Bunga
( 411 )Aturan Baru Bunga Pinjaman Diharapkan Beri Manfaat Lebih Besar
OJK telah menerbitkan ketentuan baru yang mengatur tata
kelola industri pinjaman daring, salah satunya mengenai suku bunga pinjaman.
Aturan baru tersebut diharapkan dapat dilaksanakan secara optimal oleh para
pelaku usaha industri pinjaman daring sehingga tidak membebani masyarakat.
Sebelumnya, OJK telah menerbitkan Surat Edaran (SE) No 19/SEOJK.06/2023 tentang
Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Bersama Berbasis Teknologi Informasi. Melalui
SE ini, OJK mengatur berbagai kegiatan usaha pinjaman daring, mulai dari
mekanisme penyaluran dan pelunasan, batas maksimum manfaat ekonomi (suku
bunga), hingga mekanisme penagihan. Aturan berlaku per 1 Januari 2024, dengan
bunga pinjaman produktif 0,1 $ per hari atau 36 persen per tahun dan menjadi
lebih rendah 0,067 % per hari atau 24,45 % per tahun pada 2026. Sementara itu,
batas atas bunga pinjaman konsumtif ditetapkan sebesar 0,3 % per hari atau
109,5 % per tahun dan berturut-turut akan diturunkan menjadi 0,2 % per hari
atau 73 % per tahun pada 2025 dan menjadi 0,1 % per hari atau 36 % per tahun
pada 2026.
SE OJK No 19/2023 itu juga menetapkan, batas maksimum denda
keterlambatan sama dengan batas atas suku bunga pinjaman. Secara keseluruhan,
batas suku bunga dan denda keterlambatan ditetapkan tidak lebih dari 100 %
nilai pendanaan yang diberikan. Pebriansyah (23), pelaku usaha minuman
tradisional di Kabupaten Sleman, DIY, Kamis (4/1/2024), menyebut, sebagian modal
usahanya berasal dari pinjaman daring. Ketentuan baru mengenai bunga pinjaman
itu diharapkan tidak lagi memberatkan pelaku usaha yang menerima pinjaman
sehingga dapat memberikan manfaat lebih besar. ”Kalau harapannya, bunganya
wajar saja dan syukur-syukur bisa lebih rendah karena bunga pinjaman itu mengurangi
keuntungan,” ucapnya. Perbandingan keuntungan antara saat ambil pinjaman daring
dan bukan, 1:3. ”Dengan modal sendiri bisa untung Rp 300.000, dari pinjaman
daring karena bayar bunga, untungnya hanya Rp 100.000,” ucapnya. (Yoga)
Prospek Cerah Pasar Modal 2024
Di pengujung tahun 2023, pasar modal Indonesia mampu
menunjukkan ketahanannya di tengah badai ketidakpastian ekonomi dan politik.
Banyak negara menderita inflasi tinggi karena gangguan rantai pasok dan
geopolitik negara-negara pemasok energi di tengah perang Ukraina-Rusia. AS
mengalami kenaikan inflasi hingga 9,1 % pada Juni 2022. Kenaikan inflasi
dikendalikan dengan terus menaikkan suku bunga acuan, yang perlahan menurunkan
inflasi menjadi 3,1 % pada November 2023. Namun, situasi itu membuat banyak negara,
termasuk Indonesia, harus ikut menaikkan tingkat suku bunga sehingga masyarakat
menahan belanjanya. Sejak Agustus 2022 hingga Oktober 2023, Indonesia menaikkan
suku bunga acuan 250 basis poin dari 3,5 % menjadi 6 %. Konflik geopolitik dan
ketidakpastian ekonomi global juga melemahkan nilai tukar rupiah terhadap
dollar AS. Sejak triwulan akhir 2022 hingga 2023, kurs rupiah berada di kisaran
Rp 15.000-Rp 15.800.
