;
Tags

UMKM

( 686 )

Menunggu Megamendung Cerah Kembali

KT3 28 Apr 2024 Kompas

Sentra batik di Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Cirebon, Jabar, Sabtu (30/3) siang, lengang. Tempat parkir sejumlah toko batik pun tampak kosong. Padahal, hari itu adalah libur panjang akhir pekan. Di toko EB Batik Traditional Cirebon, hanya ada dua pengunjung yang datang dalam satu jam. Para karyawan terlihat hanya melipat kain. ”Memang sekarang enggak seramai seperti sebelum pandemi,” ucap Nurniati, supervisor produksi EB Batik. Pandemi Covid-19 memukul usaha batik di wilayah itu. Nia, sapaan akrab Nurniati, tak menyebut penurunan jumlah pengunjung atau angka penjualan. Namun, kelompok wisatawan yang pelesir ke Cirebon tak sesering dulu, termasuk menjelang Idul Fitri saat orang berbelanja baju Lebaran.

”Kalau Lebaran itu ramainya H plus karena orang cari (kain batik) buat oleh-oleh,” ujarnya. Upaya mereka menarik perhatian konsumen sudah maksimal. Tak Cuma menyediakan kain batik tulis dan cap aneka motif, EB Batik juga memajang gamis, blus, hingga luaran batik model terkini untuk Lebaran. Inovasi menggabungkan megamendung yang ikonik dengan motif lain pun dilakukan. ”Minat pada megamendung sudah turun. Makanya, kami coba kombinasi dengan motif lain,” kata Nia. Ia memperlihatkan contoh batik motif megamendung yang dipadu motif parang liris, motif keraton seperti kereta paksi naga liman, dan motif khas Tionghoa berlatar merah berupa angkin. Warna batiknya pun tak melulu cerah.

Adaptasi juga terlihat dari pilihan material kain. Tidak melulu katun, ada juga dobi, sampai sutra. Perajin pun membuat kain yang sudah berpola sehingga para pelanggan lebih mudah menjahitnya menjadi kemeja. Mulai tahun ini, setiap kain yang dijual di EB Batik memiliki kode batang (barcode). Dengan memindai kode itu, pengunjung terhubung dengan akun Instagram yang menampilkan aneka produk jadi dari kain batik mulai dari kemeja, kaus, hingga jaket. EB Batik adalah satu dari sekian banyak jenama batik di Cirebon yang tumbuh bak cendawan di musim hujan sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia sejak 2 Oktober 2009. Batik Cirebon, dengan motif megamendungnya yang ikonik, termasuk di dalamnya.

Tahun 2012, megamendung tampil di halaman depan buku Batik Design karya Pepin van Roojen (Belanda). Motif ini juga digunakan desainer Inggris, Julien Macdonald, untuk busana rancangan koleksi musim seminya. Pengakuan pada batik Cirebon pun terus meningkat. Sayang, popularitas batik Cirebon redup akibat pukulan pandemi. Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) Komarudin Kudiya, mengungkapkan, saat ini pemasaran batik makin sepi. Tak hanya di Cirebon, sentra batik lain seperti Pekalongan pun sama. ”Pascapandemi, hampir 10-20 showroom tutup. Perajin batik turun 50 % dari kisaran 131.568 perajin. Kini, kalaupun sudah naik lagi, tetapi masih di bawah 75 % dari kondisi awal,” tuturnya. Barang kali persoalan mendasar yang perlu ditelisik adalah strategi pemasaran, terutama cara memanggil kembali pelanggan untuk berbondong-bondong memborong batik motif megamendung. (Yoga)

Sentra Produksi Tempe di Cipulir

KT3 24 Apr 2024 Kompas
Para perajin terlihat sedang memproduksi tempe di sentra pembuatan tempe Kelurahan Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta, Selasa (23/4/2024). Meroketnya nilai tukar dollar AS terhadap rupiah yang mencapai Rp 16.200 per dollar AS masih belum berimbas pada harga kedelai impor yang menjadi bahan baku tempe. Menurut para perajin, harga kedelai masih dijual di kisaran Rp 11.000 per kilogram. (Yoga)

Banjir Pesanan Saat Ramadan dan Lebaran

KT1 17 Apr 2024 Tempo
Abdul Manaf baru merampungkan perbaikan beduk alias bedug saat Tempo mendatangi rumah sekaligus tempat kerjanya di Jalan Pondok Jati Raya, Pondok Aren, Tangerang Selatan, pada Ahad, 7 April lalu. Dia kelar mengerik bulu kambing dan merapikan drum pada beduk itu. "Ini punya masjid dekat sini. Ganti kulit saja," kata Manaf, 46 tahun. Idul Fitri menjadi hari raya tersendiri bagi para perajin beduk seperti Manaf. Sebab, selama Ramadan, orderannya melonjak. "Tahun ini saya membuat 50 beduk, cuma tersisa sepuluh," katanya. Di luar bulan puasa, pesanan yang dialamatkan kepadanya nyaris nihil. Agar dapurnya tetap mengepul, Manaf membuat tempat sampah dan pot bunga dari drum plastik.

