Resep Shin Tae-yong Membangun Timnas U-23 Sepak Bola Indonesia
NAMA Shin Tae-yong bergema di Stadion Abdullah bin Khalifa, Doha, Qatar, pada Kamis malam, 25 April lalu waktu setempat atau Jumat dinihari waktu Indonesia. Lima ribuan suporter tim nasional sepak bola Indonesia usia di bawah 23 atau timnas U-23 yang menjadi mayoritas di gelanggang berkapasitas 12 ribu itu berulang kali memekikkan namanya di antara alunan lagu Indonesia Pusaka dan yel-yel Ayo, Indonesia. Shin Tae-yong adalah pelatih timnas senior sekaligus timnas U-23. Pria 53 tahun kelahiran Yeongdeok, Korea Selatan, itu ditugasi Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) sejak akhir 2019 dan kontraknya baru diperpanjang.
Dari lebih 40 pelatih timnas sejak Indonesia merdeka, sepertinya hanya Shin Tae-yong yang namanya dipuja-puji di tribun. Di Doha pada Jumat dinihari lalu, Shin Tae-yong mencetak sejarah. Untuk pertama kalinya Indonesia mencapai babak semifinal Piala Asia U-23. Rizky Ridho dan kawan-kawan menaklukkan raksasa Asia, Korea Selatan, lewat drama adu penalti, 2-2 (11-10). Sebelumnya, Indonesia tidak pernah lolos fase grup dan selalu kalah dalam tujuh pertemuan melawan Korea Selatan, dengan 24 kali kebobolan. Prestasi Indonesia berpotensi lebih mentereng karena tiga peserta terbaik Piala Asia U-23 mendapat tiket berlaga di Olimpiade Paris 2024. Adapun peringkat keempat tetap berpeluang lolos ke Paris jika mengalahkan wakil Piala Afrika U-23, Guinea, di babak play off. Sepanjang sejarah, sepak bola Indonesia hanya sekali lolos ke pesta olahraga terbesar tersebut, yaitu pada Olimpiade Melbourne 1956.
Pengamat, pelatih, serta bekas pemain tim nasional bersuara sama: prestasi timnas U-23 saat ini tak lepas dari tangan dingin STY—begitu Shin Tae-yong kerap disapa. Setidaknya, ada tiga faktor yang menjadi penentu, yakni ramuan tepat pemain lokal dan naturalisasi, pemilihan pemain muda, pemupukan mental, serta penggemblengan fisik. Pengamat sepak bola Ronny Pangemanan mengatakan empat pemain naturalisasi asal Belanda, Justin Hubner, Nathan Tjoe-A-On, Ivar Jenner, dan Rafael Struick, menjadi darah segar di timnas U-23, juga senior. Dia menyebutkan Nathan dan Ivar menjadi motor di lini tengah, Rafael membungkam keraguan suporter dengan mencetak dua gol ke gawang Korsel, serta Justin menjaga lini belakang dengan tubuh 1,87 meter dan tebasan kaki kirinya. "Cuma empat, tapi sangat berpengaruh," kata Ronny. (Yetede)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023