Situasi tersebut menjadi sentimen negatif bagi Indeks Harga
Saham Gabungan (IHSG) di pasar modal, yang menjadi indikator kinerja industri
dan perdagangan dalam negeri. Perbaikan pascapandemi yang terjadi tahun 2021
sampai 2022 harus tertahan di 2023. Rapor IHSG merah karena hanya naik turun di
level 6.500-6.900 sampai November 2023. Menghijau Namun, pada pengujung tahun
2023, IHSG melawan pukulan-pukulan tersebut dengan kembali menembus posisi 7.000.
Pada Jumat (22/12) IHSG ditutup menguat 0,39 % di posisi 7.237. Indeks harga 7
dari 11 sektor emiten yang tercatat di Bursa Efek Jakarta meningkat secara
moderat. Banyak analisis mengatakan, kebangkitan ini terkait faktor kunci,
yakni asumsi berhentinya tren kenaikan suku bunga lewat sinyal yang diberikan
AS melalui bank sentralnya, The Federal Reserve (The Fed). BI pun kemungkinan
mengikutinya dan diprediksi bakal menurunkan suku bunga acuan 50-75 basis poin
di semester kedua 2024. Equity analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Dimas
Krisna Ramadhani, mengungkapkan, ada beberapa faktor lain yang membuat pasar
modal mampu mempertahankan dirinya sehingga tidak terpuruk. Salah satunya
adalah tingkat inflasi Indonesia yang rendah. BI memproyeksikan inflasi tahunan
bisa terkendali di angka 3 plus minus 1 % pada 2023 dan 2,5 plus minus 1 % pada
2024. (Yoga)
BI Kembali Pertahankan Suku Bunga Acuan
Saham Bank Pilihan Saat Suku Bunga Tetap Tinggi
Tren suku bunga tinggi dipastikan masih berlanjut hingga awal tahun 2024. Kepastian ini muncul menyusul kebijakan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuannya di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) terakhir di 2023.
Itu artinya, bunga kredit perbankan akan tetap tinggi. Kondisi ini akan membawa keuntungan bagi bank dengan rasio dana murah tinggi. Di satu sisi, biaya dana mereka akan tetap rendah. Di sisi lain, pendapatan bunga kredit akan semakin meningkat. Alhasil, margin bunga bersih atau
net interest margin
(NIM) mereka bakal tetap gemuk.
Menurut
Investment Analyst
Infovesta Kapital Advisori Fajar Dwi Alfian, yang diuntungkan dari era suku bunga acuan tinggi ini adalah bank-bank berkapitalisasi besar "Mengingat, rasio dana murah atau CASA bank-bank tersebut besar," kata dia kepada KONTAN, Kamis (21/12).
Adapun bank dengan rasio CASA tinggi di antaranya Bank Central Asia (BBCA) yang mencapai 79,9% September 2023, Bank Mandiri (BMRI) 78,8%, Bank Rakyat Indonesia (BBRI) 63,64%.
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus juga sepakat bahwa keempat bank besar itu memiliki ketahanan di era suku bunga tinggi ini. Karena mereka memiliki diversifikasi bisnis, ditambah nasabahnya juga segmented. Sehingga, pertumbuhan kredit mereka diprediksi akan tumbuh baik. Ia pun masih merekomendasikan keempat saham bank besar itu.
Nico menyoroti rencana PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) untuk menggabungkan unit usaha syariahnya dengan PT Bank Muamalat Tbk. Menurutnya, penggabungan itu bisa meningkatkan penetrasi pasar syariah. Merger dan akuisisi, salah satunya dampaknya meningkatkan pangsa pasar, ujarnya. Jika itu terealisasi maka akan mengerek harga saham BBTN, karena merger itu akan memperbesar aset BBTN.
Di sisi lain,
Head of Research Center
Mirae Asset Sekuritas Roger MM melihat aksi merger antara PT Bank MNC Internasional Tbk dan PT Bank Nationalnobu Tbk layak untuk ditunggu.
