Jembrana Tingkatkan Peran Kelapa dan Kakao sebagai Motor Ekonomi
PDIP Siap Hadapi Bobby Nasution di Pilkada Sumut 2024
KINERJA Emiten Besar Mengendalikan Arah Bursa Saham
Mayoritas emiten dengan kapitalisasi pasar (market cap) terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah merilis laporan keuangan periode semester I-2024. Di barisan 20 market cap terbesar, ada 16 emiten yang sudah mengumumkan kinerja enam bulan pertama tahun ini. Hingga menutup perdagangan akhir pekan lalu (2/8), 20 penguasa market cap emiten di sektor komoditas, perbankan, konsumer dan industri. Jika ditotal, nilai market cap 20 emiten tersebut mencapai 7.905,72 triliun. Nilai ini setara 63,69% dari total market cap BEI sebesar Rp 12.410 triliun. Dus, dengan kapitalisasi pasarjumbo, 20 emiten big cap bisa jadi penggerak dan pemberat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Pada penutupan perdagangan pekan lalu, IHSG bertengger di 7.308,12. Jika diakumulasi sejak awal tahun ini, IHSG naik sebesar 0,49%. Sebagai gambaran, posisi 10 teratas market cap diduduki PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Diikuti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Selain itu, ada PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA), PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Berikutnya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN) PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dan PT Astra International Tbk (ASII). Selebihnya dihuni PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), dan PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS).
Direktur Reliance Sekuritas Indonesia, Reza Priyambada menilai, kinerja emiten big caps yang bervariasi cenderung sesuai ekspektasi. Realisasi kinerja itu menunjukkan kondisi setiap sektor industri dan strategi masing-masing emiten menyesuaikan diri dengan dinamika bisnis. Pengamat & Praktisi Pasar Modal, Riska Afriani sepakat, kinerja emiten big caps pada paruh pertama tahun ini relatif sesuai ekspektasi. Riska menyoroti pertumbuhan kinerja emiten bank, yang menandakan fundamental ekonomi Indonesia masih kuat di tengah tahun politik dan sejumlah tantangan ekonomi. Head of Equities Investment Berdikari Manajemen Investasi, Agung Ramadoni mengatakan, peluang emiten big caps memperbaiki kinerja di semester II-2024 semakin terbuka. Terlebih, ada harapan pemangkasan suku bunga acuan The Fed pada September nanti dan ada transisi pemerintahan di bulan Oktober. Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas, Muhammad Nafan Aji Gusta Utama memperkirakan, kinerja para emiten yang positif di semester I-2024 berpeluang kembali terapresiasi hingga akhir tahun ini. "Harga saham emiten itu juga akan semakin terapresiasi," ujarnya. Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus menimpali, di semester II, kinerja sejumlah emiten big caps masih akan moncer. Sentimen utamanya adalah Pilkada 2024 di akhir tahun nanti. Transisi pemerintahan dan pemilihan kabinet juga memberikan sentimen positif.
JALAN PANJANG DALAM PROSES MENUJU NEGARA KELAS SATU
Perjalanan Indonesia menjadi negara berpendapatan tinggi dinilai masih sangat panjang. Hal ini mengingat laju pendapatan nasional bruto atau gross national income (GNI) per kapita Indonesia tumbuh melambat. Bank Dunia menyatakan, lebih dari 108 negara, termasuk Indonesia, China, Argentina, Brasil dan India masuk dalam kategori negara berpendapatan menengah (middle income countries) dengan produk domestik bruto (PDB) per kapita berkisar US$ 1.136 hingga US$ 13.845. Berdasarkan laporan Bank Dunia bertajuk World Development Report 2024: The Middle Income Trap, negara-negara ini merupakan rumah bagi 6 miliar orang yang setara 75% populasi global, serta menghasilkan lebih dari 40% PDB global. Dalam laporan tersebut, Indonesia memang masuk kategori upper middle income countries atau negara berpendapatan menengah-atas. GNI per kapita Indonesia mencapai US$ 4,870 pada tahun 2023. Namun, posisi Indonesia paling rendah dibandingkan 11 negara lain yang masuk kategori ini. Misalnya, Rusia mencatatkan GNI per kapita US$ 14.250.
