;
Tags

Syariah

( 126 )

Arah Konsolidasi Menuju Raksasa Syariah Baru

HR1 07 Jun 2025 Kontan

Unit Usaha Syariah (UUS) Bank Tabungan Negara Tbk (BTN), yaitu BTN Syariah, akan segera naik kelas menjadi bank umum syariah penuh melalui proses spin off yang ditargetkan rampung Oktober–November 2025. Hal ini dimungkinkan setelah BTN resmi mengakuisisi Bank Victoria Syariah (BVIS) yang akan menjadi cangkang entitas barunya.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menjelaskan bahwa BTN akan mengalokasikan dana sekitar Rp 3,5–4 triliun, serta menambah dana dari pembelian BVIS senilai Rp 1,5 triliun, dan akan melakukan rights issue senilai Rp 1 triliun pada September 2025 untuk memperkuat modal BTN Syariah. Setelah menjadi bank umum syariah, BTN Syariah ditargetkan masuk Kelompok Bank Modal Inti (KBMI) II dengan modal sekitar Rp 6 triliun dan rasio kecukupan modal (CAR) 18–19%, guna mendukung ekspansi agresif ke depannya.

BTN Syariah akan memfokuskan bisnisnya pada segmen ritel dan properti, dengan ambisi menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia dalam dua tahun mendatang, setelah Bank Syariah Indonesia (BSI) yang memiliki aset Rp 401 triliun per Maret 2025.

Ekonom Segara Research Institute, Piter Abdullah, menilai BTN Syariah sebaiknya tidak bersaing langsung dengan BSI, melainkan fokus pada ceruk pembiayaan perumahan. Ia menekankan bahwa selama masing-masing bank memiliki fokus pasar yang berbeda, keduanya akan sama-sama berkembang.

SVP LPPI Trioksa Siahaan juga melihat potensi pertumbuhan BTN Syariah sangat besar mengingat pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih kecil. Ia mendorong BTN Syariah untuk memperkuat produk dan layanan agar mampu menarik lebih banyak nasabah baru.

Transformasi BTN Syariah menjadi bank umum syariah penuh merupakan langkah strategis yang didukung kuat oleh manajemen dan regulator. Dengan modal yang solid, fokus segmen yang jelas, serta prospek pertumbuhan pasar syariah yang luas, BTN Syariah berpeluang besar menjadi pemain utama di industri perbankan syariah Indonesia. Tokoh sentral dalam transformasi ini adalah Nixon LP Napitupulu, yang memimpin langsung proses akuisisi dan permodalan.

Keuangan Syariah Didorong Jadi Motor Ekonomi

HR1 07 Jun 2025 Bisnis Indonesia (H)

Proses pemisahan unit usaha syariah (UUS) menjadi bank umum syariah (BUS) menunjukkan progres positif yang diprediksi mampu menghidupkan kembali dinamika industri perbankan syariah nasional yang selama ini stagnan. Tokoh-tokoh utama dalam transformasi ini antara lain Sutan Emir Hidayat dari KNEKS, Trioksa Siahaan dari LPPI, Nixon LP Napitupulu selaku Direktur Utama BTN, serta Dian Ediana Rae dari OJK.

Sutan Emir Hidayat menekankan bahwa spin off UUS akan memberi kemandirian strategis bagi bank syariah, memungkinkan mereka menjalankan misi sesuai prinsip syariah tanpa bergantung pada bank induk. Ia juga melihat potensi pengembangan bisnis syariah yang luas, termasuk sektor perumahan, pendidikan, hingga ekosistem haji dan umrah.

Senada, Trioksa Siahaan menilai bahwa menjadi BUS akan mendorong bank syariah lebih agresif dalam memperluas pasar, meningkatkan efisiensi, dan memberikan manfaat langsung bagi nasabah, meskipun tantangan permodalan dan kesiapan SDM tetap harus diantisipasi.

Salah satu langkah konkret ditunjukkan oleh PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (BTN) yang telah mengakuisisi Bank Victoria Syariah sebagai bagian dari strategi spin off. Nixon LP Napitupulu menargetkan BUS hasil pemisahan BTN akan menjadi bank syariah terbesar kedua di Indonesia setelah BSI. Untuk mendukung pertumbuhan ini, BTN menyiapkan right issue senilai Rp1 triliun dari total target modal Rp6 triliun, dengan visi menjadikan calon BUS sebagai bank syariah digital yang inklusif, efisien, dan berbasis nilai.

