;
Tags

Bunga

( 411 )

Panjang Sabar Suku Bunga Turun

HR1 22 Feb 2024 Bisnis Indonesia

Federal Open Market Committee (FOMC) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan pada level 5,25%—5,5% dalam pertemuan perdana 30—31 Januari 2024. Kebijakan mempertahankan suku bunga acuan ini diambil oleh anggota komite dengan suara bulat. Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pidatonya usai rapat FOMC, menyatakan membuka ruang penurunan suku bunga pada 2024, tetapi kecil kemungkinan bakal dilakukan pada pertemuan FOMC kedua pada 19—20 Maret. Sebagai catatan, pertemuan FOMC dilakukan sebanyak delapan kali pada tahun ini untuk mengevaluasi kondisi ekonomi, memutuskan kebijakan moneter, dan menentukan suku bunga acuan. FOMC Meeting pada 2024 menjadi perhatian dunia karena perekonomian global tengah menanti sinyal dan kabar baik menyangkut sinyal berakhirnya tren suku bunga tinggi di AS yang bertahan di level tinggi sejak 26 Juli 2023. Selain itu, ada sejumlah data yang menjadi pertimbangan keputusan kebijakan moneter Federal Reserve, di antaranya produk domestik bruto (PDB), pengeluaran konsumen, dan produksi industri. Tentu saja, peristiwa-peristiwa besar seperti krisis keuangan, pandemi global hingga krisis geopolitik juga menjadi pertimbangan. Sebagai catatan, inflasi di AS mulai mendingin, dari 7% pada 2021 menjadi 6,5% pada 2022 dan kemudian turun lagi menjadi 3,4% pada 2023. Namun, merujuk pada data inflasi AS sepanjang 2013—2020 yang berkisar 0,7% hingga 2,3%; tentu saja inflasi 2023 belum cukup ideal. Persoalannya adalah inflasi di AS pada Januari 2024 tercatat 3,1%; lebih tinggi dari proyeksi di level 2,9%. Artinya, laju inflasi belum mereda seperti yang diharapkan. Pada saat bersamaan, Indonesia bakal memasuki bulan Ramadan pada Maret, yang biasanya diikuti dengan kenaikan sejumlah komoditas pangan sehingga berpotensi memacu laju inflasi nasional. Menjelang pekan terakhir Februari 2024 saja, sejumlah komoditas pangan di beberapa daerah terpantau naik. Memanasnya laju inflasi, baik di AS maupun nasional tentu bisa menjadi bola liar jika tidak terkendali. Pada saat bersamaan, perekonomian pun harus lebih banyak bersabar menanti penurunan suku bunga.

The Fed Hati-Hati Turunkan Suku Bunga

KT1 06 Feb 2024 Investor Daily (H)
The Federal Reserve (The Fed) akan bersikap bijaksana dalam memutuskan kapan  mulai memangkas suku bunga acuan. Kondisi ekonomi Amerika Serikat (AS) yang solid saat ini dapat memberikan ruang waktu bagi dewan  gubernur bank sentral AS tersebut untuk membangun keyakinan bahwa inflasi bakal terus turun. Penjelasan tersebut disampaikan oleh Gubernur The Fed Jerome Powell dalam wawancara CBS yang disiarkan  pada Minggu (04/02/2024). Powell mengatakan, hal yang bijaksana  yang dapat dilakukan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) adalah memberiikan waktu dan mendapatkan kepastian bahwa laju inflasi terus bergerak  turun menuju target jangka menengah 25%. Kami ingin menjawab pertanyaan tersebut dengan hati-hati. Dengan kekuatan ekonomi saat ini yang membuat risiko resesi berkurang, para pembuat kebijakan menunggu data-data terakhir yang akan dapat meyakinkan mereka untuk melaksanakan penurunan suku bunga," ujar Powell. (Yetede)

LPS Pertahankan Tingkat Bunga Penjaminan

KT3 31 Jan 2024 Kompas
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mempertahankan tingkat bunga penjaminan simpanan untuk periode 1 Februari-31 Mei 2024. Adapun nilai tingkat bunga penjaminan itu sebesar 4,25 persen untuk simpanan rupiah di bank umum, 2,25 persen untuk simpanan valas di bank umum, dan 6,75 persen untuk simpanan rupiah di bank perekonomian rakyat (BPR). Demikian disampaikan Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa, pada Selasa (30/1/2024). (Yoga)