Kemudian China membukukan US$ 13.400. Bahkan Malaysia mencatat GNI per kapita jauh di atas Indonesia, yakni US$ 11.970. Kepala Ekonom Bank Dunia, Indermit Gill memprediksi Indonesia setidaknya membutuhkan waktu 70 tahun untuk bisa mencapai pendapatan per kapita setara negara maju alias high income countries. Bank Dunia menilai ada sejumlah faktor yang membuat negara-negara berpendapatan menengah terjebak dalam stagnasi ekonomi, mulai dari penuaan populasi, peningkatan proteksionisme, serta kebutuhan transisi energi. Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menghitung, jika pertumbuhan GNI per kapita Indonesia ke depan masih sama dengan rata-rata pertumbuhan dalam satu dekade terakhir di level 2,75% per tahun, maka perlu 39 tahun bagi Indonesia untuk memasuki era pendapatan kelas atas atau US$ 14.005 per kapita. Staf Bidang Ekonomi, Industri dan Global Markets Bank Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto menambahkan, program pembangunan infrastruktur secara merata harus tetap dilakukan. Juga memacu hilirisasi bukan hanya di sektor pertambangan, namun juga pertanian dan perkebunan.
Saham Komoditas dan Perbankan Semakin Menguat
Kompetisi Ketat di Sektor Telekomunikasi
Kinerja emiten telekomunikasi diprediksi masih akan tumbuh positif pada 2024. Didukung peningkatan penetrasi internet di Indonesia yang masih berlanjut. Pada sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) dan Indosat Tbk (ISAT) telah memaparkan kinerja semester I-2024. TLKM masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan 2,47% secara tahunan atau year on year (yoy) menjadi Rp 75,29 triliun. Tapi laba bersih turun 7,8% menjadi Rp 11,76 triliun. Ini disebabkan kenaikan beberapa pos beban. Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo, Maximilianus Nico Demus melihat tren kenaikan penetrasi internet masih akan berlanjut, mengingat tingkat penetrasi internet di Indonesia masih rendah dibandingkan dengan negara Asia lain. Ditambah, perkembangan ekosistem digital di Indonesia masih berkembang. Namun, dia menegaskan ekosistem digital tidak akan ada artinya jika tidak didukung dengan infrastruktur yang dibangun. Apalagi seperti di luar daerah yang masih banyak merasakan susah sinyal.
Pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) Nusantara di Kalimantan Timur, juga dapat menjadi sentimen positif untuk meningkatkan kinerja industri telekomunikasi. Terlebih, ada rencana merger antara FREN dan EXCL akan menjadi katalis positif bagi industri telekomunikasi di Indonesia. Kepala Riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Sukarno Alatas mengatakan, sentimen pasar terhadap sektor emiten telekomunikasi saat ini cenderung positif, terutama dengan meningkatnya penetrasi internet dan kebutuhan akan konektivitas yang semakin tinggi. Untuk ISAT, meskipun mengalami pertumbuhan kinerja di semester I-2024, namun dengan peningkatan piutang usaha senilai Rp 3 triliun yang belum tertagih, dapat memberikan tekanan negatif terhadap harga saham ISAT. Dengan begitu, Sukarno merekomendasikan wait and see ISAT dengan target harga Rp 11.100–Rp 11.400 per saham. Untuk TLKM, Sukarno mengatakan kinerjanya secara jangka panjang masih baik, dari valuasinya yang semakin menarik. Hal ini tercermin dari harga saat ini yang sudah undervalued
Ekonomi Lemah menurunkan Daya Beli
Tumbuh Kembang Asean di usia 57 Tahun
IHSG Bergerak Menguat
Kredit Macet UMKM
Prospek UMKM untuk bertumbuh masih besar, namun dampak dari berakhirnya kebijakan restrukturisasi terdampak Covid-19 diprediksi masih akan terasa bagi debitur UMKM. Hal ini akan mengakibatkan potensi risiko kredit macet UMKM juga akan naik, sehingga pemerintah tengah menggodok skema kebijakan restrukturisasi utamanya untuk kredit usaha rakyat (KUR). OJK menyatakan rencana berkepanjangan restrukturisasi KUR sedang dimatangkan oleh tiga kementerian. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar menjelaskan, pemerintah mengusulkan skema atau kriteria yang perlu diberikan rileksasi kebijakan ini, termasuk periode akad atau pencairan kredit oleh debitur. (Yetede)









