;
Tags

UMKM

( 688 )

Bisnis Hidangan Pencuci Mulut yang menjamur di Seantero Jakarta

KT3 02 Nov 2024 Kompas

Selasa (22/10) pukul 17.00, di Flor, dessert shop di Jalan Gunawarman, Jakarta, ada delapan pengunjung. Ada yang membuka laptop dan ada pula yang duduk berempat berbincang santai sambil makan croissant dan kreasi viennoiserie lainnya. Kevin Krisna Pratama, chef di Flor, mengatakan, pada hari biasa, pengunjung Flor yang datang kebanyakan pekerja kantoran, termasuk pekerja ekspatriat dari Korsel dan Jepang, pada hari biasa, pengunjung yang datang umumnya keluarga. ”Kalau akhir pekan, pengunjung yang datang lebih banyak menikmati hidangan di tempat sekaligus pesan untuk dibawa pulang,” ujarnya. Rata-rata pengunjung berasal dari kelas menengah ke atas. Sebagian di antara mereka sudah terpapar informasi mengenai patiseri internasional dan terbiasa menikmatinya sehari-hari. Untuk urusan harga, kelompok itu tidak terlalu peduli. Bahkan, ada pengunjung belanja sampai Rp 9 juta per sekali pengeluaran.

Flor memanggang croissant, pain au chocolat, dan kreasi viennoiserie tiga kali, yakni pada pukul 07.00 WIB, pukul 11.00, dan terakhir pukul 14.00, untuk menjaga standar kesegaran produk roti. Pengunjung yang dating ke toko, selain bisa makan di tempat sambil bincang santai atau rapat semiformal, dapat melihat langsung proses pembuatan roti melalui jendela kaca besar di bagian kanan ruangan. Per sekali pemanggangan terdapat 70-100 roti, sehari terdapat rata-rata 300 roti. Varian yang paling disukai pengunjung adalah croissant. Dalam sebulan bisa terjual 1.000-2.000 buah. Fenomena kumpul sambil makan hidangan pencuci mulut, khususnya varian patiseri internasional, terbilang baru di Indonesia.Hingga sekarang, masih populer di Jakarta dibandingkan kota-kota besar lainnya, tetapi berpotensi menyebar.

Founder dan Chef Oma Elly, resto gelato, Andry Susanto berpendapat, gelato sekarang bersaing dan relatif mampu menyubstitusi minuman kopi, karena harga satu sekop gelato sudah bisa menyamai satu cangkir kopi. ”Harga dua sekop gelato di bawah Rp 40.000 sudah jamak ditemukan. Kualitas rasanya pun bersaing dengan gelato impor,” katanya. Andry menciptakan aneka rasa gelato untuk dijual di Gelateria Oma Elly sejak enam tahun lalu. Total varian rasa mencapai 300.Andry telah memiliki tujuh gerai di Jakarta. Semuanya berada di dalam mal. Dalam sebulan, dia bisa menjual 25.000 kg lebih gelato. Setiap bulan dia membuka satu gerai baru di dalam mal. Oma Elly juga aktif mempromosikan gelato di pameran, seperti festival UMKM kreatif. (Yoga)


Pemanfaatan Bonggol Jagung sampai ekspor

KT3 01 Nov 2024 Kompas

Stefanus Indri Sujatmiko (51) menghaluskan kerajinan dari bonggol jagung yang dibuat di UMKM Giowari Putra Craft miliknya di Kecamatan Minggir, Sleman, DI Yogyakarta, Kamis (31/10/2024). Bonggol sisa panen jagung yang biasanya hanya menjadi limbah dimanfaatkan oleh UMKM itu menjadi bahan baku kerajinan dengan nilai jual tinggi sekaligus berorientasi ekspor ke manca negara dan juga diminati oleh turis asing yang datang ke galeri kerajinan miliknya. (Yoga)

Roti Jadul Gelora, bangkit Setelah Viral

KT3 30 Oct 2024 Kompas

Pekerja mencetak kue speculaas dengan mesin tua yang didatangkan dari Jerman di pabrik Roti Gelora yang terletak di Gang Obat, Kelurahan Balimester, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Kue speculaas merupakan kue khas Jerman yang memiliki kekhasan rasa aroma kayu manis yang kuat. Pabrik roti tua yang berada di dalam gang ini telah berdiri sejak tahun 1951 dan kini kembali menggeliat  dan dicari banyak pelanggan setelah viral di media sosial, (Yoga)

