;
Tags

UMKM

( 686 )

Berbuka dengan Es Daluman dan Laklak Singaraja

KT3 20 Mar 2024 Kompas

Setelah berpantang minum dan makan selama 13 jam, masyarakat Muslim yang berpuasa dianjurkan berbuka dengan minuman dan makanan yang menyegarkan. Bersantap makanan dan minuman manis seperti es daluman dan laklak bisa menjadi pilihan. Es daluman atau cincau berasal dari olahan daun cincau (Cyclea sp) dengan tekstur kenyal, tetapi mudah terurai dan mencair. Agar lebih manis dan menyegarkan, minuman daluman disiram santan dan ditambah gula aren. Dapat pula ditambah es sehingga jadi lebih dingin. ”Daluman dan semua menu kami buat sendiri di dapur,” kata pemilik Gula Bali The Joglo, Anak Agung Ngurah Ryan Diamanta (27), ketika ditemui di Gula Bali The Joglo, Jalan Merdeka, Denpasar Timur,  Bali, Senin (18/3).

Selain es daluman, minuman menyegarkan lainnya adalah es kuud atau es kelapa muda. Selain bermanfaat bagi tubuh, termasuk untuk memenuhi kebutuhan elektrolit, Pilihan makanan ringan lain untuk berbuka puasa di Bali adalah serabi dan laklak. Dua macam kue berbentuk bundar itu sama-sama berbahan tepung beras dan memilikitekstur yang mirip. Laklak adalah jajan khas Bali serupa serabi tetapi tidak menggunakan santan dalam adonannya. Seporsi kue serabi terdiri dari dua potong serabi dengan tambahan cokelat dan pisang dijual pedagang kue serabi di Kota Denpasar seharga Rp 5.000.

”Beda dengan serabi, laklak Bali tidak memakai santan dalam adonannya,” kata Ni Made Sutrisni (57), penjual jajan khas Bali di Warung Men Gabrug, Kota Denpasar, Senin (18/3). Sutrisni, yang lebih dikenal dengan panggilan Bu Kadek, menambahkan, laklak merupakan jajanan yang umum bagi masyarakat Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali. Laklak yang dijual Bu Kadek di Warung Men Gabrug, Kota Denpasar, berwarna hijau karena adonan tepung beras ditambah air daun suji (Pleomele sp) dan air daun pandan (Pandanus sp). Kue laklak disajikan dengan tambahan parutan kelapa dan sirup gula aren. Satu porsi laklak berisi empat biji laklak dijual oleh Bu Kadek dengan harga Rp 6.000. Menyantap jajan laklak ditambah segelas es kelapa muda terasa cukup sebagai pengganjal perut sampai tiba waktu untuk menyantap makanan yang lebih berat. (Yoga)

Pembiayaan Fintech ke UMKM Berpotensi Tumbuh 50%

KT1 12 Mar 2024 Investor Daily (H)

Penyaluran pembiayaan yang dilakukan industi fintech P2P khususnya UMKM dinilai belum maksimal, diharapkan ke depan, industri fintech bisa memanfaatkan peluang tersebut. Plt Usaha Pembiayaan Berbasis Teknologi OJK, Moh. Eka Gonda Sukmana mengatakan, fintech P2P lending memang ditujukan kepada masyarakat kecil yang belum tersentuh layanan perbankan. “Industri peer to peer ini sebenarnya ditujukan untuk masyarakat yang unbanked, bukan orang berdasi atau orang yang secara keuangan sudah well educated dan punya pemahaman,” kata dia di Jakarta, pekan lalu.

Eka membeberkan, meskipun tumbuh 18 %, penyaluran pendanaan untuk sektor produktif dan UMKM masih terbatas. Dari Total penyaluran sebesar Rp. 60, 42 triliun, baru Rp 20,22 triliun atau 33,65 % yang menyasar UMKM. “Dari pertumbuhan 18 %, porsinya 33,65 % untuk sektor UMKM dengan outstanding sebesar Rp 20.33 triliun. Jumlah ini sebenarnya bisa ditingkatkan karena sektor UMKM banyak peluangnya, “ ungkap dia. (Yetede) 

