Internasional
( 1369 )EKONOMI KREATIF Raih Prospek dengan Meretas Sandungan
Tak terbantahkan, ekonomi kreatif menjanjikan perputaran
ekonomi yang menggiurkan. Banyak orang rela merogoh kocek lebih untuk menikmati
beragam karya produk kreatif. Konser Taylor Swift, misalnya, pergelaran musik
diva itu mampu menggerakkan ekonomi negara. Keberadaannya bahkan diperebutkan berbagai
negara di Asia Tenggara. Namun, Singapura sukses memasang strategi untuk
menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang berhasil menghelat The Eras
Tour yang diusung Swift pada Maret ini. Setelah perburuan tiket konser, beragam
hotel, maskapai, dan operator agen perjalanan mengalami ledakan pesanan ke
Singapura pada Maret 2024. Harga akomodasi dan tiket naik berlipat. Sebab, para
penikmat konser bukan hanya warga Singapura, melainkan datang dari beragam
negara tetangga, antara lain Indonesia, Filipina, dan Malaysia. Gegap gempita
konser ini hanyalah satu dari sederet subsektor ekonomi kreatif (ekraf).
Dalam laporan Statistik Ekonomi Kreatif 2020 yang dirilis Kemenparekraf,
ekraf merupakan upaya menciptakan nilai tambah berbasis ide dari kreativitas SDM
dan ilmu pengetahuan. Hal ini tak terlepas dari warisan budaya dan teknologi. Setidaknya
terdapat 17 subsektor ekraf, yang meliputi aplikasi, arsitektur, desain
komunikasi visual, desain produk, desain interior, fotografi, musik, kriya,
kuliner, fashion, penerbitan film, animasi, dan video, periklanan, permainan
interaktif, seni pertunjukan, seni rupa, serta televisi dan radio. Data 2019
menunjukkan, ekraf mampu menyerap 19,2 juta orang, setara 15,2 % tenaga kerja
nasional. Tren ini tumbuh positif saban tahun sejak 2011. Kontribusinya
terhadap PDB mencapai Rp 1.153,4 triliun.
Menurut praktisi budaya, pariwisata, dan ekraf, Harry Waluyo,
ekosistem ekraf belum terbentuk di Indonesia. Para pelaku dalam ekosistem pun
masih belum memahami pasar. ”Para seniman, creator, kurang dapat suatu peluang,
dalam pengertian perlindungan hak atas kekayaan intelektual (HAKI), (dan)
dukungan kemudahan mendapat pembiayaan. Kendala-kendala ini sudah lama kami
rasakan,” ujarnya. Harapannya, para pelaku ekraf bisa memahami bahwa dalam
industri ekraf, ekspor tak melulu berupa barang. Nilai dan kualitas, selain harga
dan pelayanan, jadi aspek penting. Isu pengembangan ekraf juga perlu intervensi
pemerintah. Pendanaan dan dukungan lain perlu diupayakan. Sebab, persaingan
saat ini ditentukan pula dari produk, kualitas, dan harga. (Yoga)
Biaya Perekrutan Baru ”Start Up” di ASEAN Dikurangi
Sebanyak 41 % perusahaan rintisan bidang teknologi digital
atau start up di Asia Tenggara menurunkan anggaran perekrutan karyawan baru
sepanjang 2023, karena akses terhadap pendanaan ke investor yang kian
berkurang. Situasi itu terungkap dalam laporan riset ”Southeast Asia Startup
Talent Trends Report 2024”. Laporan riset yang juga laporan tahunan Glints dan
Monk’s Hill Ventures edisi tahun 2024 ini dirilis resmi pekan lalu. Meski
anggaran perekrutan baru menurun, 78 % start up di Asia Tenggara masih berupaya
merekrut tenaga profesional yang mampu mendukung perusahaan berekspansi dan
berinovasi. Hanya 19 % start up menyatakan tidak ada perekrutan baru dan 3 %
yang menyatakan tidak yakin akan membuka lowongan pekerjaan baru.
Laporan riset Southeast Asia Startup Talent Trends Report 2024
menganalisis lebih dari 10.000 data lowongan pekerjaan start up di Singapura,
Indonesia, dan Vietnam, serta wawancara kepada lebih dari 70 start up di
wilayah tersebut. Menurut laporan itu, gaji pekerja start up di Asia Tenggara
yang bekerja di bidang pengembangan bisnis dan penjualan telah meningkat 20 %.
Ini mencerminkan kebutuhan mendesak start up untuk menghasilkan uang di tengah
kondisi pendanaan yang semakin sulit. Sementara bidang pekerjaan teknisi pada
start up di Asia Tenggara mengalami penurunan gaji terbesar yang dipengaruhi PHK
dan pemotongan biaya. Situasi ini menyebabkan meningkatnya pasokan talenta teknologi
di pasar sehingga memberikan tekanan pada gaji. Gaji untuk insinyur turun 2 %
pada 2023 dan posisi insinyur yunior turun paling tajam, yakni 6 %. (Yoga)
WNI Terus Dikirim ke Kamboja sebagai Penipu Daring
Jaringan perdagangan orang terus merekrut anak muda warga
negara Indonesia untuk dipekerjakan dalam sindikat penipuan daring (online
scamming) dan judi daring. Mereka umumnya diiming-imingi bekerja di bidang lain
dengan gaji tinggi. Kenyataannya, mereka dikirim ke Kamboja dan negara-negara
lainnya yang menjadi tempat beroperasinya sindikat tersebut. Anak-anak muda ini
juga ditugaskan menguras uang milik WNI. Setiap hari mereka bekerja dengan jam
kerja yang panjang. Sebagian besar tanpa digaji dan malah dijerat dengan utang
oleh sindikat yang mempekerjakan mereka. Dengan begitu, mereka susah untuk ber-
henti dan pulang ke Indonesia. ”Saya ditawari bekerja di perusahaan saham yang
katanya perusahaannya ada izin. Ternyata saya dikirim ke Kamboja, bekerja
menipu orang Indonesia. Di sini kerja mulai pukul 09.00 sampai pukul 23.00.
Saya ingin pulang,” ujar ATK (30), salah seorang korban yang bekerja di Kamboja
dalam percakapan telepon dengan Kompas, Senin (4/3).
Perempuan lulusan SMA kelahiran Sultra itu mengakui tertarik
bekerja di luar negeri dengan gaji 700 USD per bulan lantaran diajak temannya. ATK
dan teman-temannya dikirim ke Kamboja dan tinggal di mes yang berisi puluhan
anak muda Indonesia. Ia dipekerjakan di sebuah perusahaan yang menipu orang-orang
Indonesia, dengan membuat akun Telegram menggunakan data dan wajah orang lain.
Mereka kemudian menghubungi orang Indonesia. ”Jadi kami harus mencari member di
Facebook, Instagram, atau di mana saja ada orang kaya atau berduit. Lalu merayu
mereka agar percaya kepada kami, lalu kami ajak main kripto,” kata ATK. ATK
tidak menerima gaji. Sebaliknya, dia memiliki utang kepada perusahaan sekitar
2.300 USD yang bertambah menjadi 2.500 USD karena beberapa kali sakit. ATK akhirnya
melaporkan kasusnya kepada Kementerian Luar Negeri RI secara daring.