Dari sisi regulator, Dian Ediana Rae menyatakan bahwa langkah BTN sejalan dengan upaya OJK dalam mendorong konsolidasi industri perbankan syariah melalui spin off, merger, maupun akuisisi. Ia berharap BUS hasil pemisahan BTN dapat memperkuat struktur industri syariah secara keseluruhan, khususnya di segmen pembiayaan perumahan.

Secara keseluruhan, proses spin off UUS dinilai sebagai langkah strategis dan struktural yang dapat meningkatkan pangsa pasar, daya saing, serta tata kelola industri perbankan syariah, sekaligus mendukung agenda pemerintah dalam mendorong inklusi dan digitalisasi keuangan syariah nasional.


Keuangan Syariah Dipercepat Danantara

KT3 30 Apr 2025 Kompas

Pangsa pasar perbankan syariah di Indonesia masih rendah. Padahal, keuangan syariah dapat berperan dalam mengejar pertumbuhan ekonomi sebesar 8 % pada 2029. Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) akan mempercepat pengembangan ekonomi syariah tersebut. Hal ini mengemuka dalam BSI Global Islamic Finance Summit (GIFS) 2025 yang digelar PT Bank Syariah Indonesia Tbk di Jakarta, Selasa (29/4/2025). Menurut Chief Executive Officer Danantara, Rosan P Roeslani, pangsa pasar termasuk aset perbankan syariah di negeri ini masih dibawah 9 % dari total perbankan nasional.

”Ini sangat kecil kalau dibanding (jumlah) penduduk Indonesia yang 87 % (dari 281 juta) adalah Muslim,” ungkapnya. Angka itu jauh di bawah negara berpenduduk Muslim lebih sedikit. Pangsa pasar perbankan syariah di Malaysia dan Qatar masing-masing mencapai 29 % dan 27 %. Tingkat inklusi keuangan syariah yang menggambarkan akses terhadap layanan syariah di Indonesia juga masih 12,88 % pada 2024. ”Ini PR kita bersama. Kita inginkan peran ekonomi syariah semakin besar di Indonesia,” ujar Rosan yang juga Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM.

Pemerintah tetap mewaspadai kondisi ekspor komoditas syariah karena dampak tarif Trump, dengan mendukung keuangan syariah. Sebagai lembaga yang mengelola asset BUMN sekitar Rp 14.700 triliun, Danantara akan mempercepat pengembangan ekonomi syariah Indonesia.”Speed (pengembangannya) harus diakselerasi sehingga peran keuangan syariah bisa lebih besar dan lebih baik,” ucapnya. Agar pengembangan ekonomi syariah lebih cepat, Rosan meminta perbankan syariah dan konvensional bekerja sama, mencakup perluasan inklusi keuangan syariah, distribusi produk bisnis syariah, dan SDM. (Yoga)


Aset Rp 500 Triliun Dibidik BSI

KT1 15 Mar 2025 Investor Daily

PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) pada akhir tahun lalu mencatatkan total aset sebesar Rp 408,61 triliunnaik 12,4% (yoy) dari Rp 363,52 triliun. Tahun ini perseroan mengincar aset lebih tinggi lagi. “Tahun ini targetnya (aset) Rp 500 triliun, nambah dari Desember 2024 itu Rp 409 triliun," tutur Dirut BSI, Hery Gunardi pada acara Santunan 4.444 Anak Yatim di Jakarta, Jumat (14/3/2025). Target tersebut sangat mungkin dicapai perseroan tahun ini, terlebih cadangan perseroan banyak, seperti cadangan emas yang mencapai 17,5 ton. BSI juga mengincar menjadi banknomor tiga terbesar di Indonesia dan nomor lima secara pangsa pasar (market cap) global. Untuk mencapai target tersebut, perseroan memiliki group story yang bisa diceritakan untuk mendukung pertumbuhan.

Secara profit hingga akhir 2024, BSI sudah menjadi bank nomor lima terbesar di Indonesia. Sedangkan secara kapitalisasi pasar sudah menjadi bank syariah terbesar nomor sembilan di dunia. Di sisi portofolio pembiayaan, segmen konsumer dan ritel sebesar 70%, serta segmen wholesale (korporasi dan komersial) sebesar 30%. "Komposisi ini akan kami pertahankan dan mungkin nanti akan kami geser 65% dan 35%. “Kami harus tumbuh di segmen segmen yang memang memberikan profitability yang optimal," urai Hery. Misalnya, BSI yang menggarap ekosistem haji, sebab potensi tabungan haji masih sangat besar yang bisa digarap. Di Indonesia, masyarakat yang eligible haji sebanyak 22 jutaorang "Yang punya rekening tabungan haji baru 5 juta, artinya ada 17 juta growth opportunity kami. (Yetede)


