UMKM
( 686 )Agustina Widayati Membawa Gerabah Pundong Menembus Pasar Export
Agustina Widayati (40) hanya lulusan SMA. Namun, kreativitas dan semangat ingin maju membuat perempuan asal Kecamatan Pundong, Bantul, DI Yogyakarta, ini bisa membawa kerajinan gerabahnya menembus pasar ekspor ke sejumlah negara. Bersama sang suami, Parjono (50), Agustina merintis usaha kerajinan gerabah atau keramik di Desa Srihardono, Pundong, pada 2003. Usaha yang diberi nama Parjono Keramik Jaya (PKJ) itu betul-betul dimulai dari nol. ”Awalnya kami memproduksi gerabah yang sangat standar, yakni gerabah yang habis dibakar kemudian dijual, tanpa dicat atau diproses. Istilahnya gerabah merahan,” kata Agustina di rumah sekaligus tempat usahanya, Senin (25/11).
Sebelum merintis usaha itu, sang suami telah memiliki bekal keterampilan dari pekerjaannya sebagai desainer di tempat usaha kerajinan gerabah serupa di Pundong. Kecamatan itu dikenal sebagai salah satu sentra kerajinan gerabah di DIY, bersama Kasongan yang juga telah melegenda. ”Setelah menikah, suami membuat usaha gerabah sendiri karena kalau ikut kerja dengan orang terus penghasilannya tak bisa menghidupi keluarga secara layak,” ujar Agustina. Parjono mengurus produksi, Agustina menangani pemasaran dan desain. Dari produksi gerabah sederhana itu, keduanya terus meningkatkan keterampilan dan kualitas produk dengan memakai bahan baku tanah liat terbaik dari Kasongan berciri khas warna terakota. Selain itu, variasi jenis produk dan modelnya juga terus dia kembangkan.
Agustina rajin mengikuti tren gerabah terkini lewat berbagai pelatihan, pameran, ataupun sumber-sumber lain. Kini, jenis produk yang dibuat PKJ di antaranya mencakup guci, vas, kap lampu, tempat lilin, hingga mangkuk buah. Kapasitas produksinya mencapai 2.000 buah gerabah per bulan. Pada 2015, Agustina menyewa lahan di depan rumahnya untuk gudang produksi untuk memperluas pemasaran dan meraih kepercayaan sejumlah vendor di Yogyakarta, yang membeli dalam skala besar gerabah dari perajin kemudian mengekspornya. Agustina mengombinasikan gerabah dengan anyaman rotan. Metode tersebut dipakainya sejak 2018 dan menjadi salah satu spesialisasi PKJ. Selain itu, dia mengembangkan desain gerabah dengan cat bakar sehingga memunculkan tekstur permukaan yang unik, membuat gerabah memiliki tampilan rustik atau seperti fosil.
Pada 2018, Agustina mendapat penghargaan Satu Indonesia Awards tingkat Provinsi DIY dari Astra, karena dia juga mempekerjakan penyandang disabilitas dalam usahanya. Agustina mengikuti berbagai pelatihan untuk mempelajari seluk-beluk proses ekspor. Peluang muncul saat mengikuti pameran Indonesia International Furniture Expo (Ifex) di Jakarta pada 2023. ”Waktu itu produk saya diminati calon pembeli dari Yunani, Mauritius, dan Dubai (UEA). Yang pertama pesan pembeli dari Yunani sebanyak 1.000 vas yang diekspor Agustus 2023. Menyusul pesanan dari Mauritius,” katanya. Pasar ekspor berikutnya dia dapatkan saat mengikuti Jogjakarta International Furniture and Craft Fair (Jiffina) 2024. Waktu itu, dua calon pembeli dari Perancis dating langsung ke rumah dan tempat produksinya. Menurut Agustina, penghasilan dari ekspor langsung lebih tinggi ketimbang menjual ke vendor. (Yoga)
Memanggungkan Kuliner Kampung lewat Bank Jateng Pawone
Bank Jateng Semarang, rangkaian lomba lari Bank Jateng Borobudur Marathon 2024. Pelari dari sejumlah kota mengikuti kegiatan itu. Borobudur Marathon merupakan lomba lari yang digelar atas kerja sama Pemprov Jateng, Bank Jateng, harian Kompas, dan Yayasan Borobudur Marathon. Mengambil tema ”Run On, Mark It”, lomba yang bakal diikuti 10.500 pelari ini digelar pada Minggu (1/12). Dalam ajang ini, penyelenggara juga melibatkan pelaku UMKM setempat, termasuk Farida, melalui program Bank Jateng Pawone. Ini pertama kali Farida ikut acara di luar Magelang dan berskala besar seperti Borobudur Marathon. Setahun berjalan, usahanya meluas dengan sistem menitipkan ke warung-warung. Produksinya melonjak dari puluhan menjadi ratusan getuk per hari. Getuk itu pun telah dijual ke Magelang, Yogyakarta, hingga daerah lain. Ida kini tidak lagi menjahit. Penjualan getuk Rp 1.500 per buah lebih baik dari menjahit. Suami dan anaknya pun ikut membantunya. Ia optimistis produknya bisa berkembang saat ikut Bank Jateng Pawone. ”Kami didampingi chef profesional. Program ini juga tambah ilmu dan teman,” ujarnya.
