Bunga
( 411 )Bank Indonesia Tahan Suku Bunga Acuan
Iklan Pinjol Harus Dikendalikan
Orang mudah tergiur untuk meminjam uang dari platform pinjaman
daring atau pinjol. Mereka melakukan itu karena melihat tawaran kemudahan dari
iklan. Penerima pinjaman daring selama dua tahun terakhir didominasi kelompok
usia kurang dari 35 tahun. Mereka menggunakan dana pinjaman untuk hal-hal
konsumtif. Meski bergaji rendah, sifat konsumtif generasi muda menjadikan mereka
sasaran utama penyaluran pinjol.
Analisis Tim Jurnalisme Data Harian Kompas menemukan, ada peningkatan 5,3 %
jumlah peminjam pinjol yang tidak lancar dan macet di atas 30 hari pada
kelompok usia 17 hingga 34 tahun ini (Kompas, 22/11). Otoritas tentu sudah melakukan
berbagai cara agar keberadaan platform memberi kemudahan dan sekaligus memberi pelindungan kepada nasabah
pinjaman daring. Mereka juga memberi rambu-rambu soal keamanan dalam
bertransaksi di berbagai platform teknologi finansial (tekfin). Akan tetapi, berbagai
upaya itu sepertinya belum mencukupi.
Berbagai kasus memperlihatkan bahwa orang dengan dengan hasilan rendah, yang kemudian
berhadapan dengan sejumlah masalah finansial, langsung tertarik dengan pinjaman
daring karena melihat iklan-iklannya di berbagai kanal. Sebagian besar iklan
pinjaman daring menawarkan banyak kemudahan dan menggiurkan. Beberapa isi iklan
itu antara lain kemudahan untuk meminjam, kemudahan mendapatkan pinjaman, dan
suku bunga yang disebut lebih rendah (dibandingkan dengan platform lain). Dengan
cara pemasaran digital yang bisa menyasar target dengan lebih akurat, iklan-iklan
pinjaman daring berdampak signifikan terhadap kinerja bisnis mereka. Tidak
mengherankan, mereka jorjoran mengeluarkan belanja pemasaran. Selama periode
Januari- Agustus 2023, rata-rata porsi dana iklan dan pemasaran dari 101
perusahaan fintech lending yang terdaftar di OJK mencapai 34,7 %, dengan nilai Rp
1,3 triliun atau Rp 13,2 miliar per perusahaan, meningkat 6 % dibandingkan periode
yang sama pada 2022 di 28,7 % atau Rp 8,6 miliar per perusahaan. Mereka tentu
berharap mendapatkan peminjam dalam jumlah besar dan dalam waktu singkat. (Yoga)
Ruang Perubahan Suku Bunga Masih Sempit
Ruang perubahan kebijakan suku bunga Bank Indonesia 7-
Day Reverse Repo Rate
(BI7DRR) tetap ada, meski menyempit. Bank sentral terus memantau data-data yang menjadi pertimbangan kebijakan tersebut.
Bank Indonesia (BI) mempertahankan bunga acuannya di level 6% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) November 2023, setelah kenaikan 25 basis poin (bps) pada Oktober 2023. Gubernur BI Perry Warjiyo mengungkapkan, penetapan bunga acuan ini seiring upaya mengantisipasi dampak ketidakpastian global.
Dia bilang hal ini merupakan langkah
pre-emptive
dan
forward looking
untuk memitigasi dampak terhadap inflasi barang impor (imported inflation). Terutama karena lonjakan harga energi dan pangan global, juga koreksi nilai tukar rupiah. Alhasil, inflasi akan tetap terkendali di kisaran 3% plus minus 1% pada 2023 dan 2,5% plus minus 1% pada 2024.
Ia menambahkan, bank sentral turut mencermati kondisi global. Terutama kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed pada bulan depan, meski probabilitasnya semakin menipis dari sebelumnya 40% menjadi hanya 10%.
Namun, dia memastikan respons kebijakan dari BI terkait suku bunga akan konsisten secara forward looking dan pre-emptive. Juga memastikan untuk menjangkar inflasi ke depan.
Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro menilai, suku bunga acuan saat ini sudah memadai untuk mempertahankan daya tarik aset rupiah sekaligus menarik modal asing untuk mengalir masuk. Dengan demikian, "Suku bunga acuan akan tetap sebesar 6% pada akhir tahun 2023" ungkap dia kepada KONTAN, Kamis (23/11).
Ekonom Bank UOB Enrico Tanuwidjaja juga meyakini tak akan ada lagi kenaikan suku bunga acuan pada tahun 2023. "Secara retorika, nampaknya meyakinkan bahwa tidak ada lagi kenaikan suku bunga setidaknya pada bulan Desember 2023," terang Enrico dalam keterangannya, Kamis (23/11).
