Pyridam Akan Mengakusisi 7 Perusahaan Farmasi Asing
Langkah agresif PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) dalam mencapai perusahaan farmasi asing, tampaknya belum berhenti. Setelah sukses mengakuisisi 100% saham asal Australia, Probiotec Limited senilai AUS$ 252 juta atau setara Rp2,75 triliun pada pertengahan Juni 2024, emiten berkode PYFA ini menyatakan rencana akuisisi lanjutan dengan tujuh target potensial. Aksi tersebut mendapat respon positif pelaku pasar, terlihat dari pergerakan harga saham PYFA yang melonjak 84% dalam satu bulan ini, dan melesat 140% selama tiga bulan terakhir. Manajemen Pyridam Farma mengungkapkan, pertumbuhan inorganik melalui merjer dan akuisisi menjadi salah satu strategi bisnis perseroan untuk mencatatkan kenaikan pendapatan ke depannya.
"Pertumbuhan inorganik dengan mengakuisi perusahaan farmasi lainnya untuk mendapatkan akses ke produk dan pasar baru, dengan 7 potensial target perusahaan," tulis manajemen PFYA dalam materi paparan publik yang dirilis Minggu (13/10/2024). Manajemen PFYA menyebut, tujuh perusahaan yang menjadi target merjer dan akuisisi perseroan yakni satu perusahaan asal Myanmar, dan satu lagi dari Malaysia. Strategi pertumbuhan inorganik tersebut, diharapkan dapat mendongkrak pertumbuhan pendapatan 2025 hingga lebih dari 50% dibanding hanya mengandalkan secara organik. (Yetede)
Penyaluran Pembiayaan Bank Syariah Tumbuh 11,65%
Trade Expo Indonesia 2024 Mencapai US$ 22 Miliar
Total transaksi sementara pada Trade Expo Indonesia (TEI) 2024 mencapai US$ 22,73 miliar atau sekitar 353,88 triliun. Jumlah ini melampaui target yang ditetapkan sebesar US$ 15 miliar. Menteri Perdagangan (Mendag) Zulkifli Hasan menerangkan, unutuk rincian dari total transaksi sementara tersebut yakni untuk rincian barang jasa senilai US$ 3,4 miliar. "Adapun capaian total transaksi sementara tercatat sebesar US$ 22,73 miliar," ujar dia. Pria yang akrab dipanggil Zulhas ini mengungkapkan, TEI ke-39 diikuti sebanyak 1.460 pelaku bisnis dengan jumlah buyer mancanegara sebanyak 8.042 buyer.
Sementara negara dengan transaksi terbesar selama TEI-ke 39 adalah India dengan catatan transaksi besar US$ 7,46 miliar dengan presentase 37,9%, Vietnam US$ 3,67 miliar (18,64%); Belanda US$ 2,76 miiar (14,03%); Filipina US$ 2,25 miliar (11,46%); serta Mesir US$ 623,40 juta (3,17%). Adapun produk paling diminati selama TEI tahun ini diantaranya batu bara dengan capaian transaksi senilai US$ 7,34 miliar dengan persentase 37,29%; baja US$ 2,72 miliar (13,85%); minyak kelapa sawit (CPO) dan turunannya US$ 1,76 miliar (8,94%); serta kertas US$ 1,05 miliar (5,34%). (Yetede)
Pengajuan Anggaran Untuk Tol Laut Tahun Depan
Pemerintah pada tahun depan berencana menambah rute atau trayek tol laut dari jumlah saat ini sebanyak 39 rute. Penambahan rute tol laut tersebut diharapkan mampu menjangkau distribusi barang ke daerah-daerah terluar di Indonesia. Direktur Jenderal Perhubungan Laut Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Capt Antoni Arif Priadi mengatakan, efektivitas program tol laut yang berjalan selama 10 tahun memberikan efek besar bagi disparitas harga. "Apalagi dengan jumlah pulau kita saat ini sangat besar mencapai lebih dari 17.000 pulau, jadi bayangkan ketika kita hadir membawa kebutuhan-kebutuhan dasar, Sehingga tentunya kedepan akan kita tambah rute atau trayeknya," kata Antoni. Antoni mengatakan, permasalahan tol laut diakui masih sangat kompleks hingga masih memerlukan perbaikan di masa datang. "Adapun untuk trayeknya kita rencanakan tambah tiga rute di tahun depan. Tapi ini masih akan kami bahas lagi, karena akan tergantung pada kesesuaian anggaran yang ada," ucapnya. Direktorat Jenderal perhubungan Laut telah mengajukan anggaran tahun depan pada program tol laut mencapai Rp 1,124 triliun. Antoni menjelaskan, koordinasi dengan operator penyelenggara tol laut juga akan diperkuat. (Yetede)
Prabowo Berencana Rombak APBN 2025
Potensi Setoran Sawit Dipertanyakan
AI, Peluang atau Ancaman bagi Media
Strategi Mengatasi Lesunya Bursa Kripto
Pada pekan ini, tepatnya 16 Oktober 2024, pendaftaran Pedagang Fisik Aset Kripto (PFAK) ditutup. Persoalannya, hingga saat ini hanya ada lima perusahaan yang secara resmi mendapatkan izin dari Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti). Ketatnya ketentuan yang wajib dipatuhi dituding sebagai penyebab sulitnya pedagang fisik mendapatkan izin dari Bappebti. Padahal, jumlah PFAK diyakini memengaruhi nilai transaksi perdagangan kripto yang menyusut dari level puncak pada 2021 silam. Pelaku usaha pun berharap adanya stimulus sebagai kompensasi atas beratnya upaya untuk memenuhi ketentuan tersebut. Harapan besar ditempatkan pada Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yang akan mengambil alih fungsi pengawasan Bursa Kripto dari Bappebti mulai Januari 2025.