Anjani Sekar Arum, dari Kota Batu Meramu Batik Banteng Agung

KT3 29 Oct 2024 Kompas (H)

Anjani Sekar Arum (33) meramu kecantikan dan kekuatan menjadi lembaran-lembaran batik banteng agung. Perpaduan tradisi lokal dan modern dunia adibusana akhirnya menjelma menjadi karya ikonik di Kota Batu, Jatim. Darah seni mengalir deras di tubuh Anjani. Ayahnya, Agus Riyanto, adalah pelukis yang pada 2008 berusaha menghidupkan kembali kesenian bantengan dengan mengumpulkan 1.600 pelaku seni bantengan se-Kota Batu, Jatim. Anjani juga mencintai seni lukis. Sejumlah karya lahir dari tangannya. Pada 2010, ia mulai membatik dan menggeluti seni membatik sebagai panggilan hati. Ia memilih batik banteng agung lantaran terinspirasi gerakan ayahnya melestarikan seni bantengan. Ia ciptakan motif-motif batik bantengan di atas kain.

Pada 2014, ia bisa memamerkan 54 lembar kain batik bantengan dalam pameran tunggal di Galeri Raos Kota Batu. Setelah sukses pada pameran pertamanya, Anjani diajak istri Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, menggelar pameran batik bantengan di Praha, Republik Ceko. Namun, dua pekan sebelum hari-H, Anjani hanya sanggup membuat 10 lembar kain batik, karena ia kesulitan mencari pembatik yang tekun dan bagus.Kondisi itu mempertebal tekad Anjani melestarikan batik banteng agung. Ia makin getol mengenalkan batik banteng agung di Kota Batu, khususnya kepada anak-anak. Hingga 2017 ada 58 anak yang belajar membatik di sanggarnya, 28 orang di antara mereka menjadi pembatik aktif. Setiap bulan, sanggar itu menghasilkan 45 lembar kain batik yang selembarnya dijual Rp 300.000-Rp 750.000.

Anjani hanya mengambil 10 % hasil penjualan untuk dipakai membeli kain dan perlengkapan lain. Selebihnya diberikan kepada anak-anak yang membatik. Jadi, selain melestarikan batik banteng agung, Anjani juga memberi keuntungan ekonomi kepada para pembatik muda. Hal itu membuat Anjani menerima penghargaan SATU Indonesia Awards tingkat nasional, kategori Kewirausahaan pada 2017, yang merupakan penghargaan dari PT Astra International Tbk kepada anak-anak muda yang berkontribusi memajukan dan menginspirasi bangsa. Sejak itu, Anjani dilibatkan dalam berbagai kegiatan Astra, baik di Kota Batu maupun di kota-kota lain, seperti Yogyakarta. Pada 2019 ia pindah ke Desa Binangun, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pelan-pelan ia coba mengajarkan para petani membatik agar mereka punya sumber penghasilan lain, punya karya, tanpa bergantung pada orang lain.

Wisata edukasi membatik menjadi pilar ekonomi Anjani. Istri Rizky Handi Alfarizy yang menghidupi 49 pekerjanya itu menggandeng agen tur dan perjalanan untuk bekerja sama, sehingga, wisata edukasi di Galeri Batik Anjani sudah terjadwal setiap bulan. Penikmat wisata ini adalah para siswa, mahasiswa, atau komunitas. Mereka bisa datang berombongan hingga 200 orang dalam sekali kunjungan. Anjani dan tim menjual baju batik siap pakai secara live setiap hari. Ia juga membebaskan anak-anak muda yang diajaknya bekerja sama untuk berinovasi terkait batik. Baik dalam produksi maupun penjualan, Anjani ingin menepis kesan bahwa batik itu lekat dengan orang, kaku, dan harus selalu pakai pakem tertentu. Terus berinovasi dan bergerak bersama adalah kunci batik banteng agung Kota Batu. (Yoga)


Membangun Kesejahteraan dengan Tulang Ikan

KT3 28 Oct 2024 Kompas

Setahun terakhir, sejumlah ibu rumah tangga di Dusun Srinanti, Banyuasin, Sumsel, tidak lagi semata sibuk mengurus rumah. Sejak diberi pengetahuan baru oleh Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas PGRI Palembang yang didukung Kilang Pertamina Internasional Refinery Unit (RU) III Plaju, ibu-ibu di sana mengolah tulang ikan patin dan lele menjadi kemplang khas Palembang. Windi Larasati (32) saat ditemui, Jumat (18/10) mengatakan, tulang ikan patin atau lele bisa diolah menjadi bahan baku kemplang yang merupakan penganan khas yang sangat digemari masyarakat Palembang. Caranya, tulang dipresto supaya lunak.

