;
Tags

Bunga

( 411 )

Bunga Naik, Belanja Fiskal Jadi Harapan

HR1 23 Oct 2023 Kontan
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada bulan ini, akan berdampak terhadap mahalnya ongkos pembiayaan. Kinerja investasi pun berpotensi terhambat dan mempengaruhi laju ekonomi RI. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan lalu, BI menaikkan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps). Sehingga, suku bunga acuan kini berada di level 6%. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, salah satu konsekuensi dari naiknya suku bunga acuan adalah akan mempengaruhi lebih mahalnya ongkos pembiayaan. Hal ini bisa berdampak terhadap keputusan investasi para pelaku usaha maupun industri. Selama ini, investasi alias pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi sekitar 30% terhadap PDB. Namun, kontribusi komponen ini berpotensi tertahan. Tak hanya kenaikan suku bunga, tetapi juga karena adanya momentum pemilu yang membuat investor wait and see. Ia memperkirakan, dampak kenaikan suku bunga acuan BI, baru akan terasa pada awal tahun depan. Utamanya, terkait kondisi inflasi. Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo melihat, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi. Terutama, periode kuartal IV-2023 dan kuartal I-2024 mendatang.

Bunga Acuan dan Stabilisasi Rupiah

KT3 21 Oct 2023 Kompas

BI menaikkan bunga acuan 25 basis poin ke 6 % dalam upaya stabilisasi nilai tukar rupiah yang melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. BI menyebut, kenaikan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) ini sebagai langkah pre-emptive dan forward looking untuk memitigasi inflasi barang impor, agar inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024 (Kompas, 20/10). Ketidakpastian global yang disebut BI adalah perkiraan melambatnya pertumbuhan ekonomi dunia dari 2,9 % (2023) menjadi 2,8 % (2024), dan eskalasi tensi ketegangan geopolitik yang menyebabkan harga pangan dan energy bergejolak dan inflasi global tetap bertahan tinggi. Ini kenaikan pertama bunga acuan BI dalam 10 bulan terakhir. BI terakhir menaikkan bunga acuan pada Januari 2023, juga sebesar 25 basis poin (bps). Sebelumnya, selama kurun Agustus 2022-Januari 2023, BI enam kali menaikkan bunga acuan dengan total kenaikan 225 bps.

Opsi kenaikan bunga acuan harus dilakukan, kendati BI pernah menyatakan tak akan menempuh langkah menaikkan bunga untuk stabilisasi rupiah dan lebih memilih intervensi karena pelemahan rupiah sudah sangat mencemaskan. Rupiah sudah terdepresiasi 3,7 % tahun ini dan 2,05 % selama Oktober 2023, menembus level Rp 15.800/dollar AS. Kenaikan bunga acuan BI ini terutama untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS, The Fed, 2 November mendatang. Kenaikan Fed Fund Rate (FFR) ini hampir pasti terjadi, terutama dengan inflasi AS yang masih jauh dari target 2 %, yakni 3,7 % pada September 2023 (yoy). Pada pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September lalu, The Fed sudah mengisyaratkan kemungkinan menaikkan FFR 0,5 bps lagi hingga akhir tahun. (Yoga)

Bunga Naik, Biaya Dana Bank Bisa Naik

HR1 21 Oct 2023 Kontan
Perbankan memandang kebijakan kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) akan berdampak terhadap kinerja. Pengetatan kebijakan tersebut dinilai akan mendorong cost of fund atau biaya dana bank. Seperti diketahui, BI telah mengerek BI 7-day reverse repo rate (BI 7-day-RR) pada Kamis (19/10) sebesar 0,25% ke level 6%. Ini merupakan kenaikan pertama yang dilakukan sejak Februari. Kenaikan terakhir dilakukan pada Januari dari 5,5% jadi 5,75%. Bankir melihat kenaikan bunga acuan akan menimbulkan dampak cepat terhadap bunga dana pihak ketiga (DPK). Bunga dana kemunginan akan segera naik di tengah kondisi likuiditas yang tak selonggar tahun lalu, seiring dengan mulai bergeraknya aktivitas usaha. Sedangkan untuk dampak terhadap penyesuaian bunga kredit masih butuh waktu lama. Presiden Direktur Bank CIMB Niaga Lani Darmawan mengamini kenaikan bunga acuan kemungkinan akan berdampak pada cost of fund. Namun, saat ini CIMB Niaga masih mencermati perkembangan bunga di pasar pasca kenaikan suku bunga BI. Sementara itu, Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, kenaikan BI 7-day-RR akan berdampak cepat dalam mendorong biaya dana perbankan. Namun, untuk BCA, dampaknya tak akan signifikan karena rasio dana murah BCA cukup tinggi. Jahja mengatakan, pihaknya tidak akan langsung melakukan penyesuaian bunga deposito seiring kenaikan BI 7-day-RR. Ia bilang, penyesuaian baru akan dilakukan jika bank ini melihat ada kebutuhan dana yang besar dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) juga sudah menaikkan suku bunga penjaminan. Ia menambahkan, kenaikan bunga kredit sebenarnya lebih sensitif terhadap kredit konsumer saja. Sedangkan nasabah kredit investasi dan kredit modal kerja tidak serta merta melihat suku bunga. " Permintaan kredit investasi dan kredit modal kerja ini tergantung ekonomi makro dan perkembangan bisnis. Kalau bisnis menjanjikan, permintaan kredit tetap naik. Kalau ekonomi baik, penjualan mereka naik, maka profitabilitas mereka pasti lebih tinggi dari suku bunga," jelas Jahja. Direktur Utama Bank BJB Yuddy Renaldy mengatakan, pihaknya masih melihat perkembangan setelah suku bunga naik. Ia melihat kenaikan BI 7-day-RR akan mendorong biaya dana di pasar. Sedangkan transmisi ke bunga kredit masih butuh waktu. "Dampaknya saya kira di margin bunga bersih," ujar dia.

