Saham Banking Kembali Bangkit
Mengapa Produksi Batu Bara Rendah
Kian Deras Penolakan Izin Tambang Ormas
Transaksi Saham Sepi Akibat Investor Tak Hepi
Nilai transaksi harian saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai sepi. Investor mengerem transaksi saham di bursa, salah satunya karena tak hepi dengan sentimen negatif penerapan papan pemantauan khusus dengan skema full call auction (FCA). Kemarin (10/6), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berakhir di level 6.921,54 atau naik 0,34%. Nilai transaksi harian saham kembali di kisaran Rp 8,88 triliun. Alhasil, nilai transaksi harian saham secara beruntun berada di angka Rp 8 triliun per hari dalam tiga hari terakhir perdagangan saham. Khusus pada perdagangan saham kemarin, nilai transaksi saham PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) mencapai Rp 411 miliar. Saham yang terkena tato X dan ditransaksikan dengan skema FCA itu menopang 5% perdagangan harian di BEI.
"Penambahan kepemilikan saham Bapak Prajogo ini merupakan bentuk dari kepercayaan beliau sebagai Chairman Grup Barito atas langkah-langkah strategis pengembangan dan ekspansi usaha yang telah dilakukan oleh Barito Renewables bersama anak usaha, Star Energy Geothermal dan Barito Wind Energy," tulis Merly, Direktur dan Corporate Secretary BREN dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (10/6). Sebagai gambaran, berdasarkan data terakhir Statistik Pasar Modal Otoritas Jasa Keuangan (OJK), rata-rata transaksi harian saham pada April 2024 senilai Rp 14,01 triliun. Pada pekan lalu, rata-rata transaksi harian di bursa sekitar Rp 10,38 triliun. Alhasil, rata-rata transaksi harian saham dalam tiga hari terakhir turun 40%.
Irvan Susandy, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota BEI mengatakan, memang dalam tiga hari terakhir nilai transaksi harian di bursa di bawah Rp 10 triliun. Tapi, kata dia, secara year to date (ytd) masih tumbuh 12,06%. "Terlalu dini untuk menilai faktor penyebab penurunan nilai transaksi," katanya kepada KONTAN, Senin (10/6). Head of Equity Research Bahana Sekuritas Satria Sambijantoro menilai sepinya transaksi di bursa saham belakangan ini dipengaruhi perginya dana investor asing ke negara lain. Kemarin, investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp 296,06 miliar. Sepekan terakhir net sell asing mencapai Rp 2,34 triliun. Pengamat Pasar Modal dari Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy juga menandaskan, sepinya transaksi bursa beberapa hari terakhir merupakan efek dari papan pemantauan khusus. Oleh karena itu, Budi menyarankan BEI lebih transparan menjelaskan manfaat dan mudarat FCA. Salah satu investor di pasar saham yang enggan disebutkan namanya menilai BEI seharusnya memberikan wadah bagi setiap tipe investor. Sebab, jika hanya mengandalkan investor fundamental transaksi di bursa akan sepi.
Biaya Hidup Menekan Konsumsi Masyarakat
Indikasi konsumsi rumah tangga akan tumbuh melambat pasca Ramadan dan Idul Fitri, makin menguat. Hal ini tecermin dari menurunnya sejumlah indikator dini konsumsi masyarakat. Terbaru, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) bulan Mei 2024 turun 2,5 poin ke level 125,2. Dari data tersebut pula, IKK hanya mencatat kenaikan pada bulan Maret dan April 2024, yang bertepatan dengan momentum puasa dan Lebaran. Penurunan IKK disebabkan oleh pelemahan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 4 poin ke level 115,4. Baik karena penurunan indeks penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama (durable goods). Dari survei itu, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi turun dari 73,6% menjadi 73,0%. Sementara proporsi pembayaran cicilan/utang naik dari 9,7% menjadi 10,3%. Sedangkan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan relatif stabil, yaitu sebesar 16,6%.