Perbankan Berpeluang Sesuaikan Bunga Kredit

KT3 26 Jan 2024 Kompas
Perbankan berpeluang menyesuaikan suku bunga pada triwulan I-2024 sebagai konsekuensi dari kenaikan suku bunga acuan yang terjadi periode 2023. Selama 2023, Bank Indonesia (BI) sudah dua kali mengerek suku bunga acuan. Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja, pada konferensi pers secara  daring, Kamis (25/1/2024), mengatakan, pihaknya belum melakukan penyesuaian selama 2023. ”Oleh sebab itu, selama kuartal I-2024, akan ada sedikit adjustment,” katanya. (Yoga)

Bunga Deposito Naik, DPK Masih Tumbuh Melambat

KT1 23 Jan 2024 Investor Daily (H)
Industri perbankan telah menghimpun dana pihak ketiga (DPK) sebesar  Rp8.234,2 triliun per akhir Desember 2023. Realisasi tersebut tumbuh 3,8% secara tahunan (year on year/yoy) dan cenderung stabil dibandingkan bulan sebelumnya. Angka ini jauh dibandingkan pertumbuhan kredit yang meningkat dua digit. Merujuk analisis Uang Beredar  yang dirilis bank Indonesia (BI), berdasarkan jenis simpanan , tabungan mengalami perlambatan pertumbuhan per Desember 2023 dibandingkan posisi November 2023. Sedangkan giro dan simpanan berjangka tumbuh lebih tinggi pada Desember. Dimana tabungan tumbuh 2% (yoy)  per Desember  menjadi Rp  2.689,9 triliun, lebih lambat dari November  yang tumbuh 2,6% (yoy). Sementara itu, giro tercatat, Rp 2.524,9 triliun atau tumbuh 3,9% (yoy) dibandingkan bulan sebelumnya 3,4% (yoy). Kemudian, simpanan berjangka juga tumbuh lebih dari 5,2% (yoy) menjadi 5,4% (yoy) per Desember menjadi Rp 3.019,4 triliun (Yetede)

Persaingan E-commerce Kian Sengit

HR1 22 Jan 2024 Kontan

Potensi penurunan suku bunga dapat memberikan keleluasaan bagi emiten e-commerce di 2024 untuk berekspansi. Namun persaingan kemungkinan bakal semakin ketat seiring dengan kembalinya Tiktok Shop ke dalam industri ini. Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menjelaskan, potensi penurunan bunga di 2024 akan berdampak positif terhadap kinerja emiten e-commerce. Suku bunga yang lebih rendah akan mendorong pertumbuhan ekonomi, yang pada akhirnya meningkatkan konsumsi masyarakat. Selain itu, lanjut dia, penurunan suku bunga juga akan membuat biaya pendanaan emiten e-commerce menjadi lebih murah. Kondisi tersebut dapat mendukung emiten e-commerce untuk memiliki lebih banyak ruang dalam berekspansi dan berinvestasi. Saat ini terdapat tiga emiten yang bermain di bisnis e-commerce, yaitu PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO), serta PT Global Digital Niaga Tbk (BELI). Menurut Sukarno, emiten sektor teknologi e-commerce masih memiliki potensi untuk melanjutkan tren pertumbuhan di tahun 2024. 

Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia (SSI) Prasetya Gunadi menyoroti persaingan di industri e-commerce, setelah Tiktok Shop menjalin kemitraan dengan Tokopedia. TikTok akan menginvestasikan lebih dari US$ 1.5 miliar dan mengakuisisi 75,01% saham Tokopedia yang diumumkan pada 11 Desember 2023. Samuel Sekuritas meyakini investasi Tiktok tersebut merupakan hal positif bagi GOTO. Mengingat sebagian besar biaya GOTO berasal dari Tokopedia. Marketplace itu menyumbang 23,6% dari total kerugian bersih GOTO per 30 September 2023. Prasetya melihat pesaing terdekat Tokopedia di Indonesia yaitu Shopee, yang didukung SEA Group, masih memiliki banyak modal untuk dibelanjakan. Namun, live commerce mulai masuk ke ruang e-commerce Indonesia. Oleh karena itu, dengan TikTok Shop sebagai pemimpin dalam live commerce, GOTO mungkin telah menemukan mitra yang tepat. Analis Mirae Asset Sekuritas Christopher Rusli dan Jonghoon Won memandang BUKA diperkirakan akan mengalami peningkatan kinerja pada sektor gaming dan sektor grosir dengan musim liburan akan datang.  GOTO juga diharapkan mendapat manfaat dari momentum musim perayaan itu.