Peluang Bunga Acuan Turun di Semester II-2024
BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan di Akhir 2023
Sinyal Suku Bunga Fed, Keraguan Tetap Melekat
Bank Sentral AS memproyeksikan akan ada penurunan suku bunga
inti pada 2024 dan setelahnya, karena inflasi makin menurun. Suku bunga yang
menurun diperlukan untuk mencegah resesi. Sejauh ini AS disebutkan beruntung
karena kenaikan suku bunga sejak Maret 2022 tidak membawa perekonomian memasuki
resesi, hanya penurunan kecil pertumbuhan atau soft landing. Namun, tak semua
pihak yakin dengan skenario Bank Sentral AS (The Fed) tentang penurunan suku
bunga dan soft landing. Kerapuhan tetap menjadi warna perekonomian AS, termasuk
inflasi yang sewaktu-waktu bisa kembali menekan. Kerapuhan dalam perekonomian
AS perlu diperhatikan. Efeknya besar pada kestabilan keuangan global. Hanya
saja, di balik kerapuhan itu, Fed melihat sinyal baik untuk sementara waktu.
Suku bunga inti (prime rate), yang juga disebut sebagai suku bunga acuan, saat
ini di angka 5,25-5,5 %. Suku bunga inti ini dipertahankan di kisaran tersebut
dalam pertemuan Komite Kebijakan Pasar Terbuka Fed (FOMC), Washington, Rabu
(13/12).
Suku bunga inti tersebut diproyeksikan akan diturunkan
perlahan ke level 4,6 % pada 2024. Alasannya, inflasi sepanjang 2024 diproyeksikan
akan berkisar pada angka 2,4 % dan pada 2025 menjadi 2,2 % serta menuju target
2 % pada 2026. Meski direncanakan menurun pada 2024, suku bunga tetap relatif
tergolong tinggi dan berefek negatif terhadap pertumbuhan. Fed memperkirakan
pertumbuhan ekonomi AS hanya akan tumbuh 1,4 % pada 2024. Pertumbuhan akan naik
menjadi 1,8 % pada 2025 dan 1,9 % pada 2026 seiring dengan penurunan suku bunga
secara bertahap. Menurut Gubernur Fed Jerome Powell, proyeksi penurunan suku bunga
pada 2024 didasarkan pada gejala penurunan suku bunga yang terus terjadi hingga
November 2023. Berdasarkan data Departemen Tenaga Kerja AS, inflasi pada November
2023 sebesar 3,1 %. Ini merupakan penurunan dari inflasi pada Oktober 2023 sebesar
3,2 %. (Yoga)
MENGIMBANGI LENGGANG THE FED
Kabar gembira datang dari Amerika Serikat (AS) setelah Federal Reserve (The Fed) menyuarakan komitmen yang kuat untuk memangkas acuan suku bunga hingga 75 basis poin (bps) pada tahun depan. Apalagi pada pertemuan kemarin, Kamis (14/12), The Fed sesuai ekspektasi kembali menahan suku bunga acuan di level 5,25%—5,5%. Artinya, sepanjang paruh kedua tahun ini tak ada perubahan di bank sentral yang paling berpengaruh sedunia itu. Kabar ini tentu memberikan energi baru bagi perekonomian negara berkembang termasuk Indonesia, yang sejak tahun lalu kelabakan menangkal efek dari pengetatan moneter AS. Sinyal bersahabat tersebut perlu diimbangi dengan kebijakan serupa dari Bank Indonesia (BI) sehingga manuver moneter memiliki daya dorong yang kuat untuk mendorong perekonomian dan menciptakan stabilitas pasar keuangan. Arah kebijakan BI selama ini yang bersifat preemptive dan forwardlooking, melahirkan ekspektasi bahwa bank sentral akan menurunkan acuan suku bunga lebih awal dibandingkan The Fed. Kalangan pebisnis dan pelaku pasar pun berharap BI menyiapkan respon ramah. Komite Tetap Kebijakan Publik Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Chandra Wahjudi, sinyal perlindungan agresivitas The Fed menggambarkan bahwa pemanasan global mereda. Oleh karena itu, kalangan pengusaha berharap BI juga memangkas suku bunga acuan. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani, memandang meski memberikan angin segar realisasi komitmen The Fed itu bergantung pada dinamika global 3—6 bulan mendatang. Sembari menunggu kepastian The Fed, Shinta mengusulkan pemerintah agar fokus menjaga stabilitas ekonomi makro terutama terkait dengan kecukupan devisa, stabilitas rupiah, dan pengendalian inflasi. Oleh karena itu, kalangan analis dan ekonom menyarankan BI untuk mulai memasang kuda-kuda pelonggaran kebijakan suku bunga acuan yang saat ini di level 6%. Kepala Ekonom Bank Central Asia David Sumual, melihat kabar dari AS memberikan sinyal kepada BI untuk ikut memperlonggar suku bunga acuan. Ahli Strategi Makro Samuel Sekuritas Lionel Priyadi, mengatakan harapan pasar soal pelonggaran moneter di AS dan dalam negeri terlalu spekulatif. Menurutnya, penurunan suku bunga AS mengakibatkan indeks obligasi emerging market naik 0,7% dan imbal hasil 10Y UST dan Bund masing-masing turun 18 bps dan 5 bps menjadi 4,02% dan 2,17%.
Suku Bunga BI dan Pertumbuhan Kredit
Suku Bunga Meningkat, Bank Jaga Kualitas Kredit
Ditengah tren kenaikan suku bunga saat ini, industri
perbankan cenderung akan lebih selektif dalam menyalurkan kredit agar
kualitasnya terjaga. Ke depan, reindustrialisasi sektor manufaktur diperkirakan
mampu menjadi motor baru penggerak laju pertumbuhan industri perbankan. ”Bagi
masyarakat yang memiliki kemampuan finansial mencukupi, tren kenaikan suku
bunga ini disambut dengan antusias. Sebaliknya, mereka yang memiliki pinjaman,
bebannya akan bertambah sehingga berpotensi macet. Tentu saja, setiap bank memiliki preferensi
tersendiri, tergantung dari cost of fund (biaya bunga) dan margin keuntungannya
dalam mengambil risiko kredit,” kata Komisaris Bank Jago Anika Faisal di
sela-sela kegiatan Media Gathering Perhimpunan Bank-Bank Nasional (Perbanas),
di Padalarang, Bandung Barat, Jawa Barat, Jumat (24/11).
Oleh sebab itu, ketersediaan data nasabah yang merekam berbagai
transaksi secara historis menjadi instrumen penting bagi industri perbankan dalam
menjaga kualitas kredit. Data tersebut tidak hanya memuat penghasilan nasabah
dan berbagai variabelnya, tetapi juga termasuk perilaku (behavior) setiap
nasabah dalam bertransaksi. Menurut Chief Economist PT Bank Tabungan Negara (Persero)Tbk
atau BTN Winang Budoyo, era suku bunga tinggi sudah mencapai titik puncaknya
sebagaimana ekspektasi global. Dari sisi domestik, sentimen tahun politik 2024
dan dukungan kebijakan likuiditas makropudensial BI juga akan berdampak positif
bagi sektor keuangan. ”Intinya, kenaikan suku bunga mulai berhenti, akan
stabil, dan tinggal menunggu waktunya. Lalu, sepanjang tahun pemilu tentu
peredaran uang akan meningkat dan berkontribusiterhadap pertumbuhan ekonomi.
Ditambah lagi, BI menurunkan giro wajib minimum yang mulai berlaku Oktober 2023,”
ujarnya. Di tengah ketidakpastian tersebut, sektor industri manufaktur dapat
menjadi opsi untuk mendorong penyaluran kredit perbankan sekaligus memicu
pertumbuhan ekonomi melalui serapan tenaga kerja. (Yoga)
Pilihan Editor
-
ANCAMAN KRISIS : RI Pacu Diversifikasi Pangan
10 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022 -
Transaksi QRIS Hampir Menembus Rp 9 Triliun
28 Jul 2022









