;

Pasar Tradisional di Kota Malang menjelma menjadi Pusat Kuliner

Ekonomi Yoga 08 Nov 2024 Kompas (H)
Pasar Tradisional di Kota Malang menjelma menjadi Pusat Kuliner

Selasa (22/10) Pasar Klojen, Malang, Jatim, semarak. Hilir mudik pengunjung berbelanja sayur dan kebutuhan pokok harian. Banyak juga yang datang untuk melihat-lihat dan berwisata kuliner. ”Ayolah Pak, dua saja masak tidak ada. Ngidam ini. Saya dari Tulungagung, kapan hari ke sini Sabtu kehabisan. Masak hari ini yang bukan akhir pekan juga habis,” kata seorang pengunjung memesan pada Sugeng (69), penjual pisang goreng di sana. Karena, si ibu gigih membujuk si penjual, akhirnya keinginannya dipenuhi. ”Dua saja, ya Bu, ini soalnya pesanan orang. Kalau Ibu tidak ngidam, juga tidak bakal saya kasih karena kasihan yang sudah pesan,” kata Sugeng. Sugeng tidak menyangka, lima bulan ini pisang goreng jualannya laris manis diburu pembeli dalam dan luar kota. ”Sekarang jadi pusat kuliner, makanya banyak yang cari. Tentu ini sangat menguntungkan bagi kami,” kata pria yang berjualan sejak tahun 1980 itu.

Pasar Kojen sekarang jauh berbeda dengan bertahun lalu. Sekarang, pasar yang tak jauh dari Stasiun Malang ini menjelma jadi pusat kuliner pada pagi hingga siang hari dan tongkrongan anak muda pada malam hari. Lebih dari 30 stan di tengah dan sisi kanan pasar, yang merupakan stan kuliner yang dijalankan anak-anak muda berusia 20-30 tahun. Mereka menjual menu, mi singapore, mi beijing, gyoza, ataupun mi kolagen. Salah satu stan misalnya Warung Cendana, yang menjual aneka mi dengan harga murah meriah Rp 15.000 per porsi. Mereka berjualan mulai pukul 07.30 WIB dan pada pukul 11.00 WIB biasanya sudah habis. ”Untuk hari-hari biasa seperti ini, kami menjual 200 porsi per hari. Akhir pekan biasanya porsi dijual ditambah jadi 300-an porsi,” kata Chepy, pekerja di sana.

Lapak kuliner lain, Eng Ing Eng, menjual aneka mi, dari mi beijing, mi singapura, wonton, dan menu kekinian lain dengan harga rata-rata Rp 15.000 per porsi. Lapak Ahmad Iswahyudi (50) adalah perintis pusat kuliner di Pasar Klojen. ”Saya terbiasa belanja di pasar ini sehingga tahu pasar benar-benar sepi. Padahal, pasar bersih seperti Pasar Oro-Oro Dowo. Itu sebabnya saya ingin jualan di sana. Ternyata benar, Pasar Klojen sekarang ramai dan jadi tujuan kuliner wisatawan,” kata laki-laki yang dikenal sebagai Didik Sapari itu. Ia buka usaha Maret 2024, bulan pertama, Eng Ing Eng rugi Rp 3 juta. Bulan kedua, rugi Rp 2,8 juta. Bulan ketiga, kedai dengan konsep gabungan Melayu-Tionghoa tersebut sudah untung Rp 600.000. Cuan mulai besar pada bulan kelima. Sejak pasar ramai pengunjung, ada pedagang sayur yang awalnya omzet harian sekitar Rp 150.000, kini omzetnya naik 2-3 kali lipat setelah pasar ramai menjadi pusat kuliner. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :