Saat Listrik Jawa Tersandera Batu Bara, Harga Ekspor, dan Lemahnya Tata Kelola DMO
Jakarta — Pemadaman listrik
bergilir yang terjadi di sejumlah wilayah Pulau Jawa pada Juni 2026 kembali
membuka persoalan lama dalam tata kelola energi nasional: Indonesia adalah
produsen dan eksportir batu bara besar, tetapi sistem kelistrikannya tetap rentan
ketika batu bara yang dibutuhkan PLTU tidak tersedia tepat waktu, sesuai
spesifikasi, dan dalam volume yang cukup.
Krisis ini tidak dapat dibaca
secara sederhana sebagai “PLN kehabisan batu bara”. Persoalannya lebih
kompleks. Di satu sisi, PLN membutuhkan batu bara dengan spesifikasi tertentu,
terutama medium rank coal atau batu bara kalori menengah untuk kebutuhan sejumlah
PLTU. Di sisi lain, harga batu bara internasional sedang menarik, sementara
harga batu bara untuk kebutuhan domestik melalui skema Domestic Market
Obligation/DMO masih dibatasi. Perbedaan harga inilah yang menciptakan
tarik-menarik antara kepentingan menjaga pasokan listrik nasional dan
kepentingan komersial pelaku usaha batu bara.
PLN menyatakan bahwa pihaknya
mempercepat pengadaan batu bara kalori menengah untuk pembangkit listrik.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut perseroan mempercepat
penandatanganan kontrak dengan pemasok batu bara, khususnya pemasok medium rank
coal yang telah mendapat penugasan dari pemerintah. Pasokan tersebut diarahkan
ke sejumlah PLTU strategis di Jawa, antara lain Suralaya, Pelabuhan Ratu,
Lontar, Labuan, Jawa 7, Jawa 9–10, Indramayu, Paiton, Rembang, Pacitan, dan
Tanjung Awar-Awar.
Kementerian ESDM mencatat
kebutuhan batu bara PLN pada 2026 mencapai sekitar 154 juta metrik ton per
tahun. Dari jumlah tersebut, PLN telah mengamankan kontrak sekitar 134 juta
ton, sehingga masih terdapat kebutuhan yang belum sepenuhnya tertutup. Kendala
utama berada pada batu bara kalori menengah, khususnya dengan spesifikasi
sekitar 5.200 kcal/kg GAR, yang dibutuhkan untuk proses pembangkitan dan
pencampuran atau blending di sejumlah PLTU.
Masalah menjadi lebih sensitif
karena harga batu bara global pada Juni 2026 bergerak tinggi. Reuters
melaporkan pasar batu bara global mengalami tekanan pasokan akibat gangguan
produksi di China, ketidakpastian kebijakan ekspor Indonesia, gangguan pasokan
LNG, serta peningkatan permintaan dari negara-negara Asia. Kondisi tersebut
mendorong indeks batu bara Newcastle mendekati level tertinggi hampir dua
tahun, di atas US$150 per metrik ton.
Di dalam negeri, Harga Batu Bara
Acuan atau HBA periode kedua Juni 2026 juga meningkat. Keputusan Menteri ESDM
Nomor 253.K/MB.01/MEM.B/2026 menetapkan HBA periode kedua Juni 2026, sementara
pemberitaan pasar mencatat HBA batu bara 6.322 GAR berada pada level US$123,91
per ton, dan HBA I 5.300 GAR berada pada US$88,40 per ton.
Sementara itu, harga DMO batu
bara untuk sektor kelistrikan masih dipatok US$70 per ton. Kebijakan ini
dimaksudkan untuk menjaga agar biaya pembangkitan listrik tidak melonjak dan
tarif listrik masyarakat tetap terkendali. Namun, ketika harga pasar internasional
berada jauh di atas harga DMO, muncul insentif ekonomi bagi pelaku usaha untuk
lebih tertarik menjual batu bara ke pasar ekspor. Kementerian ESDM sendiri
menjelaskan bahwa DMO menetapkan kewajiban pasokan dalam negeri minimal 25%
dari rencana produksi, dengan harga batu bara untuk kelistrikan umum sebesar
US$70 per metrik ton sebagai harga batas atas apabila HBA melebihi US$70.
Kesenjangan harga tersebut
menjadi salah satu akar persoalan. Pada satu sisi, pemerintah membutuhkan batu
bara murah agar biaya listrik tetap terjaga. Pada sisi lain, pengusaha batu
bara menghadapi biaya produksi yang meningkat dan peluang memperoleh harga
lebih tinggi di pasar ekspor. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia bahkan membuka
peluang mengkaji ulang harga DMO agar PLN tidak dirugikan, tetapi pengusaha
batu bara juga tidak dipaksa menjual pada harga yang dianggap terlalu rendah.
Ia menyebut biaya produksi batu bara kalori menengah meningkat, antara lain
karena stripping ratio yang tinggi.
Pandangan serupa juga muncul dari
pelaku industri. APBI menilai harga DMO yang tidak berubah sejak 2018 tidak
lagi sepenuhnya mencerminkan kondisi biaya industri saat ini, termasuk kenaikan
biaya bahan bakar, alat berat, upah, logistik, dan kewajiban lingkungan.
Perhapi juga menyoroti bahwa kebutuhan PLN banyak berada pada batu bara kalori
menengah, sementara struktur harga DMO untuk batu bara jenis tersebut dapat
jatuh jauh lebih rendah dibanding harga pasar global.