Ayah dua anak itu memproduksi beberapa varian ukuran beduk. Mulai dari ukuran terkecil dengan panjang tabung 40 sentimeter, ukuran sedang dengan panjang 70 sentimeter, dan ukuran besar dengan panjang 90 sentimeter. Harganya Rp 200-850 ribu. Manaf mencicil pekerjaannya enam bulan sebelum Ramadan. Jadi, saat bulan suci tiba, dia tinggal menjualnya.  Manaf menjadi pandai beduk sejak 2017. Sebelumnya, dia berjualan bahan pokok. Namun aktivis masjid itu sudah lama dikenal sebagai orang yang andal memperbaiki beduk di masjid-masjid seputar Pondok Aren.

Untuk membuat beduk, material utamanya adalah drum bekas dan kulit kambing. Manaf membeli kulit kambing utuh Rp 30 ribu per lembar dari penyedia jasa akikah. Kulit dijemur selama tiga hari sebelum bisa dipasang di drum. Setelah itu, bulu kambing dikerik. Kebanyakan konsumen Manaf remaja masjid dan perorangan di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi. Mereka umumnya menabuh beduk untuk membangunkan orang saat sahur. "Ada juga pesanan dari perusahaan. Biasanya untuk pajangan," ujarnya.(Yetede)

Berburu Kuliner di Hari Raya

KT3 13 Apr 2024 Kompas

Suasana lebaran tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi dan bermaaf-maafan. Di Kota Bandung, Jabar, masyarakat hingga pengunjung dari luar kota berburu kuliner memanjakan lidah dalam kebersamaan. Hujan yang mengguyur Bandung tidak menyurutkan niat Isna (50) bersama lima temannya menikmati Bakso Tjap Haji di Jalan Burangrang, Jumat (12/4) siang. Mereka rela mengantre lebih dari 45 menit agar bisa menyantap bakso yang menggugah selera. Ratusan orang tampak sabar menanti giliran. Sebagian terpaksa menunggu di bawah payung di depan restoran. Sebagian lagi berlindung menghindari tempias hujan.

”Lebaran biasanya menunya santan dan ketupat. Sekarang saya mencari yang kuahnya segar seperti bakso. Di sini (Bakso Tjap Haji) lebih enak. Jadi, sengaja jauh-jauh datang, ngantre juga tidak apa-apa,” ujar Isna yang berasal dari Kecamatan Rancasari. Tidak hanya Isna, pesohor dari Jakarta pun rela mengantre demi semangkuk bakso. Gitaris band Maliq & D’Essentials Arya Aditya yang dipanggil Lale juga berbaur dengan pengunjung sambil menyantap bakso. Dia datang bersama istrinya, Fikha Effendi.

”Setiap momen lebaran pasti makan bakso. Kebetulan disini langganan, weekday juga pas ke Bandung pasti ke sini,” ujar Fikha. Manajer Operasional Bakso Tjap Haji Rati Kurniati menjelaskan, saat Lebaran, setiap hari mereka melayani lebih dari 2.000 pengunjung yang menghabiskan 2.500 porsi. Jumlah ini meningkat lima kali lipat di- bandingkan hari-hari biasa. ”Salah satu bakso kami sampai keluar lebih dari 20.000 butir. Menu Bakso Spesial 1 menjadi favorit. Biasanya keramaian seperti ini terjadi sampai cuti Lebaran beres,” ujarnya. Oleh-oleh makanan ringan di Kota Bandung juga diserbu para penggemar kuliner.

Putri (37), warga Ciputat, Tangsel, menunggu giliran makanan ringannya ditimbang di toko Sari Milo Shultoniah. Warung oleh-oleh di Jalan Kemuning, Kecamatan Sumur Bandung, ramai pada Jumat pagi. Neni Rosmawati (32), pengelola toko Sari Milo Shultoniah, menyebutkan, Kentang Manohara, keripik kentang renyah berwarna kuning keemasan menjadi salah satu favorit yang dijual di sana bersama Kentang Putih dan Cireng Ariel. Dalam sehari, dia menjual lebih dari 60 kg keripik Kentang Manohara. ”Kentang Putih dan Cireng Ariel juga rata-rata bisa habis 60 kg sehari. Ada belasan jenis makanan ringan, cuma yang sering dibeli tiga jenis itu setiap lebaran dan waktu libur,” paparnya. (Yoga) 

Wastra Aceh Punya Cerita

KT3 12 Apr 2024 Kompas (H)

Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan. Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue, Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,” kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration (MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh. 

Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat  kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis. Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana, seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit, seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana nasional,” katanya.

Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp 700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.

Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh, bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)

Agung Dwi Pratama, Kegagalan Berbuah ”Maggot”

KT3 09 Apr 2024 Kompas (H)

Bermodalkan tutorial dan berkali-kali gagal mencoba, Agung Dwi Pratama (29) mengembangkan maggot di Banggai, Sulteng. Kini, ia menggandeng warga sekitar dan beternak larva lalat hitam itu untuk dimanfaatkan bersama. Medio 2018, saat mengalkulasi kebutuhan ternak ayam kampungnya, Agung tercekik kebutuhan pakan yang tinggi. Dedak, jagung, hingga nutrisi mencapai 75 % biaya produksi. Ia mulai mecari alternatif pakan. Saat itu, ia belum lama mengalami kerugian besar, 700 ekor ayam kampung ternaknya mati sekaligus. Ia pusing memikirkan modal dan keuntungan yang dibangun satu tahun terakhir. Terlebih lagi, ia baru saja menikah dan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk beralih menjadi pengusaha.

”Hitungannya, dari Rp 50.000 harga ayam, misalnya, Rp 40.000 adalah biaya operasional dan perawatan. Dari jumlah tersebut, Rp 30.000 biaya pakan per ekornya,” kata Agung di Banggai, Minggu (31/3). Ia akhirnya menemukan informasi soal maggot yang Ia pelajari lewat bacaan, video terkait manfaatnya, hingga cara beternak maggot. Maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens) atau si lalat hitam. Merogoh kocek Rp 1,5 juta, ia mengikuti kursus dalam jaringan dan video tutorial, lalu mencoba beternak maggot. Setelah memperbaiki cara produksi, volume produksi meningkat. Untuk mendapat 5 kg maggot, dibutuhkan 10 kg sampah, yang menjadi makanan utama dari telur lalat hitam. Sampah rumah tangga sisa makanan sehari-hari menjadi media tumbuh yang efektif untuk perkembangan maggot.

”Kami akhirnya membuat kelompok yang diberi nama GenToili BSF. GenToili diambil dari nama generasi dari kecamatan Toili,” sambungnya. Mereka mengumpulkan sampah di lingkungan secara bersama-sama. Berboncengan menggunakan sepeda motor berkeliling ke rumah-rumah warga, warung makan, hingga pesantren untuk mengumpulkan sampah makanan dan menaruhnya di sekretariat. Setelah difermentasi, lalu disiapkan untuk menjadi media kembang tumbuh maggot. Sistem rumah produksi sederhana juga dibuat. Mereka mampu menghasilkan 200 kg sebulan. Hasilnya, dibagi rata bersama. Sebab, para anggota kelompok ini adalah peternak ayam, lele, atau ternak lainnya. Berbekal modal tersebut, mereka mengajukan proposal ke Pertamina EP Donggi Matindok Field yang memang beroperasi di Banggai.

Saat ini, mereka telah memiliki produk lain berupa maggot kemasan. Maggot disangrai dan dikemas yang diberi nama Maggo Booster. Mereka mengemas dan menjualnya sendiri, dengan berkeliling kampung menawarkan produk ini ke toko hobi, pegiat hewan peliharaan, juga ke komunitas. Produk ini cocok untuk ikan koi, burung kontes, dan hewan peliharaan lainnya. Produk ini dibuat, untuk menjaga keberlangsungan, sekaligus eksistensi kelompok. Sebab, tidak semua anggota kelompok saat ini adalah peternak ayam, atau peternak lele. ”Kami juga punya mimpi untuk bikin pabrik tepung maggot. Itu kami rasa akan memberikan manfaat yang lebih besar ke depannya,” kata Agung. (Yoga)

Telkom Buka Kelas Pemasaran Digital Gratis Bagi UMKM

KT1 05 Apr 2024 Investor Daily
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk berkomitmen untuk turut serta membantu masyarakat dalam menghadapi era ekonomi digital. Karena itu, perseroan membuka kelas gratis pemasaran secara digital (digital marketing) bagi pelaku UMKM di Tanah Air. Kegiatan 'Kelas Gratis Digital Marketing: Optimalisasi Penjualan melalui  Social Media & E-Commerce. Tingkatkan Penghasilan Tiap Bulannya' dilaksanakan secara daring beberapa waktu lalu. Telkom pun mengundang Chrysler Ade Chandra selaku CTO Vauza Tamma Hijab CFO Mudah Rumah BUMN (RB) Telkom. SGM Telkom CDC Hery Susanto mengatakan, kegiatan kelas gratis tersebut diadakan merupakan sebuah inovasi program yang coba ditawarkan kepada masyarakat, terutama pelaku UMKM. "Melihat antusiasme  masyarakat yang tinggi pada kegiatan webinar sebelumnya, kami dari Unit Community Development Center Telkom Indonesia, yang menaungi program TJSL Telkom, berharap ini dapat menjadi wadah bagi masyarakat, khususnya sobat UMKM dalam mengembangkan bisnis di era digital," kata Hery. (Yetede)