Melesatnya KPR Bank Muamalat

KT1 12 Mar 2025 Investor Daily

PT Bank MuamalatIndonesia Tbk mencatat volume pembiayaan kredit pemilikan rumah (KPR) syariah iB Hijrah Baitullah tumbuh lebih dari tiga kali lipat secara tahunan (year on year/yoy) pada akhir 2024. Lonjakan pertumbuhan tersebut disebabkan kebutuhan perumahan di Indonesia yang masih sangat tinggi menjadi pendorong pencapaian tersebut. Direktur Bank Muamalat, Karno melalui keterangan tertulisnya menyatakan, peningkatan volume pembiayaan atau booking KPR iB Hijrah Baitullah tersebut sejalan dengan melonjaknya number of account (NoA) yang mencapai lebih dari lima kali lipat pada periode yang sama.

"Untuk menggenjot pembiayaan KPR syariah, Bank Muamalat menawarkan program KPR iB Hijrah Baitullah dengan hadiah porsi pendaftaran haji atau paket umrah tanpa diundi. Ada juga opsi hadiah lain seperti wakaf masjid, wisata halal, dan logam mulia," imbuh Karno, Selasa (11/3/2025). Bank Muamalat menawarkan skema angsuran ringan dengan tenor hingga 25 tahun melalui produk pembiayaan perumahan. Nasabah dapat memilih skema angsu?ran berjenjang (step-up) atau tetap(fixed) sepanjang tenor.

Karno menjelaskan, margin pembiayaan KPR mulai dari 5,88% per tahun selama dua tahun untuk skema step up. Tersedia pula single margin setara mulai 9,25% fixed selama 10 tahun KPR iB Hijrah Baitullah menggunakan akad Musyarakah Mutanaqisah (MMQ). Tujuan pembiayaan menyesuaikan kebutuhan nasabah seperti untuk pembelian rumah, takeover, top up maupun refinancing. "Harga rumah yang kami biayai umum-nya berkisar Rp 300 juta hingga Rp 5 miliar. Rata-rata harga rumah yang diminati nasabah Bank Muamalat sekitar Rp 850juta,"sambung Karno. (Yetede)


Upaya Perbankan Syariah Malaysia Menadi Raksasa Global

KT3 03 Mar 2025 Kompas

Perbankan syariah di Malaysia tumbuh menjadi bank raksasa skala global. Uniknya,tidak hanya penduduk Muslim, warga dengan beragam latar belakang ikut membangun ekosistem syariah di negeri itu. Indonesia bisa belajar mengembangkan perbankan syariah meski banyak tantangan. Atribut Imlek, seperti lampion berwarna merah dan gambar shio Ular Kayu, menyapa siapa saja yang datang ke Dataran Maybank, Malaysia, Kamis (20/2/2025). Di lobi kantor Maybank Islamic, salah satu bank syariah terbesar di dunia itu, tertulis ucapan selamat Tahun Baru China. Dekorasinya seakan mengirim pesan, bank itu untuk siapa saja, apa pun latar belakangnya. ”Iya, ini bank syariah, bank Islam. Tetapi, yang paling penting nilai yang kami bawa untuk semua,” ungkap Dato’ Muzaffar Hisham, Group CEO Maybank Islamic.

Muzaffar menuturkan, nasabah Maybank Islamic tidak hanya umat Islam. ”Lebih dari 50 % nasabah kami punya beragam latar belakang ras, boleh dibilang Chinese. Ini data lima sampai enam tahun terakhir,” ujarnya. Beragamnya nasabah tak lepas dari nilai yang dipegang Maybank Islamic, yakni humanizing financial services. antara lain, berisi pentingnya melayani dengan adil, jujur, hingga menjawab kebutuhan masyarakat. Menurut dia, nasabah cocok dengan konsep perbankan syariah yang melarang riba atau bunga majemuk lantaran dianggap memberatkan. Alih-alih melipatgandakan bunga, syariah menawarkan prinsip bagi hasil. Sejumlah produk diklaim sesuai kebutuhan pelanggan. Program KPR, misalnya, tidak memerlukan uang muka dengan biaya 20 % dari harga jual.

