Devisa
( 169 )UJI TANGGUH CADANGAN DEVISA
Tekanan cadangan devisa pada awal paruh kedua tahun ini patut dicermati menyusul adanya beberapa faktor yang menuntut bank sentral memaksimalkan stabilitas rupiah. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) yang meningkat untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen ke luar negeri, serta hal lain yang sejalan dengan peningkatan aktivitas impor. Apalagi, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya penurunan cadangan devisa, yakni dari US$139,3 miliar pada Mei 2023 menjadi US$137,5 miliar pada Juni 2023. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan penurunan posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meski tergerus, Erwin menegaskan posisi cadangan devisa itu mampu menopang pembiayaan selama 6,1 bulan impor, menyangga 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan optimisme itu didorong oleh pemulihan ekonomi yang cukup solid serta proyeksi penyehatan fiskal dari sejumlah lembaga internasional. Salah satunya adalah Lembaga Pemeringkat S&P yang mempertahankan peringkat (rating) kredit Indonesia pada posisi BBB outlook stabil, serta memproyeksikan defisit fiskal di angka 2,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dari target pemerintah sebesar 2,84%.
Kenaikan suku bunga The Fed merupakan keniscayaan setelah pada Juni 2023 bank sentral tidak mengutak-atik suku bunga acuan alias tetap di kisaran 5%—5,25%. Faktor lain yang mendorong pengetatan The Fed adalah proyeksi lonjakan penyerapan tenaga kerja di AS hingga 500.000 pekerja pada bulan lalu sehingga menguatkan ekspektasi peningkatan inflasi. Di sisi lain, sejumlah upaya yang dilakukan oleh pemangku kebijakan guna menjaga penguatan rupiah masih belum cukup efektif. Di antara upaya itu adalah perluasan penerapan kebijakan Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE), dan penggunaan mata uang lokal alias Local Currency Transaction (LCT) untuk menekan ketergantungan pada dolar AS. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan salah satu langkah yang bisa menguatkan ketahanan eksternal adalah mengoptimalisasi kebijakan DHE. Selain itu, kinerja APBN harus tetap solid sehingga melahirkan kepercayaan di kalangan investor untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.
Momen DHE Besar Terlewat
Indonesia dinilai sudah melewatkan momentum meraup devisa hasil ekspor (DHE) bernilai besar karena surplus neraca perdagangan mulai mengecil. Namun, peluang mendapatkan DHE tetap ada ditengah risiko pelambatan permintaan global. Kebijakan DHE itu juga dapat bermanfaat kala siklus kenaikan atau booming komoditas kembali terulang di masa depan. Agar optimal, kebijakan itu perlu dibarengi diversifikasi pasar dan produk ekspor berbasis hilirisasi. Hal itu mengemuka dalam diskusi Gambir Trade Talks#10 bertema ”Memanfaatkan Devisa Hasil Ekspor sebagai Instrumen Pertumbuhan Ekonomi Nasional” yang digelar Badan Kebijakan Perdagangan Kemendag secara hibrida di Jakarta, Rabu (21/63).
