UMKM
( 686 )Menunggu Megamendung Cerah Kembali
Sentra batik di Desa Panembahan, Kecamatan Plered, Cirebon,
Jabar, Sabtu (30/3) siang, lengang. Tempat parkir sejumlah toko batik pun
tampak kosong. Padahal, hari itu adalah libur panjang akhir pekan. Di toko EB
Batik Traditional Cirebon, hanya ada dua pengunjung yang datang dalam satu jam.
Para karyawan terlihat hanya melipat kain. ”Memang sekarang enggak seramai seperti
sebelum pandemi,” ucap Nurniati, supervisor produksi EB Batik. Pandemi Covid-19
memukul usaha batik di wilayah itu. Nia, sapaan akrab Nurniati, tak menyebut
penurunan jumlah pengunjung atau angka penjualan. Namun, kelompok wisatawan
yang pelesir ke Cirebon tak sesering dulu, termasuk menjelang Idul Fitri saat
orang berbelanja baju Lebaran.
”Kalau Lebaran itu ramainya H plus karena orang cari (kain
batik) buat oleh-oleh,” ujarnya. Upaya mereka menarik perhatian konsumen sudah
maksimal. Tak Cuma menyediakan kain batik tulis dan cap aneka motif, EB Batik juga
memajang gamis, blus, hingga luaran batik model terkini untuk Lebaran. Inovasi
menggabungkan megamendung yang ikonik dengan motif lain pun dilakukan. ”Minat
pada megamendung sudah turun. Makanya, kami coba kombinasi dengan motif lain,”
kata Nia. Ia memperlihatkan contoh batik motif megamendung yang dipadu motif
parang liris, motif keraton seperti kereta paksi naga liman, dan motif khas
Tionghoa berlatar merah berupa angkin. Warna batiknya pun tak melulu cerah.
Adaptasi juga terlihat dari pilihan material kain. Tidak melulu
katun, ada juga dobi, sampai sutra. Perajin pun membuat kain yang sudah berpola
sehingga para pelanggan lebih mudah menjahitnya menjadi kemeja. Mulai tahun
ini, setiap kain yang dijual di EB Batik memiliki kode batang (barcode). Dengan
memindai kode itu, pengunjung terhubung dengan akun Instagram yang menampilkan
aneka produk jadi dari kain batik mulai dari kemeja, kaus, hingga jaket. EB
Batik adalah satu dari sekian banyak jenama batik di Cirebon yang tumbuh bak
cendawan di musim hujan sejak UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia
sejak 2 Oktober 2009. Batik Cirebon, dengan motif megamendungnya yang ikonik,
termasuk di dalamnya.
Tahun 2012, megamendung tampil di halaman depan buku Batik
Design karya Pepin van Roojen (Belanda). Motif ini juga digunakan desainer Inggris,
Julien Macdonald, untuk busana rancangan koleksi musim seminya. Pengakuan pada
batik Cirebon pun terus meningkat. Sayang, popularitas batik Cirebon redup
akibat pukulan pandemi. Ketua Umum Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia
(APPBI) Komarudin Kudiya, mengungkapkan, saat ini pemasaran batik makin sepi. Tak
hanya di Cirebon, sentra batik lain seperti Pekalongan pun sama. ”Pascapandemi,
hampir 10-20 showroom tutup. Perajin batik turun 50 % dari kisaran 131.568
perajin. Kini, kalaupun sudah naik lagi, tetapi masih di bawah 75 % dari
kondisi awal,” tuturnya. Barang kali persoalan mendasar yang perlu ditelisik
adalah strategi pemasaran, terutama cara memanggil kembali pelanggan untuk
berbondong-bondong memborong batik motif megamendung. (Yoga)
Sentra Produksi Tempe di Cipulir
Banjir Pesanan Saat Ramadan dan Lebaran
Berburu Kuliner di Hari Raya
Suasana lebaran tak hanya dimanfaatkan untuk bersilaturahmi
dan bermaaf-maafan. Di Kota Bandung, Jabar, masyarakat hingga pengunjung dari
luar kota berburu kuliner memanjakan lidah dalam kebersamaan. Hujan yang
mengguyur Bandung tidak menyurutkan niat Isna (50) bersama lima temannya
menikmati Bakso Tjap Haji di Jalan Burangrang, Jumat (12/4) siang. Mereka rela
mengantre lebih dari 45 menit agar bisa menyantap bakso yang menggugah selera. Ratusan
orang tampak sabar menanti giliran. Sebagian terpaksa menunggu di bawah payung
di depan restoran. Sebagian lagi berlindung menghindari tempias hujan.
