;

Pasar Saham Masih Diliputi Ketidakpastian

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan (H)
Kondisi pasar modal Indonesia di tengah ketidakpastian global, seperti ketegangan geopolitik dan terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, masih penuh tantangan. Hal ini menyebabkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 7.195,56 pada 22 November 2024, dengan penjualan bersih investor asing mencapai Rp 8 triliun dalam dua pekan terakhir.

Adrian Joezer, Head of Equity Market Analyst and Strategy Mandiri Sekuritas, menyebut kondisi ini sebagai "The Waiting Game," di mana investor memilih menunggu kepastian global dan domestik. IHSG diprediksi berpotensi mencapai level 8.150 di akhir 2025, dengan sektor konsumsi, pangan, properti, telekomunikasi, transportasi, dan ritel sebagai sektor favorit.

Maximilianus Nico Demus, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, mencatat bahwa investor juga melirik pasar saham China karena stimulus yang diberikan pemerintah China dan peluang di bursa AS setelah terpilihnya Trump. Nico memperkirakan IHSG dapat naik hingga 7.500 pada Desember 2024 jika sentimen window dressing mendukung, dengan support di level 7.120.

Erindra Krisnawan, Kepala Divisi Equity Research BRI Danareksa Sekuritas, menilai IHSG secara valuasi sudah menarik dengan forward PE sebesar 11,9 kali. Meski demikian, risiko masih ada akibat potensi pelebaran yield obligasi dan pelemahan nilai tukar rupiah. Target IHSG di 2025 dipatok pada level 7.448, dengan skenario bullish di 7.700 dan bearish di 7.200.

Meski ada peluang kenaikan, pasar modal menghadapi volatilitas yang tinggi. Investor diharapkan memiliki strategi sektoral yang fokus, terutama pada sektor perbankan, otomotif, dan ritel di kuartal II 2025.

Tax Amnesty Jilid III Sasar Ekonomi Bayangan

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pemerintah dan DPR sepakat melanjutkan program tax amnesty jilid III melalui revisi Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2016 tentang Pengampunan Pajak. Revisi ini telah dimasukkan dalam Prolegnas Prioritas Tahun 2025, dengan rencana pelaksanaan mulai tahun 2025.

Bob Hasan, Ketua Badan Legislasi DPR RI, menjelaskan bahwa revisi undang-undang ini merupakan inisiatif Komisi XI DPR RI. Aturan yang diusulkan kemungkinan tidak akan jauh berbeda dengan tax amnesty sebelumnya, yaitu program pada 2016 dan 2022.

Misbakhun, Ketua Komisi XI DPR RI, menyebut program tax amnesty bertujuan mengatasi masalah perpajakan masa lalu dan meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Ia menilai program ini memberi jalan keluar bagi pengemplang pajak untuk menyelesaikan kewajibannya secara legal dan transparan.

Namun, Fajry Akbar, pengamat pajak dari Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA), mengkritisi efektivitas tax amnesty jilid III, khususnya dalam menyasar shadow economy. Ia meragukan pelaku ekonomi bayangan akan bersedia mengikuti program ini. Fajry juga memperingatkan risiko moral hazard, kerusakan kredibilitas pemerintah, dan ketidakpastian penerimaan pajak sebagai konsekuensi program tersebut.

Tax amnesty jilid III dinilai sejalan dengan upaya pemerintah meningkatkan penerimaan pajak dan menindak aktivitas ekonomi bawah tanah (underground economy). Namun, pelaksanaannya tetap menghadapi tantangan dari segi efektivitas dan potensi risiko kebijakan.

Dividen Jadi Daya Tarik Saat Pasar Stagnan

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pembagian dividen emiten besar terus menjadi sorotan di pasar saham pekan ini, dengan PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) sebagai salah satu yang paling menarik perhatian.

ADRO, yang dimiliki oleh konglomerat Garibaldi Thohir, akan membagikan dividen tunai tambahan senilai US$ 2,62 miliar atau sekitar Rp 1.355 per saham, berdasarkan kurs Rp 15.875 per dolar AS. Jadwal cum dividen ADRO di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 26 November 2024. Dengan dividend yield mendekati 37% dan likuiditas saham yang baik, ADRO dinilai sangat menarik bagi investor, terutama yang fokus pada pendapatan pasif dan potensi capital gain.

