;
Tags

Amerika Serikat

( 390 )

Pengurangan Besar Tarif Impor Disepakati AS-China

KT3 13 May 2025 Kompas (H)

Perundingan AS dan China di Geneva, Swiss, membawa hasil positif. Perang dagang sementara mereda. Kedua negara sepakat saling mengurangi tarif bea masuk impor selama 90 hari. Bloomberg melaporkan, bea masuk impor (BMI) AS terhadap China turun dari 145 % menjadi 30 %. Adapun BMI China atas AS berkurang dari 125 % menjadi 10 %. Dalam pernyataan bersama yang dirilis Gedung Putih pada Senin (12/5) AS dan China akan memberlakukan perubahan itu per 14 Mei 2025 untuk tiga bulan. Pertemuan di Geneva merupakan tatap muka pertama antara pejabat ekonomi senior AS dan China sejak Donald Trump menjabat Presiden AS, Januari lalu. Trump meluncurkan serangan tarif global. China mendapat kenaikan tarif tertinggi sampai 145 % sehingga membalas dengan tarif 125 %.

Perwakilan dari China adalah Wakil PM, He Lifeng. Ia bertemu delegasi AS yang dipimpin Menkeu AS, Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer. Pembicaraan berlangsung dua hari pada 10-11 Mei 2025. Dalam pernyataan bersama, AS dan China akan membentuk mekanisme untuk melanjutkan diskusi tentang hubungan ekonomi dan perdagangan. Bessent mengatakan, kedua negara mewakili kepentingan nasional dengan sangat baik. AS maupun China berkepentingan agar perdagangan seimbang. ”Konsensus kedua delegasi akhir pekan ini adalah tak ada pihak yang menginginkan decouple. Tarif yang sangat tinggi ini setara dengan embargo, dan tidak ada pihak yang menginginkannya. Kami menginginkan perdagangan,” kata Bessent yang didampingi Jamieson Greer. (Yoga)


Ruang BI Makin Sempit akibat The Fed Tahan Suku Bunga

KT3 10 May 2025 Kompas (H)

Bank Sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, kembali mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,25-4,5 %. Keputusan ini dinilai kian mempersempit ruang bagi BI, untuk memangkas suku bunga di tengah perekonomian yang melambat. The Fed mengumumkan tingkat suku bunga tersebut di Washington, AS, Rabu (7/5) waktu setempat atau Kamis WIB, melalui rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 6-7 Mei 2025. The Fed masih menunda untuk memangkas suku bunga acuannya. Mereka melihat adanya risiko inflasi yang lebih tinggi dan pengangguran yang meningkat seiring kebijakan tarif oleh Presiden AS, Donald Trump.

Melansir kantor berita Reuters, Gubernur The Fed, Jerome Powell mengatakan, kebijakan perdagangan Pemerintah AS itu telah memicu ketidakpastian. Maka, The Fed memilih mencermati dulu perkembangan ekonomi ke depan. ”Meskipun ketidakpastian meningkat, ekonomi masih dalam posisi yang solid. Kami percaya sikap kebijakan moneter saat ini membuat kami berada dalam posisi yang baik untuk merespons secara tepat waktu terhadap perkembangan ekonomi potensial,” katanya dalam konferensi pers. Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat, keputusan The Fed kembali menahan suku bunga acuannya membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter BI kian sempit.

Selain suku bunga AS yang tetap tinggi, pelemahan yuan China dan perkembangan geopolitik terkini masih menjadi sentimen bagi investor sehingga menimbulkan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan keluarnya arus modal asing. ”Bagi Indonesia, penahanan suku bunga The Fed secara efektif mempersempit ruang gerak kebijakan. BI saat ini terjebak dalam situasi sulit karena harus mengelola stabilitas mata uang dan menstimulus ekonomi, terutama karena pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 baru-baru ini melambat menjadi 4,87 secara tahunan, terlemah sejak 2021,” ujarnya. BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di masa mendatang, kemungkinan hingga awal 2026. (Yoga)


Peluang Bank Indonesia untuk Menurunkan Suku Bunga Acuan

KT1 10 May 2025 Investor Daily
Peluang Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan (BI-Rate) diperkirakan  pada semester II-2025. Hal ini dapat dilakukan jika RI memiliki ruang pelonggaran  moneter yang menandai, tingkat inflasi sesuai target, dan nilai tukar rupiah yang stabil. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Falicity 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat The Fed mempertahankan  suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Falicity 6,50%. Di sisi lain Bank Sentra AS Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku bunga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam Federal Open Market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed mempertahankan suku bunga acuannya seiring meluasnya kekhawatiran atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berarti Bank Sentral AS tersebut telah memeprtahankan suku bunga sejak pertama pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penurunan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catatan bahwa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata Pakar Ekonomi Fakultas Bisnis Universitas Airlangga Tika Widiastuti. (Yetede)

Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Ekspor China melampaui proyeksi April 2025, yang didorong oleh lonjakan permintaan bahan baku dari para produsen luar negeri, yang bergerak cepat mengirimi barang selama masa jeda pengenaan tarif selama 90 hari, yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Data bea cukai yang dirilis pada Jumat (09/05/2025) menunjukkan pengiriman barang keluar China naik 8,1% year on year (yoy) untuk April 2025. Angka ini melampaui prediksi kenaikan 1,9% dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, tetapi melambat dari lonjakan 12,4% pada Maret. Pabrikan di China berlomba melakukan ekspor untuk menantisipasi bea masuk  lebih tinggi, tetapi sekarang menunggu hasil negosiasi awal tarif antara tin negosiator AS dan China, yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss pada Sabtu (10/05/2025). Data tersebut juga menunjukkan, impor turun 0,2%. Dibandingkan ekspektasi penurunan 5,9%, data terbaru ini meunjukkan bahwa permintaan domestik China tahan banting daripada perkiraan. Tapi pemerintah China juga terus mengambil langkah-langkah untuk menyokong ekonomi negara yang bernilai US$ 19 triliun. (Yetede)

Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Ekspor China melampaui proyeksi April 2025, yang didorong oleh lonjakan permintaan bahan baku dari para produsen luar negeri, yang bergerak cepat mengirimi barang selama masa jeda pengenaan tarif selama 90 hari, yang ditetapkan Presiden AS Donald Trump. Data bea cukai yang dirilis pada Jumat (09/05/2025) menunjukkan pengiriman barang keluar China naik 8,1% year on year (yoy) untuk April 2025. Angka ini melampaui prediksi kenaikan 1,9% dalam jajak pendapat Reuters terhadap para ekonom, tetapi melambat dari lonjakan 12,4% pada Maret. Pabrikan di China berlomba melakukan ekspor untuk menantisipasi bea masuk  lebih tinggi, tetapi sekarang menunggu hasil negosiasi awal tarif antara tin negosiator AS dan China, yang dijadwalkan berlangsung di Jenewa, Swiss pada Sabtu (10/05/2025). Data tersebut juga menunjukkan, impor turun 0,2%. Dibandingkan ekspektasi penurunan 5,9%, data terbaru ini meunjukkan bahwa permintaan domestik China tahan banting daripada perkiraan. Tapi pemerintah China juga terus mengambil langkah-langkah untuk menyokong ekonomi negara yang bernilai US$ 19 triliun. (Yetede)

BI Memutuskan untuk Mempertahankan BI-Rate Sebesar 5,75%

KT1 10 May 2025 Investor Daily (H)
Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 April 2025, BI memutuskan untuk mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75%, suku bunga Deposit Facility 5,00%, dan suku bunga Lending Facility 6,50%. Di sisi lain, Bank Sentral Amerika Serikat Federal Reserve atau The Fed mempertahankan suku  juga acuan sebesar 4,25%-4,50% dalam federal Open market Committe atau FOMC periode Mei 2025. The Fed  memeprtahankan suku bunga acuan seiring meluaskany kekhawatiran  atas tarif yang diberlakukan terhadap mitra dagang utama AS. Hal ini berartu Bank Sentral AS tersebut sejak mempertahankan suku bunga sejak pertemuan pada Januari dan Maret tahun ini. "Waktu yang realistis untuk penuruan suku bunga acuan lebih lanjut adalah pada semester II tahun 2025, dengan catat bawa kondisi global mulai membaik dan tekanan inflasi tetap rendah," kata pakar ekonomi Fakultas Ekonomi dan bisnis Universitas Arilangga Tika Widiastuti kepada Investor Daily. Dia mengatakan, indikator domestik seperti pertumbuhan ekonomi yang melambat dan permintaan kredit yang lemah juga menjadi pertimbangan yang penting. (Yetede)

Keijakan Tarif Trump Ancam Persaingan Usaha di Tanah Air

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)
Kebijakan tarif Trump memberikan dampak yang luar biasa terhadap persaingan usaha di tanah Air. Menghadapi tantangan tersebut, KPPU terus mendukung pemerintah lewat beberapa strateginya. Wakil Ketua Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) Aru Armando mengatakan, setidaknya ada lima dampak yang mempengaruhi persaingan usaha, yaitu penurunan daya saing ekspor Indonesia, oversuplay di pasar domestik, predator priciping dan tekanan harga, pengurangan produksi dan PHK, dan merger & akuisisi meningkat. "Pertama, kami menilai Indonesia akan kalah bersaing pada produk tertentu dibandingkan dengan negara lain yang menggunakan tarif lebih rendah dari pada Indonesia. Misalnya harga minyak sawit  Indoneisia  akan lebih mahal diangingja dari Malaysia karena Malaysia hanya untuk dikenakan tarif sebesar 24%," terang dia. Untuk itu KPPU meminta agar pemerintah mendorong para eksportir untuk mencapai pasar aternatif seperti Eropa, China, Timur Tangah, atau Afrika untuk mengurangi ketergantngan pada AS. "Sehingga pasar persaingan produk Indonesia akan bersifting dari AS yang  ke pasar alternatif yang akan dimasuki oleh para eksportir," kata Aru. 