Kebanggaan juga dirasakan Yohanes COS (61) dan istrinya, Anastasya Nunung (56), pemilik UMKM Gandem Marem dengan produk wedang uwuh serta wedang jahe. ”Saya sudah woro-woro ke teman supaya datang ke Borobudur Marathon. Ada produk saya. Program ini bagus karena mau turun ke bawah. Jadi, enggak mesti kafe atau restoran besar yang lolos. Industri rumahan seperti kami pun bisa ikut,” ucap Nunung, yang ruang tamunya jadi etalase produk. Nunung dan suaminya merintis usaha sejak 2018 karena tertarik dengan minuman berbahan rempah. Butuh satu tahun untuk menemukan resep pas untuk wedang uwuh yang terdiri atas 10 bahan, dari daun pala, daun cengkeh, kayu manis, kapulaga, jahe, hingga kayu secang. Saat pandemi Covid-19 merebak pada 2020, produknya laris manis. Saking banyaknya pesanan, mereka sampai kehabisan bahan. Yohanes mengakui, penjualan produknya menurun setelah pandemi. Itu sebabnya, ketika dinyatakan masuk program Bank Jateng Pawone, ia bersyukur. Mereka dapat ilmu baru soal manajemen penjualan. (Yoga)
UMKM Perlu Kelanjutan Insentif Pajak Final 0,5%
Penyaluran Kredit Kepada Usaha UMKM Kembali Mengempis
Efisiensi Jadi Jurus Utama Pelaku Usaha
Kebijakan penetapan upah minimum yang tengah dirumuskan oleh pemerintah menghadirkan dilema yang signifikan bagi dunia usaha. Di satu sisi, kebijakan ini dapat memperkuat daya beli masyarakat, yang penting untuk pemulihan ekonomi, namun di sisi lain, kebijakan ini dapat membebani pelaku industri, terutama pengusaha kecil dan menengah. Sekjen Hipmi Anggawira menyatakan bahwa pengusaha akan menghadapi tantangan besar dalam menyesuaikan harga produk, melakukan efisiensi operasional, serta merestrukturisasi tenaga kerja untuk mengimbangi kenaikan upah. Dalam hal ini, Hipmi berharap ada fleksibilitas dalam penyesuaian upah yang mempertimbangkan kemampuan sektor usaha, khususnya UMKM, dan adanya insentif dari pemerintah untuk membantu dunia usaha, seperti pengurangan pajak atau akses pembiayaan murah.
Di sisi lain, Bob Azam dari Apindo menekankan bahwa perubahan kebijakan upah yang dilakukan di tengah tekanan ekonomi dapat menambah risiko bagi dunia bisnis, yang sudah menghadapi penurunan daya beli masyarakat dan potensi PHK. Bob juga berharap agar kebijakan ini tidak dipolitisasi, karena hal tersebut dapat mengganggu iklim bisnis. Sementara itu, Mirah Sumirat, Ketua Asosiasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (Asprasi), menuntut kenaikan upah sebesar 20% untuk mengangkat daya beli pekerja yang sudah melemah dalam beberapa tahun terakhir, namun ia juga menuntut agar pemerintah menurunkan harga bahan pokok untuk mengimbangi kenaikan upah.
Payaman Simanjuntak, pengamat ketenagakerjaan dari Universitas Indonesia, menyarankan agar kenaikan UMP 2025 berada pada kisaran 6%-8%, sesuai dengan inflasi dan pertumbuhan ekonomi, sehingga semua pihak—pengusaha, pekerja, dan masyarakat—dapat mengantisipasi dengan baik. Hal ini akan memberikan kepastian dan kestabilan, serta mendukung rencana bisnis dan investasi yang sehat.
Secara keseluruhan, pemerintah perlu menemukan keseimbangan dalam kebijakan upah, dengan mempertimbangkan daya beli masyarakat, kemampuan dunia usaha, serta kebutuhan untuk menjaga stabilitas ekonomi. Kebijakan upah yang adil dan tepat waktu akan sangat memengaruhi iklim bisnis, daya beli masyarakat, dan keberlanjutan perekonomian nasional.
Mengurai Sampah Jadi Rupiah dengan kolaborasi bersama
Puja Labaika (27) mengayak maggot, larva black soldier fly (BSF). ”Awalnya geli dan jijik. Apalagi makanannya sampah. Sekarang sudah terbiasa,” kata Puja yang sedang memanen maggot di Sentra Budidaya Maggot BSF Kota Padang di Kelurahan Rawang, Kota Padang, Sumbar, Selasa (19/11) siang. Sentra budidaya maggot itu dikelola Kelompok Usaha Bersama (Kube) Organic Feed. Siang itu, ibu dua anak itu dibantu seorang rekan memanen maggot. Ada puluhan biopond, media maggot mengurai sampah organik, yang dibongkar. Ia memperkirakan panen maggot hari itu 200 kg. Firman Agus (45) menuangkan sebakul sampah sisa makanan ke biopond dan segera diserbu maggot.
”Biasanya saya menambah pakan maggot sekali tiga hari. Ditambah ketika sampah di biopond sudah kering,” kata sopir bus sekolah itu di tempat budidaya maggot milik Kube Organic Feed lain di Kelurahan Ranah Parak Rumbio, Padang Selatan. Kube Organic Feed yang dirintis sejak November 2022 merupakan usaha budidaya maggot yang eksis dan terus berkembang di Kota Padang dengan 17 anggota yang bekerja sebagai montir, sopir, sukarelawan dinas lingkungan hidup (DLH), pekerja sosial masyarakat, dan lainnya. ”Tiap bulan, kegiatan kami mengurangi 18 ton sampah organik di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Air Dingin, Padang,” kata Ketua Kube organic Feed Hendrik Yuriko (45). DLH Padang menyebut, produksi sampah ibu kota Sumbar itu 647 ton per hari dan 65 % di antaranya merupakan sampah organik.
Mayoritas produksi sampah harian masuk ke TPA Air Dingin yang kapasitasnya hampir penuh. Kube Organic Feed mendapatkan pasokan sampah organik dapur dari 12 titik usaha di Padang. Lembaga itu bekerja sama dengan empat hotel, empat rumah sakit, dua sekolah, satu asrama, dan satu rumah makan. Sampah berupa nasi basi dan sisa makanan lainnya itu dijemput ke tempat-tempat tersebut pukul 21.00-23.00. Selanjutnya, dikumpulkan di tempat budidaya maggot di Kelurahan Ranah Parak Rumbio. Paginya, sampah yang terkumpul disortir kembali, lalu disimpan di ember-ember besar. Sampah-sampah inilah yang kemudian disalurkan sebagai pakan maggot di tiga tempat budidaya itu.
