksportir, namun hal itu belum mampu memperkuat otot rupiah. Berdasarkan data BI pula, nilai tukar rupiah telah melemah hingga 8,03% sejak awal tahun hingga 19 Oktober 2022.
Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, masih ada beberapa momentum yang membutuhkan valas, dan bahkan mengurangi pasokan valas.
Penurunan Cadangan Devisa Bakal Berlanjut
Penurunan cadangan devisa Indonesia tampaknya bakal berlanjut. Penyulutnya: agresivitas The Fed mengerek suku bunga acuan berimbas pada keluarnya arus modal asing dari pasar emerging market, termasuk Indonesia.
Bank Indonesia (BI) mencatat, cadangan devisa akhir September US$ 130,8 miliar, turun US$ 1,4 miliar atau 1,05% dari posisi akhir bulan sebelumnya yang sebesar US$ 132,2 miliar. Penyebab utamanya, kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah.
Seperti diketahui, nilai tukar rupiah bergerak melemah di akhir bulan lalu, bahkan sempat ke kisaran Rp 15.200 per dolar Amerika Serikat (AS). Berdasarkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), posisi rupiah per 30 September melemah 2,55% dibanding posisi 31 Agustus lalu.
Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual melihat, berlanjutnya penurunan cadangan devisa masih disebabkan oleh keluarnya arus modal asing dari pasar keuangan dalam negeri (
capital outflow
). Secara
year to date
hingga awal Oktober, besarannya mencapai US$ 9,7 miliar dari pasar obligasi.
September, Cadev Turun Jadi US$ 130,8 Miliar
BI mencatat
posisi cadev Indonesia akhir
September 2022 melorot US$
1,4 miliar menjadi US$ 130,8
miliar dari akhir Agustus US$
132,2 miliar. Hal itu dipicu
pembayaran utang luar negeri
pemerintah dan kebutuhan
dolar untuk stabilisasi nilai
tukar rupiah, sejalan dengan
masih tingginya ketidakpastian
di pasar keuangan global.
Direktur Eksekutif Kepala
Departemen Komunikasi BI
Erwin Haryono mengatakan, cadev tersebut setara pembiayaan
5,9 bulan impor atau 5,7 bulan impor dan pembayaran utang
luar negeri pemerintah. "Posisi cadev domestik itu berada di
atas standar kecukupan internasional, sekitar tiga bulan impor,"
ucap dia dalam keterangan tertulis, Jumat (7/10).
BI menilai cadangan devisa tersebut mampu
mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas
makroekonomi dan sistem keuangan.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Pengelolaan
Moneter BI Edi Susianto menilai penurunan
cadev September ini masih cukup baik. Hal ini tidak hanya
dialami Indonesia, melainkan juga di beberapa negara
berkembang.
“Posisi cadev sebesar US$ 130.8 miliar, berdasarkan asesmen
kami, masih cukup jauh di atas batas kecukupan," ucap dia. (Yoga)
Lonceng Tanda Bahaya Cadangan Devisa
Bank sentral di seluruh dunia tengah dilanda kegelisahan. Cadangan devisa mereka terkuras, karena dipakai untuk mengamankan kejatuhan mata uang negaranya. Melawan penguatan dolar Amerika Serikat di sepanjang tahun ini. Dolar AS terus menguat karena kebijakan The Federal Reserve mengerek suku bunga acuan. The Fed, begitu biasa disebut, sepanjang tahun ini telah menaikkan suku bunga sebanyak lima kali. Terakhir, 22 September 2022, bank sentral asal Negeri Paman Sam itu menaikkan Fed Fund Rate sebesar 75 basis poin (bps) menjadi 3,0%—3,25%. Sebelumnya, The Fed menaikkan suku bunga 75 bps pada 28 Juli dan 16 Juni, 50 bps pada 5 Mei, dan 25 bps pada 17 Maret. Langkah agresif bank sentral AS ini membuat Fed Fund Rate berada di level tertinggi sejak krisis ekonomi 2008. Cukup beralasan, karena The Fed tengah memerangi lonjakan inflasi yang mendekati angka tertinggi sejak 1980-an. Bahkan, pejabat The Fed mengisyaratkan untuk terus menaikkan Fed Fund Rate mencapai titik akhir sebesar 4,6% pada 2023. Akibat kebijakan The Fed ini membuat bank sentral seluruh dunia melakukan langkah serupa.
Pilihan Editor
-
Hati-hati Rekor Inflasi
02 Aug 2022 -
Kisruh Labuan Bajo Merusak Citra
04 Aug 2022 -
Waspadai Sentimen Geopolitik
05 Aug 2022 -
BABAK BARU RELASI RI-JEPANG
28 Jul 2022









