Krisis Kejujuran Skandal Guru Besar
Utak-atik Bea Masuk Tujuh Barang Impor
Agar Investasi BPKH di Muamalat Optimal
Ketar-Ketir Importir Akibat Aturan Berubah-ubah
Kempeskan Dana Subsidi Lewat Pembatasan BBM
Bersiaplah, Anda yang kendaraannya menenggak bahan bakar bersubsidi. Pemerintah akan membatasi pembelian BBM bersubsidi mulai 17 Agustus 2024. Adalah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan yang membuka rencana itu, lewat IG resmi Menko Marves. Alasan pembatasan adalah untuk mendorong penyaluran BBM subsidi lebih tepat sasaran, serta menghemat anggaran. Kenaikan harga minyak mentah dan kurs rupiah yang kian menjauhi dari patokan anggaran 2024 menjadi alasan. Harga minyak dunia masih dalam tren mendaki. Saat ini harga minyak WTI di kisaran US$ 82 per barel. Kurs rupiah di posisi Rp 16.235 per dolar AS (10/7), jauh dari dari asumsi rupiah di APBN 2024 di Rp 15.000 per dollar AS.
Melihat outlook konsumsi BBM subsidi tahun ini diperkirakan 18,39 juta kilo litter (KL) terdiri dari minyak tanah 0,51 juta KL dan minyak solar 17,88 juta KL. Adapun realisasi BBM subsidi hingga Mei 2024 sebesar 7,16 juta KL. Realisasi mencakup minyak tanah sebanyak 0,21 juta KL dan minyak solar 6,95 juta KL.
Fluktuasi harga minyak mentah dan rupiah serta naiknya konsumsi diperkirakan akan membuat anggaran subsidi energi mendaki. Di tengah potensi penurunan penerimaan perpajakan tahun ini, sementara belanja negara membengkak sehingga negara berpotensi defisit Rp 609,7 triliun di 2024 ini.
Dihubungi KONTAN, Vice President Corporate Communication Pertamina Fadjar Djoko Santoso mengakui tengah menyiapkan pelaksanaan subsidi BBM tepat sasaran.
Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) Saleh Abdurrahman menambahkan, sejauh ini upaya pelaksanaan subsidi tepat sasaran berjalan untuk pembelian solar subsidi yakni 60 liter, 80 liter dan 200 liter per hari.
Ekonom senior Faisal Basri menyebut bahwa Menko Marves Luhut memberikan sinyal bahwa pemerintah akan mengerek harga BBM subsidi seperti Pertalite dan solar.
"Ada kemungkinan besar pemerintah akan menaikkan harga BBM," ujar Faisal, (10/7). Apalagi, harga keekonomian Pertalite sudah jauh dari harga jual saat Rp 10.000 per hari.
Bunga Utang Bengkak Imbas Kurs & Yield SBN
Pegerakan nilai tukar rupiah yang melemah, berimbas terhadap beban bunga utang pemerintah. Kementerian Keuangan (Kemkeu) memperkirakan, pembayaran bunga utang tersebut bakal membengkak dengan nominalnya hampir mencapai Rp 500 triliun.
Direktur Jenderal (Dirjen) Pengelolalaan Pembiayaan dan Risiko Kemkeu Suminto mengatakan, pembayaran bunga utang jatuh tempo meningkat sekitar Rp 1,5 triliun. Dengan demikian, pembayaran bunga utang tersebut pada tahun ini, akan mencapai Rp 498,8 triliun dari target dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sebesar Rp 497,31 triliun.
"Jadi sekitar Rp 1,5 triliun deviasi. Ya di antaranya (karena pelemahan) kurs. (Tetapi)
nggak
banyak berubah hanya sekitar Rp 1,5 triliun," kata Suminto, Selasa (9/7).
Kendati mengalami peningkatan, Suminto bilang, biaya pembayaran bunga utang masih sesuai dengan prediksi pemerintah. Sebab itu, pemerintah juga berupaya mengurangi penerbitan surat berharga negara (SBN) untuk mengurangi beban bunga utang ke depan.