Kube Organic Feed membudidayakan maggot di biopond seukuran 120 cm x 240 cm. Total ada 278 biopond yang tersebar di tiga tempat budidaya, yaitu 72 biopond di Ranah Parak Rumbio, 120 biopond di Rawang, dan 86 biopond di Pasa Gadang. ”Oktober lalu hasil panen maggot segar di ketiga tempat itu, 1.410 kilogram. Kami menjual ke petambak ikan Rp 6.000 per kg,” kata Sekretaris Kube Organic Feed Andi Ilham (43). Selain maggot, tiga tempat budidaya itu menghasilkan lebih dari setengah ton kasgot atau sisa pencernaan maggot yang dapat digunakan sebagai pupuk organik. (Yoga)
UMKM Cenderung Melambat
Inovasi Sebagai Kunci Pertumbuhan UMKM
Meskipun banyak tantangan yang dihadapi oleh pelaku UMKM, terutama dalam hal literasi digital dan keterbatasan biaya implementasi teknologi, berbagai startup kini hadir untuk memberikan solusi yang inovatif dan terjangkau. Wappin, yang dipimpin oleh CEO Alfi an Tinangon, menawarkan platform berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memungkinkan UMKM untuk mengelola pesanan dan berinteraksi dengan pelanggan melalui aplikasi perpesanan populer seperti WhatsApp. Solusi ini mengurangi ketergantungan pada tenaga admin dan memungkinkan UMKM mengalokasikan tenaga kerja untuk tugas lain yang lebih produktif.
Selain itu, PT Esensi Solusi Buana (ESB), yang dipimpin oleh Gunawan Woen, menyediakan solusi teknologi untuk UMKM di sektor kuliner, termasuk aplikasi kasir dan sistem ERP. Teknologi AI yang ditawarkan, seperti fitur OLIN, membantu pengusaha kuliner meningkatkan efisiensi operasional dan mendeteksi potensi kecurangan, sehingga mereka dapat lebih mudah mengelola bisnis mereka dengan lebih efisien dan meningkatkan nilai rata-rata pesanan.
Paper.id, yang didirikan oleh Yosia Sugialam, juga memberikan solusi untuk membantu UMKM mengelola arus kas dan pembayaran secara lebih mudah dan efisien. Platform ini memungkinkan UMKM untuk mengelola transaksi melalui lebih dari 30 metode pembayaran, termasuk cicilan dan kartu kredit, serta menyediakan produk Papercard untuk membantu pengusaha mengelola pembiayaan dengan lebih fleksibel.
Ketiga startup ini menawarkan teknologi yang sangat relevan dan bermanfaat bagi UMKM, seiring dengan target pemerintah untuk mengintegrasikan 30 juta UMKM ke dalam ekosistem digital pada akhir tahun ini. Meskipun tantangan seperti keterbatasan literasi digital dan biaya teknologi masih ada, solusi yang ditawarkan oleh startup-startup tersebut membuka peluang besar bagi UMKM untuk tumbuh dan meningkatkan daya saing mereka, yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Utang Macet Pelaku UMKM Diputihkan per Mei 2025
Mulai Mei 2025, utang macet pelaku UMKM sektor tertentu akan diputihkan.Alih-alih hanya memutihkan, kebijakan ini juga diharapkan turut diiringi upaya mempermudah dan memperluas akses kredit bagi pelaku UMKM. Di sisi lain, industri perbankan tengah mengidentifikasi jumlah kredit macet yang nantinya akan dihapus tagih. Presiden Prabowo telah menandatangani PP No 47 Tahun 2024 tentang Penghapusan Piutang Macet kepada UMKMpada 5 November 2024. Pemutihan utang tersebut mulai berlaku setelah enam bulan regulasi disahkan, dimana pemutihan berlaku per 5 Mei 2025. Hapus tagih tersebut dilakukan BUMN atau lembaga keuangan nonbank BUMN yang sebelumnya dihapus bukukan. Berdasarkan kriteria yang telah ditentukan, bank BUMN atau lembaga keuangan nonbank BUMN hanya bisa menghapus tagih kredit yang nilai pokok piutang macet maksimal mencapai Rp 500 juta per nasabah.