Peran Instrumen Fiskal Memberdayakan UMKM

KT1 08 Mar 2024 Investor Daily (H)
Intrusmen fiskal terus memberikan kontribusi vital dalam mendukung  geliat usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam negeri. UMKM hingga saat ini terus menjadi tulang punggung perekonomian nasional. APBN dan APBD menjadi sumber daya yang sangat kuat untuk menciptakan daya ungkit dan kesempatan bagi UMKM. Potensi belanja dari APBN untuk produk dalam negeri mencapai Rp 625,7 triliun pada tahun anggaran 2024. Nilai ini terbagi dalam belanja bantuan sosial sebesar Rp 405 triliun, belanja modal sebesar  Rp 247 triliun dan belanja barang senilai Rp 377 triliun. Sedangkan potensi belanja APBD untuk produksi dalam negeri sebesar Rp 587, triliun di tahun anggaran 2024. (Yetede)

Makan Nyaman, Kantong Aman

KT3 27 Feb 2024 Kompas

Warung Tegal atau warteg sudah menjadi nama generik untuk jenis usaha yang menyediakan sajian makanan rumahan dan dengan harga terjangkau. Pengunjung warteg umumnya adalah mereka yang memang datang untuk mengisi perut, bukan makan untuk berekreasi atau mencari hiburan. Selama sebuah warteg mampu memberikan jaminan rasa enak, harga murah, dan pelayanan ramah, di waktu sarapan, makan siang, dan makan malam, sedikitnya 80 porsi makanan bisa terjual setiap hari. Begitulah pengalaman Ayu Maria (39) asal Slawi, Tegal, Jateng, yang sudah membuka usaha warteg di Jalan Arteri Pondok Indah, Jaksel, sejak 2019. Pertama kali ia merantau ke Jakarta mendampingi suaminya yang bekerja di proyek bangunan pada 2016, Ayu iseng berjualan lauk-pauk, memanfaatkan selasar kontrakan petaknya di Pesanggrahan, Jaksel. ”Kebetulan, waktu itu ada lemari etalase makanan bekas penghuni kontrakan sebelumnya. Udah enggak terpakai.

Saya jadi kepikiran buat jual makanan,” ujar Ayu. Kala itu, modalnya memasak hanya Rp 150.000 untuk beberapa jenis masakan. Ternyata masakan Ayu cocok di lidah warga sekitar kontrakannya. Pelan-pelan jenis masakannya ditambah. Modal Rp 250.000 saat itu cukup untuk membuat 10-12 jenis masakan atau menjadi 6-8 porsi untuk setiap jenis masakan. Kalau semua masakannya habis, omzetnya Rp 600.000 sehari. Untung yang Ayu dapat sehari Rp 300.000 lebih besar dari upah suaminya saat itu. Ia berjualan dari Senin hingga Sabtu. Pembelinya adalah warga sekitar yang memang tidak sempat atau malas memasak. Pada awal 2019, bersama suaminya Ayu memutuskan untuk membuka warung yang lebih bagus di pinggir Jalan Arteri Pondok Indah, dengan harga sewa tempat Rp 35 juta per tahun.

Di luar biaya sewa tempat, ia mengeluarkan Rp 4 juta-Rp 5 juta untuk membeli meja, kursi, kipas angin, etalase makanan baru, dan menambah peralatan masak. Suaminya berhenti bekerja di proyek agar bisa fokus mengembangkan warteg. Untuk membantu kegiatan operasional, ada tambahan dua pegawai dari kampung mereka dengan gaji Rp 1,2 juta per bulan. Warteg buka mulai pukul 06.00 dan baru tutup pada pukul 22.00. Setiap hari mereka memasak mulai pukul 04.30. Dalam sehari, mereka memasak nasi lima kali, masing-masing 13 liter. Sedikitnya ada 30 macam sayur dan lauk yang bisa dipilih. Belanja modal bahan baku masakan Rp 750.000 per hari. Rata-rata dalam sehari mereka menjual 80 porsi makanan. Jika rata-rata satu porsi warteg dihargai Rp 18.000, maka dalam sehari omzet yang mereka dapatkan Rp 1.440.000. Rata- rata keuntungan bersih dari wartegnya Rp 690.000 per hari atau 47 % dari omzet. (Yoga) 

Muhammad Redho, Komitmen Perajin Sasirangan

KT3 26 Feb 2024 Kompas (H)

Muhammad Redho (62) konsisten mengembangkan wastra sasirangan dengan pewarna alami. Tumbuhan untuk bahan pewarna alami kain khas suku Banjar itu juga ia budidayakan. Satu demi satu perajin sasirangan mengikuti jejaknya. Aneka tanaman menghijaukan Kampung Biru di tepian Sungai Martapura, Kota Banjarmasin, Kalsel, Kamis (22/2). Redho menghijaukan lingkungan sekitar Pojok Kreatif Wisata Kampung Biru di Kelurahan Melayu, sejak dipercaya sebagai Sekretaris Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Biru pada 2018. Di Kampung Biru semua rumah bercat biru. ”Semua tanaman yang ada di sini adalah bahan pewarna alami kain sasirangan,” katanya. Sasirangan berasal dari kata menyirang yang berarti ’menjelujur’ atau menjahit jarang-jarang.