Tarif Trump dan Dampak Buruknya

KT1 06 May 2025 Investor Daily (H)
Perdebatan mengenai kebijakan tarif  agresif Trump  terus berlanjut antara para akademisi, pelaku usaha, dan pemerintah di seluruh dunia. Mereka mempertanyakan berapa lama ini dapat bertahan, dan bisakah mencapai tujuan yang diinginkan? Sebulan setelah Trump mengumumkan tarif besar-besaran yang ia sebut sebagai deklarasi. "Hari Pembebasan", banyak pengamat memperingatkan bahwa kebijakan ini menandai awal dari kemunduran ekonomi AS, negara yang telah memegang status adi daya selama hampir delapan dekade. Tanda-tanda dini sudah mulai terlihat. Ekonomi AS mengalami kontraksi sebesar 0,3% pada kuartal 1 tahun 2025  bahkan sebelum 2 April ketika Trump mengumumkan kenaikan tarif terhadap hampir seluruh mitra dagang AS. Tak memerlukan rocket science atau ilmu roket untuk meramalkan bahwa rezim tarif sebesar ini lebih mungkin menimbulkan kerugian besar ketimbang manfaat. Analisis ekonomi umumnya menyoroti dampak negatif dari  proteksionisme, khususnya  terhadap kelas pekerja, dan menyatakan bahwa keberhasilan kebijakan tersebut akan sangat bergantung pada reaksi negara-negara lain, kondisi ekonomi global secara keseluruhan, dan faktor-faktor lainnya. (Yetede)

Sinyal Kebangkitan Pasar Keuangan Domestik

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Penguatan signifikasi rupiah dan saham pada pekan lalu menjadi sinyal kuat kebangkitan pasar keuangan domestik, setelah sempat terpukul keras kebijakan tarif resiprokal AS. Tren ini diprediksi berlanjut, ditopang resilensi ekonomi nasional, kolaborasi erat otoritas moneter dan fiskal, serta potensi penurunan suku bunga AS. Rupiah yang sempat menembus Rp 17 ribu per dolar di pasar spot berbalik arah dan menguat ke level Rp16.400 per dolar AS, akhir pekan lalu. Pararel, kurs rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI) akhir pekan lalu mencapai Rp16.493 per dolar AS, menguat dibandingkan posisi 8  April 2025 atau awal hari kerja setelah libur panjang Lebaran Rp 16.849 per dolar AS. Rupiah berpotensi terus menguat hingga mendekati Rp16.849 per dolar AS. Rupiah berpotensi terus menguat hingga mendekati Rp16.00 per dolar AS, sesuai asumsi APBN 2025. Bahkan, Sucor Sekuritas memprediksi rupiah menguat hingga Rp15.100 per dolar AS pada akhir tahun ini. Selain ditopang fundamental, penguatan rupiah disebabkan langkah BI melakukan intervensi total di pasar valas, baik di pasar spot, domestik nondeliverable forward (DNDF), dan surat berharga negara (SBN) di pasar sekunder (triple intervention). (Yetede)

Tarif Trump Seret Ekonomi Merosot Tajam

KT1 05 May 2025 Investor Daily (H)
Butuh waktu 100 tahun bagi Amerika Serikat (AS) untuk menurunkan tarif rata-ratanya dari 59% pada tahun 1930. Namun, hanya dalam waktu kurang dari 100 hari, Presiden Donald Trump kembali menaikkan tarif ke level tertinggi sejak Depresi Besar. Akibat, PDB riil AS menyusut 0,3% pada kuartal pertama 2025, menandai kontraksi ekonomi dan inflasi yang meningkat. Harga melonjak, rak-rak toko kosong, aktivitas di Pelabuhan Los Angeles anjlok 30%, dan sentimen konsumen merosot tajam. Pasar saham goyah, kepercayaan CEO menurun, dan usaha kecil serta menengah berada di ambang kehancuran. Namun bagi Trump berdampak pada 185 negara. China menghadapi tarif sebesar 245%, sementara negara lain dikenakan tarif antara 10% hingga 60%, menciptakan ketidakpastian yang meningkat. Tarif ini menargetkan ratusan miliar dolar impor, membahayakan penjualan afilaisi AS senilai US$ 8 triliun di luar negeri - mempengaruhi perusahaan besar seperti Apple, Tesla, Starlink, McDonald's, Nike, Ford, dan Intel-serta mengancam puluhan triliun dolar keuntungan korporasi AS yang terlibat dalam rantai pasok global. (Yetede)