Chief Economist
PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) Banjaran Surya Indrastomo mengatakan, selain pelemahan nilai tukar, lebih besarnya pembayaran bunga utang pemerintah juga dipengaruhi perbedaan imbal hasil (
yield
) SBN. Dalam asumsi APBN 2024, tingkat bunga SBN ditetapkan 6,7%. Sementara
outlook
pemerintah, di kisaran 6,9% hingga 7,1%.
Ia melihat, pembayaran bunga utang tahun depan akan tetap tinggi dan meningkat seiring dengan peningkatan outstanding utang negara dan ketidakpastian yang tinggi yang berpotensi menahan apresiasi nilai tukar. Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat, komposisi SBN yang didominasi domestik membantu menekan bunga utang tahun ini, di tengah pelemahan kurs. Ia juga melihat, bunga utang tahun depan berpeluang untuk turun seiring rendahnya penerbitan SBN tahun ini dan memuncaknya SBN jatuh tempo di tahun depan.
Buyback Memantik Asa Penguatan Harga
Sejumlah emiten sudah mulai mengeksekusi rencana pembelian kembali alias buyback saham. Salah satunya, PT Goto Gojek Tokopedia Tbk (GOTO). Berdasarkan dokumen laporan bulanan registrasi pemegang efek yang diterbitkan pada Selasa (9/7), jumlah saham treasuri GOTO mencapai 14,09 miliar atau setara 1,17%. Jumlah tersebut meningkat dari sebelumnya, yaitu 10,26 miliar saham. Nilai itu setara dengan 0,85% dari total jumlah saham yang ditempatkan dan disetor. Kenaikan jumlah saham treasuri ini mengindikasikan, GOTO telah membeli 3,83 miliar saham. Jika mengacu rata-rata harga saham belakangan ini, emiten teknologi itu telah merogoh kocek sekitar Rp 191,25 miliar untuk buyback. Selain GOTO, beberapa emiten dengan kapitalisasi pasar besar dan menengah juga tengah mengeksekusi buyback. Salah satunya adalah PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) yang sudah menyiapkan dana buyback hingga Rp 400 miliar. Dari sektor farmasi, ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang menyiapkan Rp 1 triliun untuk membeli kembali sahamnya di pasar. Sedangkan PT Adaro Energy Tbk (ADRO) sudah mendapat izin buyback sejak 16 Mei 2024 lalu dengan dana sekitar Rp 4 triliun.
Maximilianus Nico Demus,
Associate Director of Research and Investment
Pilarmas Investindo Sekuritas mengatakan, aksi
buyback
saham mengurangi jumlah saham beredar, yang akan berdampak pada rasio keuangan perusahaan.
Senada,
Head of Customer Literation and Education
Kiwoom Sekuritas Oktavianus Audi mengatakan, aksi
buyback
emiten menunjukkan komitmen emiten dalam menjaga nilai perusahaan.
Memang kalau dicermati beberapa emiten yang berencana untuk
buyback
harga sahamnya sudah terkoreksi cukup dalam. Ambil contoh, saham GOTO sudah anjlok 41,86% secara tahunan hingga penutupan Rabu (10/7).
Pada periode yang sama, INTP ambles 22,07% secara year to date. Tekanan juga terjadi pada saham KLBF yang melemah 4,97%. Tapi,
buyback
juga belum tentu langsung mengangkat harga saham. Saham GOTO juga masih bertengger di level gocap.
Dari beberapa emiten yang telah mengantongi restu
buyback, Audi merekomendasikan
hold
KLBF dengan ADRO dengan masing-masing target harga Rp 1.650 dan Rp 3.320. Dia juga merekomendasikan beli INTP dengan target Rp 8.725.
Kurs Rupiah Masih Bergerak Dalam Mode Wsspada
Memacu Roda Produksi Otomotif
Roda industri otomotif belum berputar maksimal. Penjualan pada semester pertama tahun ini turun signifikan dibandingkan dengan tahun lalu. Daya beli masyarakat yang belum membaik menjadi salah satu penyebab. Dari data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) diketahui jumlah penjualan secara wholesales pada periode Januari—Juni 2024 mencapai 408.012 unit anjlok 19,4% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 506.427 unit. Penjualan ritel sepanjang semester I/2024 sama tidak baiknya yaitu mencapai 431.987 unit, turun 14% dari 502.533 unit secara year-on-year. Melemahnya daya beli karena kondisi perekonomian nasional diikuti dengan menurunnya permintaan di pasar global makin menekan penjualan. Dari data yang ada, disebutkan bahwa pengapalan mobil rakitan Indonesia ke negara lain selama Januari—April hanya 138.778 unit, turun 16,8% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu sebanyak 166.804 unit.
