;

Agung Dwi Pratama, Kegagalan Berbuah ”Maggot”

Ekonomi Yoga 09 Apr 2024 Kompas (H)
Agung Dwi Pratama,
Kegagalan Berbuah ”Maggot”

Bermodalkan tutorial dan berkali-kali gagal mencoba, Agung Dwi Pratama (29) mengembangkan maggot di Banggai, Sulteng. Kini, ia menggandeng warga sekitar dan beternak larva lalat hitam itu untuk dimanfaatkan bersama. Medio 2018, saat mengalkulasi kebutuhan ternak ayam kampungnya, Agung tercekik kebutuhan pakan yang tinggi. Dedak, jagung, hingga nutrisi mencapai 75 % biaya produksi. Ia mulai mecari alternatif pakan. Saat itu, ia belum lama mengalami kerugian besar, 700 ekor ayam kampung ternaknya mati sekaligus. Ia pusing memikirkan modal dan keuntungan yang dibangun satu tahun terakhir. Terlebih lagi, ia baru saja menikah dan meninggalkan pekerjaan kantoran untuk beralih menjadi pengusaha.

”Hitungannya, dari Rp 50.000 harga ayam, misalnya, Rp 40.000 adalah biaya operasional dan perawatan. Dari jumlah tersebut, Rp 30.000 biaya pakan per ekornya,” kata Agung di Banggai, Minggu (31/3). Ia akhirnya menemukan informasi soal maggot yang Ia pelajari lewat bacaan, video terkait manfaatnya, hingga cara beternak maggot. Maggot adalah larva dari lalat black soldier fly (Hermetia illucens) atau si lalat hitam. Merogoh kocek Rp 1,5 juta, ia mengikuti kursus dalam jaringan dan video tutorial, lalu mencoba beternak maggot. Setelah memperbaiki cara produksi, volume produksi meningkat. Untuk mendapat 5 kg maggot, dibutuhkan 10 kg sampah, yang menjadi makanan utama dari telur lalat hitam. Sampah rumah tangga sisa makanan sehari-hari menjadi media tumbuh yang efektif untuk perkembangan maggot.

”Kami akhirnya membuat kelompok yang diberi nama GenToili BSF. GenToili diambil dari nama generasi dari kecamatan Toili,” sambungnya. Mereka mengumpulkan sampah di lingkungan secara bersama-sama. Berboncengan menggunakan sepeda motor berkeliling ke rumah-rumah warga, warung makan, hingga pesantren untuk mengumpulkan sampah makanan dan menaruhnya di sekretariat. Setelah difermentasi, lalu disiapkan untuk menjadi media kembang tumbuh maggot. Sistem rumah produksi sederhana juga dibuat. Mereka mampu menghasilkan 200 kg sebulan. Hasilnya, dibagi rata bersama. Sebab, para anggota kelompok ini adalah peternak ayam, lele, atau ternak lainnya. Berbekal modal tersebut, mereka mengajukan proposal ke Pertamina EP Donggi Matindok Field yang memang beroperasi di Banggai.

Saat ini, mereka telah memiliki produk lain berupa maggot kemasan. Maggot disangrai dan dikemas yang diberi nama Maggo Booster. Mereka mengemas dan menjualnya sendiri, dengan berkeliling kampung menawarkan produk ini ke toko hobi, pegiat hewan peliharaan, juga ke komunitas. Produk ini cocok untuk ikan koi, burung kontes, dan hewan peliharaan lainnya. Produk ini dibuat, untuk menjaga keberlangsungan, sekaligus eksistensi kelompok. Sebab, tidak semua anggota kelompok saat ini adalah peternak ayam, atau peternak lele. ”Kami juga punya mimpi untuk bikin pabrik tepung maggot. Itu kami rasa akan memberikan manfaat yang lebih besar ke depannya,” kata Agung. (Yoga)

Download Aplikasi Labirin :