Menurut ATK, saat ini ada banyak anak muda Indonesia bekerja
di berbagai perusahaan di Kamboja. ”Jangan pernah percaya dengan ajakan kerja
di luar negeri. Itu bohong semua,” pesan ATK.Direktur Perlindungan WNI Kemenlu
Judha Nugraha menyatakan, pihaknya telah menerima laporan ATK dan berkoordinasi
dengan KBRI di Kamboja untuk menangani kasus terbut. ”KBRI di Phnom Penh segera
berkoordinasi dengan otoritas setempat. Lokasi tempat kerja ATK sudah
diketahui, dua jam perjalanan darat dari Phnom Penh,” Judha. Sejak 2020-2023,
Kemenlu telah menangani dan menyelesaikan 3.400 kasus terkait online scamming
yang menimpa WNI di delapan negara dan 1.748 orang di antaranya berada di
Kamboja. ”Ini menjadi keprihatinan kita, berbagai upaya kita lakukan, keberangkatan
ke Kamboja masih terus terjadi terutama terkait online scam dan judi online,”
kata Judha. (Yoga)
Demi Taylor Swift ”Ngutang” Pun Dijabani
Swifties adalah salah satu fandom artis terbesar di
muka Bumi. The Eras Tour akhirnya membuka kesempatan penggemar Taylor Swift,
termasuk Swifties Indonesia, untuk bertemu idola. Hati girang tak terkira,
persiapan juga polpolan. ”Ini pertemuan pertama kami untuk membahas persiapan
konser karena kami beda-beda tempat tinggal,” kata Anggun Mrz (24) lewat Zoom
di sebuah restoran di Plaza Indonesia, Jakarta, Rabu (28/2). Anggun, Melati
Suci (27), Alya Dina (25), dan Ayu Ihsana (25) berkumpul di sana pukul 19.00
seusai kerja. Mereka akan menonton konser pada 9 Maret, hari terakhir konser
Taylor Swift di National Stadium, Singapura. Penyanyi asal AS itu menggelar
konser enam hari, 2-4 Maret dan 7-9 Maret 2024, sebagai rangkaian The Eras
Tour. Demi menyaksikan ”Mbak TayTay”, sebutan sayang untuk Swift, Anggun,
Melati, Alya, dan Ayu telah ikut ”berperang” mencari tiket Juli tahun lalu.
Sialnya, mereka gagal. Ketika promotor mengumumkan perilisan
tiket tambahan Januari 2024, Alya berburu melalui penyedia jasa titipan
(jastip) di X alias Twitter. Jika harga tiket yang mereka incar Rp 1 juta per
orang, Alya dan teman-teman membayar Rp 2,5 juta. Harga ini, menurut Anggun,
masih masuk akal karena banyak jastip yang menaikkan harga sampai Rp 6 jutaan
untuk kategori yang sama. Kalau dihitung-hitung, Anggun, Melati, Alya, dan Ayu
mengeluarkan uang Rp 10 juta per orang. Dana ini sudah termasuk tiket konser, transportasi
seperti pesawat, penginapan, dan uang jajan. JordyPrayoga (27), karyawan swasta
di Jakarta, pun rela harus keluar uang dalam jumlah besar demi bisa melihat
langsung penyanyi pujaannya. Ia berpikir, sekarang harus nonton karena belum
tentu di konser lain waktu ia bisa.
Lagi pula, lagu karya Swift kini sudah lengkap, punya
bermacam genre, mulai dari country-pop hingga menjelajah ke rock, synthpop,
hiphop, dan sentuhan R&B. Jordy mengawali perjuangannya bertemu Swift
dengan berburu tiket pada Juni 2023. Ia mendapat tiket VIP seharga Rp 6 juta.
Saat memesan tiket, Jordy kaget, harga tiket pesawat sudah meroket. Mau tak
mau, ia harus membeli dengan harga Rp 4 juta pergi-pulang. Begitu pula tarif
hotel yang naik 100 %. Jordy tak punya pilihan, harus sewa penginapan Rp 2 juta
untuk dua malam. Total pengeluarannya demi Mbak TayTay mencapai Rp 12 juta, belum
termasuk uang makan selama di Singapura dan transportasi. ”Untung uang tiket
bisa kuangsur tanpa bunga dengan kartu kredit. Uang tiket dan hotel juga gitu.
Hampir setahun aku alokasikan gajiku untuk nyicil. Sekarang sudah lunas,”
jelasnya lega. (Yoga)
Warga Palestina Terpaksa Konsumsi Pakan Ternak
Bencana kelaparan menyiksa warga Palestina di Jalur Gaza.