Sebagai salah satu tulang punggung perekonomian dengan penyerapan tenaga kerja cukup besar. Pemerintah diharapkan memberikan perhatian terhadap penurunan kinerja tersebut karena bila pasar dinilai tidak cukup kompetitif, dikhawatirkan investasi pun akan berjalan lambat. Data Kementerian Perekonomian per Desember 2023 menunjukkan bahwa saat ini ada sekitar 26 perusahaan industri kendaraan bermotor roda empat dengan total kapasitas produksi sebanyak 2,35 juta unit per tahun. Sementara itu, jumlah tenaga kerja yang terserap secara langsung pada industri ini mencapai 38.000 orang, dan lebih dari 1,5 juta orang yang bekerja di sepanjang rantai pasok otomotif.
Pada tahun ini, isu penurunan bahkan penghapusan pajak penjualan barang mewah (PPnBM) untuk kendaraan jenis tertentu kembali mengemuka. Besarnya pajak yang harus dibayarkan dan ditanggung konsumen dinilai menjadi penyebab mahalnya harga kendaraan di Tanah Air. Selain pasar domestik, pemerintah diharapkan ikut membantu memperluas pasar global. Langkah Kementerian Perindustrian mendorong produsen otomotif China menjadikan Indonesia sebagai hub ekspor kendaraan listrik patut diapresiasi, meski eksekusinya masih dinanti. Di sisi lain, produsen otomotif juga diharapkan lebih agresif membuat berbagai strategi untuk meningkatkan penjualan seperti pelaksanaan pameran dengan berbagai promosi yang menarik. Kemudahan pembiayaan kendaraan juga harus didorong.
PENGHILIRAN LOGAM : Smelter AMMN Segera Beroperasi
Emiten grup Medco dan Salim, PT Amman Mineral International Tbk. (AMMN) melalui anak usahanya PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT) memberikan kabar terbaru mengenai kelanjutan penyelesaian smelter. Presiden Direktur Amman Mineral Nusa Tenggara Rachmat Makkasau menjelaskan smelter ini diperkirakan akan beroperasi di akhir Agustus atau di awal September tahun ini. Untuk fase awal hingga Desember, smelter ini masih belum akan mencapai kapasitas produksi penuhnya yang sebesar 900.000 ton per tahun(ton per annum/tpn).
Dia menjelaskan smelter ini akan memiliki input produksi sebesar 900.000 tpa, dengan output berupa katoda sebesar 220.000 tpa dan 830.000 asam sulfat. Rachmat menjelaskan pembangunan kompleks smelter ini menghabiskan investasi senilai US$1,4 miliar. AMMN menerangkan demi memenuhi target produksi, perusahaan bakal mengimpor konsentrat dari negara yang memiliki produksi konsentrat melimpah. Sebab, produksi lokal diperkirakan belum dapat mencapai kapasitas maksimal smelter.
Selain itu, Rachmat menuturkan adanya potensi impor ini bisa terjadi seandainya terdapat shutdown pada produksi konsentrat tembaga.
Setelah beroperasi, konsentrat bakal bersumber dari tambang Batu Hijau dan proyek Elang. Produk dari pengolahan ini berupa katoda tembaga yang mencapai 222 ktpa dan asam sulfat mencapai 830 ktpa. Sementara itu, fasilitas PMR akan menghasilkan 18 tpa emas batangan, 55 tpa perak batangan dan 70 tpa selenium. Pada akhir Mei lalu, Rachmat menyampaikan proyek smelter tembaga tersebut telah memasuki tahap commisioning.
Per kuartal I/2024, AMMN melaporkan telah menghabiskan belanja modal sebesar US$123 juta untuk smelter. Selain itu, belanja modal AMMN demi sustaining capex sebesar US$67 juta, PLT Gas dan Uap, fasilitas LNG, serta fasilitas transmisi dan distribusi sebesar US$59 juta, ekspansi pabrik konsentrator sebesar US$138 juta, dan infrastruktur pendukung sebesar US$32 juta.









