Amerika Serikat
( 385 )Presiden Donald Trump Memulai Lawatannya ke Negara-Negara di Kawasan Teluk
Pemerintah dan Pelaku Perlu Duduk Bersama Secara Intensif
Dunia menyambut Gembira Meredanya Perang Tarif
Dunia menyambut kesepakatan AS-China meredakan perang tarif dengan gembira. Delegasi China dan AS bertemu di Geneva, Swiss, membahas isu tarif impor antar mereka. Hasil perundingan positif, perang dagang sementara mereda karena AS dan China sepakat untuk saling mengurangi tarif impor selama 90 hari. AS akan menurunkan tarif dari 145 % menjadi 30 %, sementara tarif China terhadap barang-barang AS turun menjadi 10 % dari 125 %. Menkeu AS, Scott Bessent melunak terhadap China. Dalam keterangan kepada wartawan, Senin (12/5) ia mengatakan, kedua negara sama-sama menginginkan perdagangan di antara mereka tetap berlangsung seimbang. Menurut China, kesediaan Beijing dan Washington untuk meredakan perang tarif selaras dengan harapan produsen dan konsumen di kedua negara sekaligus menjadi kepentingan kedua negara dan dunia.
Kesepakatan AS dan China di Geneva disambut positif oleh negara-negara lain. Sejumlah indeks bursa naik. Meski bersifat sementara, kesediaan China dan AS untuk meredakan perang tarif pantas disambut gembira. Perusahaan AS yang membutuhkan produk dari China segera memerintahkan perusahaan transportasi untuk mengirim barangnya. Selama ini, tidak sedikit perusahaan AS menunda kedatangan barang dari China supaya tidak terkena tarif impor. Akibatnya, produk-produk dari China yang selama ini cukup tersedia, mulai berkurang. Meski ketidakpastian masih menghantui, pertemuan kedua negara menunjukkan pentingnya dialog dan mencari titik temu di tengah persaingan dua raksasa. (Yoga)
Kehati-hatian Dunia Menyikapi Gencatan Tarif AS-China
Bursa dan investor global sedikit lega setelah AS-China sepakat menunda sebagian tarif bea masuk impor, walau tetap ada kekhawatiran babak baru perang dagang. Dalam perdagangan Selasa (13/5) mayoritas bursa di sejumlah negara menghijau. Investor bergairah secara berhati-hati atas kesepakatan AS-China. Pada Senin (12/5), Beijing dan Washington mengumumkan kesepakatan untuk menurunkan bea masuk impor (BMI). Selama 90 hari sejak Rabu, tariff BMI untuk impor China ke AS dipangkas dari 145 % menjadi 30 %. Sementara BMI impor AS ke China dipangkas dari 125 % menjadi 10 %. AS-China juga setuju merundingkan relasi dagang mereka. Pasar menganggap kesepakatan itu tanda pemerintah memahami kegelisahan. ”Ini menandakan bahwa pemerintahan ini pun menyadari hambatan ekonomi dari tarif yang tak henti-hentinya,” kata Stephen Innes, Kepala Perdagangan dan Strategi Pasar SPI Asset Management.
Para pengamat, ekonom, dan investor di seluruh dunia menyikapi kabar baik itu dengan hati-hati. Sebab, tidak ada yang bisa memperkirakan proses dan hasil negosiasi lanjutan antara AS dan China di masa mendatang. Para ekonom HSBC mengingatkan, situasi saat ini mungkin tidak berjalan mulus. ”Keadaan dapat dengan mudah berubah sedikit lebih sulit dalam negosiasi perdagangan di masa mendatang,” tulis mereka dalam catatan ke investor. Direktur Phillip Securities Group di Hong Kong Louis Wong menyebutkan, investor menyadari proses untuk mencapai kesepakatan perdagangan belum selesai. ”Saya akan menyarankan investor untuk tetap berhati-hati dalam waktu dekat dan bersiap menghadapi berita tak terduga dari sisi perdagangan,” tambahnya. (Yoga)
Deregulasi Setangah Hati
Kadin Menangkap Banyak Peluang Dagang Antara Indonesia dan Amerika Serikat
Pengurangan Besar Tarif Impor Disepakati AS-China
Perundingan AS dan China di Geneva, Swiss, membawa hasil positif. Perang dagang sementara mereda. Kedua negara sepakat saling mengurangi tarif bea masuk impor selama 90 hari. Bloomberg melaporkan, bea masuk impor (BMI) AS terhadap China turun dari 145 % menjadi 30 %. Adapun BMI China atas AS berkurang dari 125 % menjadi 10 %. Dalam pernyataan bersama yang dirilis Gedung Putih pada Senin (12/5) AS dan China akan memberlakukan perubahan itu per 14 Mei 2025 untuk tiga bulan. Pertemuan di Geneva merupakan tatap muka pertama antara pejabat ekonomi senior AS dan China sejak Donald Trump menjabat Presiden AS, Januari lalu. Trump meluncurkan serangan tarif global. China mendapat kenaikan tarif tertinggi sampai 145 % sehingga membalas dengan tarif 125 %.
