;
Tags

Bunga

( 411 )

The Fed Tidak Yakin Sudah Mengatasi Inflasi

KT1 11 Nov 2023 Investor Daily
WASHINGTON,ID-Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell mengatakan bahwa dirinya dan pembuat kebijakan cukup puas dengan laju inflasi yang melambat. Tetapi, mereka merasa tidak yakin apakah sudah melakukan cukup banyak hal untuk mempertahankan momentum itu. Pernyataan Powell itu disampaikan lebih dari seminggu setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) memilih mempertahankan suku bunga acuan. Dalam pidato pada Kamis (09/11/2023), ia menyampaikan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan guna memerangi kenaikan harga. "Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) berkomitmen mencapai sikap kebijakan moneter yang cukup ketat untuk menurunkan inflasi hingga 2% dari waktu ke waktu. (Namun), kami tidak yakin telah mencapai  sikap seperti itu," ujarnya dalam sambutannya di hadapan audiensi IMF di Washington, DC, yang dlansir NC pada Jumat (10/11/2023). (Yetede)

PEREDA SENGATAN THE FED

HR1 09 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Bank Indonesia (BI) terus bermanuver untuk meningkatkan ketahanan perekonomian nasional yang sangat sensitif terhadap dinamika perekonomian global. Jika dicermati, penekan utama dari pasar keuangan domestik tak lain adalah kebijakan moneter Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve (The Fed), yang sejak tahun lalu agresif lantaran inflasi yang menjulang. Kenaikan suku bunga acuan di Negeri Paman Sam sontak menciptakan gejolak di pasar, yang ditandai dengan berpindahnya modal asing dari negara berkembang termasuk Indonesia. Rupiah lantas goyah, dan membuat BI yang bertugas menjaga stabilitas melalui operasi moneter, keteteran untuk menciptakan stabilitas. Aneka siasat pun ditempuh mulai dari implementasi penempatan Devisa Hasil Ekspor (DHE) Sumber Daya Alam (SDA) di dalam negeri, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pergerakan rupiah selama ini memiliki ketergantungan tinggi pada kebijakan The Fed. Terbukti, setelah The Fed mempertahankan suku bunga dan menyampaikan arah kebijakan dengan nada lebih dovish, dana asing kembali masuk ke Indonesia dan rupiah menguat. Per 6 November 2023, net buy asing di pasar Surat Berharga Negara (SBN) secara year-to-date (YtD) mencapai Rp55,21 triliun, sementara net sell asing senilai Rp37,79 triliun. Apalagi, Kepala Departemen Pengembangan Pasar Keuangan BI Donny Hutabarat, mengatakan tingkat imbal hasil SVBI dan SUVBI lebih kompetitif dibandingkan dengan Secured Overnight Financing Rate (SOFR) The Fed. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Edi Susianto, menambahkan penerbitan SVBI dan SUVBI sebagai upaya untuk mendorong pendalaman pasar keuangan dan menghadirkan instrumen jangka pendek yang menarik bagi investor. Bank sentral mengklaim telah mendapatkan respons positif dari investor, baik domestik maupun asing saat melakukan komunikasi perihal dua instrumen anyar tersebut. Menurut penjajakan yang dilakukan BI, investor berharap penerbitan dua instrumen baru yang akan mulai diluncurkan akhir bulan ini bernilai minimal US$100 juta. Ketua Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, optimistis efektivitas dari instrumen itu akan ciamik. "Selain itu, pajak yang dikenakan juga lebih rendah dibandingkan deposito, sehingga pemerintah mempunyai kapasitas lebih dalam menjaga rupiah." katanya kepada Bisnis. Ekonom Makroekonomi dan Pasar Keuangan LPEM FEB Universitas Indonesia (UI) Teuku Riefky, menambahkan dari sisi penerbitan dan mekanisme instrumen, SVBI dan SUVBI relatif sesuai dengan yang dibutuhkan oleh pelaku pasar.

