Ekonomi Dunia 2026: IMF Prediksi Pertumbuhan Stabil 3,3% di Tengah "Angin Sakal" Perdagangan
JAKARTA – Dana Moneter
Internasional (IMF) baru saja merilis laporan World Economic Outlook (WEO)
Update edisi Januari 2026 yang memberikan gambaran optimis namun penuh
kewaspadaan bagi lanskap ekonomi global. Di tengah bayang-bayang ketegangan
perdagangan dan ketidakpastian geopolitik, ekonomi dunia diprediksi akan tetap
tangguh dengan angka pertumbuhan yang stabil.
Ketahanan di Tengah
Ketidakpastian
IMF memproyeksikan pertumbuhan
ekonomi global akan bertahan di angka 3,3% pada tahun 2026 dan sedikit melandai
ke 3,2% pada tahun 2027. Angka ini mencerminkan keberlanjutan dari performa
tahun 2025 yang juga diperkirakan mencapai 3,3%. Menariknya, proyeksi untuk
tahun 2026 ini merupakan hasil revisi naik sebesar 0,2 poin persentase
dibandingkan dengan laporan WEO Oktober 2025.
Meskipun terlihat stabil di
permukaan, IMF menekankan bahwa performa ini sebenarnya merupakan hasil dari
penyeimbangan kekuatan yang saling bertolak belakang. Hambatan utama atau "angin
sakal" datang dari pergeseran kebijakan perdagangan dunia yang semakin
restriktif. Namun, tekanan ini berhasil diimbangi oleh "angin
buritan" berupa lonjakan investasi yang masif di sektor teknologi,
terutama terkait Kecerdasan Buatan (AI). Tren positif ini terlihat jauh lebih
kuat di wilayah Amerika Utara dan Asia dibandingkan dengan kawasan lainnya.
Dinamika Perdagangan dan
Kebijakan Amerika Serikat
Salah satu poin krusial dalam
laporan ini adalah perkembangan hubungan dagang antara Amerika Serikat dan
China. Perselisihan mengenai kontrol ekspor semikonduktor dan mineral tanah
jarang sempat memanas, namun diikuti oleh gencatan perang dagang yang berhasil
menurunkan tarif bilateral hingga November 2026. Gencatan perang dagang ini
juga mencakup penundaan sementara pada kontrol ekspor.
IMF mencatat bahwa tarif efektif
Amerika Serikat saat ini berada di level 18,5%, sedikit turun dari perkiraan
sebelumnya di angka 18,7%. Di sisi lain, otoritas AS juga melakukan langkah tak
terduga dengan menghapus tarif pada beberapa produk pertanian untuk semua
negara guna mengompensasi kenaikan tarif di sektor lain. Meskipun ketegangan
sedikit mereda, ketidakpastian kebijakan ekonomi diprediksi akan tetap tinggi
sepanjang tahun 2026. Dunia juga sedang menantikan keputusan Mahkamah Agung AS
pada awal 2026 mengenai penggunaan kekuasaan darurat presiden dalam urusan
ekonomi internasional (IEEPA).
Jinaknya Inflasi dan Dilema
Biaya Hidup
Kabar baik datang dari sisi
stabilitas harga. Inflasi utama global diperkirakan akan menurun dari estimasi
4,1% pada tahun 2025 menjadi 3,8% pada tahun 2026, dan turun lebih jauh ke
angka 3,4% pada tahun 2027. Tren penurunan ini didukung oleh melemahnya
permintaan global dan penurunan harga komoditas energi yang diperkirakan anjlok
sekitar 7% pada tahun 2026.
Namun, penurunan inflasi ini
tidak serta-merta menghapus beban masyarakat. Di Amerika Serikat, biaya hidup
tetap menjadi kekhawatiran nomor satu bagi rumah tangga, di mana ekspektasi
inflasi satu tahun ke depan masih berada di level yang tinggi. IMF memprediksi
bahwa inflasi di AS akan kembali ke target secara lebih bertahap dibandingkan
dengan negara-negara ekonomi besar lainnya.
Risiko Sektor Teknologi dan
Keuangan
Meskipun AI menjadi pendorong
pertumbuhan, IMF memberikan peringatan keras mengenai potensi risiko di sektor
ini. Saat ini, harga saham perusahaan teknologi raksasa (sering disebut Magnificent
7) semakin menjauh dari harga saham sektor lainnya. Jika ekspektasi
produktivitas dari AI ternyata terlalu optimis dan tidak memberikan hasil
nyata, bisa terjadi koreksi pasar keuangan yang mendadak.
Koreksi ini dikhawatirkan dapat
menyebar dari perusahaan terkait AI ke segmen pasar lainnya, sehingga menggerus
kekayaan rumah tangga dan memperketat kondisi keuangan global secara tiba-tiba.
Dalam skenario moderat, koreksi valuasi saham AI ini bisa memangkas pertumbuhan
global sebesar 0,4% pada tahun 2026.
Rekomendasi Kebijakan:
Membangun Kembali Cadangan Fiskal
Menghadapi lanskap ekonomi yang
kompleks ini, IMF mendesak pemerintah di seluruh dunia untuk fokus pada
pembangunan kembali kapasitas fiskal. Utang publik global diproyeksikan akan
melampaui 100% dari PDB dunia pada akhir dekade ini. Oleh karena itu, komitmen
terhadap konsolidasi fiskal jangka menengah yang kredibel menjadi sangat
krusial.
Selain itu, bank sentral
diingatkan untuk tetap independen dan menyesuaikan kebijakan moneter secara
hati-hati berdasarkan data terbaru. Negara-negara yang sudah mencapai target
inflasi disarankan untuk mulai menurunkan suku bunga secara bertahap guna menjaga
aktivitas ekonomi. Sebaliknya, bagi negara yang inflasinya masih tinggi,
pendekatan yang lebih hati-hati tetap diperlukan.
Secara keseluruhan, ekonomi dunia
di tahun 2026 berada dalam posisi yang tangguh namun rentan. Keberhasilan
navigasi di tahun ini akan sangat bergantung pada seberapa cepat adopsi
teknologi dapat diterjemahkan menjadi produktivitas nyata, serta seberapa efektif
para pembuat kebijakan dalam meredam ketegangan perdagangan yang terus
mengintai.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023