Jangan Lupakan Ladang Tradisional dalam Mencetak Sawah di Kalteng
Proyek cetak sawah diharapkan mendukung sistem pertanian lokal dan bukan sekadar menggusurnya. Sistem pertanian lokal dinilai bisa memenuhi target pemerintah. Apalagi jika didukung dengan beragam teknologi baru. Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalteng, Bayu Herinata menyampaikan harapan itu di sela-sela kunjungan Mentan, Andi Amran Sulaiman ke Dadahup, Kapuas, Kalteng, Jumat (22/11). Amran mengunjungi lokasi proyek cetak sawah di Dadahup yang saat ini masih dikerjakan. Bayu menambahkan, cetak sawah bukan merupakan proyek baru. Program ini sudah berulang diterapkan di Indonesia, khususnya di Kalteng. Sayangnya, program ini selalu membelakangi sistem perladangan tradisional dan melupakan kondisi lingkungan di wilayah itu.
”Perladangan itu, kan, lahan yang sudah ada. Seharusnya didukung dan dimanfaatkan. Bukan malah membuka kawasan dengan tutupan hutan yang sudah baik, apalagi gambut,” ungkap Bayu. Menurut Bayu, mayoritas wilayah program cetak sawah dan optimasi lahan di Kalteng memanfaatkan kawasan bergambut, bahkan hutan. Di Kabupaten Gunung Mas, misalnya, hutan dibuka untuk ditanami singkong sejak 2020, yang kemudian secara dadakan diubah menjadi jagung. Di Kabupaten Pulang Pisau, lahan gambut sejuta hektar juga dimanfaatkan untuk megaproyek pangan tersebut. ”Lahan existing masyarakat masih banyak yang bisa dimanfaatkan jika targetnya hanya produktivitas padi. Tetapi, jangan juga mengubah sistem pertanian lokalnya. Harus didukung juga dengan teknologi modern di sistem pertanian lokal,” katanya.
Bayu merujuk program food estate dalam perluasan sawah di beberapa lahan perladangan masyarakat, seperti di beberapa desa di Kabupaten Pulang Pisau. Masyarakat yang sebelumnya berladang justru diminta untuk bertani di sawah dengan sistem pertanian yang jauh berbeda. Sistem perladangan Dayak di Kalteng, lanjut Bayu, sampai saat ini terbentur larangan membakar yang membuat peladang tradisional meninggalkan ladangnya selama sembilan tahun terakhir. Program ketahanan pangan seharusnya bisa mendukung dan jadi solusi masalah tersebut, bukan justru menambah masalah baru.
Proyek cetak sawah merupakan program lanjutan lumbung pangan atau dikenal dengan food estate. Di Kalteng, potensi lahan yang bisa digunakan untuk program ini mencapai 621.684 hektar. Lahan yang digunakan ada tiga jenis, yakni area penggunaan lain, kawasan hutan produksi, dan kawasan hutan produksi konversi (Kompas, 20/8/2024). Di Kecamatan Dadahup, pemerintah membangun ratusan pintu air untuk memperbaiki irigasi yang sudah berusia lebih kurang 25 tahun atau irigasi baru. Luas lahan yang sedang digarap saat ini lebih kurang 150 hektar. (Yoga)
Postingan Terkait
Artikel Populer
-
Tekan Inflasi, Pasar Murah
04 Jan 2025 -
Tapera Beri Angin Segar Emiten Perbankan
05 Jun 2024 -
Ledakan Smelter Berulang, Optimalkan Pengawasan
28 Dec 2023 -
KISAH SEGITIGA ANTARA VIETNAM, CHINA, DAN AS
28 Dec 2023