Memperkuat Infrastruktur Kripto untuk Stabilitas Pasar
Sejak diakui sebagai aset komoditi bursa berjangka pada 2018, perdagangan aset kripto di Indonesia mengalami perkembangan signifikan, terutama dalam hal regulasi dan partisipasi pasar. Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) mulai memperketat aturan dengan mensyaratkan izin bagi pedagang fisik aset kripto pada 2021, sehingga hanya pedagang resmi yang dapat memperdagangkan aset kripto. Ini dilakukan seiring peningkatan nilai transaksi yang mencapai Rp859,4 triliun pada 2021 dengan 11 juta investor, meskipun isu keamanan dana nasabah masih menjadi sorotan.
Peraturan Bappebti Nomor 13 Tahun 2022 diterapkan untuk memperkuat ekosistem kripto, dengan menunjuk PT Bursa Komoditi Nusantara sebagai bursa berjangka dan PT Kliring Komoditi Indonesia sebagai lembaga kliring untuk perdagangan aset kripto. Pada Mei 2022, pemerintah mulai memungut pajak dari transaksi kripto, dengan tarif PPh 0,1% untuk penjual dan PPN 0,11% untuk pembeli. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan penerimaan negara dan memastikan transparansi dalam ekosistem kripto.
Regulasi pajak yang ketat juga mencakup tarif lebih tinggi bagi pedagang tidak resmi. Hingga saat ini, hanya ada 5 pedagang fisik kripto yang terdaftar di Bappebti, sementara 30 calon lainnya masih memenuhi persyaratan sebelum batas waktu yang ditetapkan. Ke depannya, kewenangan pengaturan aset kripto akan beralih ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK), diharapkan membawa ekosistem kripto yang lebih aman, teratur, dan inklusif bagi investor dan pelaku pasar.
Fujifilm: Inovasi Teknologi untuk Deteksi Dini Penyakit
Fujifilm, yang dikenal sebagai perusahaan fotografi sejak berdiri pada tahun 1934, telah bertransformasi menjadi perusahaan multisektor dengan fokus utama di bidang kesehatan. Di bawah kepemimpinan Presiden dan CEO Teiichi Goto, Fujifilm mengusung group purpose “Giving our world more smiles” sebagai komitmen untuk menciptakan dampak positif bagi masyarakat global. Transformasi ini melibatkan Fujifilm dalam berbagai inisiatif kesehatan, termasuk mengembangkan peralatan diagnostik canggih dan teknologi kesehatan yang terjangkau.
Salah satu upaya signifikan Fujifilm adalah penanggulangan tuberkulosis (TB) melalui inovasi teknologi, seperti sistem X-ray portabel dan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk deteksi dini TB, yang membantu meningkatkan efisiensi diagnosis di daerah dengan keterbatasan fasilitas. Di Indonesia, Fujifilm bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan Zero TB Yogyakarta dalam program “jemput bola” untuk meningkatkan skrining TB secara masif, serta menyediakan alat diagnostik cepat TB LAM, yang efektif mendeteksi TB pada penderita HIV dan anak-anak dengan keterbatasan pengumpulan sampel dahak.
Komitmen Fujifilm dalam kesehatan dan kesejahteraan masyarakat tercermin dalam visi menciptakan dunia yang lebih bahagia dan sehat. Dengan teknologi canggih dan dedikasi terhadap kesejahteraan global, Fujifilm mewujudkan visi “more smiles” melalui setiap diagnosis yang tepat waktu dan peningkatan kualitas hidup masyarakat.