Setelah itu, dihaluskan sehingga menjadi tepung, lalu diolah dengan tepung tapioka, tepung beras, dan bumbu dasar sebagaimana bahan baku kemplang umumnya. Selanjutnya, semua bahan dibuat menjadi pempek lenjer bulat memanjang. Bahan lenjeran itu diiris tipis-tipis sebelum dikeringkan di bawah terik matahari, hingga kandungan airnya berkurang drastis. Kemudian digoreng sampai mengembang dan kemplang siap disajikan. Cita rasa ikan dominan dalam setiap gigitan kemplang. Teksturnya renyah atau mudah dikunyah. Kalau tidak tahu bahan baku aslinya, siapa pun pasti mengira itu kemplang biasa yang terbuat dari daging ikan.

Windi dan 12 ibu lainnya yang tergabung dalam kelompok UMKM Jasmine Suger memberi merek kemplang itu ”Kerupuk Pale, Ikan Patin dan Lele”. Bahan pembuatan tergantung ketersediaan tulang ikan, antara patin atau lele. Mereka membuat dua kemasan, yakni kemasan premium 50 gram seharga Rp 15.000 per bungkus dan kemasan biasa dengan berat bersih sama seharga Rp 10.000 per bungkus. Kemplang tulang ikan mendapat respons positif dari sejumlah pihak, terutama para pegawai Pertamina RU III Plaju yang membelinya untuk camilan hari-hari, mengisi kantin kantor, oleh-oleh tetamu, hingga dibawa ke pameran UMKM di Sumsel dan luar Sumsel. Semua kemplang itu nyaris selalu habis sehingga memberi pemasukan Rp 1 juta per orang per bulan. (Yoga)


Penyaluran Kredit UMKM Kembali Bangkit Setelah Sempat Turun

KT1 28 Oct 2024 Investor Daily

Penyaluran kredit UMKM kembali bangkit setelah lama mengalami penurunan sejak awal tahun. Salah satu sektor yang menopang pertumbuhan kredit UMKM adalah usaha kecil.  Data Uang Beredar Indonesia (BI) menyoroti perkembangan kredit UMKM per September 2024, dimana kredit skala kecil terlihat tumbuh 6,6% secara year on year (yoy), naik dibandingkan sebulan sebelumnua yang hanya tumbuh 4,0% yoy. Kenaikan kredit skala kecil ini dilihat sebagai penopang utama untuk keseluruhan kredit kepada UMKM yang tumbuh sebesar 5% yoy dari bulan sebelumnya yang 4,3% yoy. Sementara itu, kalau dilihat dari sisi penggunaan, kredit UMKM ini ditopang oleh pertumbuhan kredit investasi 13,2% yoy dan kredit modal kerja 2,2% yoy. 

"Penyaluran kredit kepada UMKM pada September tumbuh 5,0% yoy, meningkat pertumbuhan pada Agustus 4,3%. Pertumbuhan penyaluran kredit UMKM terutama pada skala kecil 6,6% yoy," ungkap Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso. Adapun penyaluran kredit UMKM ini memang terlihat kembali bangkit setelah mengalami penurunan sejak Feruari 2024. Kredit UMKM yang saat itu (Februari) tumbuh 8,9% per maret, kemudian turun lagi ke 8,1% per April, dan Mei menjadi 7,3%. Pada Juni, turun menjadi 5,6% dan Juli 5,1% hingga mencapai level terendah pertumbuhan 4,3% yoy per Agustus 2024. Tapi, kemudian mulai bangkit dengan mencatat pertumbuhan sebesar 5% per September 2024. (Yetede)

SMEXPO 2024: Target Transaksi Pertamina Capai Rp14,9 Miliar

HR1 23 Oct 2024 Bisnis Indonesia

PT Pertamina (Persero) menargetkan perputaran uang dalam gelaran Small Medium Enterprise Expo (SMEXPO) 2024 bisa melampaui capaian tahun lalu yang mencapai Rp14,9 miliar. VP Corporate Communication Pertamina, Fadjar Djoko Santoso, menyatakan optimisme ini karena SMEXPO 2024 akan diadakan di enam kota, meningkat dari lima kota pada tahun sebelumnya. Ia berharap transaksi tahun ini bisa melebihi angka tersebut.