Bunga Acuan Menciut, Ekonomi Bisa Mencuat

HR1 18 Jan 2024 Kontan
Peluang berakhirnya era suku bunga tinggi semakin dekat dan berpotensi memberikan nafas lega bagi aktivitas ekonomi. Alhasil, perekonomian nasional pada 2024 diyakini tumbuh lebih kuat dibandingkan 2023. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Rabu (17/1), Bank Indonesia (BI) kembali menahan suku bunga acuan alias BI rate di level 6%, setelah kenaikan terakhir kali sebesar 25 basis poin (bps) pada Oktober 2023. BI membuka peluang penurunan suku bunga acuan pada tahun ini. "Dengan arah-arah ke depan, tentu saja saya sampaikan ada ruang penurunan suku bunga BI rate. Namun, harus melihat beberapa kriteria," ungkap Gubernur BI Perry Warjiyo, kemarin. Kriteria yang dimaksud, pertama, kecepatan penguatan nilai tukar rupiah. Pasalnya, hingga 16 Januari 2024, nilai tukar rupiah masih mencatatkan pelemahan, meski tipis, yakni 1,24% dari akhir Desember 2023. Kedua, tetap terkendalinya inflasi, khususnya inflasi inti, juga pergerakan inflasi pangan. Ketiga, bagaimana bank sentral melihat dukungan kredit dalam pembiayaan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini, menurut Perry, akan didukung permintaan pasar domestik. Hal tersebut sejalan adanya momentum pemilihan umum (pemilu) dan peningkatan investasi khususnya bangunan terkait kelanjutan proyek strategis nasional (PSN), termasuk Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun kinerja ekspor Indonesia belum cukup kuat karena perlambatan ekonomi dunia dan penurunan harga komoditas di pasar global. BI meyakini pertumbuhan akan menguat pada industri manufaktur, perdagangan besar dan eceran, informasi dan komunikasi, serta konstruksi, juga transportasi dan pergudangan. Secara spasial, prospek positif terjadi di seluruh wilayah, terutama Sulawesi, Maluku, Papua dan Jawa. Ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Universitas Indonesia Teuku Riefky menilai, pemangkasan suku bunga acuan BI akan menciutkan cost of credit sehingga menjadi stimulus ekonomi lokal. Sementara Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual memprediksi, ekonomi tahun ini tumbuh di rentang 5%-5,2%.

BI Tahan Suku Bunga, Fokus Jaga Rupiah

KT1 18 Jan 2024 Investor Daily (H)
Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan, BI rate, sebesar 6%, suku bunga deposit  facility sebesar 5,25%, dan suku bunga lending facility 6,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG), 16-17 Januari 2024. Di sisi lain, indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) tergelincir 0,58% ke level 7.200, kemarin, setelah BI mengumumkan kebijakan suku  bunga. Koreksi indeks sejalan pelemahan bursa saham Asia. Hal itu dipengaruhi  sikap pelaku pasar yang menurunkan ekspektasi penurunan  suku bunga oleh bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed), dalam waktu dekat. Ini terjadi seiring pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller bahwa The Fed tidak bisa terburu-buru menurunkan suku bunga. Hal ini mendongkrak imbal hasil obligasi AS 10 tahun sebesar 11,9 basis poin menjadi 4,0695%, sedangkan yield obligasi di Eropa berfluktuatif. (Yetede)

CARI CELAH BUNGA MAHAL

HR1 18 Jan 2024 Bisnis Indonesia (H)

Industri perbankan rupanya harus bermanuver lebih tajam guna mendongkrak penyaluran kredit tahun ini. Maklum saja, suku bunga yang masih sulit dipangkas, dapat menjadi batu sandungan dalam mengakselerasi fungsi intermediasi.Jika ditengok, di tengah iklim suku bunga mahal yang menekan pertumbuhan dana simpanan, industri perbankan melewati tahun lalu dengan pertumbuhan kredit 10,38% secara tahunan. Capaian tersebut memang sesuai dengan koridor proyeksi Bank Indonesia (BI) yakni 9% hingga 11%. Namun demikian, jika suku bunga terus di level tinggi, amat mungkin kinerja kredit tergerus, dan berdampak negatif pada kinerja keuangan perusahaan. Terlebih, BI masih menahan diri untuk melonggarkan kebijakan moneter. Buktinya kemarin, Rabu (17/1), Rapat Dewan Gubernur BI, memutuskan untuk menahan BI-Rate pada level 6%, alias tak berubah sejak Oktober 2023. Dus, kalangan perbankan pun berharap bank sentral mulai memangkas suku bunga acuan pada tahun ini, sembari terus menyiapkan strategi agar ruang margin keuntungan tetap lapang. Pasalnya, belakangan ini potret margin keuntungan tercatat melandai. Berdasarkan data BI, hingga November 2023, margin keuntungan bank umum swasta nasional tercatat turun paling dalam yakni dari 2,89% pada November 2022 menjadi 2,39% pada November 2023. Kemudian, diikuti oleh kantor cabang bank asing dan bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Merespons kebijakan suku bunga acuan, sejumlah bank ancang-ancang menyesuaikan suku bunga kredit dan simpanannya. Direktur Utama PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk. atau Bank BJB (BJBR) Yuddy Renaldi menantikan suku bunga acuan yang lebih longgar. Dengan demikian, bank bisa melakukan penyesuaian suku bunga acuan terhadap bunga kredit dan simpanan. Yuddy juga memperkirakan tren longgar suku bunga acuan pada tahun ini akan berdampak positif bagi kinerja bank. 