Walaupun juga ada pernyataan dari Gubernur BI bahwa langkah BI masih akan sangat bergantung dengan perkembangan data terakhir.
Enam Sektor Terpukul Bunga Tinggi
Masalah Subsidi Bunga Hambat Penyaluran KUR
Keuntungan Bank Tak Terdampak POJK Transparansi SBDK
Kenaikan Suku Bunga Terindikasi Sudah Usai
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) mengalami pelemahan. Hal itu tercermin dari pengajuan klaim baru tunjangan pengangguran sepanjang pekan pertama November meningkat ke level tertinggi dalam tiga bulan.
Berdasarkan laporan Departemen Tenaga Kerja AS, klaim baru tunjangan pengangguran secara mingguan yang berakhir pada 11 November 2023 mencapai 231.000, meningkat 13.000 dari klaim baru pada pekan sebelumnya.
Klaim baru ini jadi data mingguan tertinggi sejak Agustus lalu. Sebelumnya, ekonomi yang disurvei
Reuters
memprediksi 220.000.
Pasar tenaga kerja melambat menjadi penanda kenaikan suku bunga The Fed telah membatasi permintaan. Data ini memperkuat ekspektasi bahwa siklus pengetatan kebijakan The Fed telah usai.
Sementara secara total, klaim tunjangan pengangguran di AS baik baru maupun lanjutan pada sepekan yang berakhir di 4 November mencapai 1,87 juta. Angka ini naik 32.000 dari pekan sebelumnya dan data mingguan terbesar dalam hampir dua tahun.
Para ekonom berpendapat bahwa klaim terus naik karena banyak dari orang-orang yang menganggur mengalami kesulitan mendapatkan pekerjaan. Hal itu mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja lebih longgar dibandingkan era pasca pandemi.
"Kemajuan sederhana telah dicapai dalam menurunkan inflasi dan menyeimbangkan kembali pasar tenaga kerja," kata Conrad DeQuadros, Penasihat Ekonomi Senior Brean Capital seperti dilansir dari
Reuters,
Jumat (17/11).
Nancy Vanden Houten, Ekonom Oxford Economics melihat data klaim tersebut konsisten dengan pasar kerja yang cukup tenang untuk menahan kenaikan suku bunga, namun terlalu kuat untuk jadi pertimbangan penurunan suku bunga dalam waktu dekat
OJK Turunkan Batas Atas Bunga Pinjaman Daring
Otoritas Jasa Keuangan mengeluarkan ketentuan baru mengenai
batas maksimal suku bunga pinjaman daring, sebagai upaya
untuk meminimalkan tingginya risiko terhadap konsumen, sekaligus mendorong
penyaluran kredit produktif. Melalui Surat Edaran OJK No 19/SEOJK.05/2023 tanggal
8 November 2023 tentang Penyelenggaraan Layanan Pendanaan Berbasis Teknologi
Informasi, OJK mengatur batas maksimal manfaat ekonomi (bunga) pinjaman daring
untuk sektor konsumtif sebesar 0,3 % per hari atau sekitar 109 % per tahun.
Manfaat ekonomi tersebut secara bertahap akan diturunkan menjadi 0,2 % per hari
pada 2025 dan 0,1 % per hari pada 2026. Di sisi lain, ketentuan penyaluran kredit
ke sektor produktif juga berlaku demikian, yakni dimulai 0,1 % pada 2024-2025
dan akan kembali diturunkan menjadi 0,067 % pada 2026. Adapun denda keterlambatan
pada tiap-tiap sektor berlaku sesuai dengan besaran bunga yang telah ditentukan.
Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan
Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK, Agusman
mengatakan, semua ini dilakukan sebagai upaya untuk melindungi konsumen. Terlebih,
ekosistem pasar pinjaman daring saat ini masih belum dewasa (mature) atau mapan
sehingga memerlukan intervensi dari regulator. ”Kalau ketentuan itu tidak dibuat
dengan baik, tata kelolanya tidak bekerja, yang paling dirugikan adalah
konsumen. Akan ada predator pricing di situ, ada orang yang dizalimi tingkat
bunga, dan sebagainya,” katanya dalam konferensi pers Peluncuran Roadmap
Fintech P2P Lending 2023-2028, Jumat (10/11) di Jakarta. (Yoga)
Mulai Awal 2024, Bunga Pinjol Turun
Januari 2024, Suku Bunga Pinjol Turun
Pilihan Editor
-
Waspada Rambatan Resesi AS
02 Aug 2022 -
Upaya Menegakkan Jurnalisme Berkeadilan
01 Aug 2022 -
Kegagalan Sistem Pangan Indonesia
06 Aug 2022