Prosesnya dimulai dari pembuatan motif pada kain, dijelujur, diikat dengan tali, dan dicelupkan ke pewarna. Setelah itu, ikatan dan jahitan dilepas, dicuci, lalu dikeringkan.”Di Kampung Biru, pengunjung bisa belajar membuat kain sasirangan pewarna alami dan belajar berkebun tanaman yang menghasilkan pewarna alami,” kata Redho. Sejak 2009, ia konsisten memproduksi dan menjual kain sasirangan berpewarna alami dengan jenama Assalam Sasirangan. Berbekal ilmu dari pelatihan batik di Pulau Jawa oleh mentor dari Yogyakarta, ia berupaya mengembangkan sasirangan berpewarna alami yang saat itu pangsa pasarnya kurang menjanjikan. Waktu itu harga kain sasirangan berpewarna alami minimal Rp 150.000 per potong, sedangkan sasirangan berpewarna sintetis seharga Rp 100.000 per potong.

Dengan harga lebih murah dan warna lebih cerah, permintaan pasar lokal untuk kain sasirangan berpewarna sintetis lebih besar. Bekerja sama dengan Museum Lambung Mangkurat, Redho mendapat kesempatan mengikuti pameran dan peragaan busana sasirangan berpewarna alami di Museum Serawak, Kuching, Sarawak, Malaysia, pada 2011. Setelah itu, ia langsung memproduksi sasirangan berpewarna alami dalam jumlah banyak untuk seragam para guru SMA Negeri 2 Banjarmasin. Lambatlaun, pesanan hampir tak pernah putus. ”Saya pernah dapat order 300 lembar sasirangan warna alam dan mengerjakannya dalam waktu tiga bulan.” Redho rutin menjadi narasumber pelatihan sasirangan berpewarna alami di lingkungan Dinas P&K Kalsel dan Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin. Ia juga beberapa kali diminta menjadi instruktur pelatihan sasirangan berpewarna alam di sejumlah kabupaten atau kota. (Yoga) 

Manis Legit Kue Warisan Nenek

KT3 25 Feb 2024 Kompas

Berbekal resep dari nenek, sejumlah produsen kue tradisional terus berinovasi agar bisa merebut lidah dan hati warga urban yang akrab dengan roti dan aneka pastri. Mereka mempertahankan rasa dan memoles citra ke level premium. Dengan cara itu, gerai kue tradisional eksis di mal, bandara, hingga istana. Di kompleks ruko Villa Melati Mas, Serpong, Tangsel, Banten, Rabu (21/2) sejumlah pekerja produsen dan toko kue tradisional Iki Koue Citarasa Nusantara mengirim pesanan ke pelanggan penting. Kontainer plastik dan kardus berisi aneka kue tradisional berpenampilan cantik dan menggugah selera dikirim untuk pelantikan menteri baru di Istana Negara pagi itu.

Setiap hari, dapur Iki Koue menerima pesanan paling lambat pukul 17.00 untuk diantarkan keesokan harinya, ujar Laura Wiramihardja, salah satu pendiri sekaligus pemilik Dapur Iki Koue, yang bisa membuat 46 macam kue tradisional, dari yang manis dan asin. Sampai yang dikukus, digoreng, atau dibuat bolu. Ada juga aneka bubur tradisional ala jajanan pasar, yang bisa dikemas dalam mangkuk plastik atau dalam paket besar di beberapa bejana tanah liat. Semua kue dan bubur dibuat dengan resep dan cita rasa orisinal warisan keluarga. Rentang harganya mulai Rp 5.000 hingga Rp 15.000 per potong atau sajian. Segmen pasar Iki Koue berkategori premium sehingga harga menyesuaikan.

Iki Koue juga membuka gerai di salah satu mal eksklusif di kawasan Senopati, Jakarta. Di sana pengunjung dapat menikmati menu inovatif, aneka bubur jajanan pasar, yang ditempatkan di dalam wadah eksotik dari tanah liat tadi. Para tamu dapat memilih sendiri topping tambahan meniru cara penyajian produk yoghurt merek kekinian. Selain itu, penataan gerai yang cantik memungkinkan para pembeli jika ingin berfoto dan mengunggahnya di akun media sosial mereka. Pendekatan-pendekatan itu dilakukan terutama untuk menarik pembeli muda, yang dinilai mulai kurang akrab dengan jajanan tradisional.

