Makanan dan Minuman
( 91 )INDUSTRI DAGING : Peluang Besar Lebarkan Pasar Domestik
Rendahnya konsumsi daging per kapita Indonesia membuka peluang bagi para pelaku industri nasional mengembangkan pasarnya di dalam negeri. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, pemerintah sedang berupaya untuk meningkatkan konsumsi protein hewani untuk menekan angka stunting dan gizi buruk. Hal tersebut bisa menjadi peluang yang bisa dimanfaatkan pelaku usaha untuk melebarkan pasarnya di Indonesia. Berdasarkan laporan OECD FAO, saat ini konsumsi daging sapi nasional sebesar 2,25 kilogram per kapita per tahun, sedangkan konsumsi daging ayam sebesar 8,37 kilogram per kapita per tahun. Angka tersebut termasuk rendah bila dibandingkan dengan Malaysia yang mencapai angka konsumsi daging sapi sebesar 5,72 kilogram per kapita per tahun, sedangkan daging ayam 50,48 kilogram per kapita per tahun. Industri pengolahan daging saat ini berjumlah 64 perusahaan, dengan nilai investasi Rp3,45 triliun, dan tenaga kerja sebanyak 25.839 orang. Kinerja ekspor produk olahan daging (HS 1601 dan 1602) pada 2023 sendiri tercatat mengalami peningkatan signifikan, mencapai 80% bila dibandingkan dengan 2019. Nilai ekspor pada 2023 mencapai US$3,5 juta.
PENETRASI MI INSTAN
Industri mi instan semakin berkembang mengikuti zaman.
Adaptasi terus mereka lakukan. Dari sisi produksi, produsen mengeluarkan varian
rasa yang semakin beragam untuk menyasar aneka ceruk pasar, termasuk membuat mi
yang lebih sehat. Di luar itu, mereka menggelar aneka aktivitas untuk menggaet
konsumen, termasuk untuk kalangan milenial atau generasi Z. Mi instan kini telah
berkembang menjadi makanan yang tidak hanya untuk dikonsumsi di rumah, tetapi juga
di warung makan, perjalanan, bahkan di tempat pertunjukan seperti konser musik.
BPS melaporkan, rata-rata pengeluaran masyarakat untuk komoditas mi instan meningkat
dalam beberapa tahun terakhir.
Pada 2018, pengeluaran mi instan Rp 1.887,68 per kapita per
minggu. Pada 2021, naik menjadi Rp 2.286,21 per kapita per minggu. Immanuel Rio
(28), warga Jakbar, mengatakan, saat ini, pilihan acara pertunjukan musik
semakin banyak menarik minat anak muda, mengonsumsi mi instan pun jadi solusi
praktis saat berada di tengah acara. Menurut Stefanny (23), warga Bekasi, Jabar,
menyaksikan konser musik semakin asyik jika dilakukan bersama teman-teman.
Menikmati jajanan makanan di konser, termasuk mi instan cup, juga menjadi
keseruan tersendiri. Sederet pertunjukan musik pada 2023, yang sebagian besar
ditonton anak-anak muda, menjadi pintu pengembangan pasar bagi sejumlah produk fast
moving consumer goods, termasuk mi instan.
Mie Sedaap, misalnya, menggelar perayaan 20 tahun pada
Desember 2023, dengan Come See Mie Fest 2023 yang menyasar anak muda. Selain
diramaikan pertunjukan musik, acara itu juga menyajikan produk-produk Mie Sedaap.
Marketing Manager Noodle Category Wings Group Indonesia Katria Arintya
Anindyantari mengatakan, pihaknya memang menyasar gen Z dalam pengembangan
pasar. ”Pasar gen X dan Y kami masih ada, tetapi kami ingin menggaet target
baru,termasuk dengan aktivitas-aktivitas yang serba digital, juga interaktif,” ujarnya.
(Yoga)
Bantuan Pangan Ringankan Beban Masyarakat Miskin
INDUSTRI MAKANAN & MINUMAN : Pengusaha Nyaman dengan Kepastian Bahan Baku
Kepastian pasokan bahan baku membuat industri makanan dan minuman nasional optimistis menjaga tren positif pertumbuhan kinerjanya pada tahun ini.Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman mengatakan, perizinan impor gula Kristal rafinasi yang terbit lebih cepat dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya bakal memberikan kepastian bahan baku bagi industri makanan dan minuman. Hal itu diyakini bakal berimbas positif terhadap kinerja sektor tersebut.