Selain itu, indikator dini konsumsi masyarakat yang lain, yakni Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur RI pada bulan Mei juga tercatat turun dari 52,9 menjadi 52,1. Penurunan memang disebabkan oleh melemahnya permintaan luar negeri. Namun, pertumbuhan permintaan dalam negeri cenderung terbatas. Bahkan perusahaan khawatir dengan tanda-tanda penurunan permintaan pasar akan semakin intensif dalam 12 bulan ke depan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, turunnya keyakinan konsumen sejalan dengan berakhirnya Lebaran dan mudik yang menjadi pendorong kenaikan belanja konsumen di April. Di saat bersamaan, biaya hidup masyarakat cenderung naik karena beberapa hal. Belum lagi, "(Rencana) potongan Tapera yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk menahan belanja terutama belanja barang tahan lama," kata Josua kepada KONTAN, Senin (10/6). Kondisi tersebut akan berdampak terhadap kinerja penjualan. Senada, Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo juga berharap pada semester II 2024 ini, pemerintah bisa mendorong realisasi belanjanya agar daya beli masyarakat kembali meningkat.
Kinerja Lesu, Saham Industri Masih Layu
Industri masih belum berenergi. Tampak dari indeks sektoral yang terjun sedalam 14,8% secara tahunan atau year to date (ytd) hingga perdagangan Senin (10/6). IDX Industrials menjadi sektor dengan penurunan terdalam ketiga setelah sektor teknologi dan sektor transportasi & logistik. Kedua sektor itu masing-masing mengakumulasi penurunan 27,63% dan 21,23% sejak awal 2024. Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas, Oktavianus Audi mengamati, emiten di sektor industri relatif sensitif terhadap sentimen makro ekonomi, kebijakan moneter dan pergerakan nilai tukar rupiah. Nah, sentimen yang ada sejauh ini cenderung menekan sebagian emiten di sektor industri. Tekanan itu cukup tergambar dari kinerja kuartal I-2024 sejumlah emiten di sektor ini. Audi mencontohkan PT Astra International Tbk (ASII), PT United Tractors Tbk (UNTR), PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang laba bersih mereka menyusut hingga double digits. Toh,
Purchasing Managers Index (PMI) Manufaktur Indonesia juga tengah melandai. Meski masih bertahan di zona ekspansi, PMI Manufaktur per Mei 2024 menyusut 0,8 poin secara bulanan dari 52,9 menjadi 52,1. Di sisi lain, secara pembobotan saham ASII masih menopang sektor industri. Tapi kinerja emiten holding multi-industri tersebut sedang tertekan. Secara ytd, saham ASII mengakumulasi pelemahan 20,18%, di jajaran atas saham laggard penggerus indeks. Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana menambahkan, secara teknikal sektor industri masih downtrend dan masih didominasi volume penjualan. Herditya menyarankan buy on weakness ASII dengan estimasi target harga di Rp 4.720 - Rp 4.860. Lalu speculative buy UNTR dengan target harga Rp 22.850 - Rp 23.350 dan MARK target Rp 965 - Rp 1.020.
Siap-Siap di Atas Rp 16.300
Ribuan Rekening Terduga Judi Online Telah Diblokir
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan telah memblokir 4.921 rekening yang diduga terlibat aktivitas judi online. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, ini merupakan upaya memberantas aktivitas judi online. Pemblokiran ini juga dilakukan untuk mendukung satuan tugas judi online yang dipimpin oleh Kemenko Polhukam RI. "Kami meminta perbankan menutup rekening dalam satu customer identification file yang sama. OJK juga menginstruksikan perbankan melakukan verifikasi, termasuk tracing profiling yang terindikasi adanya transaksi judi online," ujar Mahendra, Senin (10/6).
Mahendra menyebutkan, OJK telah memiliki regulasi kuat untuk memblokir rekening terkait judi online. Ini mengacu pada Undang-Undang Nomor 4/2023 tentang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU PPSK). Dia menyatakan, dalam rangka pelaksanaan tugas pengawasan, OJK berwenang memerintahkan bank untuk memblokir rekening tertentu. OJK juga telah memiliki aturan yang tertuang dalam Peraturan OJK (POJK) Nomor 8/2023 tentang program anti pencucian uang, terorisme dan proliferasi senjata pemusnah massal. Mahendra menyebut ini komitmen OJK menjaga integritas sektor jasa keuangan.