Kepungan militer Israel membuat truk-truk pengangkut bantuan sosial yang menyeberang
dari Mesir lamban datang. Tiadanya bantuan makanan membuat warga Palestina
terpaksa mengonsumsi pakan ternak untuk bertahan hidup. Namun, setelah
berhari-hari bertahan hidup dengan mengonsumsi pakan ternak, kini pilihan itu
pun menipis. Abu Qussay Abu Nasser, warga Gaza, terpaksa mencari-cari tanaman panirak
(Malva sylvestris) yang biasanya tumbuh liar di padang rumput ataupun di pinggir
jalan. Tanaman berbunga ungu ini aman diolah untuk makan meskipun selama ini
masyarakat tidak menganggapnya sebagai sumber pangan.
”Panirak sekarang sudah jarang sekali. Banyak orang
memetiknya saking tidak ada makanan,” kataAbu Nasser kepada kantor berita
Turki, Anadolu, Jumat (1/3). Panirak bukan pilihan pertama Abu Nasser.
Sebelumnya, ia pergi ke pasar di Jabaliyya untuk mencari jagung kering dan
jelai sisa. Biasanya, biji-bijian ini dipakai untuk pakan ternak. Ketika tiba
di pasar, pakan ternak sekalipun sudah habis terjual. Di beberapa wilayah,
warga mengeluhkan harga pakan ternak yang melejit. Satu karung 3 kg dibanderol
dengan harga 60-80 shekel atau Rp 3 juta. Padahal, warga Gaza sudah serba
kekurangan sejak Israel melakukan invasi per Oktober 2023. ”Kemarin, kami sekeluarga
masing-masing hanya memakan sebutir kurma. Saya harus mencari makanan,
anak-anak menangis kelaparan,” kata Abu Nasser.
Data Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (UNOCHA)
memperlihatkan, sedikitnya 576.000 warga Gaza, seperempat dari total populasi
di enklave tersebut, tinggal satu tahap masuk kategori kelaparan. Sejumlah
tenaga medis menuturkan, banyak pasien anak di rumah-rumah sakit sekarat dan
meninggal akibat malanutrisi dan dehidrasi. Bantuan untuk warga Gaza pun lamban
bergulir. ”Segala sistem layanan masyarakat di Gaza sudah ambruk,” kata Jubir
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Christian Lindmeier. Ia menjelaskan, anak-anak
berumur 6-59 bulan menderita kelaparan akut. Angka kelaparan mereka 16,2 %.
Padahal, WHO menetapkan ambang batas bahaya kelaparan tertinggi di dunia adalah
15 %. (Yoga)
Menjemput Bantuan Berujung Kematian
Ruth Gottesman ”Malaikat” bagi Banyak Mahasiswa
Pekan ini, sivitas akademika Fakultas Kedokteran Albert
Einstein Universitas Yeshiva, New York, AS, dikejutkan kabar gembira. Mereka
mendapat sumbangan 1 miliar USD sehingga semua mahasiswa bisa kuliah gratis.
Bahkan, uang itu juga dapat dipakai untuk membiayai mahasiswa baru di
tahun-tahun mendatang. Penyumbangnya datang dari lingkungan kampus itu sendiri,
yaitu Ruth Gottesman, pensiunan dosen Fakultas Kedokteran Albert Einstein
(AECOM) yang kini mengabdi di dewan pembina yayasan. Uang yang ia sedekahkan adalah
warisan suaminya, David Gottesman, salah satu investor di firma Berkshire Hathaway
sekaligus mitra kerja miliarder Warren Buffett, yang meninggal pada 2022 dalam
usia 96 tahun. Sebelum berpulang, David berkata kepada istrinya untuk menggunakan
harta warisan sesukanya.