Taipan Menjaring Cuan Jumbo dari Perbankan

HR1 08 Nov 2023 Kontan (H)
Sinyal kenaikan suku bunga tidak berlanjut cukup kuat. Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Federal Reserve (Fed)  pada bulan ini kembali mempertahankan suku bunga. Bank Indonesia juga diprediksikan ikut menahan suku bunga, setelah mengerek naik suku bunga ke 6%. Suku bunga yang stabil, kendati masih tinggi, akan berdampak positif bagi kinerja bank. Ini akan menguntungkan investor pemegang saham emiten bank, termasuk para konglomerat pemilik bank. Berdasarkan catatan KONTAN, dari 12 bank milik konglomerat yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI), 11 di antaranya telah merilis laporan kinerja keuangan untuk periode yang berakhir 30 September 2023. Dari jumlah tersebut, sembilan bank di antaranya sukses mencetak kenaikan laba dua digit. Pertumbuhan laba Bank Ina sejalan dengan laju sahamnya. Pada penutupan pasar saham Selasa (7/11), saham BINA sudah bertengger di posisi Rp 4.150 per saham, naik 4,01% sejak awal tahun. Melesatnya harga saham BINA, tentu saja, bakal mengerek nilai kepemilikan Salim di bank ini. Anthony Salim menjadi pemegang saham pengendali Bank Ina melalui PT Indolife Pensiontama dengan jumlah kepemilikan 1,4 miliar saham, setara 22,83%. Grup Salim juga mengempit saham Bank Ina lewat PT Samudera Biru dan PT Gaya Hidup Masa Kini, dengan porsi masing-masing 18,16% dan 11,84%. Salim juga menguasai saham BINA lewat fund DBS Bank, sebesar 9,67%. Dus, total kepemilikan grup Salim di Bank Ina mencapai 62,50%. Konglomerat lain yang mengalap cuan dari pertumbuhan kinerja bank adalah Hartono bersaudara, yakni Michael Bambang Hartono dan Robert Budi Hartono. Duo Hartono ini menjadi pemegang saham pengendali di PT Bank Central Asia Tbk (BCA) melalui entitas PT Dwimuria Investama Andaln dengan porsi 54,92%. Di bawah Hartono bersaudara, konglomerat Chairul Tanjung juga mencatat nilai kepemilikan besar di Bank Mega Tbk (MEGA). Di posisi berikutnya ada pengusaha Mu'min Ali Gunawan, pemegang pengendali Bank Panin Tbk. Senada, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani juga merekomendasi beli BBCA dengan target harga Rp 9.400. "Pertumbuhan labanya konsisten. Valuasinya masih menarik. Jadi ada potensi kenaikan lebih lanjut," kata Arjun. Sisanya Arjun merekomendasikan jual, terutama saham bank digital yang mengalami downtrend.

DOVISH THE FED REDAM GEJOLAK PASAR

HR1 03 Nov 2023 Bisnis Indonesia (H)

Keputusan Federal Reserve mempertahankan suku bunga acuan pada 5,25% hingga 5,5% memberikan sinyal lampu hijau bagi masuknya aliran dana asing ke pasar keuangan meskipun sementara. Kebijakan bank sentral Amerika Serikat itu mendapatkan respons positif dari pasar keuangan di Tanah Air. Hal itu tecermin dari indeks harga saham gabungan (IHSG) yang ditutup menguat 1,64% ke level 6.751,38 pada Kamis, (2/11). Begitu pula dengan kinerja rupiah terhadap dolar AS yang terapresiasi 0,51% ke Rp15.855. Di pasar surat utang, imbal hasil Surat Utang Negara (SUN) tenor 10 tahun, 5 tahun, dan 2 tahun kompak mengalami penurunan yang mengindikasikan kenaikan minat sehingga menggerus imbal hasil. Lebih lanjut, penurunan imbal hasil paling dalam dialami oleh instrumen tenor 5 tahun sebesar 1,2% ke 6,89%. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan respons positif pasar keuangan sejalan dengan sinyal dovish (lebih longgar) Federal Reserve. Situasi ini akan memicu masuknya dana asing ke pasar modal di negara berkembang, termasuk Indonesia. Saat sikap The Fed melunak, investor diyakini akan kembali berminat melirik aset berisiko. Bersamaan dengan keputusan suku bunga acuan, The Fed juga mengumumkan lelang surat berharga AS yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Sementara itu, Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) hingga 1 November 2023 mencatat dana asing sebesar Rp49,63 triliun secara tahun berjalan atau lebih tinggi dari kondisi pada 26 Oktober 2023 dengan Rp47,14 triliun. Risiko lainnya yang diperhitungkan pasar yakni transaksi berjalan Indonesia. Bila defisit transaksi berjalan melebar, hal itu menjadi pemberat di mata investor asing. Risiko defisit transaksi berjalan lebih lebar bertolak pada penurunan permintaan ekspor yang terdampak oleh lambatnya pertumbuhan ekonomi China. Dihubungi terpisah, Kepala Ekonom Bank Central Asia David E. Sumual mengatakan kinerja moncer pasar keuangan setelah pengumuman Federal Reserve merupakan euforia sesaat. Dia menilai kinerja inflasi Negeri Paman Sam berada di atas target The Fed sehingga bank sentral tersebut masih memiliki amunisi menaikkan suku bunga acuan. Inflasi AS pada September mencapai 3,7% secara tahunan, sedangkan target The Fed menurunkan inflasi ke 2%.