Sementara itu, dari kalangan bank cilik, Direktur Kepatuhan PT Bank Oke Indonesia Tbk. (DNAR) Efdinal Alamsyah mengatakan penyesuaian bunga simpanan lebih responsif terhadap perubahan suku bunga, sedangkan penyesuaian bunga kredit lebih selektif karena terkait dengan risiko pinjaman. Oleh karena itu, di masa suku bunga tinggi, perusahaan menyeimbangkan dana pihak ketiga (DPK) dengan ekspansi kredit sehingga ada ruang margin bunga bersih (net interest margin/NIM) lebih tinggi. Hal serupa ditempuh PT KB Bukopin Tbk. (BBKP). Corporate Relation Department Head KB Bukopin Adi Pribadi mencatat rasio likuiditas perseroan masih sangat sehat, yang tecermin pada AL/NCD dan AL/DPK masing-masing stabil di atas 250% dan 35%. Dengan demikian, perusahaan bisa meraih margin dan pendapatan bunga lebih tebal. Dengan prospek penurunan suku bunga, pada 2024, perseroan optimistis mencetak laba operasional sebelum pencadangan dan biaya akuisisi (Pre-Provision Operating Profi t/PPOP) positif. Direktur PT Bank CIMB Niaga Tbk. (BNGA) Lani Darmawan. Dia memperkirakan penurunan suku bunga acuan paling cepat terealisasi pada medio 2024. Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan bahwa ruang penurunan suku bunga acuan ke depan tetap terbuka sejalan dengan arah kebijakan moneter yang pro stabilitas. Di sisi lain, Perry mengatakan sinyal positif terlihat dari kinerja dolar AS yang tak lagi menguat dan cenderung melemah pada awal tahun. Dengan kondisi ini, tekanan penguatan dolar AS terhadap mata uang negara berkembang pun redup, sejalan dengan kembali mengalirnya modal asing, termasuk ke Tanah Air. Adapun, Chief India and Indonesia Economist HSBC Pranjul Bhandari memprediksi pertumbuhan kredit Tanah Air berada pada 9% secara tahunan pada 2024. Hal ini seiring perkiraan bahwa BI bakal menurunkan suku bunga sebesar 100 basis poin (bps).

Menuju Suku Bunga Rendah

KT3 08 Jan 2024 Kompas

Sinyal berakhirnya suku bunga tinggi membersitkan  harapan di tengah proyeksi perlambatan pertumbuhan ekonomi global pada 2024. Bank sentral AS, The Federal Reserve (The Fed), telah menahan suku bunga di level 5,25-5,50 % sejak September 2023. Menurut rencana, otoritas moneter AS tersebut akan menurunkan suku bunga acuan secara bertahap mulai Maret 2024. BI juga menahan suku bunga acuan di posisi 6 % sejak Oktober 2023. Sejalan dengan rencana kebijakan The Fed, BI diperkirakan akan menyesuaikan. Ini akan menjadi momentum yang sangat ditunggu setelah serial kenaikan suku bunga paling agresif dalam 15 bulan sejak 2022, tahun ketika dampak pandemi Covid-19 mengakibatkan kenaikan inflasi yang progresif.

”Bunga yang lebih rendah adalah kabar baik bagi semua investor,” kata Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi kepada Kompas, Kamis (4/1/2024). Investor dari kalangan korporasi akan lebih giat berekspansi, di antaranya dengan menambah modal dari pinjaman berbunga rendah. Masyarakat juga bisa memiliki lebih banyak uang lebih dan yakin untuk berinvestasi dengan harapan mendapat keuntungan seiring peningkatan kepastian perbaikan ekonomi. Potensi perbaikan ekonomi diperkirakan akan membuat investasi berisiko rendah lewat produk surat utang tetap diminati di 2024. Produk pasar surat utang pemerintah lewat surat berharga negara (SBN) ritel, misalnya, disebut akan semarak, menyusul capaian pada 2023. (Yoga)