Gapmmi sendiri mematok target pertumbuhan kinerja sebesar 5%—7% sepanjang tahun ini. Angka tersebut sebenarnya tidak jauh berbeda dengan target pada tahun-tahun sebelumnya, karena pelaku industri masih berhati-hati dalam menjalankan usahanya.Di sisi lain, Kementerian Perindustrian telah mengalokasikan kuota impor gula rafi nasi sebanyak 3,45 juta ton pada tahun ini. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan dengan kuota pada tahun lalu yang sebesar 3,45 juta ton.Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian Putu Juli Ardika mengatakan, penurunan alokasi impor gula kristal rafinasi telah memperhitungkan kebutuhan dan cadangan yang dimiliki industri untuk bahan baku.
Data Asosiasi Gula Rafi nasi Indonesia sendiri menunjukkan bahwa kebutuhan rata-rata gula kristal rafinasi setiap bulan secara nasional sekitar 250.000—280.000 ton.
Cukai MBDK Dongkrak Harga Mamin
Anak Muda di Relung-relung Kafe
Anak muda menjadi pengisi relung kafe atau kedai kopi modern
yang menjamur satu dekade terakhir. Mereka yang dating sebagian besar berstatus
mahasiswa. Di sana mereka tenggelam untuk mengerjakan tugas atau sekadar
bercengkerama. Di salah satu meja di sebuah kafe di Menteng, Jakpus, Siti Aulya
Azzahra (21), mahasiswi Jurusan Administrasi Bisnis Otomotif, Politeknik
Sekolah Tinggi Manajemen Industri (STMI) Jakarta, asyik berdiskusi dengan
beberapa temannya. Siang itu, Aulya memilih mengerjakan tugas di kafe itu ketimbang
di rumah karena perlu suasana baru. ”Kalau di rumah, sedikit-sedikit dipanggil,
Aul... Aul..,” kata Aulya dengan nada ceria, Rabu (29/11). Ia merasa nyaman
mengerjakan tugas dan akan terus datang ke kafe atau kedai yang sama tanpa
merasa bosan apalagi suasananya relatif hening. Ia bisa di sana, tiga sampai
lima jam, jajanan kesukaannya adalah ice chocolate atau greentea yang manis.
Setiap datang ke kafe ia bisa memesan dua gelas minuman jenis itu dengan harga
per gelas Rp 30.000-Rp 40.000.
Ditambah dengan makanan pendamping, rata-rata ia merogoh kocek
Rp 100.000 per kedatangan. Ia sendiri kerap kaget begitu sadar uang yang ia
keluarkan cukup banyak setiap berkunjung ke kafe. Apalagi jika dibandingkan dengan
uang yang Aulya keluarkan untuk makan yang ”hanya” Rp 50.000 per hari. Tetapi, jika
diakumulasikan per bulan, uang yang ia keluarkan untuk mengerjakan tugas di
kafe itu tergolong kecil. Sebab ia hanya ke kafe 1-2 kali dalam seminggu. Kedai
kopi, kafe, dan kehidupan kini nyaris tak terpisahkan dengan keseharian anak
muda urban. Sebagai ruang mengerjakan tugas, diskusi atau sekadar tempat nongkrong,
kedai kopi atau kafe berhasil menyediakan suasana yang khas selaras dengan gaya
hidup masa kini. Bagi beberapa anak muda, kedekatan mereka dengan kafe atau kedai
kopi bahkan sudah menyentuh ranah emosi. Aulya mengatakan, ”Kisah-kisah yang
terjadi di coffee shop membuat perasaan menjadi hangat. Kisah tentang pertemanan,
ngedate dengan pasangan terbangun di sana.” (Yoga)
Tahun Pemilu, Tahun Indomie
Laju saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) berpeluang lebih moncer pada tahun depan. Ada sejumlah katalis positif yang bakal menopang kinerja produsen mi instan semiliar umat, Indomie, ini.
Salah satu daya dorong saham ICBP ke depan adalah tingkat konsumsi domestik yang meningkat di tengah sentimen pemilihan umum (pemilu). Harga komoditas yang menjadi bahan baku utama produk-produk ICBP juga tak setinggi tahun lalu. Alhasil, emiten Grup Salim ini diramal bisa menuai margin laba yang lebih baik tahun depan.
Analis NH Korindo Sekuritas, Cindy Alicia mengatakan, secara historis, konsumsi masyarakat saat pemilu lebih tinggi dari biasanya. "Potensi kenaikan konsumsi tersebut juga ditopang oleh inflasi domestik yang masih terjaga," ujar Cindy kepada KONTAN, Rabu (6/12).
