Minyak Sawit Berkontribusi pada Kenaikan Neraca Dagang
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Neraca perdagangan Indonesia pada September 2024 diproyeksikan akan terus mencatat surplus, dengan nilai diperkirakan antara USD 2,5 hingga USD 3,13 miliar. Ekonom Maybank Indonesia, Myrdal Gunarto, memperkirakan surplus sebesar USD 2,55 miliar, didorong oleh peningkatan permintaan ekspor terutama untuk produk manufaktur dan minyak sawit mentah (CPO), yang selaras dengan peningkatan angka PMI Manufaktur Indonesia menjadi 49,2.
Ekonom Bank Danamon, Hosianna Evalia Situmorong, memperkirakan surplus sebesar USD 2,80 miliar, karena ekspor CPO dan batubara meningkat bersamaan dengan lonjakan impor sebesar 12,5% yoy akibat aktivitas domestik yang mulai pulih.
Sementara itu, Kepala Ekonom BCA David Sumual memiliki prediksi surplus tertinggi, sebesar USD 3,13 miliar, mencatat bahwa kenaikan harga CPO mendukung ekspor, meskipun harga komoditas lain seperti batubara dan minyak relatif melambat.
Direktur Eksekutif Celios, Bhima Yudhistira, memperkirakan surplus di kisaran USD 2,5 hingga USD 2,6 miliar dan mencatat bahwa impor bahan baku nonmigas masih rendah akibat PMI Manufaktur yang masih di bawah 50, menunjukkan sektor manufaktur dalam fase kontraksi dan lambatnya pembelian bahan baku industri.
MENADAH BIG CAP SAAT HARGA MURAH
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan, kembali ke level 7.520,60 setelah penurunan 3,56% dalam sebulan terakhir. Saham-saham berkapitalisasi besar (big cap), seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), menjadi faktor utama yang menekan IHSG.
Daniel Agustinus, seorang Certified Elliott Wave Analyst, menyebut bahwa arus keluar dana asing, terutama karena stimulus ekonomi di China, berdampak besar pada saham-saham big cap di Indonesia.
Oktavianus Audi dari Kiwoom Sekuritas menambahkan bahwa pelantikan presiden baru dan potensi penurunan suku bunga oleh The Fed bisa mengembalikan minat investor asing. Menurutnya, musim laporan keuangan kuartal III-2024 akan menjadi katalis positif untuk saham big cap.
Analis Fath Aliansyah dari Lotus Andalan Sekuritas melihat penurunan harga saham big cap sebagai peluang koleksi saham seperti BBRI dan ASII secara bertahap.
William Hartanto, pengamat pasar modal, menyarankan strategi buy on weakness untuk saham seperti BBRI, TLKM, dan BBNI, meskipun ia memperkirakan pelemahan big cap masih bisa terjadi tetapi terbatas.
Ratih Mustikoningsih dari Ajaib Sekuritas menyoroti sektor perbankan, menjelang rilis laporan keuangan dan insentif di sektor properti, dengan rekomendasi pada BMRI. Audi merekomendasikan saham BBCA, BMRI, BBRI, dan TLKM dengan target harga masing-masing Rp 11.150, Rp 7.200, Rp 5.900, dan Rp 3.750 per saham.
Strategi Emiten Properti Bangkit di Tengah Pemulihan Ekonomi
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Peluang positif di sektor properti yang didorong oleh kebijakan moneter dan rencana kebijakan pemerintahan Prabowo Subianto. Kebijakan Bank Indonesia (BI) dan Federal Reserve untuk menurunkan suku bunga pada September 2024 memberikan angin segar bagi sektor ini, dan penurunan suku bunga lebih lanjut sebelum akhir tahun diprediksi akan mendukung kinerja perusahaan properti.
Presiden terpilih Prabowo Subianto berencana memberikan relaksasi pajak properti, termasuk menghapus PPN 11% dan BPHTB 5% untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR), serta mencanangkan pembangunan tiga juta rumah per tahun yang diharapkan akan mendorong permintaan KPR subsidi.
