Biaya Hidup Menekan Konsumsi Masyarakat
Indikasi konsumsi rumah tangga akan tumbuh melambat pasca Ramadan dan Idul Fitri, makin menguat. Hal ini tecermin dari menurunnya sejumlah indikator dini konsumsi masyarakat. Terbaru, Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) berdasarkan Survei Konsumen yang dilakukan oleh Bank Indonesia (BI) bulan Mei 2024 turun 2,5 poin ke level 125,2. Dari data tersebut pula, IKK hanya mencatat kenaikan pada bulan Maret dan April 2024, yang bertepatan dengan momentum puasa dan Lebaran. Penurunan IKK disebabkan oleh pelemahan Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 4 poin ke level 115,4. Baik karena penurunan indeks penghasilan saat ini, ketersediaan lapangan kerja, dan pembelian barang tahan lama (durable goods). Dari survei itu, rata-rata proporsi pendapatan konsumen untuk konsumsi turun dari 73,6% menjadi 73,0%. Sementara proporsi pembayaran cicilan/utang naik dari 9,7% menjadi 10,3%. Sedangkan proporsi pendapatan konsumen yang disimpan relatif stabil, yaitu sebesar 16,6%.
Selain itu, indikator dini konsumsi masyarakat yang lain, yakni Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur RI pada bulan Mei juga tercatat turun dari 52,9 menjadi 52,1. Penurunan memang disebabkan oleh melemahnya permintaan luar negeri. Namun, pertumbuhan permintaan dalam negeri cenderung terbatas. Bahkan perusahaan khawatir dengan tanda-tanda penurunan permintaan pasar akan semakin intensif dalam 12 bulan ke depan. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede menilai, turunnya keyakinan konsumen sejalan dengan berakhirnya Lebaran dan mudik yang menjadi pendorong kenaikan belanja konsumen di April. Di saat bersamaan, biaya hidup masyarakat cenderung naik karena beberapa hal. Belum lagi, "(Rencana) potongan Tapera yang mempengaruhi keputusan konsumen untuk menahan belanja terutama belanja barang tahan lama," kata Josua kepada KONTAN, Senin (10/6). Kondisi tersebut akan berdampak terhadap kinerja penjualan. Senada, Chief Economist Bank Syariah Indonesia (BSI) Banjaran Surya Indrastomo juga berharap pada semester II 2024 ini, pemerintah bisa mendorong realisasi belanjanya agar daya beli masyarakat kembali meningkat.
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023