DAMPAK KEBIJAKAN MONETER : TANTANGAN PESONA SURAT UTANG

HR1 21 Oct 2023 Bisnis Indonesia

Keputusan Bank Indonesia mengerek suku bunga acuan ke level 6% membuat investor harap-harap cemas, karena berpotensi melemahkan pasar surat utang Tanah Air. Chief Investment Officer STAR Asset Management Susanto Chandra mengatakan, pasar obligasi Indonesia berisiko melemah terimbas kenaikan suku bunga Bank Indonesia (BI), seiring dengan dengan naiknya yield obligasi yang berpotensi menambah tinggi aksi jual surat utang oleh investor. “Dampak dari kenaikan suku bunga tersebut turut membuat yield pasar obligasi menyesuaikan ke atas, baik pada pasar obligasi pemerintah maupun korporasi,” ujar Susanto kepada Bisnis, Jumat (20/10). Menilik data Investing, yield SBN tenor 10 tahun naik tajam 2,74% ke level 7,2% pada Jumat, (20/10). Di lain sisi, US Treasury Yield 10 tahun juga naik ke posisi 4,99% atau level tertinggi sejak 2007. Adapun, saat ini pemerintah juga tengah meluncurkan Obligasi Negara Ritel seri ORI024 dengan masa penawaran mulai 9 Oktober 2023 hingga 2 November 2023. Seri terbaru ORI terbaru ini juga ditawarkan dalam dua tenor yang berbeda, yaitu tenor 3 dan 6 tahun. Terkait dengan prospek SBN Ritel seperti ORI024 dan ST011, CEO Pinnacle Persada Investama Guntur Putra mengatakan, bergantung kepada berbagai faktor, termasuk tingkat suku bunga atau kupon yang ditawarkan dan preferensi investor. “Jika tingkat kupon yang ditawarkan tetap kompetitif dan mengikuti tren pasar, maka SBN Ritel masih dapat diminati oleh investor yang mencari instrumen investasi yang relatif aman. Namun, pemerintah mungkin perlu memastikan tingkat suku bunga yang menarik untuk menjaga minat investor,” katanya kepada Bisnis. Di lain sisi, pasar obligasi korporasi sepanjang tahun berjalan relatif masih landai dengan nilai outstanding atau jumlah seluruh obligasi yang beredar di pasar modal kurang dari 10% terhadap angka penyaluran kredit bank.Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat pada pekan lalu, Jumat (13/10) total emisi obligasi dan sukuk sepanjang 2023 sebanyak 93 emisi dari 55 emiten senilai Rp98,2 triliun. Kepala Ekonom PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) David E. Sumual mengatakan, salah satu penyebab landainya pasar obligasi korporasi yaitu karena berbagai perusahaan lebih banyak yang mengandalkan perbankan untuk mencari dana, karena relatif lebih mudah dalam beberapa aspek.

