;

Anjani Sekar Arum, dari Kota Batu Meramu Batik Banteng Agung

Ekonomi Yoga 29 Oct 2024 Kompas (H)
Anjani Sekar Arum, dari Kota Batu Meramu Batik Banteng
Agung

Anjani Sekar Arum (33) meramu kecantikan dan kekuatan menjadi lembaran-lembaran batik banteng agung. Perpaduan tradisi lokal dan modern dunia adibusana akhirnya menjelma menjadi karya ikonik di Kota Batu, Jatim. Darah seni mengalir deras di tubuh Anjani. Ayahnya, Agus Riyanto, adalah pelukis yang pada 2008 berusaha menghidupkan kembali kesenian bantengan dengan mengumpulkan 1.600 pelaku seni bantengan se-Kota Batu, Jatim. Anjani juga mencintai seni lukis. Sejumlah karya lahir dari tangannya. Pada 2010, ia mulai membatik dan menggeluti seni membatik sebagai panggilan hati. Ia memilih batik banteng agung lantaran terinspirasi gerakan ayahnya melestarikan seni bantengan. Ia ciptakan motif-motif batik bantengan di atas kain.

Pada 2014, ia bisa memamerkan 54 lembar kain batik bantengan dalam pameran tunggal di Galeri Raos Kota Batu. Setelah sukses pada pameran pertamanya, Anjani diajak istri Wali Kota Batu, Dewanti Rumpoko, menggelar pameran batik bantengan di Praha, Republik Ceko. Namun, dua pekan sebelum hari-H, Anjani hanya sanggup membuat 10 lembar kain batik, karena ia kesulitan mencari pembatik yang tekun dan bagus.Kondisi itu mempertebal tekad Anjani melestarikan batik banteng agung. Ia makin getol mengenalkan batik banteng agung di Kota Batu, khususnya kepada anak-anak. Hingga 2017 ada 58 anak yang belajar membatik di sanggarnya, 28 orang di antara mereka menjadi pembatik aktif. Setiap bulan, sanggar itu menghasilkan 45 lembar kain batik yang selembarnya dijual Rp 300.000-Rp 750.000.

Anjani hanya mengambil 10 % hasil penjualan untuk dipakai membeli kain dan perlengkapan lain. Selebihnya diberikan kepada anak-anak yang membatik. Jadi, selain melestarikan batik banteng agung, Anjani juga memberi keuntungan ekonomi kepada para pembatik muda. Hal itu membuat Anjani menerima penghargaan SATU Indonesia Awards tingkat nasional, kategori Kewirausahaan pada 2017, yang merupakan penghargaan dari PT Astra International Tbk kepada anak-anak muda yang berkontribusi memajukan dan menginspirasi bangsa. Sejak itu, Anjani dilibatkan dalam berbagai kegiatan Astra, baik di Kota Batu maupun di kota-kota lain, seperti Yogyakarta. Pada 2019 ia pindah ke Desa Binangun, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu. Pelan-pelan ia coba mengajarkan para petani membatik agar mereka punya sumber penghasilan lain, punya karya, tanpa bergantung pada orang lain.

Wisata edukasi membatik menjadi pilar ekonomi Anjani. Istri Rizky Handi Alfarizy yang menghidupi 49 pekerjanya itu menggandeng agen tur dan perjalanan untuk bekerja sama, sehingga, wisata edukasi di Galeri Batik Anjani sudah terjadwal setiap bulan. Penikmat wisata ini adalah para siswa, mahasiswa, atau komunitas. Mereka bisa datang berombongan hingga 200 orang dalam sekali kunjungan. Anjani dan tim menjual baju batik siap pakai secara live setiap hari. Ia juga membebaskan anak-anak muda yang diajaknya bekerja sama untuk berinovasi terkait batik. Baik dalam produksi maupun penjualan, Anjani ingin menepis kesan bahwa batik itu lekat dengan orang, kaku, dan harus selalu pakai pakem tertentu. Terus berinovasi dan bergerak bersama adalah kunci batik banteng agung Kota Batu. (Yoga)


Download Aplikasi Labirin :