Menurut analis properti, seperti Daniel Agustinus dari Kanaka Hita Solvera, dan Axell Ebenhaezer dari NH Korindo Sekuritas Indonesia, kebijakan PPN DTP 100% serta penurunan suku bunga akan mendukung emiten properti seperti PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) dan PT Ciputra Development Tbk (CTRA), yang telah mencatat kenaikan harga saham tahun ini. Namun, mereka juga mencatat risiko dari kondisi makroekonomi, seperti potensi kenaikan tarif PPN menjadi 12% di 2025 yang bisa mempengaruhi daya beli.
Sementara itu, Nafan Aji Gusta Utama dari Mirae Asset Sekuritas memproyeksikan kinerja emiten properti akan tetap bergairah, dan merekomendasikan saham-saham properti seperti BSDE, APLN, dan CTRA.
Penurunan Biaya Pakan Jadi Pemacu Pertumbuhan Sektor
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Prospek positif bagi emiten sektor unggas pada akhir tahun 2024, didukung oleh penurunan biaya pakan dan potensi kenaikan harga ayam. Analis Mirae Asset Sekuritas, Andreas Saragih, mencatat adanya perbaikan harga Day Old Chick (DOC) dan ayam pedaging pada September 2024 setelah penurunan sebelumnya, dan memproyeksikan tren positif ini akan berlanjut. Inflasi yang terkendali juga dipandang dapat meningkatkan daya beli masyarakat.
Analis dari BRI Danareksa Sekuritas, Victor Stefano dan Wilastita Muthia Sofi, mencatat bahwa harga bahan pakan seperti jagung dan soybean meal turun, yang dapat mendukung profitabilitas meskipun harga ayam menurun. Penurunan harga ini dinilai mampu menjaga laba bersih sektor unggas tetap positif.
Selain itu, Senior Market Chartist Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta Utama, menganggap program Makan Bergizi Gratis (MBG) oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto sebagai katalis positif tambahan bagi sektor unggas. Menurutnya, permintaan poultry juga diproyeksikan meningkat pada kuartal IV karena musim libur Natal dan Tahun Baru.
Victor dan Andreas merekomendasikan saham PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN) sebagai pilihan utama, dengan target harga masing-masing Rp 5.825 per saham. Meski sektor unggas masih menghadapi risiko pelemahan daya beli, penurunan biaya pakan, serta adanya program MBG menjadi dorongan positif bagi kinerja sektor ini.
Pertumbuhan Tipis Tabungan Nasabah Kelas Menengah
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Fenomena "makan tabungan" di kalangan masyarakat kelas menengah ke bawah, yang tercermin dari pertumbuhan rendah simpanan di bawah Rp 100 juta. Data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menunjukkan simpanan kelompok ini hanya naik 0,8% sepanjang 2024 hingga Agustus.
Yuddy Renaldi, Direktur Utama Bank BJB, mengamati nasabah menengah ke bawah lebih banyak mengeluarkan uang untuk kebutuhan pokok, sementara pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) Bank BJB lebih banyak didorong oleh nasabah prioritas. Dia memperkirakan peningkatan tabungan pada akhir tahun didorong oleh konsumsi libur akhir tahun dan pilkada.
Di PT Bank Central Asia Tbk (BCA), Direktur Santoso juga melihat tren "makan tabungan" dengan pertumbuhan saldo rata-rata yang cenderung menurun. Sementara itu, Bank Mandiri mencatat peningkatan simpanan sebesar 5% pada nasabah kelas menengah ke bawah per Agustus 2024, meski Evi Dempowati menyebut kelompok ini semakin berhati-hati dalam pengeluaran.
Menurut pengamat perbankan Arianto Muditomo, fenomena ini terjadi karena pendapatan yang stagnan, meskipun harga barang cenderung turun, sehingga masyarakat mengurangi tabungan demi pengeluaran.
