Peralihan Aset Meningkat, Aktivitas Pasar Saham Meredup
Bagian Kredit Bank untuk Sektor UMKM Tergerus
Memburuknya kualitas kredit usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) tengah beberapa waktu terakhir berdampak pada porsi portofolio kredit di sektor ini. Porsi kredit UMKM yang dimiliki bank, dalam hal ini utamanya bank KBMI 4, terlihat mengalami penyusutan. Ambil contoh di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI). Komposisi portofolio kredit bank ini mengalami perubahan per semester I-2024. Dalam setahun, porsi segmen kredit kecil turun dari 18,9% ke 17,4%, sementara segmen kredit mikro turun dari 48,1% menjadi 46,6%. Di sisi lain, BRI yang memiliki karakteristik bank UMKM justru meningkatkan porsi kredit korporasi. Di periode sama, kontribusi kredit segmen korporasi mencapai 18%, naik dari periode sama tahun lalu jadi sekitar 15,5%. Direktur Utama BRI Sunarso menuturkan, BRI selalu melihat potensi dari tiap segmen.
Jika memang sedang ada pemburukan kualitas di segmen tertentu, bank ini tidak akan memaksakan untuk tumbuh. Sunarso menambahkan, BRI memang memperketat kriteria risk acceptance dan guideline portofolio. Portofolio kredit yang sudah menjadi aset bank juga dipilah mana, yang masih baik dan mana yang bermasalah. Kondisi serupa terjadi pada PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Bank ini mencatat porsi kredit UMKM di semester satu tinggal 13,7%. Sebagai perbandingan, pada periode sama tahun lalu, kredit UMKM berkontribusi 14%. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja menuturkan, permintaan kredit dari sektor UMKM tengah lesu karena daya beli menurun, sehingga langkah ekspansif dari UMKM turut terhambat. Corporate Secretary Bank Mandiri Teuku Ali Usman menambahkan, dalam mendorong penyaluran kredit, Bank Mandiri mengedepankan prinsip kehati-hatian, dengan memperkuat sistem mitigasi risiko, melalui pengawasan dan analisa risiko pasar serta profil masing-masing debitur.
Industri Mandiri dan Sehat
Industri kesehatan menjadi bagian penting untuk mengiringi Indonesia meraih cita-cita menuju Indonesia Emas. Industri farmasi sebagai bagian dari industri kesehatan, memainkan peran kunci dalam memastikan ketersediaan dan aksebilitas obat-obat bagi seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan kapasitas produksi dan inovasi yang didukung oleh SDM mumpuni serta ditopang regulasi pemerintah menjadi bagian penting untuk mencapai kemandirian dalam industri farmasi nasional.
Tercatat nilai pasar farmasi Indonesia pada 2022 mencapai Rp 127 triliun hingga Rp 130 triliun. Namun, dari 10 produk biologi dengan konsumsi terbesar, hanya empat produk yang dapat diproduksi di dalam negeri. Mengutip data Badan Pusat Statistik, kontribusi sektor farmasi terhadap PDB meningkat setiap tahunnya, mencapai 1,6% pada tahun 2020. Sementara data, Kementerian Perindustrian menyebut sektor farmasi menciptakan lebih dari 200.000 lapangan kerja langsung pada tahun 2022, dengan pertumbuhan tahunan sebesar 5%. (Yetede)
Sidang Kabinet Membahas IKN
Kredit Industri Perbankan
Investor Kakap Asia Menanamkan Modalnya ke Wika Beton
Transparansi Kemenkeu Dipertanyakan
NU dan Muhammadiyah Mengelola Tambang Batu Bara
Sinyal Waspada dari Kelas Menengah RI
Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia turun signifikan dalam beberapa tahun terakhir akibat melemahnya daya beli masyarakat dan minimnya kebijakan pemerintah yang pro kepada kelas menengah. Dampaknya mulai terasa pada kondisi perekonomian nasional dan perlu diantisipasi agar tidak berkembang menjadi keresahan sosial. Berdasar Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS yang diolah Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI (LPEM FEB UI) jumlah kelas menengah Indonesia menurun sejak tahun 2018. Pada 2018, kelas menengah di Indonesia berjumlah 60 juta orang atau 23 % dari total populasi.
Berdasar data Susenas 2023, jumlah kelas menengah di Indonesia turun menjadi 52 juta orang atau 18,8 % dari total populasi. Dalam lima tahun, 8,5 juta orang yang ”turun kelas” dari kelas menengah menjadi calon kelas menengah dan rentan. Hal itu terlihat dari proporsi penduduk calon kelas menengah yang meningkat dari 49,6 % pada 2018 menjadi 53,4 % atau 144 juta orang pada 2023. Sementara, proporsi kelompok masyarakat rentan meningkat dari 18,9 % pada 2018 menjadi 20,3 % pada 2023. ”Ini mengindikasikan pergeseran dari individu yang sebelumnya kelas menengah menjadi calon kelas menengah, bahkan rentan,” kata peneliti LPEM FEB UI, Teuku Riefky, Selasa (6/8).
Menurut Riefky, turunnya populasi kelas menengah disebabkan pelemahan daya beli kelompok tersebut, terlihat dari data Susenas BPS yang menunjukkan bahwa kelompok calon kelas menengah dan kelas menengah mengalami penurunan tingkat pertumbuhan pengeluaran per kapita terparah di antara kelas ekonomi lain. Daya beli kelas menengah yang melemah itu dipicu pandemi Covid-19. Namun, pada dasarnya, kelas menengah Indonesia sudah rentan karena memiliki pekerjaan tidak layak dengan upah rendah yang cenderung stagnan dan minim kepastian kerja. ”Kalau tidak segera diatasi, calon kelas menengah dan kelas menengah berisiko tinggi terus-menerus mendapat penghasilan yang rendah dan kualitas pekerjaan yang buruk di masa depan,” ujar Riefky. (Yoga)