Hendra Wardana, Founder Stocknow.id, menyarankan trading buy untuk saham ADRO dengan target harga Rp 3.900 per saham. Sementara itu, William Hartanto, Founder WH Project, memprediksi harga ADRO bisa mencapai Rp 4.200. Keduanya merekomendasikan saham ADRO sebagai pilihan utama di tengah momentum dividen.

Selain ADRO, empat emiten lain yang masuk dalam cum date pekan ini adalah PT Pinago Utama Tbk (PNGO), PT Prima Andalan Mandiri Tbk (MCOL), PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA), dan PT Graha Mitra Asia Tbk (RELF). Namun, saham-saham ini dinilai kurang menarik karena dividend yield yang kecil dan likuiditas rendah.

William Hartanto juga merekomendasikan saham MCOL dengan target harga Rp 5.600–Rp 5.800 per saham, meski daya tariknya lebih rendah dibanding ADRO.

Momentum pembagian dividen ini menjadi peluang strategis bagi investor untuk meraih pendapatan pasif sambil mengejar potensi kenaikan harga saham, terutama di emiten seperti ADRO yang menawarkan dividend yield tinggi.

Pelemahan Rupiah Pangkas Laba Emiten

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada 2024 berdampak signifikan pada kinerja emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga November 2024, rupiah melemah 2,61% sejak awal tahun, mendekati Rp 16.000 per dolar AS, sehingga memicu kerugian selisih kurs dan beban utang dalam dolar pada sejumlah perusahaan.

PT Kimia Farma Tbk (KAEF) mencatat kerugian bersih sebesar Rp 421,83 miliar per September 2024, naik 137,83% secara tahunan. Penyebab utamanya adalah kenaikan beban usaha dan kerugian selisih kurs Rp 3,53 miliar, meskipun penjualan naik 1,94% menjadi Rp 7,86 triliun.

PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) menghadapi tekanan dari utang obligasi denominasi dolar AS sebesar Rp 41,62 triliun, setara 73,70% dari total liabilitas.

PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) mencatat rugi selisih kurs sebesar US$ 891.400, namun tetap membukukan kenaikan laba 32,69% menjadi US$ 263,38 juta hingga September 2024. Corporate Secretary PGAS, Fajriyah Usman, menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar tidak signifikan memengaruhi operasional perusahaan.

Menurut Oktavianus Audi, Head Customer Literation and Education Kiwoom Sekuritas Indonesia, emiten yang memiliki dominasi utang dalam dolar AS, seperti PT Modernland Realty Tbk (MDLN), dengan utang dolar AS Rp 104,34 miliar dan obligasi Rp 5,72 triliun, akan semakin tertekan akibat pelemahan rupiah.

Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi tantangan besar bagi emiten dengan eksposur tinggi terhadap utang dan transaksi dalam dolar AS, meskipun beberapa perusahaan mampu mempertahankan kinerja laba mereka.

Harga Pulih, Emiten Kembali Moncer

Hairul Rizal 25 Nov 2024 Kontan
Prospek kinerja emiten sawit tetap menjanjikan, didukung oleh harga minyak sawit mentah (CPO) yang stabil dan kebijakan pemerintah, seperti penerapan program B40 pada awal 2025. Program ini, yang meningkatkan campuran biodiesel berbasis sawit hingga 40%, diharapkan dapat meningkatkan permintaan domestik dan mendorong harga CPO.

Arinda Izzaty, Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, menyebut program B40 dan rencana B50 pada 2026 akan menjadi katalis positif bagi emiten CPO. Emiten yang berfokus pada pasar domestik seperti PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dinilai unggul. Ia menyarankan buy dengan target harga AALI Rp 7.380 dan LSIP Rp 1.330 per saham.

Arinda juga menyoroti tantangan sektor sawit, termasuk regulasi ketat lingkungan dari Uni Eropa, proteksionisme perdagangan dari Presiden AS Donald Trump, serta dampak suku bunga global. Namun, ia optimistis permintaan tinggi dari India, China, dan pasar domestik akan menjadi pendorong utama.

Yasmin Soulisa, Analis Ciptadana Sekuritas, juga melihat potensi kenaikan konsumsi sawit hingga 16 juta ton dengan penerapan B40. Ia mencatat harga rata-rata CPO global pada 2024 sekitar RM 4.041 per ton dan memproyeksikan harga stabil di RM 4.100 per ton pada 2025. Kenaikan permintaan menjelang Tahun Baru Cina dan Idul Fitri menjadi katalis tambahan bagi harga CPO.