”Lebaran biasanya menunya santan dan ketupat. Sekarang saya mencari
yang kuahnya segar seperti bakso. Di sini (Bakso Tjap Haji) lebih enak. Jadi,
sengaja jauh-jauh datang, ngantre juga tidak apa-apa,” ujar Isna yang berasal
dari Kecamatan Rancasari. Tidak hanya Isna, pesohor dari Jakarta pun rela mengantre
demi semangkuk bakso. Gitaris band Maliq & D’Essentials Arya Aditya yang
dipanggil Lale juga berbaur dengan pengunjung sambil menyantap bakso. Dia
datang bersama istrinya, Fikha Effendi.
”Setiap momen lebaran pasti makan bakso. Kebetulan disini
langganan, weekday juga pas ke Bandung pasti ke sini,” ujar Fikha. Manajer Operasional
Bakso Tjap Haji Rati Kurniati menjelaskan, saat Lebaran, setiap hari mereka melayani
lebih dari 2.000 pengunjung yang menghabiskan 2.500 porsi. Jumlah ini meningkat
lima kali lipat di- bandingkan hari-hari biasa. ”Salah satu bakso kami sampai
keluar lebih dari 20.000 butir. Menu Bakso Spesial 1 menjadi favorit. Biasanya
keramaian seperti ini terjadi sampai cuti Lebaran beres,” ujarnya. Oleh-oleh
makanan ringan di Kota Bandung juga diserbu para penggemar kuliner.
Putri (37), warga Ciputat, Tangsel, menunggu giliran makanan
ringannya ditimbang di toko Sari Milo Shultoniah. Warung oleh-oleh di Jalan
Kemuning, Kecamatan Sumur Bandung, ramai pada Jumat pagi. Neni Rosmawati (32),
pengelola toko Sari Milo Shultoniah, menyebutkan, Kentang Manohara, keripik
kentang renyah berwarna kuning keemasan menjadi salah satu favorit yang dijual
di sana bersama Kentang Putih dan Cireng Ariel. Dalam sehari, dia menjual lebih
dari 60 kg keripik Kentang Manohara. ”Kentang Putih dan Cireng Ariel juga
rata-rata bisa habis 60 kg sehari. Ada belasan jenis makanan ringan, cuma yang
sering dibeli tiga jenis itu setiap lebaran dan waktu libur,” paparnya. (Yoga)
Wastra Aceh Punya Cerita
Di tangan anak-anak muda, kain tradisional Aceh bertransformasi
dan menggeliat bersama industri mode Wastra Aceh bukan sekadar simbol kebudayaan.
Kain-kain tradisional Aceh menyimpan potensi ekonomi yang besar, apalagi jika
dikembangkan sepe nuhnya dari hulu ke hilir. Bunyi ketukan alat tenun bukan
mesin bersahut-sahutan dari lantai dua rumah produksi Tenun Kutaraja di Ulee Lheue,
Kecamatan Meuraxa, Kota Banda Aceh, Sabtu (30/3). Pesanan 40 lembar kain dari BI
Kantor Perwakilan Aceh harus segera rampung. ”Untuk sementara, kami fokus
selesaikan pesanan BI. Pekerja kami hanya tiga orang, tak bisa terima banyak orderan,”
kata Zulhelmi (29) pemilik usaha Tenun Kutaraja. Dia memulai usaha itu pada
tahun 2022. Pada 2021, Helmi mengikuti program Muslim Fashion Collaboration
(MFC) yang digulirkan BI Perwakilan Aceh.
