UJI TANGGUH CADANGAN DEVISA
Tekanan cadangan devisa pada awal paruh kedua tahun ini patut dicermati menyusul adanya beberapa faktor yang menuntut bank sentral memaksimalkan stabilitas rupiah. Beberapa di antaranya adalah kebutuhan dolar Amerika Serikat (AS) yang meningkat untuk memenuhi pembayaran utang luar negeri, repatriasi dividen ke luar negeri, serta hal lain yang sejalan dengan peningkatan aktivitas impor. Apalagi, Bank Indonesia (BI) mencatat adanya penurunan cadangan devisa, yakni dari US$139,3 miliar pada Mei 2023 menjadi US$137,5 miliar pada Juni 2023. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono mengatakan penurunan posisi cadangan devisa tersebut terutama dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah. Meski tergerus, Erwin menegaskan posisi cadangan devisa itu mampu menopang pembiayaan selama 6,1 bulan impor, menyangga 6 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan Suminto mengatakan optimisme itu didorong oleh pemulihan ekonomi yang cukup solid serta proyeksi penyehatan fiskal dari sejumlah lembaga internasional. Salah satunya adalah Lembaga Pemeringkat S&P yang mempertahankan peringkat (rating) kredit Indonesia pada posisi BBB outlook stabil, serta memproyeksikan defisit fiskal di angka 2,3% terhadap produk domestik bruto (PDB), lebih rendah dari target pemerintah sebesar 2,84%.
Kenaikan suku bunga The Fed merupakan keniscayaan setelah pada Juni 2023 bank sentral tidak mengutak-atik suku bunga acuan alias tetap di kisaran 5%—5,25%. Faktor lain yang mendorong pengetatan The Fed adalah proyeksi lonjakan penyerapan tenaga kerja di AS hingga 500.000 pekerja pada bulan lalu sehingga menguatkan ekspektasi peningkatan inflasi. Di sisi lain, sejumlah upaya yang dilakukan oleh pemangku kebijakan guna menjaga penguatan rupiah masih belum cukup efektif. Di antara upaya itu adalah perluasan penerapan kebijakan Term Deposit Valuta Asing Devisa Hasil Ekspor (TD Valas DHE), dan penggunaan mata uang lokal alias Local Currency Transaction (LCT) untuk menekan ketergantungan pada dolar AS. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet mengatakan salah satu langkah yang bisa menguatkan ketahanan eksternal adalah mengoptimalisasi kebijakan DHE. Selain itu, kinerja APBN harus tetap solid sehingga melahirkan kepercayaan di kalangan investor untuk menanamkan modalnya di dalam negeri.
Tags :
#DevisaPostingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023