Kepala Ekonom PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Andry Asmoro mengatakan, surplus perdagangan Indonesia pada 2022 sangat besar, mencapai 54,46 miliar USD. Hal itu ditopang kenaikan harga komoditas global, termasuk komoditas unggulan Indonesia, seperti batubara, CPO, dan besi baja. Akan tetapi, surplus perdagangan itu tidak terefleksi pada peningkatan dana pihak ketiga (DPK) valuta asing (valas). DPK valas relatif stagnan, sedangkan kenaikan harga komoditas yang berpengaruh pada surplus neraca dagang tahun 2022 tak signifikan menambah DPK. Dengan surplus sebesar itu, kata Andry, DHE yang bisa di raup Indonesia sebenarnya bsar. Namun, penambahan term deposit (TD) valuta asing DHE di perbankan pada 2022 hanya 7 miliar USD. (Yoga)
Cadangan Devisa Susut 4,9 Miliar Dollar AS
Cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei 2023 sebesar 139,3 miliar dollar AS, turun 4,9 miliar dollar AS dari posisi April 2023. Penurunan cadangan devisa dipengaruhi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan antisipasi kebutuhan likuiditas valuta asing perbankan. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, akhir pekan lalu, mengatakan, posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,1 bulan impor. (Yoga)
Cadangan Devisa April 2023 Turun Tipis
Posisi cadangan devisa April 2023 sebesar 144,2 miliar dollar AS, turun 1 miliar dollar AS dibanding posisi Maret 2023. Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Erwin Haryono, Senin (8/5/2023), menjelaskan, penurunan itu, antara lain, dipengaruhi kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah dan kebutuhan likuiditas valas. Posisi cadangan devisa ini masih cukup mendukung stabilitas nilai tukar Rupiah. (Yoga)
WASWAS CADANGAN DEVISA
Tekanan cadangan devisa pada beberapa bulan mendatang patut diwaspadai. Maklum, secara historis cadangan devisa selalu tertekan selama April—Juni. Hal ini disebabkan oleh kebutuhan dolar AS yang meningkat untuk memenuhi kebutuhan pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen ke luar negeri, serta peningkatan impor. Tren ini pun kembali terulang pada tahun ini. Bank Indonesia (BI) mencatat, posisi cadangan devisa pada April 2023 sebesar US$144,2 miliar, turun dibandingkan dengan dengan Maret yang senilai US$145,2 miliar. Penurunan ini pun merupakan yang pertama kali setelah dalam lima bulan berturut-turut cadangan devisa selalu tertumpuk lebih tebal. Tekanan pada tahun ini pun diprediksi lebih berat, menyusun Bank Sentral Amerika Serikat (AS) The Fed yang terus beraksi dengan menaikkan suku bunga acuan. Tak pelak, rupiah pun rawan goyah sebagai akibat keluarnya arus modal asing. Meski dihadapkan pada data historis dan dinamika yang kurang menggembirakan, baik bank sentral maupun pemerintah optimistis dan telah menyiapkan instrumen untuk menjaga ketebalan cadangan devisa. Gubernur BI Perry Warjiyo, mengatakan otoritas moneter telah melakukan aneka mitigasi risiko untuk menjaga rupiah.
Di antaranya memperkuat stabilisasi rupiah dengan tetap berada di pasar. Senjata lain adalah perluasan penerapan kebijakan Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE) sesuai dengan mekanisme pasar yang telah disusun sejak beberapa waktu lalu. Optimisme juga bersumber dari ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed yang diyakini telah mencapai puncak, serta persepsi risiko pasar keuangan Indonesia yang makin baik. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati, memperkirakan NPI dan transaksi berjalan pada kuartal I/2023 tetap prima dan mampu mendukung ketahanan eksternal Indonesia. Ketua Komite Analis Kebijakan Ekonomi Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Ajib Hamdani, menyampaikan, ada tiga hal yang harus dilakukan. Pertama, menjaga stabilisasi rupiah sesuai dengan rentang kerangka fiskal yang didesain, yaitu Rp14.300—Rp14.800. Kedua, mewujudkan keseimbangan primer Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Dengan adanya Undang-undang Harmonisasi Peraturan Perpajakan , target tersebut bisa tercapai," katanya. Ketiga, memperkuat program transformasi ekonomi yang berorientasi pada ekspor dan substitusi impor. Sementara itu, Direktur Eksekutif Institute of Development on Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad, mengatakan becermin pada tren penurunan ekspor dan terus menanjaknya impor, cadangan devisa ke depan bakal terus terkuras.