Seusai pelatihan, BI Perwakilan Aceh menawarkan kepada Helmi
untuk belajar menenun, ia menerimanya. ”Saya tertarik, pertama untuk merawat kebudayaan dan kedua ini peluang bisnis.
Sebab, perajinnya sedikit,” katanya. Motivasi yang tinggi membuat dia tidak
sulit menguasai tekniknya. Setelah pelatihan, Helmi diberi bantuan berupa alat produksi
tenun oleh BI Perwakilan Aceh. Dari situ, ia membuat tenun motif sederhana,
seperti pintu aceh reubong (rebung), dan awan berarak; hingga motif yang lebih rumit,
seperti ornamen pada batu nisan kuno dan simbol-simbol perjalanan Kerajaan Aceh
Darussalam. Dalam sebulan, Tenun Kutaraja hanya mampu memproduksi 40 lembar kain
tenun. Padahal, pesanan jauh lebih banyak. Terkadang, pemesan harus menunggu
sebulan baru pesanan rampung. Helmi masih kekurangan penenun. ”Aceh butuh
banyak penenun. Kain tenun Aceh mulai diminati, bahkan oleh perancang busana
nasional,” katanya.
Saat ini, jumlah penenun di provinsi itu bisa dihitung dengan
jari. Generasi muda tidak tertarik belajar tenun. Padahal, tenun memiliki
potensi bisnis yang besar. Harga per lembar kain tenun buatan Helmi berkisar Rp
700.000-Rp 1 juta. Terpaut 4 kilometer dari rumah produksi Tenun Kutaraja, di
sebuah rumah di Desa Lambung, Kecamatan Meuraxa, Suryani Marzuki (27), istri
Helmi, tengah memeriksa pakaian hasil jahitan dua karyawannya. Jika Helmi
bermain di hulu, Suryani, yang berprofesi sebagai perancang dan penjahit
pakaian, bermain di hilir. Tak jarang kain produksi Helmi menjadi bahan
pembuatan pakaian bagi Suryani. Pada bulan Ramadhan, pemesanan pakaian mengalir
deras. Tarif jasa membuat satu pakaian Rp 200.00 hingga Rp 300.000. Selama
Ramadhan, dia mampu menyelesaikan 200 potong pakaian.
Perancang mode kenamaan Wignyo Rahadi menuturkan, wastra
Aceh, baik tenun maupun songket, memiliki potensi untuk bersaing di panggung
nasional, bahkan internasional. Pada 2022, kain songket Aceh pernah tampil di
acara Paris Fashion Week. ”Motif wastra Aceh sangat menarik dan berkarakter
kuat, seperti motif pintu aceh. Di daerah lain tidak ada motif pintu Aceh,
bahkan yang mirip pun tidak ada,” kata Wignyo. Wignyo mendorong para pelaku
usaha di bidang mode, penenun, perancang, hingga pembuat pakaian berkolaborasi untuk
mengembangkan usaha mode dari hulu ke hilir. Kain tenun dan songket perlu
didekatkan dengan warga Aceh dalam bentuk pakaian jadi siap pakai. (Yoga)
Agung Dwi Pratama, Kegagalan Berbuah ”Maggot”
Bermodalkan tutorial dan berkali-kali gagal mencoba, Agung
Dwi Pratama (29) mengembangkan maggot di Banggai, Sulteng. Kini, ia menggandeng
warga sekitar dan beternak larva lalat hitam itu untuk dimanfaatkan bersama. Medio
2018, saat mengalkulasi kebutuhan ternak ayam kampungnya, Agung tercekik kebutuhan
pakan yang tinggi. Dedak, jagung, hingga nutrisi mencapai 75 % biaya produksi.