SMEXPO bertujuan untuk membantu UMK Mitra Binaan Pertamina dalam mempelajari cara berjualan online dan memperluas pasar melalui platform e-commerce. Pertamina juga berkomitmen untuk membina UMKM sebagai tanggung jawab sosialnya, mengingat kontribusi signifikan UMKM terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia, yang lebih dari 60%.

Menteri Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), Maman Abdurrahman, menambahkan bahwa pemerintah sedang mengkaji kebijakan inovatif dan credit scoring untuk membantu pelaku UMKM mendapatkan akses kredit yang lebih baik. Ini mencerminkan sinergi antara Pertamina dan pemerintah dalam mendorong pertumbuhan UMKM di Indonesia.

BRI Komit Mendukung UMKM Go Global

KT1 22 Oct 2024 Investor Daily (H)
PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) terus menunjukkan komitmennya dalam mendukung pelaku UMKM untuk ekspansi ke kancah internasional. Perseroan juga membekali  pelaku UMKM agar bisa meningkatkan daya saingnya secara global. Sebagai langkah nyata, BRI melalui Bank Representative Saudi Arabia menampilkan produk dari lima UMKM binaan alumni Brillianpreneur, yaitu Resmu Mande, Arva, Matoh, Havila Tea, Muniru Coffe di Pameran Amazing Indonesia di Hotel Al Mutlaq, AL Madinah Road, Jeddah. Acara tersebut diselenggarakan oleh KJRI Jeddah bekerja sama dengan ITPC Jeddah. Terdapat 26 peserta yang  terdiri dari delapan perusahaan  Arab Saudi sebagai importir produk konsumen goods Indonesa , BPKH Limited, Korporasi Amphura, Dirjen Imigrasi, dua bank dari Indonesia yakni BRI dan BSI, serta peserta UMKM Indonesia lainnya. Selama penyelenggaraan kegiatan terdapat beberapa potensial buyer mengunjungi booth BRI mulai dari artisan coffe house di Saudi Arabia, asosiasi hotel dan lainnya. (Yetede)

Rusmidah, Dengan Ketelatenan, Memuliakan Batik Gentongan

KT3 21 Oct 2024 Kompas (H)
Meski usianya telah memasuki 60 tahun, Rusmidah tetap setia menggarap batik gentongan yang rumit dan membutuhkan waktu pengerjaan yang lama. Di usia senjanya pun, corak batik yang dibuat Rusmidah bukannya semakin sederhana atau mengikuti selera pasar, tetapi justru semakin istimewa. Torehan ”uget” berupa garis dan titik halusnya semakin banyak.  Garis dan titik halus bertebaran di setiap lembar batik gentongan. Menurut pembatik di Desa Macajah, Kecamatan Tanjung Bumi, Kabupaten Bangkalan, Madura, Jawa Timur, ini, garis da titik halus tersebut adalah salah satu keistimewaan yang menjadi talentanya. Saat ini kian sulit menjumpai pembatik yang telaten menorehkan uget dilembaran batik.

”Membubuhkan uget ke dalam selembar batik hingga ribuan jumlahnya itu sangat membutuhkan ketelitian dan ketelatenan,” kata Rusmidah yang ditemui di rumahnya di Desa Macajah, Selasa (15/10/2024). Uget, menurut ibu dari dua putra ini, adalah garis-garis pendek dan titik-titik di seluruh lembaran batik yang berfungsi untuk menguatkan corak batik.Titik yang ditorehkan di luar atau di dalam corak batik tersebut sangat kecil dan tidak bisa hanya asal ada. Kian banyak dan rapat uget, corak dan warna batik gentongan akan semakin mencuri hati penggemar batik. ”Uget inilah yang menjadi kekhasan dari batik gentongan yang saya buat,” kata Rusmidah. Corak batik gentongan karyanya didominasi bunga dan daun. Ada juga motif hewan, seperti burung,tetapi sangat sedikit serta sangat tergantung dari pesanan. Menurut Rusmidah, sulitnya membubuhkan uget pada lembaran batik membuat pengerjaan corak membutuhkan waktu minimal satu bulan.