Kombinasi dukungan kebijakan domestik, efisiensi operasional, serta tingginya permintaan domestik dan internasional menjadikan sektor sawit tetap menarik untuk investasi, meski ada tantangan global.

Kesepakatan Pendanaan 300 miliar USD Jauh dari Kebutuhan

Yoga 25 Nov 2024 Kompas (H)

Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim PBB atau COP29 dinilai gagal memenuhi harapan mengatasi krisis iklim secara berkeadilan. Janji pendanaan negara-negara maju 300 miliar USD tiap tahun kepada negara-negara berkembang jauh lebih rendah daripada kebutuhan pendanaan 1,3 triliun USD. Hasil tersebut diumumkan di pengujung COP29, di Baku, Azerbaijan, Minggu (24/11). Sebanyak 200 diplomat dari semua negara di dunia menuntaskan konferensi tersebut dengan rasa tak puas. Para delegasi di COP29 sepakat menyediakan pendanaan 300 miliar USD per tahun. Negara-negara juga menyetujui aturan pasar karbon global didukung PBB. Pasar ini akan memfasilitasi perdagangan kredit karbon yang memberikan insentif kepada negara-negara untuk mengurangi emisi dan berinvestasi dalam proyek-proyek ramah iklim.

Seperti dirilis UN News, pendanaan dan kredit karbon merupakan dua isu penting yang diputuskandalam pertemuan yang berlangsung sejak 12 November dan berakhir Minggu (24/11) di Baku. Negosiasi seharusnya selesai Jumat (22/11), tetapi diperpanjang karena pertentangan di antara hampir 200 negara. Pembicaraan sempat terhenti pada Sabtu karena beberapa negara berkembang dan negara kepulauan meninggalkan pembicaraan dengan frustrasi. Padahal, mereka paling terdampak krisis iklim. ”Pendapat kami tak didengar,” kata Menteri Sumber Daya Alam dan Lingkungan Samoa Toeolesulusulu Cedric Schuster, dikutip Sky News. Perwakilan India, Chandni Raina, turut mengecam janji 300 miliar USD sebagai ”jumlah kecil”. Ia menyebut perjanjian itu tak lebih dari sekadar ilusi optik dan tak mampu mengatasi besarnya tantangan yang dihadapi. (Yoga)


Pertumbuhan Ekonomi masih mengandalkan Tambang

Yoga 25 Nov 2024 Kompas (H)

Pertambangan mineral dan batubara masih memegang peran penting bagi Indonesia, mengingat melimpahnya sumber daya yang dimiliki, untuk menjawab kebutuhan energi dalam menopang target-target pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, hilirisasi, penggunaan energi hijau, dan pengembangan teknologi bersih pada minerba mesti terus dilakukan. Hal itu mengemuka dalam diskusi kelompok terfokus (FGD) ”Navigating & Prospect for Energy Resilience in Indonesia by 2035” yang digelar Kompas dengan Indonesian Mining Association (IMA), di Menara Kompas, Jakarta, Jumat (22/11).

Sebagai pembicara diskusi adalah Penasihat Khusus Presiden RI Bidang Energi Purnomo Yusgiantoro, Wakil Ketua Bidang Hukum dan Pajak IMA Ezra Sibarani, serta dosen Magister Ilmu Ekonomi Universitas Trisakti sekaligus Direktur Eksekutif Refor Miner Institute, Komaidi Notonegoro. Menurut Purnomo, cadangan komoditas mineral dan batubara Indonesia masih cukup melimpah serta memiliki peran strategis dalam pembangunan. Di antaranya jenis nikel, tem- baga, bauksit, timah, emas, dan besi. Begitu juga pada batubara, yang selama ini mendukung ketahanan energi, yakni kelistrikan, melalui pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) Hilirisasi atau peningkatan nilai tambah, ujar Purnomo, sejatinya sudah diatur dalam UU No 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Minerba.