Strategi Asuransi Jiwa di Tengah Gejolak Sentimen Pasar
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
Industri asuransi jiwa optimistis menghadapi prospek kinerja investasi menjelang akhir tahun, didorong oleh sentimen penurunan suku bunga acuan dan window dressing. Direktur Ciputra Life, Listianiwati Sugiyanto, melihat potensi kenaikan pada instrumen surat utang dan saham. Ciputra Life akan menyesuaikan strateginya dengan meningkatkan porsi investasi di saham dan mempertahankan obligasi, terutama obligasi pemerintah dan korporasi dengan rating minimal investment grade.
Wiratama dari MSIG Life menilai bahwa penurunan suku bunga bisa memperkuat investasi pada obligasi pemerintah, yang menawarkan imbal hasil kompetitif dengan risiko rendah. Hal ini sejalan dengan strategi MSIG Life yang berfokus pada investasi dalam obligasi untuk memenuhi kebutuhan durasi perusahaan.
Di sisi lain, Chief Financial Officer Allianz Life Indonesia, Ong Le Keat, menegaskan pentingnya kehati-hatian di tengah tantangan seperti pelemahan daya beli, tensi geopolitik, dan perlambatan ekonomi global. Allianz tetap mengutamakan strategi fundamental dan pengelolaan risiko untuk mencapai imbal hasil yang optimal.
Bird Pacu Pertumbuhan Kinerja di Tengah Persaingan Ketat
Hairul Rizal
14 Oct 2024 Kontan
PT Blue Bird Tbk (BIRD) optimistis mencapai target bisnis 2024 dengan pertumbuhan dua digit hingga akhir tahun. Direktur Utama Blue Bird, Adrianto Djokosoetono, atau Andre, mengungkapkan bahwa pendapatan perusahaan pada paruh pertama 2024 telah tumbuh 11% dibandingkan tahun lalu, dengan laba sebesar Rp 263 miliar. Pertumbuhan ini terutama didorong oleh layanan non-taksi dengan margin keuntungan mencapai 40%.
Pada tahun 2024, Blue Bird mengalokasikan belanja modal sebesar Rp 2,5 triliun untuk menambah 7.000 armada baru, termasuk kendaraan non-taksi dan kendaraan listrik (EV). Selain itu, perusahaan terus mengembangkan aplikasi MyBluebird untuk meningkatkan pengalaman pelanggan. Hingga akhir 2024, Blue Bird menargetkan pertumbuhan double-digit, dengan kontribusi utama tetap berasal dari segmen taksi, sementara non-taksi menyumbang sekitar 10%-15%.
Blue Bird juga memperluas jangkauannya di Balikpapan, menyediakan berbagai layanan, seperti Bluebird taksi reguler, Goldenbird (sewa kendaraan), dan Cititrans (shuttle antarkota). Infrastruktur untuk pengisian daya mobil listrik Blue Bird di kota tersebut juga diharapkan selesai pada akhir tahun.
Para Musisi Ramai-ramai Belajar Aturan Royalti
Yoga
14 Oct 2024 Kompas (H)
Persoalan royalti lagu/musik di Indonesia masih seperti pita kaset yang kusut. Mesti diurai satu per satu. Sejauh ini, regulasi soal royalti lagu sudah ada, tetapi ruang lingkupnya masih terbatas dan pelaksanaannya di lapangan masih terkendala. Harian Kompas edisi Minggu (13/10/2024) mengangkat kisah pencipta lagu dangdut pantura era 1980-an hingga 2000-an, Carli Nuryaman (85), yang hidup sengsara di hari tua. Lima tahun terakhir tubuhnya digerogoti penyakit. Kini, ia hanya bisa terbaring lemah di rumahnya yang beratap terpal di Indramayu, Jawa Barat. Tak punya uang untuk berobat. Carli menghasilkan puluhan lagu dangdut selama 1980-an hingga awal 2000-an. Sebagian lagu ciptaannya populer dan masuk dapur rekaman di Jakarta. Namun, lagu-lagu itu tak menghasilkan royalti karena dulu ia menjualnya dengan sistem pembayaran sekali putus (flat pay) kepada label.