China Pertahankan Suku Bunga Acuannya

HR1 21 Oct 2023 Kontan
Perekonomian China tampaknya sudah semakin stabil. Buktinya, bank sentral China memutuskan mempertahankan suku bunga acuan kredit pada Oktober. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar. The Peoples Bank of China (PBOC) pada Jumat (20/10) mengumumkan, suku bunga dasar kredit (LPR) tenor satu tahun dipertahankan pada level 3,45%. LPR lima tahun tetap 4,20%. Namun, pertumbuhan ekonomi China sudah mengalami perbaikan pada bulan September. Sehingga produk domestik bruto (PDB) negara ini tumbuh sebesar 4,9% pada kuartal III-2023. Angka ini melampaui proyeksi para ekonom sebelumnya, yakni 4,4%. Penjualan ritel, yang jadi indikator tingkat konsumsi, dan aktivitas industri di China pada September secara mengejutkan meningkat. Ini mendorong pertumbuhan ekonomi di triwulan ketiga. Penjualan ritel, yang menjadi ukuran tingkat konsumsi, tercatat meningkat 5,5% yoy pada September, naik dari laju pertumbuhan 4,6% pada bulan sebelumnya. Analis sebelumnya memprediksi penjualan ritel hanya tumbuh 4,9%. "Aktivitas ekonomi telah stabil dan pihak berwenang dapat menunggu beberapa saat sebelum menerapkan pelonggaran moneter lebih lanjut," kata Analis Emerging Market TD Securities dalam risetnya, dilansir oleh Reuters, Jumat (20/10).

Merespons Ketidakpastian Global, BI Naikkan Suku Bunga Acuan

KT3 20 Oct 2023 Kompas (H)

Sebagai langkah penyesuaian atas ketidakpastian global, BI memutuskan menaikkan tingkat suku bunga acuan 25 basis poin menjadi 6 %. Keputusan ini diambil sebagai upaya stabilisasi nilai tukar rupiah dan mitigasi inflasi barang impor di tengah sentimen ketidakpastian global yang meningkat. Dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Oktober 2023 di Jakarta, Kamis (19/10) BI turut menaikkan suku bunga deposit facility dan suku bunga lending facility sebesar 25 basis poin (bps) sehingga masing-masing menjadi 5,25 % dan 6,75 %. Dengan demikian, kenaikan suku bunga acuan BI-7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) terjadi setelah BI mempertahankannya selama 10 bulan berturut-turut.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, situasi perekonomian global saat ini bergerak begitu cepat dan penuh dengan ketidakpastian. Oleh sebab itu, perlu dilakukan penyesuaian kebijakan moneter untuk melindungi perekonomian domestik dari ketidakpastian global yang terus meningkat. ”Kenaikan ini untuk memperkuat kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah dari dampak tingginya ketidakpastian global serta sebagai langkah pre-emptive (penangkalan) dan forward looking (prediksi di masa depan) untuk memitigasi dampaknya terhadap inflasi barang impor (imported inflation) sehingga inflasi tetap terkendali dalam sasaran 2-4 % pada 2023 dan 1,5-2,5 % pada 2024,” katanya. (Yoga)

Bunga Naik, Properti Makin Babak Belur

HR1 20 Oct 2023 Kontan
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) menjadi 6% bakal kembali membebani kinerja emiten properti. Terutama yang banyak bergerak di bisnis rumah tapak atau apartemen. Nasib sial menimpa emiten properti yang tidak memiliki pendapatan berulang. Kemungkinan kinerja mereka. tidak terlalu baik di kuartal IV 2023 ini. Analis Henan Putihrai, Jono Syafei mengatakan, kenaikan suku bunga BI berpotensi melemahkan daya beli masyarakat. Maka, banyak emiten yang mulai mengandalkan segmen pendapatan berulang atau recurring income. Hal tersebut juga sudah terlihat dari kinerja laporan keuangan semester I-2023, yang menunjukkan kalau emiten properti masih bergantung dari pendapatan berulang atau recurring income. Misalnya, PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) mencatatkan sektor mall dan ritei dari pihak ketiga mencapai Rp 743 miliar di semester I 2023. Naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 619,29 miliar. Kontribusi sektor mall dan ritel  SMRA dari pihak-pihak berelasi tercatat Rp 23,5 miliar di semester I 2023, meningkat dari periode sama tahun lalu sebesar Rp 15,55 miliar. Sedangkan PT Ciputra Development Tbk (CTRA) pada semester I 2023 mencatatkan pendapatan usaha Rp 966,03 miliar. Terdiri dari pusat niaga dan kawasan komersial, pelayanan kesehatan, hotel, sewa kantor, lapangan golf, dan lain-lain. Angka itu naik 9,6% dari raihan pendapatan usaha di semester I 2022. Technical Analyst Kanaka Hita Solvera, Andhika Cipta Labora mengatakan,  emiten yang memiliki pendapatan berulang memiliki potensi yang lebih baik pada kuartal IV 2023. Sebab, kunjungan mall akan meningkat di akhir tahun, mengingat banyak tenant yang akan memberikan diskon.

