UMKM
( 686 )Berbuka dengan Es Daluman dan Laklak Singaraja
Setelah berpantang minum dan makan selama 13 jam, masyarakat
Muslim yang berpuasa dianjurkan berbuka dengan minuman dan makanan yang menyegarkan.
Bersantap makanan dan minuman manis seperti es daluman dan laklak bisa menjadi
pilihan. Es daluman atau cincau berasal dari olahan daun cincau (Cyclea sp)
dengan tekstur kenyal, tetapi mudah terurai dan mencair. Agar lebih manis dan
menyegarkan, minuman daluman disiram santan dan ditambah gula aren. Dapat pula
ditambah es sehingga jadi lebih dingin. ”Daluman dan semua menu kami buat
sendiri di dapur,” kata pemilik Gula Bali The Joglo, Anak Agung Ngurah Ryan Diamanta
(27), ketika ditemui di Gula Bali The Joglo, Jalan Merdeka, Denpasar Timur, Bali, Senin (18/3).
Selain es daluman, minuman menyegarkan lainnya adalah es kuud
atau es kelapa muda. Selain bermanfaat bagi tubuh, termasuk untuk memenuhi kebutuhan
elektrolit, Pilihan makanan ringan lain untuk berbuka puasa di Bali adalah serabi
dan laklak. Dua macam kue berbentuk bundar itu sama-sama berbahan tepung beras
dan memilikitekstur yang mirip. Laklak adalah jajan khas Bali serupa serabi
tetapi tidak menggunakan santan dalam adonannya. Seporsi kue serabi terdiri
dari dua potong serabi dengan tambahan cokelat dan pisang dijual pedagang kue
serabi di Kota Denpasar seharga Rp 5.000.
”Beda dengan serabi, laklak Bali tidak memakai santan dalam
adonannya,” kata Ni Made Sutrisni (57), penjual jajan khas Bali di Warung Men
Gabrug, Kota Denpasar, Senin (18/3). Sutrisni, yang lebih dikenal dengan
panggilan Bu Kadek, menambahkan, laklak merupakan jajanan yang umum bagi
masyarakat Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Laklak yang dijual Bu Kadek di
Warung Men Gabrug, Kota Denpasar, berwarna hijau karena adonan tepung beras ditambah
air daun suji (Pleomele sp) dan air daun pandan (Pandanus sp). Kue laklak
disajikan dengan tambahan parutan kelapa dan sirup gula aren. Satu porsi laklak
berisi empat biji laklak dijual oleh Bu Kadek dengan harga Rp 6.000. Menyantap
jajan laklak ditambah segelas es kelapa muda terasa cukup sebagai pengganjal
perut sampai tiba waktu untuk menyantap makanan yang lebih berat. (Yoga)
Pembiayaan Fintech ke UMKM Berpotensi Tumbuh 50%
Penyaluran
pembiayaan yang dilakukan industi fintech P2P khususnya UMKM dinilai belum
maksimal, diharapkan ke depan, industri fintech bisa memanfaatkan peluang
tersebut. Plt Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi OJK, Moh. Eka Gonda Sukmana
mengatakan, fintech P2P lending memang ditujukan kepada masyarakat kecil yang
belum tersentuh layanan perbankan. “Industri peer to peer ini sebenarnya
ditujukan untuk masyarakat yang unbanked, bukan orang berdasi atau orang yang
secara keuangan sudah well educated dan punya pemahaman,” kata dia di Jakarta, pekan
lalu.
Eka
membeberkan, meskipun tumbuh 18 %, penyaluran pendanaan untuk sektor produktif
dan UMKM masih terbatas. Dari Total penyaluran sebesar Rp. 60, 42 triliun, baru
Rp 20,22 triliun atau 33,65 % yang menyasar UMKM. “Dari pertumbuhan 18 %,
porsinya 33,65 % untuk sektor UMKM dengan outstanding sebesar Rp 20.33 triliun.
Jumlah ini sebenarnya bisa ditingkatkan karena sektor UMKM banyak peluangnya, “
ungkap dia. (Yetede)
Peran Instrumen Fiskal Memberdayakan UMKM
Makan Nyaman, Kantong Aman
Warung Tegal atau warteg sudah menjadi nama generik untuk jenis
usaha yang menyediakan sajian makanan rumahan dan dengan harga terjangkau. Pengunjung
warteg umumnya adalah mereka yang memang datang untuk mengisi perut, bukan
makan untuk berekreasi atau mencari hiburan. Selama sebuah warteg mampu
memberikan jaminan rasa enak, harga murah, dan pelayanan ramah, di waktu
sarapan, makan siang, dan makan malam, sedikitnya 80 porsi makanan bisa terjual
setiap hari. Begitulah pengalaman Ayu Maria (39) asal Slawi, Tegal, Jateng,
yang sudah membuka usaha warteg di Jalan Arteri Pondok Indah, Jaksel, sejak
2019. Pertama kali ia merantau ke Jakarta mendampingi suaminya yang bekerja di
proyek bangunan pada 2016, Ayu iseng berjualan lauk-pauk, memanfaatkan selasar kontrakan
petaknya di Pesanggrahan, Jaksel. ”Kebetulan, waktu itu ada lemari etalase
makanan bekas penghuni kontrakan sebelumnya. Udah enggak terpakai.
