Bunga
( 411 )Bunga Naik, Belanja Fiskal Jadi Harapan
Bunga Acuan dan Stabilisasi Rupiah
BI menaikkan bunga acuan 25 basis poin ke 6 % dalam upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. BI menyebut, kenaikan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) ini sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi inflasi barang impor, agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024 (Kompas, 20/10). Ketidakpastian global yang disebut BI adalah perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % (2023) menjadi 2,8 % (2024), dan eskalasi tensi ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga pangan dan energy bergejolak dan inflasi global tetap bertahan tinggi. Ini kenaikan pertama bunga acuan BI dalam 10 bulan terakhir. BI terakhir menaikkan bunga acuan pada Januari 2023, juga sebesar 25 basis poin (bps). Sebelumnya, selama kurun Agustus 2022-Januari 2023, BI enam kali menaikkan bunga acuan dengan total kenaikan 225 bps.
Opsi kenaikan bunga acuan harus dilakukan, kendati BI pernah menyatakan tak akan menempuh langkah menaikkan bunga untuk stabilisasi rupiah dan lebih memilih intervensi karena pelemahan rupiah sudah sangat mencemaskan. Rupiah sudah terdepresiasi 3,7 % tahun ini dan 2,05 % selama Oktober 2023, menembus level Rp 15.800/dollar AS. Kenaikan bunga acuan BI ini terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Fed, 2 November mendatang. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) ini hampir pasti terjadi, terutama dengan inflasi AS yang masih jauh dari target 2 %, yakni 3,7 % pada September 2023 (yoy). Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September lalu, The Fed sudah mengisyaratkan kemungkinan menaikkan FFR 0,5 bps lagi hingga akhir tahun. (Yoga)
Bunga Naik, Biaya Dana Bank Bisa Naik
DAMPAK KEBIJAKAN MONETER : TANTANGAN PESONA SURAT UTANG
Keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan ke level 6% membuat investor harap-harap cemas, karena berpotensi melemahkan pasar surat utang Tanah Air. Chief Investment Officer STAR Asset Management Susanto Chandra mengatakan, pasar obligasi Indonesia berisiko melemah terimbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), seiring dengan dengan naiknya yield obligasi yang berpotensi menambah tinggi aksi jual surat utang oleh investor. “Dampak dari kenaikan suku bunga tersebut turut membuat yield pasar obligasi menyesuaikan ke atas, baik pada pasar obligasi pemerintah maupun korporasi,” ujar Susanto kepada Bisnis, Jumat (20/10). Menilik data Investing, yield SBN tenor 10 tahun naik tajam 2,74% ke level 7,2% pada Jumat, (20/10). Di lain sisi, US Treasury Yield 10 tahun juga naik ke posisi 4,99% atau level tertinggi sejak 2007.
Adapun, saat ini pemerintah juga tengah meluncurkan Obligasi Negara Ritel seri ORI024 dengan masa penawaran mulai 9 Oktober 2023 hingga 2 November 2023. Seri terbaru ORI terbaru ini juga ditawarkan dalam dua tenor yang berbeda, yaitu tenor 3 dan 6 tahun.
Terkait dengan prospek SBN Ritel seperti ORI024 dan ST011, CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, bergantung kepada berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga atau kupon yang ditawarkan dan preferensi investor. “Jika tingkat kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan mengikuti tren pasar, maka SBN Ritel masih dapat diminati oleh investor yang mencari instrumen investasi yang relatif aman. Namun, pemerintah mungkin perlu memastikan tingkat suku bunga yang menarik untuk menjaga minat investor,” katanya kepada Bisnis.
Di lain sisi, pasar obligasi korporasi sepanjang tahun berjalan relatif masih landai dengan nilai outstanding atau jumlah seluruh obligasi yang beredar di pasar modal kurang dari 10% terhadap angka penyaluran kredit bank.Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada pekan lalu, Jumat (13/10) total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2023 sebanyak 93 emisi dari 55 emiten senilai Rp98,2 triliun.
Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E. Sumual mengatakan, salah satu penyebab landainya pasar obligasi korporasi yaitu karena berbagai perusahaan lebih banyak yang mengandalkan perbankan untuk mencari dana, karena relatif lebih mudah dalam beberapa aspek.
China Pertahankan Suku Bunga Acuannya
Merespons Ketidakpastian Global, BI Naikkan Suku Bunga Acuan
Sebagai langkah penyesuaian atas ketidakpastian global, BI memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 %. Keputusan ini diambil sebagai upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan mitigasi inflasi barang impor di tengah sentimen ketidakpastian global yang meningkat. Dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Oktober 2023 di Jakarta, Kamis (19/10) BI turut menaikkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5,25 % dan 6,75 %. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) terjadi setelah BI mempertahankannya selama 10 bulan berturut-turut.
Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, situasi perekonomian global saat ini bergerak begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyesuaian kebijakan moneter untuk melindungi perekonomian domestik dari ketidakpastian global yang terus meningkat. ”Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive (penangkalan) dan forward looking (prediksi di masa depan) untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024,” katanya. (Yoga)
Bunga Naik, Properti Makin Babak Belur
Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah
Stabilkan Rupiah, Suku Bunga Acuan Naik
Sembilan Bulan Menahan Bunga Acuan
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