Nasabah dapat menyewa dalam waktu tertentu sebelum memiliki rumah. Produk ini membantu generasi muda punya rumah. Konsep sewa ini dikenal dengan ijarah. Begitu pula dengan pembelian kendaraan yang memakai prinsip murabahah. Dengan konsep ini, bank membiayai pembelian barang yang dibutuhkan konsumen dengan margin keuntungan sesuai kesepakatan. Produk lainnya adalah takaful (asuransi), manajemen kekayaan yang berbasis syariah, hingga sukuk atau produk investasi syariah dari pemerintah. Maybank Islamic sebagai anggota Maybank Group juga memperluas pasar dan tersebar di 18 negara. Mulai dari negara di Asia Tenggara, China, hingga Inggris. Hal ini turut mengantarkan Maybank Islamic menduduki peringkat kelima Perbankan Syariah di dunia. (Yoga)


Kenaikan Dana Murah Diincar BCA Syariah

KT1 01 Mar 2025 Investor Daily

PT Bank BCA Syariah meraih pertumbuhan positif pada semua indikator kinerja finansial di 2024. Profitabilitas perusahaan tercermin pada perolehan laba yang meningkat 19,5% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 183,7 miliar yang ditopang oleh peningkatan pembiayaan yang berkualitas. Presdir BCA Syariah, Yuli Melati Suryaningrum menyampaikan, pertumbuhan yang solid ini didorong kemampuan perusahaan untuk mengakselerasi teknologi dan adaptasi layanan yang didukung pengelolaan SDM dan manajemen risiko yang baik. Sementara fungsi intermediasi ditunjukkan dari financing deposit ratio (FDR) pada 81,3% yang mencerminkan aktivitas penghimpunan dan penyaluran pembiayaan yang berimbang.

Per Desember 2024, aset BCA Syariah tumbuh 15% (yoy) mencapai Rp 16,6 triliun didukung pertumbuhan DPK di semua produk baik tabungan, giro, maupun deposito. Hal ini mencerminkan meningkatnya minat masyarakat untuk menabung di BCA Syariah. Pertumbuhan DPK sebesar 20,3% (yoy) mencapai Rp 13,2 triliun, ditopang dari tabungan yang naik 17,9% (yoy) dan giro 21% (yoy) menjadikan perolehan dana murah (current account saving account/CASA) tumbuh sebesar 19,4% (yoy). BCASyariah mampu menjaga komposisi CASA pada 2024 sebesar 37,8% terhadap total DPK. BCASyariah jugameluncurkan newmobile banking BSyapada Agustus 2024 sebagai salah satu inisiatifstrategis dalam menghimpun CASA. (Yetede)


Maybank Islamic, Bank Syariah Terbesar Keempat, Sasar Indonesia

KT3 21 Feb 2025 Kompas

Berbekal aset senilai hingga 91 miliar USD atau Rp 1.486 triliun, Maybank Islamic kini menjadi bank syariah terbesar keempat di dunia. Bank asal Malaysia ini menargetkan memperluas pasarnya, termasuk ke Indonesia yang memiliki pasar ratusan juta warga Muslim. ”Secara global, kami berada di peringkat keempat bank syariah terbesar. (Peringkat) ini naik,” ucap Dato’ Muzaffar Hisham, Group Chief Executive Officer Maybank Islamic, kepada harian Kompas (Kompas.id) dan dua jurnalis Indonesia lainnya, Kamis (20/2), di Malaysia. Pada awal 2024, Maybank Islamic menduduki peringkat kelima bank syariah terbesar di dunia dengan nilai aset 73 miliar USD (Rp 1.189,9 triliun). Anak usaha Maybank Group ini bahkan menjadi salah satu bank syariah terbesar Asia menurut Global Finance. Sampai 30 September 2024, posisi Maybank Islamic naik ke peringkat keempat dengan nilai asset 91 miliar USD atau Rp 1.486 triliun.

”Tiga bank syariah terbesar lainnya ada di Timur Tengah. Mereka sudah lebih dulu punya ekonomi yang lebih besar,” ujar Muzaffar. Menurut dia, sebagai salah satu institusi keuangan syariah terbesar di dunia, Maybank Islamic selalu mengedepankan prinsip ekonomi syariah, seperti larangan riba atau bunga lantaran dianggap bersifat eksploitatif serta menawarkan prinsip bagi hasil. Konsep ini dapat mendorong kemitraan secara berkeadilan dan bertanggung jawab. Ekonomi syariah juga memperkenalkan produk berupa zakat, infak, sedekah, serta wakaf, yang memiliki fungsi strategis dalam redistribusi kekayaan. Prinsip ini dapat mengurangi kesenjangan sosial. Meski mengusung syariah, pelanggan Maybank Islamic tidak hanya berasal dari warga Muslim. Bahkan, etnis lainnya, seperti China, juga menjadi nasabah bank. ”Ini karena produk dan layanan kami yang sesuai dengan kebutuhan nasabah,” ungkapnya. (Yoga)