Saya jadi kepikiran buat jual makanan,” ujar Ayu. Kala itu,
modalnya memasak hanya Rp 150.000 untuk beberapa jenis masakan. Ternyata
masakan Ayu cocok di lidah warga sekitar kontrakannya. Pelan-pelan jenis masakannya
ditambah. Modal Rp 250.000 saat itu cukup untuk membuat 10-12 jenis masakan
atau menjadi 6-8 porsi untuk setiap jenis masakan. Kalau semua masakannya habis,
omzetnya Rp 600.000 sehari. Untung yang Ayu dapat sehari Rp 300.000 lebih besar
dari upah suaminya saat itu. Ia berjualan dari Senin hingga Sabtu. Pembelinya
adalah warga sekitar yang memang tidak sempat atau malas memasak. Pada awal
2019, bersama suaminya Ayu memutuskan untuk membuka warung yang lebih bagus di
pinggir Jalan Arteri Pondok Indah, dengan harga sewa tempat Rp 35 juta per
tahun.
Di luar biaya sewa tempat, ia mengeluarkan Rp 4 juta-Rp 5
juta untuk membeli meja, kursi, kipas angin, etalase makanan baru, dan menambah
peralatan masak. Suaminya berhenti bekerja di proyek agar bisa fokus mengembangkan
warteg. Untuk membantu kegiatan operasional, ada tambahan dua pegawai dari kampung
mereka dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. Warteg buka mulai pukul 06.00 dan
baru tutup pada pukul 22.00. Setiap hari mereka memasak mulai pukul 04.30.
Dalam sehari, mereka memasak nasi lima kali, masing-masing 13 liter. Sedikitnya
ada 30 macam sayur dan lauk yang bisa dipilih. Belanja modal bahan baku masakan
Rp 750.000 per hari. Rata-rata dalam sehari mereka menjual 80 porsi makanan. Jika
rata-rata satu porsi warteg dihargai Rp 18.000, maka dalam sehari omzet yang
mereka dapatkan Rp 1.440.000. Rata- rata keuntungan bersih dari wartegnya Rp
690.000 per hari atau 47 % dari omzet. (Yoga)
Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan
Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan
dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar
itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka
tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin,
Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif
Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok
Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah
bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain
sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti
’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.
Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur,
diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan
dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar
membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan
pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual
kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal
ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia
berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa
pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami
minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga
Rp 100.000 per potong.
Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan
pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama
dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan
peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching,
Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan
berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2
Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order
300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho
rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan
Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali
diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah
kabupaten atau kota. (Yoga)
Manis Legit Kue Warisan Nenek
Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional
terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan
roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level
premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga
istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2)
sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim
pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue
tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan
menteri baru di Istana Negara pagi itu.
Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat
pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah
satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional,
dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada
juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk
plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur
dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai
Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori
premium sehingga harga menyesuaikan.
Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di
kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif,
aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah
liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian
produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan
para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan
itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang
akrab dengan jajanan tradisional.
Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas
premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami
juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi
Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka
bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai
warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan
segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan
arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus
mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap
Florean. (Yoga)
Nanas Mahkota ”Jajah” Ibu Kota
Selama ini nanas mahkota yang berasal dari Kabupaten Siak,
Riau, hanya dijual mentah untuk diekspor ke berbagai negara. Itu pun hanya
nanas kualitas A (grade A) dengan berat lebih dari 1 kg. Sementara nanas grade
B dan grade C tidak bisa dimanfaatkan secara optimal lantaran tidak memiliki
pasar. Padahal, menurut periset Laboratorium Alam Siak Lestari, Wulan Suci
Ningrum, yang sekaligus perwakilan Pinaloka, kelompok usaha wanita dari empat
desa di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (22/2) potensi nanas di Siak cukup tinggi. Terkait
itu, Kelompok Usaha Wanita Pinaloka bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari
(LTKL) dan Anomali Coffee berkolaborasi dalam pengembangan produk berbasis nanas
mahkota Siak untuk menembus pasar lebih luas, termasuk Ibu Kota Jakarta. Dari lahan
3.000 hektar, produksi nanas Siak mencapai 3.000 ton per tahun, 75 % diekspor, sisanya
untuk kebutuhan domestik.