Gottesman sendiri tidak menyangka warisan suaminya sebesar
itu. Mereka memang hidup berkecukupan, tetapi tidak mewah. Ia pun memutuskan menyumbangkan
warisan itu kepada AECOM. Apalagi, ketiga anak pasangan Gottesman sudah dewasa
dan memiliki karier masing-masing. ”Hal yang langsung tebersit di pikiran saya
adalah para mahasiswa di AECOM dan berbagai persoalan keuangan mereka sehingga
kesusahan membiayai kuliah,” tutur Gottesman, dikutip oleh surat kabar lokal
Baltimore Sun edisi 27 Februari 2024. Menurut keterangan pers AECOM, biaya
kuliah di kampus itu adalah 60.000 USD per tahun. Umumnya, alumni fakultas kedokteran itu harus
menanggung utang pinjaman kuliah 200.000 USD yang memberatkan mereka dalam
mencari pekerjaan dan kesejahteraan. Beban itu harus dicicil selama
bertahun-tahun bekerja sehingga para dokter dan tenaga kesehatan tidak bisa menabung.
Kepada surat kabar The New York Times edisi 26 Februari 2024,
Gottesman menjelaskan pentingnya sumbangan itu. Berada di Bronx, distrik
termiskin New York, AECOM dikelilingi oleh kelompok rentan. Di samping miskin,
warga sekitar mayoritas berasal dari kelompok etnis minoritas. Akan tetapi, ada
banyak anak pintar berasal dari Bronx. ”Mereka memiliki kemampuan otak dan
karakter yang layak untuk menjadi dokter. Satu-satunya masalah yang merintangi
adalah biaya. Kita harus menanggulanginya karena kita membutuhkan dokter dari
berbagai latar belakang etnis dan agama guna memperkaya layanan kesehatan di
negara ini,” ujarnya. Gottesman yang menolak program beasiswa atau gedung dengan
nama dia ataupun suaminya adalah “Malaikat” bai banyak mahasiswa yang terbantu
oleh kedermawanannya. (Yoga)
Puluhan Triliun Pesona Taylor Swif
Pada 2-4 Maret 2024, konser bintang dunia Taylor Swift
digelar di Stadion Nasional Singapura. Konser bertajuk The Eras Tour ini
berlanjut di sana pada 7-9 Maret 2024. Tiket satu-satunya konser Swift di Asia
Tenggara ini diburu sejak pertengahan 2023. Tiket bahkan ludes terjual dalam
beberapa jam lewat ”pertempuran sengit”. Harganya mulai dari 88 dollar
Singapura hingga 1.228 dollar Singapura, setara Rp 1 juta hingga Rp 14,4 juta
dengan kurs Rp 11.703 per dollar Singapura. Tiket hanya salah satu aspek penggerak
ekonomi yang menimbulkan efek pengganda. Aspek lain, sebagian besar penonton
berpikir untuk tampil berbeda. Pernak-pernik dan pakaian demi tampil cantik saat
menonton konser pun dipilih penuh pertimbangan.
”Sayang jika hanya berpakaian biasa karena bakal foto.
Akhirnya, aku cari baju karena Taylor Swift identik dengan sesuatu yang blink-blink
(bekerlip),” ujar Lourentia Kinkin, di Jakarta, Kamis (29/2). Swifties alias
penggemar Swift dalam konser biasanya berpakaian sesuai tema yang dipilih dari 10
era yang diwakili setiap album Swift, mulai album debut Taylor Swift (2006)
hingga Midnights (2022). Kinkin, tak hanya belanja baju, tas, dan aksesori. Ia
juga berencana menghias kuku untuk merepresentasikan 10 album Swift. Kuku
setiap jari memiliki warna berbeda dengan anggaran Rp 200.000. Ia juga membeli
stiker wajah Rp 12.000. Kinkin juga akan berpartisipasi dalam friendship
bracelet, tradisi Swifties di seluruh dunia yang menyepakati membuat gelang
persahabatan yang ditukarkan saat konser berlangsung, dengan anggaran Rp 60.000.