Penjualan mi instan tercatat melaju 6,6% yoy menjadi Rp 38,1 triliun. EBIT margin segmen mi instan pada periode tersebut juga lebih tinggi, yakni sebesar 25,7% dibandingkan periode sama tahun 2022 yang sebesar 21,9%.
Sedangkan untuk tahun 2024 mendatang, analis BRI Danareksa Sekuritas, Natalia Sutanto memperkirakan, pendapatan ICBP akan tumbuh 7,9% yoy menjadi Rp 73,25 triliun. Pertumbuhan ini ditopang oleh kontribusi berimbang dari kenaikan volume penjualan sebesar 3,8% yoy dan penyesuaian
average selling price
(ASP) 4% yoy.
"Tumbuhnya volume penjualan juga didukung momentum pemilu, khususnya pada semester I-2024 dan perkembangan pasar ekspor pada semester II-2024," tutur Natalia dalam riset 9 November 2023.
Analis Sinarmas Sekuritas, Vita Lestari dalam riset 8 November 2023 mengatakan, kinerja ICBP pada sembilan bulan pertama 2023 sejalan dengan ekspektasi. Pertumbuhan volume penjualan khususnya segmen makanan ringan dan mi instan dapat menjadi tanda dimulainya aliran masuk dana dari kampanye pemilu. Sinarmas Sekuritas menaikkan proyeksi pendapatan ICBP tahun 2023 dan 2024. Target pendapatan ICBP dinaikkan 2,3% menjadi Rp 71,78 triliun dari Rp 70,16 triliun.
Lagi, Sinyal Cukai Plastik dan Minuman Manis
Pemerintah mengirim sinyal lagi untuk menerapkan kebijakan cukai plastik dan minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) pada tahun depan. Indikasinya, pemerintah kembali memasang target penerimaan dari dua objek cukai tersebut.
Dalam Peraturan Presiden (Perpres) No. 76/2023 tentang Rincian APBN 2024, pemerintah membidik penerimaan cukai pada tahun depan mencapai Rp 246,1 triliun. Angka tersebut meningkat 8,3% dibandingkan
outlook
2023 yang sebesar Rp 227,2 triliun. Dari angka itu, penerimaan cukai plastik ditargetkan senilai Rp 1,85 triliun. Adapun penerimaan cukai MBDK dibidik sebesar Rp 4,39 triliun. Dus, total keduanya mencapai Rp 6,24 triliun. Sebenarnya, target penerimaan cukai plastik dan MBDK 2024 bukan kali pertama masuk dalam APBN. Melainkan sejak APBN tahun 2016 silam.
Sayangnya, Direktur Komunikasi dan Bimbingan Penggunaan Barang dan Jasa Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea dan Cukai Kementerian Keuangan Nirwala Dwi Heryanto belum bisa memastikan apakah cukai plastik dan MBDK akan diterapkan mulai 2024. Sebab, "Aturan turunan cukai plastik dan MBDK harus ditetapkan berdasarkan peraturan pemerintah (PP), dan sampai saat ini PP terkait pengaturan tersebut masih dalam proses penyusunan," terang Nirwala, Kamis (30/1).
Sebelumnya, Direktur Jenderal (Dirjen) Bea dan Cukai Kemkeu Askolani mengatakan, implementasi cukai plastik dan MBDK masih disiapkan oleh pemerintah. Tak lupa, pihaknya juga masih mengkaji kebijakan tersebut dengan berbagai pihak terkait. Selain itu, pemerintah masih akan terus mengikuti perkembangan ekonomi nasional dan global pada tahun depan sebelum menerapkan dua objek cukai tersebut.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, penerapan cukai plastik dan MBDK menjadi kebijakan strategis jika Indonesia mau lebih serius membangun ekonomi berkelanjutan. Di satu sisi, kebijakan ini akan memberikan konsekuensi bagi industri terkait.
Ketua Badan Anggaran DPR Said Abdullah memaklumi rencana perluasan objek cukai sempat tertunda lantaran pemerintah masih mempertimbangkan kondisi ekonomi dan masyarakat menengah ke bawah yang belum pulih.
