Berita Utama
( 178 )Belajar dari Pembebasan Pilot Susi Air
PEMBEBASAN pilot Susi Air, Phillip Mark Mehrtens, membuktikan bahwa keterlibatan pranata sipil merupakan kunci dalam penyelesaian konflik di Papua. Tanpa pendekatan kemanusiaan dan kekeluargaan, upaya pembebasan sandera bisa berujung sia-sia. Lewat pendekatan kemanusiaan, mantan Bupati Nduga, Edison Gwijangge, aktif melobi Egianus Kogeya, Panglima Komando Daerah Perang III Ndugama Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM). Sementara itu, Raga Kogeya, sanak perempuan Egianus, membantu pembebasan Mehrtens melalui jalur kekeluargaan. Bersama tokoh adat dan agama di Nduga, Papua Pegunungan, mereka bahu-membahu melobi Egianus agar melepaskan pilot asal Selandia Baru itu. Cara damai itu terbukti ampuh membebaskan sandera.
Egianus melepaskan Mehrtens di Kampung Yuguru, Distrik Mebarok, Nduga, pada 17 September 2024. Edison adalah orang pertama yang menjemput Mehrtens di kampung tersebut. Bersama tokoh adat dan agama Kampung Yaguru, Edison menginap selama empat hari sebelum Mehrtens dijemput menggunakan helikopter pada 21 September 2024. Pasukan Egianus menyandera Mehrtens tak lama setelah sang pilot mendaratkan pesawat Susi Air di lapangan terbang Distrik Paro, Nduga, pada 7 Februari 2023. Pesawat itu lepas landas dari Bandar Udara Mozes Kilangin, Kabupaten Mimika, menuju Paro dengan membawa sejumlah penumpang. (Yetede)
Jokowi Berharap Kemudahan Mengurus Izin Pembangunan PLTP
Yang Mengejutkan dari Tradisi Perundungan di Program Dokter
Jerat Ancaman Hukum untuk Benny Rhamdani
Day Care Tidak Lagi Menjadi Solusi Wanita Bekerja
Setelah Peretas Berjanji Beri Kunci PDN
Omong Kosong Pembatalan Kenaikan Biaya Kuliah
KEPUTUSAN Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nadiem Makarim membatalkan kenaikan uang kuliah tunggal (UKT) dan iuran pengembangan institusi (IPI) tahun ajaran 2024/2025 di perguruan tinggi negeri laksana obat pereda nyeri. Pembatalan itu terkesan hanya untuk meredam protes mahasiswa dan kritik pedas dari pelbagai kalangan. Sedangkan peraturan pemerintah dan undang-undang yang menjadi dasar hukum komersialisasi pendidikan tinggi sama sekali tak diotak-atik.
Pembatalan uang kuliah tunggal tanpa pencabutan peraturan dan revisi Undang-Undang tentang Pendidikan Tinggi sama saja dengan omong kosong. Uang kuliah memang tidak naik tahun ini, tapi akan naik tahun depan seperti yang disampaikan Presiden Joko Widodo selang sehari setelah Menteri Nadiem mengumumkan pembatalan kenaikan UKT dan IPI. Pernyataan Jokowi itu seolah-olah menegaskan bahwa pemerintah tak peduli dengan akar persoalan yang menjadi kritik publik. Masalah bukan pada kenaikan uang kuliah yang terkesan mendadak seperti yang disampaikan Jokowi, melainkan pada komersialisasi pendidikan yang ugal-ugalan.
Polemik kenaikan biaya kuliah ini terjadi setelah terbit Peraturan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Nomor 2 Tahun 2024 tentang Standar Satuan Biaya Operasional Pendidikan Tinggi pada Perguruan Tinggi Negeri di Lingkungan Kementerian Pendidikan. Aturan yang terbit pada Januari 2024 ini memberikan keleluasaan kepada kampus untuk mematok nilai uang kuliah tunggal. Akibatnya, sejumlah perguruan tinggi negeri ramai-ramai menaikkan UKT dan IPI atau uang pangkal yang angkanya bisa mencapai ratusan juta rupiah.
Kebijakan ini direspons mahasiswa sejumlah perguruan tinggi negeri dengan menggelar unjuk rasa, bahkan ada yang melakukan aksi mogok makan. Pelbagai kalangan, seperti lembaga swadaya masyarakat, pegiat pendidikan, dan orang tua calon mahasiswa, mengecam keras kenaikan ini menggunakan berbagai saluran, salah satunya melalui media sosial. Setelah panen kecaman dan viral di media sosial, pemerintah buru-buru membatalkan kebijakan tersebut tanpa membenahi akar persoalannya. Sikap setengah hati seperti ini menunjukkan bahwa pemerintah tak berniat menyudahi komersialisasi pendidikan tinggi. (Yetede)
Geliat Nobar Timnas U-23 di Kafe
KERIUHAN menyelimuti kafe Daerah Kopi di Jalan Kepu Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat, pada Senin malam, 29 April 2024. Ada lebih dari 150 pengunjung di sana, tapi fokus pandangannya cuma satu, yaitu layar proyektor berukuran 2 x 2 meter yang menampilkan siaran langsung tim nasional sepak bola Indonesia usia di bawah 23 tahun atau timnas U-23 melawan Uzbekistan di semifinal Piala Asia U-23 2024 di Qatar. Nonton bareng atau nobar timnas itu penuh sorak-sorai bak menonton langsung di stadion. Yel-yel dan lagu ala tribun, seperti Ayo, Indonesia, terus menggema. Sesekali terdengar pekikan dari para komentator dadakan tersebut: "Cakep, jangan kasih lewat!" atau "Slow, slow, jangan panik!".