Berangkat dari kegelisahan itu, pada 2023, pihaknya melakukan
inkubasi guna menggali manfaat yang terkandung di dalam nanas. Dari hasil riset
itu diketahui bahwa semua elemen pada nanas bisa diolah menjadi beragam produk
turunan. Daunnya bisa diolah jadi serat tenun, kulitnya untuk pupuk kompos,
sedang dagingnya bisa dimanfaatkan jadi sirop, selai, bahkan keripik. Dari
aspek lingkungan, nanas berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, terutama
menjaga lahan gambut dari ancaman kebakaran. Menurut dia, Jakarta menjadi pasar
yang potensial bagi hilirisasi. Selain jadi pusat ekonomi, Jakarta merupakan
etalase ideal untuk memperkenalkan nanas mahkota ke kancah nasional. Tembusnya
nanas Siak ke pasar Ibu Kota terbukti meningkatkan volume produk turunan
sehingga mendongkrak kesejahteraan petani. Wulan mencontohkan, saat di pasar
lokal, produksi sirop hanya 8 liter per bulan. Setelah menembus Ibu Kota, kebutuhan
sirop nanas meningkat jadi 80 liter per bulan.
Manajer Bisnis Berkelanjutan LTKL Aditya Mulya Pratama
menuturkan, potensi di Kabupaten Siak harus digaungkan dengan menggiatkan
inkubasi produk local terutama nanas. ”Peran kami menghubungkan petani dengan
mitra, salah satunya Anomali Coffee,” katanya. Dengan menggali produk turunan,
nilai komoditas terdongkrak, contohnya, nanas yang jika dijual mentah hanya Rp 3.000
per kg setelah diolah menjadi sirop atau selai nilainya bisa 10 kali lipat.
Karena itu, pihaknya mengajak pemda dan warga untuk membuat inkubasi UMKM untuk
mencari produk turunan pada komoditas potensial agar bisa mendatangkan
kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Dari hasil kurasi itu, didapati lima
menu, antara lain Pina Cake atau kue nanas panggang yang disajikan dengan krim
keju dan Aloha Siak dari krim kelapa dan nanas. Menu ini akan dipasarkan di 11
outlet di Jakarta, Bali, dan Makassar. Beragam menu itu diharapkan dapat
membuat nanas Siak diterima warga Ibu Kota. (Yoga)
Kredit UMKM Terganjal Bunga Tinggi
Pelaku UMKM Siasati Tingginya Harga Beras
Pelaku UMKM makanan di sejumlah daerah menyiasati tingginya
harga beras dalam dua pekan terakhir. Mereka berupaya agar harga jual ke konsumen
tidak naik meskipun itu berdampak pada berkurangnya keuntungan. Di kawasan
Surabaya, Jatim, para penjual lontong bersiasat dengan cara mencampur beras
premium dan beras medium. ”Saya biasanya pakai beras premium, tetapi karena harga
sedang tinggi, saya campur dengan beras medium yang dibeli dari tetangga,” ujar
Sugiyanto, warga kampung lontong Sawahan, Surabaya, Rabu (21/2). Dalam sehari,
Sugiyanto mengolah maksimal 5 kg beras menjadi lontong. Dengan pencampuran
beras medium dan premium, ongkos produksi lontong bisa ditekan. Penganan ini
bisa dijual kepada pelanggan dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per lontong. Jika
memakai beras premium seutuhnya, harga jual lontong naik sampai dua kali lipat.
”Dampaknya, bisa tidak laku dan bikin rugi,” katanya.
Suminto, penjual lontong balap di gerobak keliling di Gubeng, Surabaya, mengatakan, saat harga beras tinggi, ukuran lontong yang diterimanya dari pembuat lontong biasanya mengecil dan berbahan beras campuran. Namun, baginya itu tak menjadi masalah karena penjual lontong telah memberitahukan hal tersebut. ”Yang paling penting,lontongnya segar atau dibuat pagi tadi. Saya juga membatasi beli lontong sekaligus mengurangi bikin sayurnya (taoge),” katanya. Menurut Suminto, dengan membatasi produksi, pedagang makanan sebenarnya akan terdampak berupa berkurangnya keuntungan. Padahal, bagi pedagang mikro dan kecil, keuntungan penjualan makanan merupakan sandaran utama keberlangsungan hidup ekonomi keluarga. Suminto dapat menjual 50 porsi lontong balap dengan keuntungan maksimal Rp 100.000 sehari. ”Tiga hari ini, produksi lontong balap turun, ya, keuntungan juga turun sampai Rp 20.000 sehari,” ujarnya. (Yoga)
Pembebasan Cukai Etil Alkohol Industri Kosmetik
Pilihan Editor
-
Mengelola Risiko Laju Inflasi
09 Jun 2022 -
Audit Perusahaan Sawit Segera Dimulai
08 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022 -
Menkeu Minta Kualitas Belanja Pemda Diperbaiki
08 Jun 2022 -
Yusuf Ramli, Jalan Berliku Juragan Ikan
10 Jun 2022