Peta Persaingan Industri Bank Syariah Semakin Kompetitif

KT3 21 Jan 2025 Kompas
Peta persaingan industri perbankan syariah diharapkan dapat semakin kompetitif seiring dengan terbentuknya bank syariah baru beraset besar. Saat ini terdapat dua unit usaha syariah perbankan yang telah memenuhi kriteria untuk membentuk bank umum syariah baru sehingga dapat meramaikan peta persaingan industri. Ekonom dan Direktur Eksekutif Segara Research Institute Piter Abdullah menilai, industri perbankan syariah membutuhkan penguatan struktur, antara lain dengan membentuk bank syariah baru yang besar. Hal ini penting dilakukan agar pangsa pasar perbankan syariah tidak dikuasai oleh segelintir bank syariah saja. ”Konsolidasi perbankan syariah selama ini, kan, agak mandek.Makanya, OJK harus memaksa bank-bank itu supaya mau melakukan merger,” ujar Piter saat dihubungi dari Jakarta, Senin (20/1/2024). Ketentuan mengenai merger bank syariah tersebut diatur dalam Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK) Nomor 12 Tahun 2023 tentang Unit Usaha Syariah (UUS). Regulasi ini mengatur pemisahan wajib dilakukan bagi UUS dengan nilai aset 50 persen dari total aset bank konvensional induk dan/atau jumlah aset UUS paling sedikit Rp 50 triliun.

Berdasarkan ketentuan tersebut, terdapat dua UUS perbankan yang masuk dalam kriteria wajib melakukan pemisahan (spin-off), yakni UUS milik PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN dan PT Bank CIMB Niaga Tbk. Merujuk pada laporan keuangan pada triwulan III-2024, aset UUS BTN tercatat Rp 57,7 triliun, sedangkan aset UUS CIMB Niaga sebesar Rp 65,99 triliun. BTN mengumumkan telah memulai tahapan akuisisi terhadap PT Bank Victoria Syariah senilai Rp 1,06 triliun. Hal ini terjadi setelah BTN menandatangani perjanjian jual beli bersyarat (conditional sales purchase agreement/CSPA) dengan para pihak pemegang saham Bank Victoria Syariah pada 15 Januari 2025. Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu dalam siaran persnya mengatakan, aksi korporasi ini merupakan bagian dari rencana BTN untuk membentuk bank umum syariah melalui strategi anorganik. Setelah mendapatkan persetujuan dari regulator, BTN akan memisahkan UUS BTN (BTN Syariah) dan mengintegrasikannya ke dalam Bank Victoria Syariah. (Yoga)

Keuangan Syariah Bantu Capai target Potensi Pertumbuhan Ekonomi Baru

KT1 26 Dec 2024 Investor Daily

Industri keuangan syariah pada 2025 masih tumbuh lebih tinggi dengan potensi sumber pertumbuhan baru. Dari penciptaan sumber ekonomi baru, nantinya mendorong terget pertumbuhan ekonomi Indonesia. Chief Economist PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Banjar Surya Indrastomo mengatakan, ekonomi syariah menjadi salah satu strategi pemerintah dalam mendorong pembangunan ekonomi, menjadikan peluang ekonominya menjadi lebih besar. Mulai 2025, setiap pelaku ekonomi syariah khususnya perbankan syariah harus mampu mengarahkan perannya untuk mendukung pembangunan nasional.  

Ekonomi syariah dalam RPJPN 2025-2045 diharapkan mendorong peningkatan posisi keuangan syariah Indonesi di tingkat global. Peningkatan peran keuangan sosial syariah dalam rangka pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan sosial ekonomi. Berikutnya, penguatan ekonomi industri utamanya makanan minuman, fesyen muslim, industri komestik dan obat-obatan, pariwisata dan ekonomi  kreatif, yang mencakup bahan baku halal, penguatan rantai nilai industri, kewirausahaan dan UMKM industri halal. Penguatan regulasi, kelembagaan ekonomi dan keuangan syariah, serta infrastruktur ekonomi dan keuangan syariah. Salah satunya melalui pengembangan indsutri halal sebagai sumber pertumbuhan baru. (Yetede)