Dalam kondisi demikian, DMO
menjadi instrumen yang sangat penting, tetapi sekaligus rawan. Tanpa DMO,
pengusaha batu bara memiliki dorongan lebih besar untuk mengejar pasar ekspor
karena harga luar negeri lebih menarik. Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Pati
Jaya menyebut bahwa sebelum kebijakan DMO diterapkan, penambang batu bara
cenderung lebih memilih ekspor karena harga jual luar negeri lebih tinggi
dibanding harga domestik. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa DMO lahir untuk
mencegah pasokan energi nasional kalah bersaing dengan pasar ekspor.
Namun, keberadaan DMO saja tidak
cukup apabila pengawasan, kontrak, kualitas batu bara, dan logistik tidak
terkendali. Pada 26 Juni 2026, Kementerian ESDM menyatakan sempat menahan
sementara pengiriman ekspor batu bara tertentu untuk mengamankan batu bara
dengan nilai kalori yang disyaratkan bagi pembangkit PLN. Hingga saat itu,
sekitar 141 juta metrik ton batu bara telah diamankan dari total kebutuhan
tahunan 154 juta metrik ton, dan ekspor disebut kembali berjalan normal setelah
pasokan dalam negeri membaik.
Langkah penahanan ekspor tersebut
menunjukkan bahwa pemerintah melihat adanya risiko nyata pada pasokan energi
primer PLN. Artinya, masalah ini bukan semata persoalan teknis pembangkit,
tetapi juga menyangkut tata kelola pasokan batu bara dari hulu ke hilir: mulai
dari kewajiban DMO, penugasan pemasok, kontrak, spesifikasi kalori, blending,
transportasi, hingga kesiapan stok di PLTU.
Pemadaman bergilir kemudian
terjadi ketika gangguan pasokan energi primer bertemu dengan gangguan teknis
pembangkit. PLN menyebut adanya dua PLTU besar milik Independent Power Producer
atau IPP yang mengalami gangguan teknis dan keluar dari sistem kelistrikan
Pulau Jawa. Dalam sistem listrik yang harus seimbang setiap saat antara pasokan
dan beban, keluarnya pembangkit besar dari sistem dapat memaksa PLN melakukan
manajemen beban agar jaringan tidak mengalami gangguan yang lebih luas.
Institute for Essential Services
Reform atau IESR menilai pemadaman bergilir di Jawa perlu diinvestigasi secara
transparan. IESR menduga gangguan tersebut dipicu rendahnya cadangan bahan
bakar di sejumlah PLTU sistem Jawa-Bali, sehingga pembangkit harus beroperasi
di bawah kapasitas optimal. IESR juga menyoroti kemungkinan Hari Operasi
Pembangkit atau HOP berada di bawah batas aman, serta faktor lain seperti
gangguan pembangkit, minimnya cadangan daya, jadwal perawatan pembangkit yang
tidak sinkron, dan gangguan transmisi.
Dengan demikian, pemadaman
listrik 2026 memperlihatkan tiga kerentanan sekaligus. Pertama, ketergantungan
sistem listrik Jawa pada PLTU batu bara masih sangat besar. Kedua, pasokan batu
bara untuk PLN tidak hanya bergantung pada jumlah produksi nasional, tetapi
juga pada insentif harga, kepatuhan DMO, dan kesesuaian kualitas batu bara.
Ketiga, ketika harga internasional tinggi, pengawasan pemerintah harus lebih
kuat agar kebutuhan domestik tidak kalah oleh orientasi ekspor.
Pelajaran penting dari kejadian
ini adalah bahwa ketahanan listrik nasional tidak cukup dijaga dengan angka
produksi batu bara nasional yang besar. Yang lebih penting adalah memastikan
batu bara yang dibutuhkan PLTU benar-benar tersedia di lokasi pembangkit,
sesuai spesifikasi, tepat waktu, dan tidak tersisih oleh insentif ekspor. Jika
selisih harga antara DMO dan pasar internasional terlalu lebar tanpa pengawasan
yang kuat, maka sistem listrik nasional akan terus menghadapi risiko yang sama:
batu bara ada, tetapi tidak cukup tersedia untuk pembangkit ketika paling
dibutuhkan.
Rujukan Utama
Kementerian ESDM, Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat Pasokan
Batubara untuk Kelistrikan, 26 Juni 2026. Kementerian
ESDM RI - Media Center - News Archives - Pemerintah Awasi dan Kawal Ketat
Pasokan Batubara untuk Kelistrikan
ANTARA, PLN percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik, 20
Juni 2026. PLN
percepat pengadaan pasokan batu bara untuk pembangkit listrik - ANTARA News
Jawa Timur
Reuters, China mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal
market, 16 Juni 2026. China
mine disaster, Indonesia policy changes upend global coal market | Reuters
Kementerian ESDM, As of 1 January 2020, DMO is Set at 25% and Sales Price to
Power Plant USD 70 per Ton. Kementerian
ESDM RI - Media Center - News Archives - As of 1 January 2020, DMO is Set at
25% and Sales Price to Power Plant USD 70 per Ton
Bloomberg Technoz, Bahlil Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru
Kajian, Juni 2026. Bahlil
Tegaskan Belum Akan Kerek Harga Batu Bara DMO, Baru Kajian - Energi - Page 2
IESR, IESR Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak
Investigasi Transparan Gangguan Listrik, 11 Juni 2026. IESR
Pertanyakan Keandalan Sistem Kelistrikan Jawa dan Mendesak Investigasi
Transparan Gangguan Listrik - IESR
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023