Konser Taylor Swift tak hanya memberi suguhan musik, tetapi
juga memberi wadah bagi pemburu cendera mata (merchandise), seperti kaus, jaket
bertudung (hoodie), gelang, tas, dan poster. Nominalnya pubervariasi,
bergantung pada jenis barang. Antrean para pemburu itu mengular. Tak heran,
dari The Eras Tour sepanjang 2023, Swift menghasilkan 200 juta USD atau Rp 3,1
triliun dengan kurs Rp 15.673 per USD hanya dari penjualan suvenir. Dari
penjualan tiket, penyanyi itu mengantongi 1,04 miliar USD atau Rp 16,3 triliun.
Angka ini memecahkan rekor sebagai tur pertama yang mengantongi lebih dari 1
miliar USD, seperti dikutip Forbes.
Mengutip The Straits Times, tepat setelah tiket konser Swift habis
terjual, beragam hotel, maskapai, dan operator agen perjalanan mengantisipasi
ledakan perjalanan ke Singapura pada Maret 2024. Harga pun terkerek naik
seiring melonjaknya jumlah pesanan. Kepala pemasaran dan komersial Pan Pacific
Hotels Group Cinn Tan mengatakan, pesanan kamar Hotel Parkroyal Collection
Pickering naik 200 % pada periode 2-9 Maret 2024. Mayoritas pesanan berasal
dari Australia, Indonesia, Taiwan, dan Korsel. Kenaikan pencarian akomodasi di
Singapura juga naik hingga 160 kali di platform perjalanan digital Agoda.
Kenaikan terutama dari negaranegara sekitar Singapura, di- dominasi warga
Filipina. (Yoga)
Pajak Konglomerat untuk Atasi Isu Iklim
Pemerintah negara-negara anggota G20 akhirnya sepakat
menjajaki peluang penerapan pajak minimum para konglomerat. Pajak global itu
akan menyasar orang-orang dengan kekayaan setidaknya senilai Rp 15 triliun. Hasil
pajak, antara lain, dipakai untuk mendanai mitigasi dampak perubahan iklim. Kesepakatan
informal itu tercapai dalam pertemuan para menteri keuangan dan gubernur bank
sentral anggota G20. Pertemuan itu berakhir pada Kamis (29/2) sore di Sao Paulo,
Brasil, atau Jumat dini hari WIB. Kesepakatan disebut informal karena isu itu
tidak dimasukkan dalam pernyataan akhir pertemuan. Menkeu Brasil Fernando
Haddad menyebut, pajak global akan mengatasi penghindaran pajak para
konglomerat. Menkeu Perancis Bruno Le Maire mendukung usulan Brasil dan berkomitmen
akan menjadi yang terdepan. Sasaran kebijakan itu adalah orang-orang dengan
kekayaan sedikitnya 1 miliar USD atau Rp 15 triliun.
Mengacu pada berbagai data, seperti dari Bloomberg dan
Forbes, setidaknya ada 2.500 orang dengan kekayaan Rp 15 triliun, bahkan sebagian
malah punya kekayaan lebih dari Rp 15.000 triliun. Haddad mengatakan, konglomerat
perlu dipastikan membayar pajak secara adil. Dana pajak mereka, antara lain,
untuk mengurangi kesenjangan. ”Kita bisa memperoleh pendapatan tambahan yang
sangat besar hanya dengan tarif pajak yang sedikit lebih tinggi bagi warga
superkaya,” ujarnya. Kepala Program Pembangunan PBB Achim Steiner menilai, Brasil
bisa disebut sukses sebagai ketua bergilir G20. Sebab, Brasil menjadikan
kesenjangan dan pajak minimum konglomerat sebagai target. Isu itu akan dibawa
ke KTT G20. Menurut Pemantau Pajak Uni Eropa, lembaga kajian di Perancis, pajak
konglomerat berbeda dari pajak penghasilan pada umumnya.
Kini, orang-orang superkaya mudah menghindari pajak
penghasilan dan pajak warisan. Ekonom Perancis, Gabriel Zucman,
merekomendasikan tarif minimum 2 %per tahun. Dengan kata lain, setiap orang
superkaya direkomendasikan membayar pajak sedikitnya 20 juta USD atau Rp 300
miliar. ”Fakta para miliarder ini membayar pajak dalam jumlah yang sangat
sedikit,” katanya. Ia menaksir, total kekayaan para konglomerat setara 13 triliun
USD. Jika pajak minimum global diterapkan, setiap tahun ada tambahan 260 miliar
USD pada pendapatan pemerintah. Sebagai pembanding, sejumlah negara berkembang
butuh 500 miliar USD untuk mendanai mitigasi dampak perubahan iklim. ”Kita bisa
mendapatkan setengah dari jumlah itu hanya dengan pajak minimum para
miliarder,” kata Zucman. (Yoga)
Ambisi Semikonduktor AS Terhambat Faktor Internal
Sudah 2,5 tahun AS mengumumkan ambisi mengembalikan posisi di
pasar semikonduktor global. Aneka hambatan domestik merintangi ambisi itu. Pada
Senin (26/2) di New York, Mendag AS Gina Raimondo mengungkap salah satu
rintangan itu. Perundingan dengan produsen semikonduktor berlangsung keras.
”Perundingan keras kami dan setiap perusahaan akan membuat setiap perusahaan
menghasilkan lebih banyak untuk ekonomi dan keamanan nasional dengan lebih
sedikit uang pajak,” ujarnya dalam forum di Centre for Strategic and
International Studies (CSIS) di New York. Departemen Perdagangan AS sedang
memilah proyek-proyek yang ditargetkan mulai memasarkan produk pada 2030.
Proyek dengan rencana kerja lebih panjang akan diurus belakangan. ”Amat rumit.
Jenis fasilitas yang diusulkan Samsung, TSMC, dan Intel di AS adalah generasi
baru, tidak pernah terjadi di negara ini,” ujarnya.
Pokok perundingan, antara lain, soal subsidi pembangunan
pabrik baru. Sejumlah produsen utama meminta total 70 miliar USD. Padahal,
Washington awalnya hanya mengalokasikan 39 miliar USD. Insentif bagian dari
pelaksanaan undang-undang yang dikenal sebagai CHIPS and Science Act. UU
mengesahkan subsidi hingga 280 miliar USD untuk riset dan produksi
semikonduktor di AS. Bentuk insentif bisa jaminan kredit hingga 35 % total
potensi kerugian, pinjaman pemerintah, hingga subsidi uang tunai. Departemen
Perdagangan AS mencatat, ada 600 perusahaan dan lembaga riset mengajukan
proposal pendanaan. Selain itu, berbagai perusahaan menjanjikan investasi total
235 miliar USD, seperti TSMC dan Micron.
TSMC menjanjikan investasi 38 miliar USD untuk pengembangan
produksi di AS. Micron yang merupakan perusahaan AS menjanjikan investasi
hingga 100 miliar USD. Para petinggi berbagai produsen semikonduktor mengaitkan
realisasi investasi itu dengan insentif dari Pemerintah AS. Pada Januari 2024,
CEO TSMC Mark Liu mengaku pembangunan pabrik baru tertunda sampai 2027, karena
TSMC masih berunding dengan Pemerintah AS soal nilai subsidi untuk pabrik baru
TSMC. TSMC dan berbagai produsen lain juga masih menunggu panduan insentif
pajak dari departemen keuangan. Hingga kini, Depkeu AS tak kunjung menerbitkan
petunjuk teknis yang dinanti sejak 2023. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Hotel-Hotel yang Pantang Menyerah
17 May 2020 -
Sektor Keuangan Stabil
17 May 2020 -
Pemerintah Evaluasi Pembukaan Pusat Belanja
13 May 2020 -
Tokopedia Selidiki Kebocoran Data Pengguna
10 May 2020