Setelah Federal Reserve mempertahankan suku bunga, Macro Equity Strategist Samuel Sekuritas Lionel Priyadi dalam hasil risetnya menuturkan pelaku pasar kini memperhitungkan kemungkinan kebijakan moneter ketat Federal Reserve telah mencapai puncaknya. Dari dalam negeri, pasar turut melihat risiko dari ketidakpastian politik dan peluang BI menaikkan suku bunga acuan lagi. Seperti diketahui, BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin (bps) ke 6% setelah mempertahankan suku bunga acuan pada 5,75% selama 8 bulan beruntun. Dari kalangan manajer investasi, Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan aliran dana masuk ke pasar keuangan masih menanti waktu yang tepat. Kala pasar melihat gelagat kenaikan suku bunga acuan The Fed mencapai puncak, investor asing memiliki kepercayaan diri untuk kembali melirik aset berisiko. Investment Specialist Sinarmas Asset Management Mohit Lalchandani menambahkan aliran dana asing bakal kembali masuk ke pasar keuangan bila langkah The Fed sesuai dengan ekspektasi pelaku pasar. Sebagai imbasnya, pasar saham dan surat utang bisa menikmati sentimen positif. Di lain sisi, Head of Research & Fund Manager Syailendra Capital Rizki Jauhari Indra mengatakan keputusan Th Fed menahan kenaikan suku bunga masih harus dicermatii mengingat masih ada risiko gejolak jangka pendek dari pergerakan nilai tukar rupiah, likuiditas pasar dan perbankan, serta risiko perlambatan ekonomi.

Suku Bunga Deposito Naik Terbatas

KT1 03 Nov 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatat suku bunga simpanan perbankan bergerak naik terbatas di tengah kondisi likuiditas bank yang longgar dan penyaluran kredit yang moderat. Rata-rata tingkat bunga deposito rupiah (22 daily moving average) seluruh bank naik 5 basis poin (bps) ke level 3,89% secara bulanan (month to month/mtm)  per 29 September 2023. Berdasarkan kelompok modal, suku bunga kelompok bank berdasarkan modal inti (KBMI) 4 menunjukkan kenaikan sebesar 8 bps ke level 3,02% per September 2023 atau terendah dibandingkan KBMI lainnya. Sementara KBMI 1 naik 5 bps ke level 3,98%. Suku unga rata-rata deposito rupiah tertinggi adalah KBMI 2 di level 4,03% per September 2023 2023, kemudian suku bunga KBMI 3 di level 3,6%. "Arah kebijakan moneter domestik yang naik 25 bps dan berlanjutnya laju pertumbuhan kredit  mendorong suku bunga simpanan rupiah bergerak naik dengan laju yang terbatas," tulis LPS dalam publikasinya, dikutip kamis (2/11/2023). (Yetede)