Jumlah peserta nobar timnas tersebut melebihi kapasitas kafe. Di tempat duduk berundak, para pengunjung berjajar tanpa sekat. Sebagian tamu rela duduk lesehan di terpal yang digelar di pelataran. Para pelayan sampai harus meliuk-liuk menembus kerumunan saban mengantarkan pesanan. Antusiasme para penonton terus tinggi, bahkan sebelum laga dimulai pada pukul 21.00. Sebelum sepak mula, mereka bersama-sama mengumandangkan Indonesia Raya. Saat pertandingan berakhir—timnas U-23 takluk 0-2—hampir semua pengunjung memberikan tepuk tangan sembari berdiri.
Ivan, 33 tahun, salah seorang pemilik Daerah Kopi, mengatakan angka pengunjung naik drastis setiap kali kafe menggelar nobar timnas. Sewaktu timnas U-23 melawan Korea Selatan pada Jumat, 26 April 2024, misalnya, kafe itu mendulang pendapatan hingga Rp 6 juta per hari. "Melebihi target nobar kami, Rp 3 juta," kata Ivan. Gilanya, laga Garuda Muda vs Korea Selatan itu berlangsung mulai tengah malam pada hari kerja. Pengelola awalnya sempat ragu apakah tamu mereka akan hadir. Apalagi jam operasional normal mereka berakhir pada pukul 23.00. Nyatanya, laga tersebut tercatat sebagai rekor jumlah pengunjung tertinggi mereka. Ivan mengatakan kafe itu bekerja sama dengan perusahaan rokok yang menjadi sponsor siaran langsung pertandingan sepak bola. Di luar jadwal timnas, mereka menggelar nobar Liga Inggris. "Customer saya lihat sangat excited," ujar Ivan(Yetede)
Resep Shin Tae-yong Membangun Timnas U-23 Sepak Bola Indonesia
NAMA Shin Tae-yong bergema di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Qatar, pada Kamis malam, 25 April lalu waktu setempat atau Jumat dinihari waktu Indonesia. Lima ribuan suporter tim nasional sepak bola Indonesia usia di bawah 23 atau timnas U-23 yang menjadi mayoritas di gelanggang berkapasitas 12 ribu itu berulang kali memekikkan namanya di antara alunan lagu Indonesia Pusaka dan yel-yel Ayo, Indonesia. Shin Tae-yong adalah pelatih timnas senior sekaligus timnas U-23. Pria 53 tahun kelahiran Yeongdeok, Korea Selatan, itu ditugasi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sejak akhir 2019 dan kontraknya baru diperpanjang.
Dari lebih 40 pelatih timnas sejak Indonesia merdeka, sepertinya hanya Shin Tae-yong yang namanya dipuja-puji di tribun. Di Doha pada Jumat dinihari lalu, Shin Tae-yong mencetak sejarah. Untuk pertama kalinya Indonesia mencapai babak semifinal Piala Asia U-23. Rizky Ridho dan kawan-kawan menaklukkan raksasa Asia, Korea Selatan, lewat drama adu penalti, 2-2 (11-10). Sebelumnya, Indonesia tidak pernah lolos fase grup dan selalu kalah dalam tujuh pertemuan melawan Korea Selatan, dengan 24 kali kebobolan. Prestasi Indonesia berpotensi lebih mentereng karena tiga peserta terbaik Piala Asia U-23 mendapat tiket berlaga di Olimpiade Paris 2024. Adapun peringkat keempat tetap berpeluang lolos ke Paris jika mengalahkan wakil Piala Afrika U-23, Guinea, di babak play off. Sepanjang sejarah, sepak bola Indonesia hanya sekali lolos ke pesta olahraga terbesar tersebut, yaitu pada Olimpiade Melbourne 1956.
Pengamat, pelatih, serta bekas pemain tim nasional bersuara sama: prestasi timnas U-23 saat ini tak lepas dari tangan dingin STY—begitu Shin Tae-yong kerap disapa. Setidaknya, ada tiga faktor yang menjadi penentu, yakni ramuan tepat pemain lokal dan naturalisasi, pemilihan pemain muda, pemupukan mental, serta penggemblengan fisik. Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan mengatakan empat pemain naturalisasi asal Belanda, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Ivar Jenner, dan Rafael Struick, menjadi darah segar di timnas U-23, juga senior. Dia menyebutkan Nathan dan Ivar menjadi motor di lini tengah, Rafael membungkam keraguan suporter dengan mencetak dua gol ke gawang Korsel, serta Justin menjaga lini belakang dengan tubuh 1,87 meter dan tebasan kaki kirinya. "Cuma empat, tapi sangat berpengaruh," kata Ronny. (Yetede)
Demi Memburu Pelaku Pencucian Uang Korupsi Timah
Pilihan Editor
-
TRANSISI ENERGI : JURUS PAMUNGKAS AMANKAN EBT
26 Dec 2023 -
Ekspansi Nikel Picu Deforestasi 25.000 Hektar
14 Jul 2023