Pengelolaan ‘Cespleng’ Cadangan Devisa
Ada setitik kegundahan yang berembus ihwal mengecilnya ukuran cadangan devisa Indonesia saat ini. Kegundahan itu memang masih setitik. Namun, ini sesungguhnya merupakan alarm peringatan awal agar negara mulai meningkatkan kewaspadaan. Pada prinsipnya, kembang kempis, besar-kecil, tipis-tebalnya cadangan devisa suatu negara pada satu periode waktu tertentu sangat dipengaruhi oleh banyak hal. Keadaan itu menjadi hal yang normal selama tidak dipantik oleh gelombang krisis maha besar, yang bisa datang dari celah internal maupun eksternal. Nah, cadangan devisa (cadev) Indonesia pada akhir April 2023 kini menyusut dibandingkan dengan posisi cadev akhir Maret 2023 dari US$145,2 miliar menjadi US$144,2 miliar. Baru pada November 2022, cadev Indonesia mulai terkatrol perlahan hingga pada Maret 2023 melonjak ke posisi US$145,2 miliar, sebelum akhirnya turun tipis lagi ke US$144,2 miliar pada April. Penurunan cadev biasanya juga diiringi dengan turunnya rasio kecukupan impor dan utang luar negeri. Namun, peningkatan cadev belum tentu serta merta langsung bisa meningkatkan rasio kecukupan impor dan utang luar negeri (ULN). Penurunan cadev pada April sekitar US$1 miliar dipengaruhi oleh kebutuhan pembayaran utang luar negeri pemerintah, dan kebutuhan likuiditas valuta asing yang sejalan dengan antisipasi dalam rangka hari besar keagamaan yaitu Ramadan dan Idulfitri. Harian ini menilai penurunan cadev pada April tak perlu memicu keresahan. Justru kita ingin sama-sama kembali melihat upaya otoritas moneter dan para pemangku kepentingan mencari berbagai terobosan dalam pengelolaan keuangan negara.
Cadev Maret US$ 145,2 M, Tertinggi dalam 16 Bulan Terakhir
BI melaporkan posisi cadangan devisa (cadev) Indonesia akhir Maret 2023 mencapai US$ 145,2 miliar. Karena lonjakan hingga US$ 4,9 miliar dari posisi akhir Februari 2023 di US$ 140,3 miliar itu, cadangan devisa Maret 2023 tercatat sebagai yang tertinggi selama 16 bulan terakhir, kalah tinggi dari posisi cadangan devisa akhir November 2021 di US$ 145,9 miliar. Sedangkan rekor cadangan devisa tertinggi dalam sejarah Indonesia adalah US$ 146,9 miliar yang diraih akhir September 2021.
Peningkatan posisi cadangan devisa pada Maret 2023 dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan penarikan pinjaman luar negeri pemerintah. “Posisi cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan 6,4 bulan impor atau 6,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah,” jelas Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dalam pernyataan resmi yang diterima pada Senin (10/4). Dia menjelaskan, posisi cadev akhir Maret 2023 berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. BI menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makro ekonomi dan sistem keuangan. (Yetede)
Aturan Simpan DHE di Domestik Terbit Sebelum Lebaran
JAKARTA, ID- Menteri Koordinasi Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan, pemerintah akan menerbitkan revisi Peraturan Pemerintah Nomor 1/2019 terkait ketentuan penyimpanan devisa hasil ekspor (DHE) di dalam negeri, pada April 2023 atau sebelum Lebaran 1444 H. "Dalam waktu dekat kita akan realisasi, Insya Allah sebelum Lebaran kita bisa selesaikan," kata Airlangga Hartarto di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (28/3/2023) seperti dilansir Antara. Sebelumnya Airlangga menyampaikan bahwa pemerintah ingin agar 30% dari DHE sumber daya alam (SDA) yang bernilai sama dengan atau lebih dari US$ 250 ribu diwajibkan disimpan didalam rekening selama 90 hari. Untuk memberikan stimulus kepada eksportir agar DHE di parkir di Indonesia, pemerintah telah berkoordinasi dengan Bank Indonesai dan OJK. Adapun BI telah menerbitkan instrumen operasi moneter valuta asing (valas) dalam bentuk term deposit (TD) valas guna meningkatkan penempatan DHE, per 1 Maret 2023. (Yetede)
Mudiknya Devisa Hasil Ekspor
Fenomena ”mudik” juga ramai dikaitkan dengan sektor keuangan seiring kembali masuknya devisa hasil ekspor (DHE) ke sistem keuangan Indonesia setelah sekian lama mendekam di perbankan luar negeri. DHE khusus dari sumber daya alam (SDA) tersebut berbondong-bondong masuk kembali ke Tanah Air setelah BI menerbitkan instrumen khusus dengan imbal hasil yang kompetitif. Instrumen tersebut dinamakan term deposit (TD) valas DHE. Mengutip data BPS, Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama 34 bulan berturut-turut sejak Mei 2020 hingga data teranyar yakni Februari 2023. Artinya, nilai ekspor lebih besar ketimbang impor selama 34 bulan terakhir. Ini merupakan rekor terpanjang surplus neraca perdagangan Indonesia, yang ditopang harga komoditas dunia yang tengah tinggi, seperti batubara dan minyak sawit. Kenaikan harga komoditas itu pun ikut mengerek kinerja ekspor. Namun, kinerja ekspor yang positif itu ternyata belum memberikan dampak optimal bagi perekonomian Indonesia. Sebab, sebagian besar devisa yang dihasilkan dari kegiatan ekspor itu tidak masuk ke sistem keuangan dalam negeri.