Lebih lanjut, kredit tersebut hanya bisa dihapus tagih apabila telah dihapusbukukan minimal lima tahun sejak PP mulai berlaku. Kemudian, kredit tersebut bukan kredit yang dijamin dengan asuransi atau penjaminan kredit serta tidak memiliki agunan atau agunan kredit dalam kondisi tidak memungkinkan untuk dijual. Sekjen Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero, Selasa (12/11) menyambut baik upaya pemerintah yang hendak memutihkan kredit UMKM. Kendati demikian, ia menyangsikan kebijakan itu dapat dilaksanakan dengan baik dan dapat menjamin pelaku UMKM dapat mengakses kredit kembali. ”Mereka yang belum pernah diberikan kesempatan saja masih sulit mengajukan bantuan kredit. Dalam hal ini, pelaku UMKM yang belum cacat (masuk catatan hitam) ini minta dibantu saja sulit, apalagi yang sudah punya cacatan hitam,” katanya saat dihubungi dari Jakarta. (Yoga)
Pasar Tradisional di Kota Malang menjelma menjadi Pusat Kuliner
Selasa (22/10) Pasar Klojen, Malang, Jatim, semarak. Hilir mudik pengunjung berbelanja sayur dan kebutuhan pokok harian. Banyak juga yang datang untuk melihat-lihat dan berwisata kuliner. ”Ayolah Pak, dua saja masak tidak ada. Ngidam ini. Saya dari Tulungagung, kapan hari ke sini Sabtu kehabisan. Masak hari ini yang bukan akhir pekan juga habis,” kata seorang pengunjung memesan pada Sugeng (69), penjual pisang goreng di sana. Karena, si ibu gigih membujuk si penjual, akhirnya keinginannya dipenuhi. ”Dua saja, ya Bu, ini soalnya pesanan orang. Kalau Ibu tidak ngidam, juga tidak bakal saya kasih karena kasihan yang sudah pesan,” kata Sugeng. Sugeng tidak menyangka, lima bulan ini pisang goreng jualannya laris manis diburu pembeli dalam dan luar kota. ”Sekarang jadi pusat kuliner, makanya banyak yang cari. Tentu ini sangat menguntungkan bagi kami,” kata pria yang berjualan sejak tahun 1980 itu.
Pasar Kojen sekarang jauh berbeda dengan bertahun lalu. Sekarang, pasar yang tak jauh dari Stasiun Malang ini menjelma jadi pusat kuliner pada pagi hingga siang hari dan tongkrongan anak muda pada malam hari. Lebih dari 30 stan di tengah dan sisi kanan pasar, yang merupakan stan kuliner yang dijalankan anak-anak muda berusia 20-30 tahun. Mereka menjual menu, mi singapore, mi beijing, gyoza, ataupun mi kolagen. Salah satu stan misalnya Warung Cendana, yang menjual aneka mi dengan harga murah meriah Rp 15.000 per porsi. Mereka berjualan mulai pukul 07.30 WIB dan pada pukul 11.00 WIB biasanya sudah habis. ”Untuk hari-hari biasa seperti ini, kami menjual 200 porsi per hari. Akhir pekan biasanya porsi dijual ditambah jadi 300-an porsi,” kata Chepy, pekerja di sana.
Lapak kuliner lain, Eng Ing Eng, menjual aneka mi, dari mi beijing, mi singapura, wonton, dan menu kekinian lain dengan harga rata-rata Rp 15.000 per porsi. Lapak Ahmad Iswahyudi (50) adalah perintis pusat kuliner di Pasar Klojen. ”Saya terbiasa belanja di pasar ini sehingga tahu pasar benar-benar sepi. Padahal, pasar bersih seperti Pasar Oro-Oro Dowo. Itu sebabnya saya ingin jualan di sana. Ternyata benar, Pasar Klojen sekarang ramai dan jadi tujuan kuliner wisatawan,” kata laki-laki yang dikenal sebagai Didik Sapari itu. Ia buka usaha Maret 2024, bulan pertama, Eng Ing Eng rugi Rp 3 juta. Bulan kedua, rugi Rp 2,8 juta. Bulan ketiga, kedai dengan konsep gabungan Melayu-Tionghoa tersebut sudah untung Rp 600.000. Cuan mulai besar pada bulan kelima. Sejak pasar ramai pengunjung, ada pedagang sayur yang awalnya omzet harian sekitar Rp 150.000, kini omzetnya naik 2-3 kali lipat setelah pasar ramai menjadi pusat kuliner. (Yoga)
Pilihan Editor
-
Beban Bunga Utang
05 Aug 2022 -
The Fed Hantui Pasar Global
26 Jul 2022