Fintech Mampu Atasi Gap Pembiayaan UMKM

KT1 02 Apr 2024 Investor Daily

OJK menyatakan, pembiayaan kepada UMKM masih berpotensi tumbuh, seiring dengan kebutuhan akan pembiayaan UMKM yang masih cukup besar. UMKM diperkirakan membutuhkan pembiayaan Rp 3.800 triliun pada 2024. Namun, jumlah yang dibutuhkan itu baru mampu dipenuhi Rp 1.600 triliun. Berdasarkan data OJK pada 2021, pembiayaan bagi UMKM yang dapat dipenuhi perbankan hanya Rp 1.221 triliun, sedangkan sektor pasar modal dan industri keuangan non bank (IKNB) baru bisa berkontribusi Rp 229 triliun.

OJK pun mencatat terdapat total Rp 1.290 triliun pembiayaan UMKM yang belum dapat dipenuhi sektor jasa keuangan pada 2021. Menurut Direktur Pengaturan Lembaga Pembiayaan Modal Ventura Lembaga Keuangan mikro dan Jasa Keuangan Lainnya OJK Irfan Sitanggang di Jakarta, pemanfaatan platform digital dapat menjadi alternative untuk mengatasi permasalahan terkait kesenjangan taua gap pembiayaan bagi UMKM. “Untuk pembiayaan ke UMKM bisa dioptimalisasi melalui pemanfaatan platform digital yang dapat menjadi solusi alternative yang efektif,” ujarnya. (Yetede)

Program Restrukturisasi Dinilai Belum Optimal

KT3 28 Mar 2024 Kompas

Para pelaku UMKM menilai, penerapan kebijakan restrukturisasi kredit selama pandemic Covid-19 belum optimal. Oleh sebab itu, kebijakan terhadap UMKM ke depan diharapkan dapat lebih berdampak menyeluruh bagi pelaku. Kebijakan restrukturisasi kredit ditujukan untuk membantu debitor yang terdampak pandemi Covid-19, terutama sektor UMKM. Hal ini diatur dalam Peraturan OJK (POJK) No 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019.

Pelonggaran kredit yang diberikan kepada pelaku UMKM tersebut, antara lain, penurunan suku bunga, perpanjangan tenggat, pengurangan tunggakan pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit, serta pengubahan pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara. Ketentuan yang berlaku sejak Maret 2020 ini menyasar pelaku UMKM dengan batas atas kredit Rp 10 miliar. Kebijakan restrukturisasi tersebut diperpanjang hingga 31 Maret 2024 atas pertimbangan hasil analisis dampak berkepanjangan pandemi Covid-19 (scarring effect). Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri) Hermawati Setyorinny menilai, program restrukturisasi kredit sebenarnya belum optimal, lantaran masih banyak pelaku UMKM yang belum merasakan program tersebut.

”Malah, banyak UMKM yang tidak mengetahui (kebijakan restrukturisasi) sehingga akhirnya banyak yang tidak mampu membayar lagi kreditnya,” kata Hermawati saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (27/3/2024).  ”Padahal, apabila program tersebut benar terimplementasi dengan baik, pastinya akan memberikan manfaat sangat baik bagi usaha mereka. Seharusnya, perbankan dan OJK bisa langsung sosialisasi kepada para debitor,” lanjutnya. Permasalahan utama dalam menerapkan kebijakan restrukturisasi kredit tersebut ada pada minimnya sosialisasi terhadap pelaku UMKM. Akibatnya, banyak debitor pelaku UMKM yang kini masuk daftar hitam perbankan lantaran tidak mampu membayar cicilannya. (Yoga)

Usaha Rumahan Pembuatan Kue Kering

KT3 22 Mar 2024 Kompas
Para pekerja memindahkan loyang dalam pembuatan kue kering di usaha rumahan Pusaka Kwitang di Senen, Jakarta Pusat, Kamis (21/3/2024). Dalam sehari, sebanyak 25 pekerja bisa membuat 144 kilogram kue kering. Beragam kue kering, mulai kue nastar, kue kacang, kue lidah kucing, kue kastengel, hingga kue putri salju, dibuat di usaha rumahan yang berdiri sejak 1996 itu. Kue-kue tersebut dijual di Jakarta, Jambi, Solok, sampai Batam. Ditengah meningkatnya pesanan di bulan Ramadhan menjelang Lebaran, pengusaha mengeluhkan masih tingginya harga bahan dasar pembuatan kue, mulai terigu, telur, hingga mentega, serta minyak goreng. (Yoga)