Ia mulai mecari alternatif pakan. Saat itu, ia belum lama mengalami kerugian
besar, 700 ekor ayam kampung ternaknya mati sekaligus. Ia pusing memikirkan
modal dan keuntungan yang dibangun satu tahun terakhir. Terlebih lagi, ia baru
saja menikah dan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk beralih menjadi pengusaha.
”Hitungannya, dari Rp 50.000 harga ayam, misalnya, Rp 40.000
adalah biaya operasional dan perawatan. Dari jumlah tersebut, Rp 30.000 biaya pakan
per ekornya,” kata Agung di Banggai, Minggu (31/3). Ia akhirnya menemukan
informasi soal maggot yang Ia pelajari lewat bacaan, video terkait manfaatnya, hingga
cara beternak maggot. Maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (Hermetia
illucens) atau si lalat hitam. Merogoh kocek Rp 1,5 juta, ia mengikuti kursus
dalam jaringan dan video tutorial, lalu mencoba beternak maggot. Setelah
memperbaiki cara produksi, volume produksi meningkat. Untuk mendapat 5 kg maggot,
dibutuhkan 10 kg sampah, yang menjadi makanan utama dari telur lalat hitam.
Sampah rumah tangga sisa makanan sehari-hari menjadi media tumbuh yang efektif untuk
perkembangan maggot.
”Kami akhirnya membuat kelompok yang diberi nama GenToili
BSF. GenToili diambil dari nama generasi dari kecamatan Toili,” sambungnya. Mereka
mengumpulkan sampah di lingkungan secara bersama-sama. Berboncengan menggunakan
sepeda motor berkeliling ke rumah-rumah warga, warung makan, hingga pesantren untuk
mengumpulkan sampah makanan dan menaruhnya di sekretariat. Setelah
difermentasi, lalu disiapkan untuk menjadi media kembang tumbuh maggot. Sistem
rumah produksi sederhana juga dibuat. Mereka mampu menghasilkan 200 kg sebulan.
Hasilnya, dibagi rata bersama. Sebab, para anggota kelompok ini adalah peternak
ayam, lele, atau ternak lainnya. Berbekal modal tersebut, mereka mengajukan
proposal ke Pertamina EP Donggi Matindok Field yang memang beroperasi di
Banggai.
Saat ini, mereka telah memiliki produk lain berupa maggot
kemasan. Maggot disangrai dan dikemas yang diberi nama Maggo Booster. Mereka
mengemas dan menjualnya sendiri, dengan berkeliling kampung menawarkan produk
ini ke toko hobi, pegiat hewan peliharaan, juga ke komunitas. Produk ini cocok
untuk ikan koi, burung kontes, dan hewan peliharaan lainnya. Produk ini dibuat,
untuk menjaga keberlangsungan, sekaligus eksistensi kelompok. Sebab, tidak
semua anggota kelompok saat ini adalah peternak ayam, atau peternak lele. ”Kami
juga punya mimpi untuk bikin pabrik tepung maggot. Itu kami rasa akan memberikan
manfaat yang lebih besar ke depannya,” kata Agung. (Yoga)
Telkom Buka Kelas Pemasaran Digital Gratis Bagi UMKM
Fintech Mampu Atasi Gap Pembiayaan UMKM
OJK menyatakan, pembiayaan kepada UMKM masih berpotensi
tumbuh, seiring dengan kebutuhan akan pembiayaan UMKM yang masih cukup besar.
UMKM diperkirakan membutuhkan pembiayaan Rp 3.800 triliun pada 2024. Namun,
jumlah yang dibutuhkan itu baru mampu dipenuhi Rp 1.600 triliun. Berdasarkan
data OJK pada 2021, pembiayaan bagi UMKM yang dapat dipenuhi perbankan hanya Rp
1.221 triliun, sedangkan sektor pasar modal dan industri keuangan non bank
(IKNB) baru bisa berkontribusi Rp 229 triliun.