Perwakilan dari China adalah Wakil PM, He Lifeng. Ia bertemu delegasi AS yang dipimpin Menkeu AS, Scott Bessent dan Perwakilan Perdagangan AS, Jamieson Greer. Pembicaraan berlangsung dua hari pada 10-11 Mei 2025. Dalam pernyataan bersama, AS dan China akan membentuk mekanisme untuk melanjutkan diskusi tentang hubungan ekonomi dan perdagangan. Bessent mengatakan, kedua negara mewakili kepentingan nasional dengan sangat baik. AS maupun China berkepentingan agar perdagangan seimbang. ”Konsensus kedua delegasi akhir pekan ini adalah tak ada pihak yang menginginkan decouple. Tarif yang sangat tinggi ini setara dengan embargo, dan tidak ada pihak yang menginginkannya. Kami menginginkan perdagangan,” kata Bessent yang didampingi Jamieson Greer. (Yoga)
Ruang BI Makin Sempit akibat The Fed Tahan Suku Bunga
Bank Sentral AS, Federal Reserve atau The Fed, kembali mempertahankan suku bunga acuannya sebesar 4,25-4,5 %. Keputusan ini dinilai kian mempersempit ruang bagi BI, untuk memangkas suku bunga di tengah perekonomian yang melambat. The Fed mengumumkan tingkat suku bunga tersebut di Washington, AS, Rabu (7/5) waktu setempat atau Kamis WIB, melalui rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) yang digelar pada 6-7 Mei 2025. The Fed masih menunda untuk memangkas suku bunga acuannya. Mereka melihat adanya risiko inflasi yang lebih tinggi dan pengangguran yang meningkat seiring kebijakan tarif oleh Presiden AS, Donald Trump.
Melansir kantor berita Reuters, Gubernur The Fed, Jerome Powell mengatakan, kebijakan perdagangan Pemerintah AS itu telah memicu ketidakpastian. Maka, The Fed memilih mencermati dulu perkembangan ekonomi ke depan. ”Meskipun ketidakpastian meningkat, ekonomi masih dalam posisi yang solid. Kami percaya sikap kebijakan moneter saat ini membuat kami berada dalam posisi yang baik untuk merespons secara tepat waktu terhadap perkembangan ekonomi potensial,” katanya dalam konferensi pers. Senior Economist PT Samuel Sekuritas Indonesia, Fithra Faisal Hastiadi berpendapat, keputusan The Fed kembali menahan suku bunga acuannya membuat ruang pelonggaran kebijakan moneter BI kian sempit.
Selain suku bunga AS yang tetap tinggi, pelemahan yuan China dan perkembangan geopolitik terkini masih menjadi sentimen bagi investor sehingga menimbulkan risiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan keluarnya arus modal asing. ”Bagi Indonesia, penahanan suku bunga The Fed secara efektif mempersempit ruang gerak kebijakan. BI saat ini terjebak dalam situasi sulit karena harus mengelola stabilitas mata uang dan menstimulus ekonomi, terutama karena pertumbuhan ekonomi triwulan I-2025 baru-baru ini melambat menjadi 4,87 secara tahunan, terlemah sejak 2021,” ujarnya. BI diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuannya di masa mendatang, kemungkinan hingga awal 2026. (Yoga)
Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025
Ekspor China Melampaui Proyeksi April 2025
Pilihan Editor
-
Credit Suisse Tepis Krisis Perbankan
17 Mar 2023 -
PARIWISATA, Visa Kedatangan Perlu Diperketat
15 Mar 2023 -
Ratusan Ribu Pekerja Inggris Mogok
17 Mar 2023