Monami Bakery juga tetap eksis di pasar kue tradisional kelas premium sejak 1976, ketika gaya hidup ngemal menjangkiti warga Urban, Monami juga masuk ke mal, dengan 38 gerai yang tersebar di mal, toko, dan bandara. Sandi Gunawan dan istrinya, Florean Hadinata bilang, kunci keberhasilan usaha mereka bertahan selama ini adalah selalu berusaha mempertahankan rasa otentik sesuai warisan nenek dan membuat produk yang inovatif. Salah satunya, menggunakan santan segar dari kelapa tua utuh. ”Bahkan, untuk membuat kue lumpur, kami masih menggunakan arang untuk memanaskan bagian atas kue seperti cara nenek dulu. Kami akan terus mempertahankan agar rasa kue dan kelumerannya sama seperti buatan beliau,” ucap Florean. (Yoga) 

Nanas Mahkota ”Jajah” Ibu Kota

KT3 23 Feb 2024 Kompas

Selama ini nanas mahkota yang berasal dari Kabupaten Siak, Riau, hanya dijual mentah untuk diekspor ke berbagai negara. Itu pun hanya nanas kualitas A (grade A) dengan berat lebih dari 1 kg. Sementara nanas grade B dan grade C tidak bisa dimanfaatkan secara optimal lantaran tidak memiliki pasar. Padahal, menurut periset Laboratorium Alam Siak Lestari, Wulan Suci Ningrum, yang sekaligus perwakilan Pinaloka, kelompok usaha wanita dari empat desa di Kabupaten Siak, Riau, Kamis (22/2) potensi nanas di Siak cukup tinggi. Terkait itu, Kelompok Usaha Wanita Pinaloka bersama Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) dan Anomali Coffee berkolaborasi dalam pengembangan produk berbasis nanas mahkota Siak untuk menembus pasar lebih luas, termasuk Ibu Kota Jakarta. Dari lahan 3.000 hektar, produksi nanas Siak mencapai 3.000 ton per tahun, 75 % diekspor, sisanya untuk kebutuhan domestik.  

Berangkat dari kegelisahan itu, pada 2023, pihaknya melakukan inkubasi guna menggali manfaat yang terkandung di dalam nanas. Dari hasil riset itu diketahui bahwa semua elemen pada nanas bisa diolah menjadi beragam produk turunan. Daunnya bisa diolah jadi serat tenun, kulitnya untuk pupuk kompos, sedang dagingnya bisa dimanfaatkan jadi sirop, selai, bahkan keripik. Dari aspek lingkungan, nanas berkontribusi dalam pelestarian lingkungan, terutama menjaga lahan gambut dari ancaman kebakaran. Menurut dia, Jakarta menjadi pasar yang potensial bagi hilirisasi. Selain jadi pusat ekonomi, Jakarta merupakan etalase ideal untuk memperkenalkan nanas mahkota ke kancah nasional. Tembusnya nanas Siak ke pasar Ibu Kota terbukti meningkatkan volume produk turunan sehingga mendongkrak kesejahteraan petani. Wulan mencontohkan, saat di pasar lokal, produksi sirop hanya 8 liter per bulan. Setelah menembus Ibu Kota, kebutuhan sirop nanas meningkat jadi 80 liter per bulan.

Manajer Bisnis Berkelanjutan LTKL Aditya Mulya Pratama menuturkan, potensi di Kabupaten Siak harus digaungkan dengan menggiatkan inkubasi produk local terutama nanas. ”Peran kami menghubungkan petani dengan mitra, salah satunya Anomali Coffee,” katanya. Dengan menggali produk turunan, nilai komoditas terdongkrak, contohnya, nanas yang jika dijual mentah hanya Rp 3.000 per kg setelah diolah menjadi sirop atau selai nilainya bisa 10 kali lipat. Karena itu, pihaknya mengajak pemda dan warga untuk membuat inkubasi UMKM untuk mencari produk turunan pada komoditas potensial agar bisa mendatangkan kesejahteraan bagi masyarakat setempat. Dari hasil kurasi itu, didapati lima menu, antara lain Pina Cake atau kue nanas panggang yang disajikan dengan krim keju dan Aloha Siak dari krim kelapa dan nanas. Menu ini akan dipasarkan di 11 outlet di Jakarta, Bali, dan Makassar. Beragam menu itu diharapkan dapat membuat nanas Siak diterima warga Ibu Kota. (Yoga) 