Lagu-lagunya masih kerap ditampilkan di panggung komersial dan media sosial sampai sekarang. Di Youtube, lagu ciptaannya, ”Awan Abang” dan ”Jam Siji Bengi”, yang dinyanyikan orang lain sudah dilihat ratusan ribu kali. Namun, tak sepeser pun uang mengalir ke kantongnya. Kisah Carli hanya satu dari sekian banyak kisah serupa yang menimpa pencipta lagu dan penampil. Indra Lesmana, pencipta dan penyanyi top Indonesia yang berkarier sejak 1978, menyaksikan dan mengalami sendiri ketidakadilan seperti itu. Dia menilai, urusan pembagian hak ekonomi bagi pencipta karya musik dari dulu sampai sekarang tidak beres-beres. ”Sepertinya (urusan royalti) ini sengaja dibuat ruwet. Indonesia sudah sangat terlambat mengatasi masalah ini,” kata Indra sebelum tampil dalam sebuah acara di Jakarta Selatan, Minggu (13/10).
Sumber ketidakberesan itu, pada 1980-an, lanjut Indra, adalah pembajakan. Dia menceritakan, salah satu album tenarnya, Aku Ingin, keluaran tahun 1990, dibungkus dengan sampul khusus agar tidak dibajak. Ternyata, album dengan cetakan biasa juga dijual di toko kaset resmi. Ia juga pernah mendapati albumnya dijual dalam kaset bekas. Persoalan lainnya, perusahaan rekaman atau label tidak transparan soal penjualan album. ”Label rekaman paling membiayai ongkos produksi di awal. Setelah jadi kaset atau CD, aku enggak pernah tahu persis berapa albumku yang terjual. Royalti juga enggak dihitung secara transparan. Ini sam kami (musisi) dibajak oleh label sendiri,” katanya. Mirisnya, label rekaman menguasai master album Indra. Dengan begitu, label berkuasa penuh atas pemanfaatan hak ekonominya. (Yoga)
Royalti, Hak Musisi yang Masih Belum Terlindungi
Yoga
14 Oct 2024 Kompas (H)
Tahun 2021 ketika pandemi melanda, Endah Widiastuti, personel Endah N Rhesa, kehilangan sebagian besar pemasukan dari panggung. Ia juga lebih banyak berada di rumah. Saat itulah ia berpikir untuk mencari sumber pendapatan lain. ”Panggilan manggung enggak ada, lalu aku berpikir soal potensi uang dari penjualan karya atau royalti,” ujarnya. Endah pun memikirkan regulasi yang ada soal hak cipta dan royalti, baik yang berlaku di Indonesia maupun global. ”Setelah dipelajari, ternyata rumit banget,” katanya sambiltertawa Kamis (3/10/2024). Dia pelan-pelan mempelajari berbagai aturan itu sambil bertanya kepada teman-temannya. Akhirnya, ia paham juga secara garis besar. Pemahaman itu sangat berguna ketika dia memilih dan berhadapan dengan penerbit.
Sejauh ini, Endah telah meluncurkan lima album. Album itu, antara lain, diterbitkan oleh penerbit administratif yang tugasnya hanya mencatat pendapatan dari lagu-lagunya di platform nondigital. Untuk digital, Endah memanfaatkan jasa agregator yang mengelola, memungut, dan membagikan royalti di ranah digital. Dari situ, ia mendapat royalti dalam jumlah banyak. Catatannya juga sangat rinci. ”Sampai sekarang aku dapat mechanical royalties dari publisher administration dan agregator dari lima album. Cukup gede,” ucap Endah yang sempat memperlihatkan sisa royalti lagu yang belum dia cairkan lewat sebuah situs. Jumlahnya setara dengan bayaran manggung Endah N Rhesa untuk 6-7 kali. Itu sisanya, lho. Endah dan Rhesa menikmati royalti yang cukup besar karena mereka adalah pencipta lagu, penyanyi, sekaligus produser lagu lagunya sendiri.