CUAN DARI BISNIS KULINER DI KOTA MEDAN
Budaya kuliner masyarakat urban di Kota Medan menjadi
peluang bisnis bagi orang-orang yang jeli. Usaha makanan dan minuman menjamur
di mana-mana di kota ini, mulai dari mi balap, lontong, kedai kopi, hingga
warung teh susu telur. Hari masih gelap, Irsan Lubis (40) sibuk memasak mi balap
di Jalan Willem Iskandar, Medan, Sumu, Rabu (8/11) pukul 05.00. Ia buka lebih awal
menyasar pedagang di Pasar Raya MMTC. ”Harus pandai-pandai cari celah agar
usaha bisa jalan. Persaingan usaha kuliner di Medan itu sangat ketat,” kata
Irsan. Sudah lebih dari tiga tahun Irsan jualan mi balap. Dia berjualan di
Jalan Willem Iskandar, atau Jalan Pancing, karena di sana banyak pekerja,
mahasiswa, dan pedagang pasar. Tak kurang dari 15 pedagang mi balap berjejer di
3 kilometer Jalan Willem Iskandar, rasanya juga enak-enak. Tapi, Irsan optimistis
bisa bersaing. Dia berfokus untuk menang di rasa. Setelah mencoba beberapa
resep dan melakukan perbaikan-perbaikan, dia menemukan resep memasak yang lebih
pas dilidah dan di kantong masyarakat urban Medan. Tiga tahun membuka usaha, dagangan
Irsan kian diminati. Dalam sehari, tidak kurang dari enam baskom besar mi ludes
dia jual. Menu paling laris adalah mi balap standar. Beberapa memilih tambahan
telur dadar dengan tambahan harga Rp 3.000.
Target pasar dan kawasan memang sangat menentukan menu dan
harga mi balap. Mi balap seafood justru jadi favorit di warung Mi Balap Mail di
Jalan Gunung Krakatau. Maklum, targetnya masyarakat kelas menengah. Warung itu
berada di kawasan pusat bisnis. ”Salah satu menu favorit di warung kami ini
adalah mi balap seafood, tetapi soal harga kami sebenarnya tetap bersaing,”
kata Edu Gunanda (26), juru masak Mi Balap Mail. Mi Balap Mail adalah yang
paling laris di Medan. Dua juru masaknya tak henti-henti memasak mi balap dari
pagi sampai siang. Satu kuali besar mi bisa ludes dalam sekejap dan langsung lanjut
memasak mi lagi. Sekali memasak bisa sampai 16 porsi. ”Salah satu keunggulan
kami adalah telurnya yang banyak. Untuk sekali masak 16 porsi, kami buat hampir
40 butir telur. Jadi, satu porsi itu lebih dari dua butir telur orak-arik,”
kata Edu. Satu porsi mi balap standar dijual Rp 10.000. Sementara mi balap sea food
dijual Rp 22.000 per porsi. Namun, udang dan potongan cuminya terbilang banyak
untuk ukuran harga itu. Antropolog Universitas Negeri Medan, Erond Litno Damanik,
mengatakan, usaha kuliner memang tak pernah mati di tengah masyarakat Kota
Medan. Kuliner berkembang sesuai budaya dan kondisi sosiologis masyarakat kota.
(Yoga)
Cukai 20 Persen Baru Bisa Efektif
Penerapan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan dinilai efektif dalam menurunkan konsumsi masyarakat akan minuman berpemanis gula. Hal itu sekaligus juga dapat mendorong industri untuk melakukan reformulasi produk minuman menjadi rendah atau tanpa gula. Health Economics Research Associate Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI) Zulfiqar Firdaus di Jakarta, Kamis (14/9) mengatakan, keputusan pemerintah untuk menerapkan cukai pada minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK) diharapkan tidak lagi ditunda pada 2024. Penerapan cukai diperlukan untuk menekan konsumsi pada minuman berpemanis gula yang dapat berisiko pada berbagai penyakit tidak menular.
”Cukai untuk produk MBDK perlu diterapkan setidaknya minimal 20 %. Dengan besaran cukai itu, bisa berpotensi menurunkan konsumsi masyarakat hingga 17,5 %,” tuturnya. MBDK adalah semua produk minuman berpemanis dalam kemasan, baik dalam bentuk cair, konsentrat, maupun bubuk. Contohnya, susu cair pabrikan dalam kemasan, kental manis, sirop, kopi instan dalam kemasan, minuman teh, minuman bersoda, sari buah dalam kemasan, dan minuman berenergi dalam kemasan. Zulfiqar menyampaikan, studi CISDI menunjukkan, dengan penerapan cukai 20 % untuk produk MBDK, tingkat konsumsi masyarakat yang paling banyak mengalami penurunan permintaan adalah pada kelompok rumah tangga dengan tingkat pendapatan terendah. Penurunan permintaan bisa sampai 17,9 %. (Yoga)
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