Bunga Naik, Pedang Mata Dua

HR1 30 Oct 2023 Kontan
Bank Indonesia (BI) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 6% pada 19 Oktober 2023 lalu. Analis memandang keputusan bank sentral itu akan menjadi pedang bermata dua, terutama bagi emiten sektor perbankan dengan produk yang sensitif terhadap kenaikan bunga. Associate Director Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus mengatakan, pada dasarnya kenaikan bunga acuan BI akan meningkatkan net interest margin (NIM) perbankan. Namun, di sisi lain, kenaikan bunga acuan juga berpotensi membuat penyaluran kredit berkurang akibat tingginya bunga pinjaman. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta bilang, akan ada potensi kenaikan non performing loan (NPL) di tengah tingginya suku bunga. Karenanya, kedua analis sepakat bahwa kinerja emiten perbankan masih cukup baik di di kuartal IV ini. Nafan bilang, katalis pendorongnya adalah stabilitas perekonomian domestik yang bisa mendorong pertumbuhan konsumsi. Menurut Nafan, meski ekonomi global masih diselimuti ketidakpastian, tetapi fokus ekspor dari Indonesia ke negara-negara yang memiliki fundamental makro ekonomi yang relatif solid dan menunjukan pemulihan, seperti India, China, dan AS. Menilik hasil survei permintaan dan penawaran pembiayaan perbankan yang dirilis BI, saldo bersih tertimbang (SBT) penyaluran kredit baru pada September 2023 mencapai 92,6%. Angka itu lebih tinggi dari SBT Agustus di 2023 sebesar 86,2%. Adapun kenaikan berasal berasal dari kredit investasi dan kredit konsumsi. Analis BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano mencatat total kredit secara agregat untuk bank saja tumbuh 11% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 3.502 triliun di  bulan Agustus. Secara bulanan, hanya Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang melaporkan pertumbuhan kredit yang sedikit lebih lambat yaitu 10,1% yoy dari bulan sebelumnya 10,4%. "Sementara itu, bank-bank BUMN melaporkan pertumbuhan kredit yang lebih cepat, seperti Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dari 11,2% ke 11,9%. Lalu, Bank Mandiri Tbk (BMRI) dari 10,2% ke 12,3%, dan Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dari 6,9% menjadi 8,5%," terang Victor dalam riset yang dirilis Senin (2/10).

Bank dan Fintech Waspadai Kenaikan Kredit Macet

KT1 25 Oct 2023 Tempo
JAKARTA — Perbankan nasional mulai mewaspadai risiko kenaikan rasio kredit macet (non-performing loan/NPL) pasca-kenaikan suku bunga acuan BI-7 Day Reverse Repo Rate (7DRR) ke level 6 persen. Kenaikan suku bunga tersebut diyakini bakal berdampak pada sejumlah sektor, seperti properti dan bisnis konsumer. Kenaikan suku bunga kredit pemilikan rumah atau KPR, misalnya, bakal memberatkan nasabah dan dapat berujung pada meningkatnya rasio kredit macet.  Antisipasi pun dilakukan sejumlah bank. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, atau BNI, misalnya, memilih berhati-hati menyesuaikan suku bunga kreditnya. Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Royke Tumilaar menyatakan kebijakan penyesuaian bunga tidak dilakukan secara merata kepada seluruh debitor, melainkan melalui proses peninjauan kembali terhadap kemampuan nasabah dalam menjalankan kewajibannya. “Kalau disamaratakan bisa menyebabkan jatuh ke NPL,” ujarnya. Selain itu, kualitas kredit perlu dijaga ketat. Terlebih, kata Royke, saat ini rasio NPL BNI tengah dalam tren membaik, yaitu turun ke level 2,5 persen pada Juni 2023 dari 3,2 persen pada periode yang sama tahun sebelumnya. (Yetede)

Suku Bunga Berpotensi Naik Lagi

KT1 24 Oct 2023 Investor Daily (H)
JAKARTA,ID-Suku bunga acuan BI-7 Day Reserve Repo Rate (BI7DDR), berpotensi naik lagi sebesar 25 basis points (bps) menjadi 6,25% tahun ini, seiring terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Selain itu, bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federel Reserve (The Fed), diprediksi menaikkan suku bunga acuan Federal Funds Rate (FFR) 25 bps menjadi 5,5-5,75% pada pertemuan  FOMC Desember 2023 untuk menjangkar inflasi ke sasaran, sebesar 2%. BI perlu menjaga spread ideal BI7DDR dan FFR untuk mencegah pelarian modal asing di tanah Air. Kemarin, nilai tukar rupiah di pasar spot melemah 0,6% ke level Rp15.949 per dolar AS, terendah sepanjang 2023. Pemicu utamanya adalah sentimen eksternal  yang kian memburuk, terutama dari reli  imbal hasil obligasi AS, US Treasure (UST) tenor 10 tahun, yang terus menguji level psikologis 5% dalam dua tahun terakhir. (Yetede) 

WASWAS BUNGA TINGGI

HR1 24 Oct 2023 Bisnis Indonesia (H)