OJK pun mencatat terdapat total Rp 1.290 triliun pembiayaan
UMKM yang belum dapat dipenuhi sektor jasa keuangan pada 2021. Menurut Direktur
Pengaturan Lembaga Pembiayaan Modal Ventura Lembaga Keuangan mikro dan Jasa
Keuangan Lainnya OJK Irfan Sitanggang di Jakarta, pemanfaatan platform digital
dapat menjadi alternative untuk mengatasi permasalahan terkait kesenjangan taua
gap pembiayaan bagi UMKM. “Untuk pembiayaan ke UMKM bisa dioptimalisasi melalui
pemanfaatan platform digital yang dapat menjadi solusi alternative yang
efektif,” ujarnya. (Yetede)
Program Restrukturisasi Dinilai Belum Optimal
Para pelaku UMKM menilai, penerapan kebijakan restrukturisasi
kredit selama pandemic Covid-19 belum optimal. Oleh sebab itu, kebijakan
terhadap UMKM ke depan diharapkan dapat lebih berdampak menyeluruh bagi pelaku.
Kebijakan restrukturisasi kredit ditujukan untuk membantu debitor yang
terdampak pandemi Covid-19, terutama sektor UMKM. Hal ini diatur dalam
Peraturan OJK (POJK) No 11/POJK.03/2020 tentang Stimulus Perekonomian Nasional sebagai
Kebijakan Countercyclical Dampak Penyebaran Corona Virus Disease 2019.
Pelonggaran kredit yang diberikan kepada pelaku UMKM tersebut,
antara lain, penurunan suku bunga, perpanjangan tenggat, pengurangan tunggakan
pokok, pengurangan tunggakan bunga, penambahan fasilitas kredit, serta
pengubahan pembiayaan menjadi penyertaan modal sementara. Ketentuan yang
berlaku sejak Maret 2020 ini menyasar pelaku UMKM dengan batas atas kredit Rp
10 miliar. Kebijakan restrukturisasi tersebut diperpanjang hingga 31 Maret 2024
atas pertimbangan hasil analisis dampak berkepanjangan pandemi Covid-19
(scarring effect). Ketua Umum Asosiasi Industri UMKM Indonesia (Akumandiri)
Hermawati Setyorinny menilai, program restrukturisasi kredit sebenarnya belum
optimal, lantaran masih banyak pelaku UMKM yang belum merasakan program
tersebut.
”Malah, banyak UMKM yang tidak mengetahui (kebijakan
restrukturisasi) sehingga akhirnya banyak yang tidak mampu membayar lagi kreditnya,”
kata Hermawati saat dihubungi dari Jakarta, Rabu (27/3/2024). ”Padahal, apabila program tersebut benar
terimplementasi dengan baik, pastinya akan memberikan manfaat sangat baik bagi
usaha mereka. Seharusnya, perbankan dan OJK bisa langsung sosialisasi kepada
para debitor,” lanjutnya. Permasalahan utama dalam menerapkan kebijakan
restrukturisasi kredit tersebut ada pada minimnya sosialisasi terhadap pelaku
UMKM. Akibatnya, banyak debitor pelaku UMKM yang kini masuk daftar hitam perbankan
lantaran tidak mampu membayar cicilannya. (Yoga)
Usaha Rumahan Pembuatan Kue Kering
Pilihan Editor
-
Membuat QRIS Semakin Perkasa
09 Aug 2022 -
Peran Kematian Ferdy Sambo dalam Kematian Yosua
10 Aug 2022 -
Salurkan Kredit, Bank Digital Mulai Unjuk Gigi
29 Jun 2022 -
Penerimaan Negara Terbantu Komoditas
14 Jun 2022