Kredit UMKM Terganjal Bunga Tinggi

KT1 23 Feb 2024 Tempo
Porsi penyaluran kredit perbankan untuk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) pada tahun lalu hanya sebesar 19 persen dari total kredit. Angka tersebut jauh dari target pemerintah yang sebesar 30 persen. Rendahnya penyaluran kredit UMKM mendapat sorotan dari Presiden Joko Widodo. Dia meminta perbankan membuat terobosan untuk meningkatkan porsi kredit UMKM.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, per Desember 2023, kredit perbankan untuk sektor UMKM sebesar Rp 1.457,13 triliun atau tumbuh 8,03 persen secara tahunan, menyusut dari pertumbuhan pada November 2023 yang sebesar 8,5 persen. Pertumbuhan kredit pada Desember 2023 juga yang terendah dalam dua tahun terakhir. Pada Desember 2022, kredit UMKM tumbuh 10,47 persen dan pada Desember 2021 tumbuh 12,3 persen. 

Melemahnya penyaluran kredit UMKM, menurut Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae, disebabkan oleh masih tingginya suku bunga sebagai bentuk kebijakan moneter ketat. “Selain itu, sepanjang tahun lalu, bank dihadapkan pada penyiapan mitigasi risiko menjelang berakhirnya kebijakan restrukturisasi kredit secara terbatas pada Maret 2024,” ujar Dian kepada Tempo, Kamis, 22 Februari 2024. (Yetede)

Pelaku UMKM Siasati Tingginya Harga Beras

KT3 22 Feb 2024 Kompas (H)

Pelaku UMKM makanan di sejumlah daerah menyiasati tingginya harga beras dalam dua pekan terakhir. Mereka berupaya agar harga jual ke konsumen tidak naik meskipun itu berdampak pada berkurangnya keuntungan. Di kawasan Surabaya, Jatim, para penjual lontong bersiasat dengan cara mencampur beras premium dan beras medium. ”Saya biasanya pakai beras premium, tetapi karena harga sedang tinggi, saya campur dengan beras medium yang dibeli dari tetangga,” ujar Sugiyanto, warga kampung lontong Sawahan, Surabaya, Rabu (21/2). Dalam sehari, Sugiyanto mengolah maksimal 5 kg beras menjadi lontong. Dengan pencampuran beras medium dan premium, ongkos produksi lontong bisa ditekan. Penganan ini bisa dijual kepada pelanggan dengan harga Rp 1.500-Rp 2.000 per lontong. Jika memakai beras premium seutuhnya, harga jual lontong naik sampai dua kali lipat. ”Dampaknya, bisa tidak laku dan bikin rugi,” katanya.

Suminto, penjual lontong balap di gerobak keliling di Gubeng, Surabaya, mengatakan, saat harga beras tinggi, ukuran lontong yang diterimanya dari pembuat lontong biasanya mengecil dan berbahan beras campuran. Namun, baginya itu tak menjadi masalah karena penjual lontong telah memberitahukan hal tersebut. ”Yang paling penting,lontongnya segar atau dibuat pagi tadi. Saya juga membatasi beli lontong sekaligus mengurangi bikin sayurnya (taoge),” katanya. Menurut Suminto, dengan membatasi produksi, pedagang makanan sebenarnya akan terdampak berupa berkurangnya keuntungan. Padahal, bagi pedagang mikro dan kecil, keuntungan penjualan makanan merupakan sandaran utama keberlangsungan hidup ekonomi keluarga. Suminto dapat menjual 50 porsi lontong balap dengan keuntungan maksimal Rp 100.000 sehari. ”Tiga hari ini, produksi lontong balap turun, ya, keuntungan juga turun sampai Rp 20.000 sehari,” ujarnya. (Yoga)

 

Pembebasan Cukai Etil Alkohol Industri Kosmetik

HR1 14 Feb 2024 Kontan
Direktorat Jenderal Bea Cukai Kementerian Keuangan memberikan relaksasi kepada pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) agar dapat memperkuat daya saingnya di pasar internasional. Kepala Sub Direktorat Hubungan Masyarakat dan Penyuluhan Ditjen Bea Cukai, Encep Dudi Ginanjar mengatakan, pemerintah akan memberikan dukungan kepada Perhimpunan Perusahaan dan Asosiasi Kosmetika (PPAK) berupa pembebasan cukai atas etil alkohol. Pembebasan diberikan atas etil alkohol yang digunakan untuk bahan baku atau bahan penolong dalam pembuatan barang hasil akhir yang bukan merupakan barang kena cukai (BKC) melalui proses produksi terpadu dan tanpa melalui proses produksi terpadu.