Ditambah dengan waktu pewarnaan menggunakan gentong, rata-rata pengerjaan batik gentong membutuhkan waktu minimal satu tahun. Lamanya waktu pengerjaan batik gentongan itu mendorong pelanggan harus memesan lebih awal. Apabila batik gentongan akan dikenakan untuk pernikahan, dibutuhkan waktu setahun atau bahkan dua tahun lebih lama. Sering kali pemesan memilih sarimbit atau sepasang terdiri atas tiga lembar batik termasuk selendang dalam sekali pesan. Saatini, dengan bantuan 60 pembatik yang tinggal di sekitar Macajah, Rusmidah terus melestarika batik gentongan. Karena tingkat kesulitan yang tinggi dan waktu pewarnaan yang lama dalam  tidak mengherankan jika harga selembar batik gentongan sangat mahal. ”Peminat batik gentongan sangat terbatas, tetapi pencintanya tak pernah berhenti memesan,” kata pembatik yang selama ini mendapat pendampingan dari Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) itu. (Yoga)

Produk UMKM jadi Tuan Rumah di Negeri Sendiri

KT3 12 Oct 2024 Kompas

Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah menegaskan komitmennya untuk melindungi usaha mikro, kecil, dan menengah atau UMKM dalam negeri dari ancaman aplikasi belanja daring lintas negara yang bernama Temu. Harapannya, produk UMKM lokal bisa menjadi tuan rumah di negara sendiri. Sekretaris Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop dan UKM) Arif Rahman Hakim di Yogyakarta, Jumat (11/10/2024), menyampaikan komitmen tersebut. Arif menghadiri acara ”UMKM Muda: Masa Depan Perekonomian Bangsa” yang digelar di kampus Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. ”Kami di Kemenkop dan UKM selalu tiga, ya, arahnya, yakni memberi kemudahan, memberi perlindungan, dan pemberdayaan kepada UMKM. Jadi, kalau ada pihak-pihak yang bertentangan dengan prinsip untuk memberikan perlindungan kepada UMKM, tentu kami akan mendukung UMKM supaya bisa jadi tuan rumah di negara sendiri, bisa mempunyai daya saing,” kata Arif.

Lebih lanjut Arif mengatakan, Kemenkop dan UKM sudah menyampaikan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika terkait keberatannya terhadap aplikasi e-dagang yang mengancam keberlangsungan UMKM di dalam negeri. Aplikasi itu bernama Temu. Temu merupakan aplikasi e-dagang atau belanja daring lintas negara. Model bisnisnya membuat konsumen dapat bertransaksi langsung dengan produsen atau pabrik di Chinatanpa melibatkan pedagang perantara. Akibatnya, harga jual barang akan lebih murah. Cegah masuk Sebelumnya, melalui siaran pers pada 2 Oktober 2024, Kemenkop dan UKMjuga menyampaikan bahwaTemu adalah ancaman bagi UMKM Indonesia. Pemerintah saat ini berkomitmen mengawal dan memastikan agar aplikasi tersebut tidak masuk ke Indonesia. Staf Khusus Menteri Bidang Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Kemenkop dan UKM Fiki Satari dalam siaran pers itu menyebut, jika Temu sampai masuk ke Indonesia, hal ini akan sangat membahayakan UMKM dalam negeri. Dia berharap kementerian-kementerian terkait dan para pemangku kepentingan lain dapat bersinergi mencegahnya.

Fiki mengungkapkan, sejak September 2022, Temu telah berupaya mendaftarkan merek sebanyak tiga kali di Indonesia. Bahkan, pada 22 Juli 2024, Temu juga mengajukan ulang pendaftarannya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia. Akan tetapi, upaya itu gagal karena ada perusahaan asal Indonesia dengan nama dan klasifikasi lapangan usaha serupa. ”Tetapi, kita tidak boleh lengah, harus kita kawal terus,” ujar Fiki. Dalam kesempatan berbeda, Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi menyatakan bakal memblokir aplikasi Temu di Indonesia (Kompas.id, 9/10/2024). Pemerintah sudah melarang model bisnis seperti itu melalui Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 31 Tahun 2023 tentang Perizinan Berusaha, Periklanan, Pembinaan, dan Pengawasan Pelaku Usaha dalam Perdagangan melalui Sistem Elektronik. ”Temu yang memiliki model bisnis perdagangan secara elektronik (e-dagang) lintas batas negara jelas-jelas dilarang di Indonesia. Temu juga sampai sekarang belum mendaftar sebagai penyelenggara sistem elektronik (PSE) lingkup privat kepada kami. (Yoga)