Sejauh ini, Endah justru belum menggali potensi royalti performance yang bisa ia peroleh di dalam negeri. Lagu-lagunya kebetulan kerap dimainkan di kafe. ”Aku belum daf tar ke LMK (Lembaga Manajemen Kolektif) di Indonesia meski lagu-lagu aku dimainin di kafe. Jadi belum dapat performance,” tutur Endah. Soal royalti memang rumit. Apalagi bagi mereka yang semula hanya fokus pada kreativitas. Ini, misalnya, diutarakan vokalis band Efek Rumah Kaca (ERK), Cholil Mahmud. Di awal perjalanan kariernya, Cholil tak mau tahu-menahu soal perkembangan industri. Dia fokus kepada gelombang alternatif atau independen. Musisi dan band indie, sebutan untuk mereka yang melakukan segala aktivitas dari hulu ke hilir secara independen, seperti ERK, punya sistem sendiri untuk menjual karyanya. (Yoga)
Paradoks kondisi kesejahteraan petani
Yoga
14 Oct 2024 Kompas
Sekitar 48,86 persen rumah tangga miskin di ndonesia menjadikan sektor pertanian sebagaitumpuan nafkahnya. Sektor pertanian juga menampung hampir sepertiga (28,21 persen) penduduk Indonesia yang bekerja. Sebuah paradoks dengan kondisi kesejahteraan petani tergambar dari kinerja produksi padi nasional. Kerja keras petani yang merupakan penghasil pangan bagi 270 juta jiwa lebih penduduk Indonesia membuahkan hasil manis dan mendapat apresiasi secara internasional pada bulan kemerdekaan dua tahun lalu. Pada Agustus 2022, Indonesia memperoleh penghargaan dari International Rice Research Institute (IRRI) karena telah berhasil mencapai swasembada beras.
Tahun setelah penghargaan itu diterima adalah tahun yang berat untuk mempertahankan volume produksi padi. Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data, produksi padi nasional tahun 2023 mencapai 53,98 juta ton gabah kering giling (GKG). Angka ini turun 1,4 persen dibandingkan 2022 yang mencapai 54,75 juta ton GKG atau turun 1,4 persen. Diperlukan strategi untuk mengatasi penurunan ini agar tak terjadi lagi pada 2024. Meskipun alarm penurunan sebenarnya sudah terlihat pada realisasi produksi padi pada periode subround 1 2024 (Januari-April) yang tumbuh negatif 17,54 persen dibandingkan dengan periode yang sama 2023, masih ada peluang untuk menggenjot produksi di dua subround selanjutnya hingga akhir 2024.
Teknologi pertanian perlu sentuhan teknologi untuk memitigasi kondisi alam yang kadang tidak sejalan dengan fase pertumbuhan padi. Pertanyaannya, seberapa banyak berbagai hasil riset mengenai teknologi pertanian telah diadopsi oleh petani? Diperlukan suatu lembaga yang dapat menjembatani kebermanfaatan hasil riset ilmiah itu hingga sampai ke tangan petani dengan bahasa sederhana. BPS mencatat pertanian Indonesia lewat Sensus Pertanian setiap sepuluh tahun sekali. Banyak informasi bisa direfleksikan dari pencatatan SensusPertanian. Pada Sensus Pertanian 2023, terdapat sekitar 59,53 persen petani yang terjaring kedalam petani milenial, yaitu berusia 19-39 tahun dan/atau menggunakan teknologi digital dalam proses pertaniannya. (Yoga)