Dunia usaha wajib siaga, menyusul makin kuatnya sinyal penerapan kebijakan suku bunga acuan tinggi yang cukup lama dari Bank Indonesia (BI) demi menjaga stabilitas sistem keuangan.Maklum, dunia sedang tidak baik-baik saja seiring dengan dinamika geopolitik di Timur Tengah yang kembali melahirkan kecemasan terutama dalam konteks krisis pangan dan energi, serta infl asi.Bank sentral negara maju pun telah ancang-ancang mengetatkan bunga acuan sehingga mendorong capital outfl ow dari pasar berkembang, termasuk Indonesia. Inilah yang kemudian mendasari BI untuk mengekor tren tersebut, utamanya untuk menjaga gerak rupiah.Apalagi, survei yang dilakukan Bloomberg terhadap para ekonom dunia pun mencatat bahwa kebijakan fiskal dan moneter diproyeksikan bertentangan karena ekspektasi tingkat suku bunga acuan tinggi dan bertahan cukup lama, sehingga berisiko menahan laju ekonomi.Di sisi lain, tidak sedikit pula ekspektasi bahwa bank sentral akan banyak memanfaatkan instrumen Quantitative Easing (QE) seperti penyuntikan likuiditas, sehingga penanganan infl asi tidak mengancam pertumbuhan ekonomi.Otoritas moneter pun tidak secara tersurat akan menetapkan kebijakan suku bunga tinggi. Akan tetapi secara tersirat, indikasi menuju BI 7-Day Reverse Repo Rate yang lebih tinggi amat kentara. Deputi Gubernur BI Juda Agung, tak memungkiri higher for longer telah menjadi fenomena. Hal itu dipicu ketegangan geopolitik yang menyebabkan berlanjutnya kenaikan harga pangan dan energi, sehingga memicu lesatan infl asi.Situasi itu pula yang melandasi BI pada tahun ini menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak Januari. Inovasi di sisi kebijakan moneter, imbuhnya, akan terus dilakukan untuk memperdalam pasar keuangan dan meningkatkan efektivitas dari upaya pengendalian moneter. Menteri Keuangan sekaligus Ketua KSSK Sri Mulyani Indrawati, mengatakan tekanan pada rupiah disebabkan oleh kebijakan Amerika Serikat (AS), yakni suku bunga Federal Reserve (The Fed) dan kenaikan imbal hasil obligasi.Tak pelak, pada perdagangan kemarin, Senin (23/10), rupiah ditutup melemah 0,38% atau 61 poin ke level Rp15.933 per dolar AS, sekaligus menjadi yang terdalam di kawasan Asia. Sementara itu, kalangan pelaku usaha memandang apabila BI mengikuti fenomena higher for longer, maka beban over headusaha naik lebih tinggi.Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta W. Kamdani, mengatakan kenaikan suku bunga idealnya menjadi instrumen ‘last resort’ untuk menciptakan stabilitas nilai tukar.

Pukulan Ganda Hantam Manufaktur

KT3 23 Oct 2023 Kompas

Industri manufaktur tengah mengalkulasi ulang biaya produksi di tengah tingginya beban bunga pinjaman serta kenaikan harga bahan baku. Depresiasi rupiah telah menyebabkan kenaikan biaya impor bahan baku. Efek lain adalah kenaikan beban bunga pinjaman perbankan. Beban bunga pinjaman perbankan akan naik menyusul langkah BI menaikkan suku bunga acuan 25 basis poin ke 6 % pada akhir pekan lalu. Ikhtiar moneter ini guna menstabilkan nilai tukar rupiah yang melemah dalam beberapa pekan terakhir di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Ketua Umum Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jemmy Kartiwa Sastraatmadja saat dihubungi, Minggu, (22/10) menyatakan, tingginya tingkat suku bunga pinjaman perbankan turut mengurangi selera industri manufaktur, termaksud di sektor tekstil dan produk tekstil, untuk menggenjot pembiayaan.

Pelemahan kredit industri tercermin pada saldo bersih tertimbang (SBT) atau kebutuhan pembiayaan korporasi yang terus turun dari 24 persen per Maret 2023 menjadi 14,7 % per Agustus 2023. Meski kembali meningkat menjadi 16,1 % pada September 2023, level tersebut masih berada di bawah level tertinggi tahun ini. Perlambatan terjadi karena dampak penurunan kegiatan operasional seiring melemahnya permintaan domestik dan ekspor. SBT sector pengolahan turun pada September 2023 sebesar 4,6 %, lebih rendah dibandingkan Agustus 2023 sebesar 6,2 %. (Yoga)