Namun, hal itu jangan hanya berhenti pada pengolahan dan pemurnian. ”Sekarang kita perlu mengembangkan adanya peningkatan nilai tambah pada produk akhir,” ujarnya. Di samping itu, eksplorasi pertambangan minerba mesti terus dilakukan. Pada batubara, misalnya. Purnomo menyebutkan, berdasar data Badan Geologi, pada 2022, cadangan batubara Indonesia 35,05 miliar ton dan sumber daya sebesar 99,19 miliar ton. Volume cadangan tersebut membuat batubara Indonesia dapat dimanfaatkan untuk 50 tahun ke depan. Peningkatan penggunaan batubara bakal menghasilkan emisi yang lebih besar. Karena itu, clean coal technology mesti terus dikembangkan. Dukungan-dukungan insentif juga perlu diberikan kepada investor dalam mendukung eksplorasi pertambangan mineral dan batubara. (Yoga)


Negara Kaya dan Miskin terpecah di COP29

Yoga 25 Nov 2024 Kompas

Target pendanaan mitigasi krisis iklim sebesar 1 triliun USD per tahun hingga tahun 2035 tidak tercapai. Dana yang terkumpul dari negara-negara kaya untuk negara-negara berkembang dan miskin hanya 300 miliar USD. Hasil Konferensi Para Pihak tentang Perubahan Iklim atau COP29 mengecewakan. Jumlah itu menguntungkan negara-negara kaya, tetapi tidak bagi negara penerima yang membutuhkannya untuk menanggulangi dampak perubahan iklim dan menurunkan emisi karbon secara drastis. Dana 300 miliar USD itu lebih besar dari target yang ditetapkan 15 tahun sebelumnya, yakni 100 miliar USD per tahun. Menurut negara-negara kaya, dana 300 miliar USD sudah realistis. Tapi, bagi negara-negara berkembang dan miskin, jumlah itu membuat mereka tersinggung dan marah karena seperti hanya menerima belas kasihan dari negara-negara kaya. Tidak ada pula jaminan dana itu akan mengalir melalui hibah.

Jika bukan hibah, akan ada lebih banyak pinjaman yang menjadi utang negara-negara berkembang dan miskin. Dalam teks hasil COP29 terkait dana itu disebut, semua pihak agar bekerja sama menggunakan ”seluruh sumber publik dan swasta” untuk mencapai target 1,3 triliun USD per tahun pada 2035. Artinya mendorong bank-bank besar internasional, yang didanai oleh uang pembayar pajak, untuk membantu membayar tagihan. Itu berarti pula, mudah-mudahan, perusahaan dan investor swasta akan menyalurkan uang tunai untuk aksi iklim. Dana iklim akan digunakan negara-negara berkembang untuk membiayai transisi ke energi bersih.

Mereka butuh dana untuk membangun infrastruktur pembangkit listrik tenaga angin dan matahari dalam skala besar. Masyarakat yang sangat terdampak cuaca ekstrem pun butuh bersiap menghadapi bencana alam. Dana itu juga dapat digunakan untuk meningkatkan praktik pertanian yang lebih kebal cuaca ekstrem, membantu warga mengungsi, menyiapkan rencana darurat, dan bantuan pascabencana. Hasil kesepakatan COP29 juga dianggap rencana ”kosong” karena tidak serius untuk mengurangi emisi.  Kelompok Negosiasi Negara-negara Terbelakang menilai, negara-negara kaya tidak berkomitmen menangani krisis iklim. Mereka juga dianggap tak peduli dengan dampak krisis iklim yang menghancurkan negara-negara berkembang. (Yoga)


Mencegah Penipuan Keuangan dengan Anti-”Scam Centre”

Yoga 25 Nov 2024 Kompas

Pembentukan Pusat Penanganan Penipuan Transaksi Keuangan Indonesia atau Indonesia Anti-Scam Centre masih membutuhkan sinkronisasi data. Langkah tersebut diharapkan mampu menindaklanjuti laporan penipuan, mulai dari penanganan secara cepat hingga pengembalian dan korban. Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda menyampaikan, pembentukan pusat antipenipuan di Indonesia merupakan langkah yang tepat. Apalagi, beberapa negara sudah terlebih dahulu membentuk anti-scam centre. ”Tinggal bagaimana nanti implementasi langkah ini, termasuk dalam mendorong pelaku jasa keuangan masuk ke dalam pusat antipenipuan ke depan. Apakah ada mandatory yang diatur dalam POJK (Peraturan OJK) dan/atau PBI? Atau kekuatan hukumnya setinggi apa,” katanya, Minggu (24/11).