Upaya Ekstra untuk Menahan Rupiah

HR1 20 Oct 2023 Kontan (H)
Bank Indonesia (BI) kewalahan meredam penguatan dolar Amerika Serikat (AS). Secara mengejutkan, bank sentral mengerek suku bunga dalam Rapat Dewan Gubernur Oktober 2023. Suku bunga acuan BI 7-Day Reverse Repo Rate (BI7DRR) naik 25 basis poin (bps) ke level 6% pada Kamis (19/10). BI juga bersiap merilis instrumen Sekuritas Valas Bank Indonesia (SVBI) dan Sukuk Valas Bank Indonesia (SUVBI) pada November mendatang. Mengutip Bloomberg, kemarin, kurs rupiah di pasar spot secara harian melemah 0,54% ke level Rp 15.815 per dollar AS. Sementara rupiah Jisdor BI melemah 0,68% ke level Rp 15.838 per dollar AS. Senior Economist KB Valbury Sekuritas, Fikri C. Permana melihat, pelemahan rupiah disebabkan sentimen risk off di pasar global yang telah membuat Indeks Dollar AS lebih perkasa. Permintaan dollar terus meningkat akhir-akhir ini akibat perang Israel-Palestina mengalami eskalasi yang menyebabkan banyak investor masuk ke instrumen dollar AS untuk mencari perlindungan, termasuk perpindahan dari US Treasury. Fikri berujar, langkah BI dilatarbelakangi pula oleh belum efektifnya instrumen maupun kebijakan yang telah diterbitkan BI sebelumnya seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan peraturan Devisa Hasil Ekspor (DHE). Alhasil, menaikkan suku bunga menjadi pilihan terakhir BI. Pengamat Mata Uang, Lukman Leong mencermati, pelemahan kurs rupiah terjadi karena sentimen eksternal yang dipicu kekhawatiran pasar akan prospek kenaikan suku bunga Bank Sentral AS alias Federal Reserve The Fed. Ketakutan itu telah membawa imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun mendekati level 5%, tertinggi sejak 2007. Sedangkan Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede menilai, hingga akhir Oktober 2023, kurs rupiah masih akan berada dalam tekanan terutama karena banyaknya tekanan global. Joshua memperkirakan nilai tukar rupiah sampai akhir Oktober 2023 dapat berada di rentang 15.700 hingga 15.900 per dollar AS. Sedang menurut Lukman, rupiah hampir pasti menyentuh Rp 16.000 per dollar AS.

Stabilkan Rupiah, Suku Bunga Acuan Naik

KT1 20 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI), 18-19 Oktober 2023, memutuskan menaikkan suku bunga acuan, BI 7-Day Reserve Repo Rate (BI7DRR), sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6%, suku bunga deposit fasility sebesar 25 bps menjadi 5,25%, dan suku  bunga lending facility sebesar 25 bps menjadi 6,75%. Meski di luar dugaan, kalangan ekonomi menilai kebijakan itu tepat. Alasannya, penaikan suku bunga bisa menjaga stabilitasi rupiah, yang belakangan ini tertekan, menyusul kembali munculnya sikap hawkins bank Sentral Amerika Serikat, The Fed. Sejumlah kalangan memprediksi The Fed masih mempertahankan suku bunga acuan Federal Funds rate (FFR) di level tinggi dalam jangka waktu lama. Imbasnya, mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah tertekan sentimen eksternal. "Penaikan suku bunga acuan akan berkontribusi terhadap penguatan nilai tukar rupiah menjelang akhir tahun," tutur Iman Faiz kepada Investor Daily di jakarta, kamis (19/10/2023). (Yetede)

Sembilan Bulan Menahan Bunga Acuan

KT1 20 Oct 2023 Tempo
JAKARTA – Bank Indonesia mempertahankan tingkat suku bunga acuan Bank Indonesia 7-Day Reverse Repo Rate di level 5,75 persen selama sembilan bulan sebelum akhirnya mengereknya ke level 6 persen, kemarin. Bank sentral selama ini dianggap bekerja keras menampik kenaikan suku bunga demi menjaga momentum pemulihan perekonomian pasca-pandemi Covid-19. “Harapannya suku bunga dijaga tidak naik agar masyarakat dan dunia usaha mengambil kredit untuk konsumsi dan berekspansi,” ujar Direktur Center of Economic and Law Studies Bhima Yudhistira Adhinegara kepada Tempo, kemarin.

Mulanya kebijakan itu cukup efektif mengembalikan kepercayaan diri masyarakat untuk kembali melakukan konsumsi dan mendorong geliat dunia usaha. Terbukti, pada kuartal pertama 2023, pertumbuhan ekonomi Indonesia tercatat sebesar 5,03 persen, kemudian meningkat pada kuartal kedua menjadi 5,17 persen. Namun, seiring dengan dinamika perekonomian global, khususnya tren inflasi di berbagai negara di dunia yang melemahkan permintaan dan mendorong kenaikan harga-harga, pemulihan ekonomi melambat. Bhima berujar, indikator utamanya tampak dari kinerja neraca perdagangan yang surplus, tapi bukan surplus yang sehat. “Impor bahan baku dan barang modal turun. Ekspor, khususnya komoditas unggulan, juga turun,” ucapnya. (Yetede)