Bunga Naik, Belanja Fiskal Jadi Harapan
Kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) pada bulan ini, akan berdampak terhadap mahalnya ongkos pembiayaan. Kinerja investasi pun berpotensi terhambat dan mempengaruhi laju ekonomi RI. Dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) pekan lalu, BI menaikkan BI 7-Days Reverse Repo Rate (BI7DRR) sebesar 25 basis poin (bps). Sehingga, suku bunga acuan kini berada di level 6%. Ekonom Center of Reform on Economics (Core) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menilai, salah satu konsekuensi dari naiknya suku bunga acuan adalah akan mempengaruhi lebih mahalnya ongkos pembiayaan. Hal ini bisa berdampak terhadap keputusan investasi para pelaku usaha maupun industri. Selama ini, investasi alias pembentukan modal tetap bruto (PMTB) berkontribusi sekitar 30% terhadap PDB. Namun, kontribusi komponen ini berpotensi tertahan. Tak hanya kenaikan suku bunga, tetapi juga karena adanya momentum pemilu yang membuat investor wait and see. Ia memperkirakan, dampak kenaikan suku bunga acuan BI, baru akan terasa pada awal tahun depan. Utamanya, terkait kondisi inflasi. Ekonom Bank Syariah Indonesia Banjaran Surya Indrastomo melihat, kenaikan suku bunga acuan akan berdampak terhadap melambatnya pertumbuhan ekonomi. Terutama, periode kuartal IV-2023 dan kuartal I-2024 mendatang.
Postingan Terkait
KETIKA PERAK TAK LAGI SEKADAR LOGAM
02 Feb 2026
Pemerintah akan Menjaga Laju Invetasi Asing
25 Jun 2025
Arus Modal Asing Bersiap Masuk
24 Jun 2025
Pasar Dalam Tekanan
23 Jun 2025
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023