Langkah tersebut membutuhkan penyelarasan antara regulasi mengenai perbankan dan ketentuan-ketentuan terkait jasa keuangan. Artinya, industri perbankan, sebagai contohnya, tidak lagi tertutup ketika terindikasi penipuan yang melibatkan rekening bank terkait. Sebab itu, dibutuhkan kerja sama dari semua pihak dalam industri jasa keuangan, terutama dalam hal sinkronisasi kebijakan. Salah satu bentuk sinkronisasi tersebut adalah penerbitan akun keuangan yang didasarkan pada validasi rekening sesuai dengan data kependudukan dan data akun finansial. Sebelumnya, Satgas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal (Satgas Pasti) atas inisiasi OJK telah meluncurkan Indonesia Anti-Scam Centre (IASC), di Kantor OJK, Jakarta, Jumat (22/11).

IASC merupakan forum koordinasi antara OJK, Satgas PASTI, dan para pelaku industri jasa keuangan. Upaya tersebut didukung asosiasi industri perbankan beserta 79 bank yang bergabung dalam IASC, penyedia sistem pembayaran, dan e-dagang. Pembentukan itu merupakan respons atas maraknya penipuan di sektor jasa keuangan, termasuk makin besarnya nominal dana korban yang hilang. Selama Januari-28 Oktober 2024, OJK telah menerima 13.860 pengaduan terkait entitas ilegal, terdiri dari 13.020 pinjaman daring ilegal dan 840 investasi ilegal. Dari jumlah tersebut, sejumlah 2.500 entitas pinjaman daring ilegal dan 242 penawaran investasi ilegal telah diblokir. (Yoga)


Kenaikan Tarif PPN pada 2025 Bisa membawa Kerugian daripada Keuntungan

Yoga 25 Nov 2024 Kompas

Rencana pemerintah menaikkan tarif PPN alias pajak konsumsi pada 2025 akan lebih banyak membawa kerugian daripada keuntungan. Jika tarif pajak dinaikkan saat daya beli masyarakat melemah, berbagai sendi perekonomian negara akan tergerus. Sementara potensi penerimaan yang bisa diraih tak maksimal. Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal pada CORE Economic Outlook 2025 di Jakarta, Sabtu (23/11) mengatakan, tahun 2025 adalah penentu Indonesia melakukan lompatan ekonomi menuju target pertumbuhan 8 % per 2025 serta cita-cita negara maju per 2045. Tapi, lompatan ekonomi itu mustahil dilakukan jika pemerintah tidak menjaga mesin utama perekonomian, yakni konsumsi masyarakat. Kontribusinya rata-rata 50-55 % terhadap pertumbuhan PDB.

Saat ini, tanda-tanda pelemahan konsumsi masyarakat sudah terlihat. Pertama, jumlah kelas menengah, yang menyumbang 40 % total konsumsi nasional, semakin sedikit. Dalam lima tahun terakhir, 9,7 juta orang kelas menengah turun kelas. Data LPS, rata-rata saldo rekening di kelompok nasabah dengan tabungan di bawah Rp 100 juta (alias 99 % dari masyarakat Indonesia) terus menurun pada 2019-2024. Pada awal 2019, rata-rata saldo rekening kelompok ini masih Rp 3 juta. Per 2024, catatan terakhir LPS, rata-rata saldo rekening kelompok ini tinggal Rp 1,8 juta. ”Jadi, ini indikasi masyarakat semakin ’mantab’ (makan tabungan). Bagi yang punya tabungan, yang dimakan tabungan. Yang sudah tidak punya tabungan, mau tidak mau pinjam. Ini mengapa total outstanding pinjaman online juga trennya terus meningkat,” kata Faisal.

Di tengah kondisi itu, pemerintah malah berencana mengeluarkan beragam kebijakan yang bisa semakin menekan pertumbuhan konsumsi nasional dan kelas menengah. Misalnya, kenaikan tarif PPN dari 11 % menjadi 12 % mulai awal 2025. Ada pula kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada tahun yang sama, kenaikan harga BBM bersubsidi, dan rencana penerapan cukai baru. ”Berbagai kebijakan itu akan memukul kelas menengah yang berkontribusi paling besar terhadap transaksi barang dan jasa di Indonesia. Dengan kondisi itu, kalau tidak ada perubahan signifikan, kita simpulkan pada 2025 kondisi ekonomi akan menurun,” kata Faisal. (Yoga)


Pilihan Editor