DHE itu malah disimpan di luar negeri. Sehingga, saat ekspor Indonesia tengah melambung tinggi sepanjang 2022, rupiah malah tercatat melemah 9,31 % dibandingkan dengan 2021. BI kemudian menerbitkan instrumen moneter baru, yakni TD valas DHE. Melalui instrumen ini, eksportir nasional akan dirangsang dengan bunga valas yang kompetitif dibandingkan dengan negara lain sehingga mereka pun akan menyimpan uangnya di dalam negeri. Dengan TD valas DHE tersebut, eksportir dengan DHE lebih dari 10 juta USD bisa memperoleh bunga 4,70-5,14 %. Simpanan 5 juta dollar AS-10 juta USD memperoleh bunga 4,73-5,09 %. Simpanan 1 juta USD-5 juta USD memperoleh bunga 4,68-5,04 %. BI bekerja sama dengan 20 bank yang telah ditunjuk untuk menyosialisasikan instrumen baru ini kepada nasabah-nasabah eksportir melalui kantor cabang masing-masing. Jika eksportir memutuskan untuk memulangkan dananya, DHE langsung dipindahkan atau pass on dari bank ke BI. Dengan demikian, dana tersebut tidak akan dihitung sebagai dana pihak ketiga (DPK), dengan imbalan 0,1 % dari nilai nominal DHE untuk simpanan satu bulan, 0,125 % untuk simpanan tiga bulan, dan 0,15 % untuk simpanan enam bulan. Selama periode 1-16 Maret 2023, TD valas DHE berhasil menarik 173 juta USD yang berasal dari Sembilan eksportir sektor pertambangan dan perkebunan. Dana DHE itu berhasil ditarik masuk ke dalam negeri melalui enam bank yang ditunjuk. (Yoga)
Bunga Tinggi Belum Menarik Minat Eksportir
Upaya otoritas moneter menarik devisa hasil ekspor (DHE) agar bertahan lama disimpan di dalam negeri belum membuahkan hasil yang menggembirakan. Sebab, hingga pertengahan Maret 2023, DHE yang pulang ke Indonesia masih mini.
Bank Indonesia (BI) mencatat, sejak instrumen penempatan DHE berupa
term deposit
valas diimplementasikan pada 1 Maret, hingga 16 Maret 2023 baru ada sembilan eksportir di sektor pertambangan dan perkebunan yang membawa pulang dollarnya ke dalam negeri. Nilai transaksinya, pun cuma US$ 173 juta yang berasal dari enam dari 20 bank yang digandeng BI untuk menampung DHE.
Direktur Departemen Pengelolaan Moneter BI Ramdan Denny Prakoso menilai, pelaku pasar merespon positif sejak instrumen
term deposit
valas diimplementasikan. Nasabah lanjut Denny, juga menikmati tingkat bunga yang lebih besar dibanding perbankan luar negeri.
"Ke depannya kami cukup optimis bahwa dengan selesainya masa konsolidasi baik dari perbankan maupun dari eksportir, nilainya akan semakin meningkat. Jumlah bank yang partisipasi meningkat, demikian juga dengan eksportirnya," kata Denny di Yogyakarta, Sabtu (18/3).
Wakil Direktur Institut for Development of Economic and Finance (Indef) Eko Listyanto menilai, kebijakan terkait DHE masih memerlukan dukungan dari sisi fiskal. Sebab, instrumen yang ditawarkan BI tak bersifat memaksa, melainkan hanya imbauan.
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









